Nenny Sri Mulyani
Department Of Child Health Faculty Of Medicine Universitas Gadjah Mada/Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Korelasi Pengetahuan, Sikap dan Persepsi Bidan Terhadap Perilaku Pemberian Vaksin Hepatitis B Saat Lahir Lucia Nauli Simbolon; Nenny Sri Mulyani; Supriyati Supriyati
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.573 KB) | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.106-10

Abstract

Latar belakang. Vaksinasi hepatitis B pada bayi baru lahir merupakan upaya paling efektif untuk menurunkan prevalensi virus hepatitis B. Cakupan hepatitis dosis pertama yang rendah dipengaruhi oleh pengetahuan bidan saat menolong persalinan. Kecenderungan seseorang berperilaku sehat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, sikap, dan persepsinya.Tujuan. Mengetahui apakah ada korelasi pengetahuan, sikap, dan persepsi bidan terhadap perilaku pemberian vaksin hepatitis B nol hari di YogyakartaMetode. Penelitian dengan rancang bangun cross-sectional. Bidan penolong persalinan dari semua wilayah di Propinsi DI Yogyakarta diberikan kuisoner penelitian kemudian dilakukan analisis dengan korelasi Spearman untuk mengetahui korelasi antara pengetahuan, sikap, dan persepsi bidan terhadap perilaku pemberian vaksin hepatitis B nol hari.Hasil. Didapatkan 100 bidan menjadi responden penelitian yang diadakan sejak Maret sampai Mei 2013, 62 bidan di antaranya memberikan vaksin hepatitis B saat lahir. Terdapat 65 bidan yang memiliki pengetahuan baik, 52 bersikap positif, dan 55 memiliki persepsi positif terhadap pemberian vaksin hepatitis B nol hari. Tidak ada korelasi antara pengetahuan bidan dengan pemberian vaksin(p=0,530), sikap bidan dengan pemberian vaksin (p=0,843), persepsi bidan dengan pemberian vaksin (p=0,585).Kesimpulan. Tidak ada korelasi pengetahuan, sikap, dan persepsi bidan terhadap perilaku pemberian vaksin hepatitis B nol hari.
Hubungan Antara Hepatotoksisitas dengan Usia, Status Gizi, dan Lama Pemberian Asam Valproat pada Anak Epilepsi Siti Aurelia Nurmalasari; Elisabeth S. Herini; Nenny Sri Mulyani
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.349 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.186-9

Abstract

Latar belakang. Epilepsi masih merupakan penyakit yang banyak diderita masyarakat di seluruh dunia. Limapuluh juta orang diperkirakan menderita epilepsi di seluruh dunia dengan angka insiden tahunan berkisar 20–70 kasus per 100 000 penduduk, dan angka prevalensi 0,4%–0,8%. Prevalensi epilepsi yang tinggi secara langsung akan berimbas penggunaan asam valproat tinggi, dan dapat meningkatkan risiko dampak hepatotoksisitas.Tujuan. Mengetahui hubungan antara usia, status gizi, lama terapi dengan kejadian hepatotoksisitas pada anak epilepsi yang mendapatkan terapi asam valproat.Metode. Penelitian desain potong lintang. Data diambil pada bulan September – November 2011 di RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta. Kriteria inklusi adalah anak epilepsi usia <18 tahun yang mendapat terapi asam valproat paling sedikit 3 bulan di Poliklinik Rawat Jalan, serta bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi adalah anak yang menderita penyakit hati sebelumnya. Data diolah menggunakan korelasi Pearson dan Spearman.Hasil. Tidak ada hubungan antara usia, status gizi, lama terapi dengan hepatotoksisitas yang ditandai dengan peningkatan kadar ALT pada anak epilepsi yang menggunakan asam valproat (r=-0,009, p= 0,946; r=-0,198, p=0,136 dan r=0,009, p=0,947).Kesimpulan. Usia, status gizi, dan lama terapi tidak berhubungan dengan hepatotoksisitas pada anak epilepsi yang mendapatkan terapi asam valproat.
Hubungan Kadar Timbal Darah dengan Tingkat Inteligensi Anak Dewi Mutiati Ratnasari; Mei Neni Sitaresmi; Nenny Sri Mulyani
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.265-9

Abstract

Latar belakang. Timbal telah terbukti neurotoksin. Kadar timbal yang tinggi dalam darah dihubungkan dengan inteligensi yang rendah pada anak, tetapi sampai saat ini belum ada laporan hubungan kadar timbal dalam darah dengan inteligensi anak di Indonesia khususnya Yogyakarta.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar timbal darah dengan tingkat inteligensi anak.Metode. Penelitian potong lintang terhadap anak di 7 Sekolah Dasar kelas 1 dan 2 Inklusi di Yogyakarta pada bulan Januari 2013. Subyek penelitian diperoleh secara purposive sampling. Kriteria inklusi adalah anak dengan 5 peringkat tertinggi dan 5 peringkat terendah yang bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi adalah anak dengan sindrom Down, hiperaktif, autis, dan adanya gangguan pendengaran. Inteligensi ditentukan berdasarkan Wechsler Intelligence Scale for Children timbal dalam darah diperiksa dengan alat atomic absorption spectrophotometry. Data dianalisis dengan menggunakan uji independent t-test, uji chi-square, dan uji Fisher.Hasil. Didapatkan 80 anak (40 anak dengan inteligensi tinggi dan 40 anak dengan inteligensi rendah) diikutsertakan dalam penelitian ini. Rerata kadar timbal dalam darah anak dengan inteligensi tinggi 4,09 µg/dL (SB 0,50) lebih rendah dibandingkan dengan rerata kadar timbal dalam darah anak dengan inteligensi rendah 7,08 µg/dL (SB 0,61, IK95%: 1,429-4,555). Kadar timbal dalam darah ≥5 µg/dL lebih banyak dijumpai pada anak dengan inteligensi rendah dibandingkan dengan anak dengan inteligensi tinggi (75% vs 45%; p=0,006). Hasil analisis bivariat faktor luar didapatkan faktor lain yang memengaruhi tingkat inteligensi anak adalah stimulasi, tingkat pendidikan ibu dan sosial ekonomi (p=<0,001, p=0,001, dan p=0,001).Kesimpulan. Anak dengan inteligensi rendah mempunyai kadar timbal darah yang lebih tinggi dibandingkan anak dengan inteligensi tinggi.