Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

MELATIH KREATIVITAS DAN DAYA NALAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN RME m, mujiasih
Phenomenon : Jurnal Pendidikan MIPA Vol 3, No 1 (2013): Jurnal Pendidikan MIPA
Publisher : Sains and Technology Faculty, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atas dasar ijin dari Kementerian Pendidikan Nasional, maka model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) telah dilaksanakan di seluruh Indonesia. Di setiap provinsi, telah ditunjuk beberapa sekolah untuk melak- sanakan pembelajaran RME ini. Oleh karena itu, maka mahasiswa Prodi Tadris Matematika perlu disiapkan se- cara dini, dengan pengetahuan tentang model pembela- jaran RME ini, yakni mengetahui sintaks (urutan langkah pembelajaran), dan mampu mempraktikkannya. Dalam pembelajaran matematika di sekolah, ada tiga dimensi utama yang berkaitan dengan pembelajaran matematika di sekolah, yaitu (1) kegunaan matematika dalam kehidu- pan sehari-hari, (2) matematika sebagai alat berpikir, dan (3) matematika sebagai produk budaya manusia. Pembe- lajaran matematika harus mampu mengembangkan ke- mampuan siswa untuk memberikan alasan (reasoning), mengembangkan kreativitas (creativity), daya nalar (think logically), dan pembuktian (proof). Hal ini dapat dicapai me- lalui pembelajaran RME.Jadi, pembelajaran matematika di sekolah perlu dija- dikan sarana untuk melatih dan mengembangkan kreativi- tas siswa dalam kapasitasnya sebagai anggota masyarakat yang kelak akan beraktivitas dengan memerlukan kreativi- tas yang tinggi. Salah satu caranya adalah dengan mener- apkan RME (Realistic Mathematics Education) di sekolah.
ADAKAH SEGITIGA YANG JUMLAH SUDUTNYA KURANG DARI 1800? (Sebuah kajian dari Geometri Non Euclid) m, mujiasih
Phenomenon : Jurnal Pendidikan MIPA Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Pendidikan MIPA
Publisher : Sains and Technology Faculty, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Geometri yang diajarkan di sekolah/madrasah, bahkan di perguruan tinggi umumnya merupakan geometri yang dikenal dengan nama Geometri Euclidus. Ciri khas geometri ini, ditandai dengan rumus yang amat terkenal yaitu bahwa: Jumlah sudut dalam setiap segitga adalah 1800. Sampai pada akhirnya muncullah Geometri yang “berbeda” dengan geometri yang yang sudah ada. Salah satunya, adalah Geometri yan diketemukan oleh Lobachevsky. Geometri ini dikenal dengan nama Geometri Lobachevsky atau Geometri Hiperbolik. Dalam Geometri Lobachevsky, dapat dibuktikan bahwa jumlah sudut dalam setiap segitiga kurang (lebih kecil) dari 1800. 
APLIKASI STRUKTUR GRUP YANG TERKAIT DENGAN KOMPOSISI TRANSFORMASI PADA BANGUN GEOMETRI ., Mujiasih
AKSIOMA Vol 1, No 2/September (2010): AKSIOMA
Publisher : IKIP PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komposisi transformasi diantaranya meliputi pencerminan dan rotasi. Komposisi transformasi dapat dilakukan secara aljabar yaitu dengan menggunakan perkalian matriks-matriks yang bersesuaian yang mewakili masing-masing transformasi tersebut. Suatu himpunan yang beranggotakan unsur-unsur komposisi transformasi dapat membentuk sebuah grup. Hal itu dapat ditunjukkan melalui tabel cayley komposisi transformasi. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai pola-pola seperti pada : lantai keramik, ukiran Jepara, kain batik, hiasan dinding, dan lain-lain. Pola-pola tersebut dapat diperoleh melalui transformasi bangun geometri datar, yaitu lingkaran, segitiga, dan tembereng lingkaran. Bangun-bangun geometri tersebut apabila dikombinasikan, akan menghasilkan pola-pola yang indah dan menarik. Kata kunci : komposisi transformasi, geometri datar, grup
Variabel Linguistik dan Proposisi Kabur dalam Logika Kabur Nizaruddin, Nizaruddin; Mujiasih, Mujiasih
MAJALAH ILMIAH LONTAR Vol 22, No 2 (2008)
Publisher : MAJALAH ILMIAH LONTAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep himpunan yang selama ini dikenal adalah himpunan klasik yaitu himpunan dengan dua nilai keanggotaan. Seiring dengan berkembangnya ilmu matematika, terjadi perluasan konsep tentang himpunan, yang dikenal dengan himpunan kabur (fuzzy set). Dalam himpnan kabur keanggotaan setiap elemen ditetapkan secara bergradasi. Pernyataan pada logika kabur dinyatakan dengan suatu bilangan real [0,1]. Konsep-konsep yang terkait dalam himpunan kabur diantaranya adalah variabel linguistik (linguistic variable) dan proposisi kabur (fuzzy proposisi).Kata-kata Kunci : himpunan kabur (fuzzy set), variabel linguistik (linguistic variable) dan proposisi kabur (fuzzy proposisi)
MELATIH KREATIVITAS DAN DAYA NALAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN RME mujiasih m
Phenomenon : Jurnal Pendidikan MIPA Vol 3, No 1 (2013): Jurnal Pendidikan MIPA
Publisher : Faculty of Science and Technology, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/phen.2013.3.1.178

