Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

EFEK TEPI PADA KOMUNITAS BURUNG ANTARA TEGAKAN AGATHIS DAN PUSPA HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, JAWA BARAT Fadila Tamnge; Yeni A. Mulyani; Ani Mardiastuti
Media Konservasi Vol 21 No 1 (2016): Media Konservasi Vol. 21 No. 1 April 2016
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.486 KB) | DOI: 10.29244/medkon.21.1.83-90

Abstract

Gunung Walat University Forest (GWUF) consist of several type of tree, two of them are Agathis (Agathis loranthifolia) and Schima (Schima walichii) stand. Different types of plantation forest might create fragments that affect bird communities. As a consequence of habitat fragmentation, the amount of habitat ecotone is increase and create edge effect. The objectives of this study were to (1) analyze whether there were edge effects for birds on Agathis and Schima stand, (2) analyze bird species found in ecotonal and species in non-ecotonal habitats, (3) analyze how birds responded to the presence of ecotone. This research was conducted in Agathis and Schima stands (edge and interior) in GWUF. Birds were surveyed by using point count. Bird diversity was calculated using Shannon-Wienner Indices, followed by Kruskal-Wallis tests, and similarity of communities was tested by using Bray-Curtis. Bird response to ecotone were described using histograms. The results showed that the abundance (Kruskal-Wallis test; χ2 =11,42, df=2, P<0,05) and species richness (Kruskal-Wallis test; χ2 =10,39, df=2, P<0,05) were higher in ecotone. Each stand has specialist species. Ecotonal habitat consists of Cacomantis sonneratii, Cacomantis sepulcralis, Surniculus lugubris, Centropus bengalensis, Hirundo tahitica, and Pycnonotus aurigaster. Schima stand consists of Enicurus leschenaulti, Oriolus chinensis, and Stachyris melanothorax, while Agathis stand do not have specialist species. About 41% of the bird species were able to be mapped into model as ecotone neutral-generalist, ecotone shy-specialist, ecotone conspicuous- specialist, and ecotonal species.Keywords: bird communities, ecotone, edge effect, GWUF
BIRD AND ARTHROPOD COMMUNITIES IN FRAGMENTED HABITAT OF TERNATE Fadila Tamnge; Aqhsan Shadikin Nurdin
Media Konservasi Vol 26 No 2 (2021): Media Konservasi Vol. 26 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/medkon.26.2.111-117

Abstract

Habitat loss and fragmentation affect bird communities. Edge area created by fragmentation can affect bird communities through availability of arthropod. The objectives of this study are to examine whether there is any difference in bird diversity and abundance between different plantation types and location between fragments, and to examine if there is any correlation between arthropod and birds. To record Bird community was recorded using point count method with a distant between points 50 m and a fix radius of 25 m in each point for 10 minutes observation. Observation points were placed in each of edge and interior habitat of Cocos nucifera plantation and Syzygium cumini plantation. Arthropod sampling was done twice using yellow trap. High bird abundance and richness were recorded in edge habitat. A total of 24 bird species of 18 families and 10 orders of arthropod were identified in the study plots. There is no correlation between arthropod and bird abundance. Based on major diet, 46% of bird species were insectivores, while 54% species where other types of eater such as 29% species were frugivores, 9% species were nectarivores, and each 4% of bird species were seabirds, carnivores and scavengers, omnivores, and other bird groups). Key words: arthropod communities, bird communities, fragmentation, Ternate
PEMBUATAN LUBANG RESAPAN BIOPORI (LRB) SEBAGAI UPAYA EDUKASI LINGKUNGAN Firlawanti Lestari Baguna; Fadila Tamnge; Mahdi Tamrin
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2021): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v4i1.32484

