Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Land-cover Dynamics and Oriental Honey-buzzard Winter Habitat Preference in Borneo, Indonesia Meirani, Utami; Prasetyo, Lilik Budi; Mulyani, Yeni A.; Syartinilia; Higuchi, Horoyoshi
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 15 No 1 (2025): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.15.1.111

Abstract

Migrasi merupakan bagian dari adaptasi perilaku individu terhadap perubahan lingkungan musiman. Migrasi dapat memberikan keuntungan bagi organisme yang dihadapkan pada perubahan sumber daya yang terbatas secara berkala. Pulau Borneo adalah salah satu tujuan migrasi musim dingin bagi Oriental Honey-buzzard di Indonesia. Dampak antara deforestasi, industrialisasi, dan urbanisasi telah menempatkan Kalimantan pada kondisi kritis. Pulau Borneo telah mengalami fragmentasi habitat yang disebabkan oleh faktor-faktor ini. ARGOS adalah alat pelacakan satelit yang telah digunakan untuk memantau pergerakan dan perilaku Oriental Honey-buzzard sejak tahun 2003. Tiga individu telah diselidiki dalam studi ini untuk menentukan respons terhadap perubahan tutupan lahan yang terjadi di Borneo pada tahun 2003, 2006, dan 2009. Kompleksitas ekologi dan hubungan antara spesies dan lingkungan yang mendukung respons Oriental Honey-buzzard dipaparkan dalam studi ini. Analisis respons menunjukkan bahwa Oriental Honey-buzzard lebih sering ditemui di area berhutan di Borneo daripada di 11 area tutupan lahan lainnya selama tiga tahun 2003, 2006, dan 2009. Durasi waktu yang dihabiskan di area berhutan secara konsisten menunjukkan durasi kehadiran terpanjang, dengan durasi masing-masing sebesar 136,88 jam, 1121,17 jam, dan 1160,53 jam pada tahun 2003, 2006, dan 2009, secara berturut-turut. Durasi kehadiran terpendek terjadi di area mangrove dan rawa pada tahun 2003, 2006, dan 2009.
The Habitat Suitability Modelling of Rhinoceros Hornbills (Buceros rhinoceros) in Java Island, Indonesia Setiawan, Taufik; Prasetyo, Lilik Budi; Mulyani, Yeni A.; Jarulis
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 14 No 2 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.14.2.253

Abstract

Rhinoceros hornbills (Buceros rhinoceros) are a bird species belonging to the Bucerotidae family, which is vulnerable based on the IUCN red list of species. This is due to habitat fragmentation, which reduced the Rhinoceros hornbill habitat on Java. Efforts and strategies are needed to maintain Rhinoceros hornbill habitats. Information on the suitability of the Rhinoceros hornbill habitat on Java Island is required to develop a Rhinoceros hornbill conservation strategy. This study aimed to determine a habitat suitability model that produces the highest accuracy, analyze hornbill habitat suitability, and identify environmental variables that affect the existence of rhinoceros hornbills. Habitat suitability models were processed using three algorithms: random forest, support vector regression, and MaxEnt. The data used to model habitat suitability were presence and environmental variables. The model was evaluated using various accuracy measures, namely overall accuracy, sensitivity (sn), specificity (sp), Area Under Curve (AUC), and kappa coefficient. The resultsof model processing showed that the random forest algorithm produced the highest average accuracy of 0.74. The most important environmental variables for the habitat suitability model were the distance from the road (16.62%), distance from the forest (12.73%), and land cover (12.47%). The habitat suitability model was divided into three classes: low suitability, covering 75,048 km2 (55.94%); medium suitability, covering 52,911 km2 (39.44%); and high suitability, covering 6,213 km2 (4.63%). The results of the habitat suitability model showed that the habitat suitability class was the smallest in the area.