Abstract

Atas dasar ijin dari Kementerian Pendidikan Nasional, maka model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) telah dilaksanakan di seluruh Indonesia. Di setiap provinsi, telah ditunjuk beberapa sekolah untuk melak- sanakan pembelajaran RME ini. Oleh karena itu, maka mahasiswa Prodi Tadris Matematika perlu disiapkan se- cara dini, dengan pengetahuan tentang model pembela- jaran RME ini, yakni mengetahui sintaks (urutan langkah pembelajaran), dan mampu mempraktikkannya. Dalam pembelajaran matematika di sekolah, ada tiga dimensi utama yang berkaitan dengan pembelajaran matematika di sekolah, yaitu (1) kegunaan matematika dalam kehidu- pan sehari-hari, (2) matematika sebagai alat berpikir, dan (3) matematika sebagai produk budaya manusia. Pembe- lajaran matematika harus mampu mengembangkan ke- mampuan siswa untuk memberikan alasan (reasoning), mengembangkan kreativitas (creativity), daya nalar (think logically), dan pembuktian (proof). Hal ini dapat dicapai me- lalui pembelajaran RME.Jadi, pembelajaran matematika di sekolah perlu dija- dikan sarana untuk melatih dan mengembangkan kreativi- tas siswa dalam kapasitasnya sebagai anggota masyarakat yang kelak akan beraktivitas dengan memerlukan kreativi- tas yang tinggi. Salah satu caranya adalah dengan mener- apkan RME (Realistic Mathematics Education) di sekolah.
ADAKAH SEGITIGA YANG JUMLAH SUDUTNYA KURANG DARI 1800? (Sebuah kajian dari Geometri Non Euclid) mujiasih m
Phenomenon : Jurnal Pendidikan MIPA Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Pendidikan MIPA
Publisher : Faculty of Science and Technology, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/phen.2015.5.1.93

Abstract

Geometri yang diajarkan di sekolah/madrasah, bahkan di perguruan tinggi umumnya merupakan geometri yang dikenal dengan nama Geometri Euclidus. Ciri khas geometri ini, ditandai dengan rumus yang amat terkenal yaitu bahwa: Jumlah sudut dalam setiap segitga adalah 1800. Sampai pada akhirnya muncullah Geometri yang “berbeda” dengan geometri yang yang sudah ada. Salah satunya, adalah Geometri yan diketemukan oleh Lobachevsky. Geometri ini dikenal dengan nama Geometri Lobachevsky atau Geometri Hiperbolik. Dalam Geometri Lobachevsky, dapat dibuktikan bahwa jumlah sudut dalam setiap segitiga kurang (lebih kecil) dari 1800. 
APLIKASI STRUKTUR GRUP YANG TERKAIT DENGAN KOMPOSISI TRANSFORMASI PADA BANGUN GEOMETRI Mujiasih .
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 1, No 2/Septembe (2010): AKSIOMA
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/aks.v1i2/Septembe.58

Abstract

Komposisi transformasi diantaranya meliputi pencerminan dan rotasi. Komposisi transformasi dapat dilakukan secara aljabar yaitu dengan menggunakan perkalian matriks-matriks yang bersesuaian yang mewakili masing-masing transformasi tersebut. Suatu himpunan yang beranggotakan unsur-unsur komposisi transformasi dapat membentuk sebuah grup. Hal itu dapat ditunjukkan melalui tabel cayley komposisi transformasi. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai pola-pola seperti pada : lantai keramik, ukiran Jepara, kain batik, hiasan dinding, dan lain-lain. Pola-pola tersebut dapat diperoleh melalui transformasi bangun geometri datar, yaitu lingkaran, segitiga, dan tembereng lingkaran. Bangun-bangun geometri tersebut apabila dikombinasikan, akan menghasilkan pola-pola yang indah dan menarik. Kata kunci : komposisi transformasi, geometri datar, grup
Variabel Linguistik dan Proposisi Kabur dalam Logika Kabur Nizaruddin Nizaruddin; Mujiasih Mujiasih
MAJALAH LONTAR Vol 22, No 2 (2008)
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/ltr.v22i2.232

Abstract

Konsep himpunan yang selama ini dikenal adalah himpunan klasik yaitu himpunan dengan dua nilai keanggotaan. Seiring dengan berkembangnya ilmu matematika, terjadi perluasan konsep tentang himpunan, yang dikenal dengan himpunan kabur (fuzzy set). Dalam himpnan kabur keanggotaan setiap elemen ditetapkan secara bergradasi. Pernyataan pada logika kabur dinyatakan dengan suatu bilangan real [0,1]. Konsep-konsep yang terkait dalam himpunan kabur diantaranya adalah variabel linguistik (linguistic variable) dan proposisi kabur (fuzzy proposisi).Kata-kata Kunci : himpunan kabur (fuzzy set),?é?ávariabel linguistik (linguistic variable) dan proposisi kabur (fuzzy proposisi)
Karakteristik Proses Komunikasi Matematis pada Penalaran Analogi Mujiasih Mujiasih; Budi Waluya; Kartono Kartono; Scolastika Mariani
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Komunikasi merupakan aktivitas seseorang dengan dirinya sendiri, dan diikuti aktivitas dengan individu lainnya yaitu berupa reaksi atas adanya aktivitas berpikir. Belajar matematika dimaknai sebagai perubahan berkembangnya bahasa dan kognitif yang dapat berlangsung selama berkomunikasi. Penelitian ini mendeskripsikan proses komunikasi matematis dalam menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan penalaran analogi. Khususnya bentuk proses komunikasi matematis intrapersonal dan interpersonal. Desain penelitian yang digunakan yaitu eksploratif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian yang dipilih yaitu 4 orang mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Walisongo. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik proses komunikasi matematis yang dilakukan mahasiswa melalui penalaran analogi berdasarkan empat aspek komognitif dijelaskan sebagai berikut. 1) pada aspek penggunaan kata, gagasan matematis disajikan dengan menganalogikan masalah dan strategi penyelesaian, mengaitkan kesamaan kata, dan menguasai kosakata matematis. 2) pada aspek mediator visual, komunikasi matematis verbal dilakukan dengan menuliskan gagasan yang bersumber dari perkembangan informasi dan serangkaian pengetahuan yang ada dalam ingatan. Bahasa matematis dituangkan dalam bentuk simbol, kata-kata atau teks, dan gambar geometri. 3) pada aspek narasi, teks matematika diperoleh dengan cara menyusun konsep geometri melalui gambar yang sudah dikenal sebelumnya. 4) pada aspek rutinitas, gagasan matematis muncul melalui proses menulis matematis, mengenali karakteristik sumber, menginterpretasikan strategi sumber, dan mengevaluasi kesamaan dan perbedaan. Empat aspek proses komunikasi matematis yang dikembangkan dengan baik secara komprehensif dapat saling mendukung sehingga keberhasilan belajar dapat tercapai. Abstract. Communication is a person's activities with himself, followed by activities with other individuals, namely in the form of reactions to thinking activities. Learning mathematics is defined as the changes in language and cognitive development that can occur during communication. This study describes the process of mathematical communication in solving problems by utilizing analogical reasoning. In particular, the form of intrapersonal and interpersonal mathematical communication processes. The research design used is exploratory with a qualitative descriptive approach. The research subjects selected were 4 students of Mathematics Education UIN Walisongo. The results showed that the characteristics of the mathematical communication process carried out by students through analogical reasoning based on four cognitive aspects were explained as follows. 1) in the aspect of word use, mathematical ideas are presented by analogizing problems and solving strategies, linking similar words, and mastering mathematical vocabulary. 2) on the aspect of visual mediators, verbal mathematical communication is done by writing down ideas that come from the development of information and a series of knowledge that is in memory. Mathematical language is expressed in the form of symbols, words or text, and geometric images. 3) in the narrative aspect, mathematical texts are obtained by compiling geometric concepts through previously known images. 4) on the routine aspect, mathematical ideas emerge through the process of writing mathematically, recognizing the characteristics of sources, interpreting source strategies, and evaluating similarities and differences. Four aspects of a well-developed mathematical communication process can support each other comprehensively so that learning success can be achieved.
Impact of "Donkey", "Snap" dan "King" (DSK) non-digital gamification cards on fourth-grade students' math performance in fractions Setambah, Mohd Afifi Bahurudin; Adnan, Mazlini; Zaini, Syaza Hazwani; Mujiasih, Mujiasih; Hidayat, Riyan; Ibrahim, Muhammad Alhaji; Hanazono, Hayato
Jurnal Infinity Vol 13 No 1 (2024): VOLUME 13, NUMBER 1, INFINITY
Publisher : IKIP Siliwangi and I-MES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/infinity.v13i1.p175-196

Abstract

This research investigates the impact of Non-digital Gamification (NDG) techniques on students' math achievement, focusing on Fractions. Utilizing a quasi-experimental design, the study involved 100 primary school students in Perak. Two groups were formed: the control group, which followed traditional teaching methods, and the experimental group, which experienced NDG learning approaches. The findings indicate that students using NDG perform better in math (fractions) assessments compared to those using conventional methods. This study provides empirical evidence supporting the efficacy of NDG in teaching Fractions. The results underscore the potential for educators to innovate and enhance gamification tools, particularly in mathematics, contributing to educational advancements aligned with the goals of the Malaysian Ministry of Education.