Abstract

Semakin banyak lahan terbangun maka tingkat alih fungsi lahan semakin tinggi dan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi semakin berkurang sehingga ruang resapan menjadi rendah. Program ini bertujuan untuk mengedukasi serta meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap lubang resapan air tanah dan  pemanfaatan air resapan dan sampah organik bagi lingkungan. Permasalahan lingkungan yang dihadapi Kelurahan Sasa yaitu rendahnya ketersediaan air bersih dan pengetahuan pengelolaan sampah organik. Kegiatan yang dilakukan berupa sosialisasi dan pelatihan pembuatan LRB.  Hasil kegiatan yaitu terpasangnya 10 lubang resapan biopori sebagai contoh untuk dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat, juga tersedianya pupuk organik padat dari sampah-sampah organik yang dapat digunakan sebagai input produksi pada lahan pertanian sehingga dapat mengurangi biaya produksi serta masyarakat dapat menjaga lingkungan dan ketersediaan air bersih
KAJIAN ETNOBOTANI DAN KONSERVASI CENGKIH AFO DI TERNATE Fadila Tamnge; Yusnaeni Yusnaeni
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 8, No 2 (2019): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tk.v8i2.1385

Abstract

Cengkih memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai pusat budaya dan wisata sejarah di Kota Ternate. Keberadaan cengkeh afo II sebagai cengkih tertua di dunia merupakan saksi bisu sejarah rempah Indonesia. Memanfaatkan, mempelajari, dan menyelamatkan Cengkeh Afo merupakan upaya-upaya dalam strategi konservasi (Wilson 1992). Tujuan penelitian ini yaitu (1) Identifikasi aspek etnobotani cengkeh afo pada masyarakat Desa Tongole, dan (2) identifikasi aspek konservasi cengkeh afo terutama kondisi habitatnya di alam. Penelitian dilaksanakan di Desa Tongole Kelurahan Marikurubu pada Agustus-September 2019. Metode yang digunakan yaitu wawancara dan inventarisasi vegetasi. Data hasil wawancara yang diperoleh dianalisis dengan cara melakukan peringkasan data, penggolongan, penyederhanaan, penelusuran dan pengaitan antar tema. Selanjutnya data yang telah diperoleh disajikan secara deskriptif. Hasil inventarisasi vegetasi dianalisis menggunakan Indeks Nilai Penting dan Indeks keanekaragaman dan Kemerataan (Shannon-Wiener). Berdasarkan hasil pengukuran di lokasi penelitian,  Masyarakat Desa Tongole memanfaatkan cengkih Afo sebagai penyedap rasa alami dan tumbuhan obat. Terdapat 11 kategori pemanfaatan tumbuhan berguna oleh masyarakat Desa Tongole, dan Cengkih Afo III memiliki nilai uji pohon plus sebesar 72%.
EDUTAINMENT: PENGENALAN HUTAN DAN LINGKUNGAN HIDUP PADA ANAK USIA DINI MENGGUNAKAN ALAT PERMAINAN EDUKASI DI DUSUN BANGKO KECAMATAN JAILOLO TIMUR Fadila Tamnge; Firlawanti Lestari Baguna; Mahdi Tamrin
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i2.7958

Abstract

ABSTRAKPermasalahan SD Tuwokona yang berada di Dusun Bangko Kecamatan Jailolo Timur Kabupaten Halmahera Selatan belum pernahmemberikanpengetahuan tentang pengenalan hutan dan lingkungan kepada siswa. Hal ini menyebabkan siswa terlihat bermain di lingkungan sekitar, mereka mencari telur burung dan soa-soa sebagai alat permainan kemudian telur-telur tersebut dirusak. Pengetahuan tentang lingkungan dan hutan sejak dini merupakan hal penting untuk meningkatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi generasi berikutnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan nilai, sikap dan semangat konservasi pada diri siswa. Pengenalan hutan dan lingkungan hidup melalui dua kegiatan yaitu sosialisasi dan permainan edukatif. Kegiatan sosialisasi berupa penyampaian informasi seperti pentingnya reboisasi, sadar sampah, penggunaan air bersih, mencintai hidupan liar dan lainnya. Sementara itu, permainanedukasi ular tangga melibatkan 18 siswa dan siswi kelas 4–6. Hasil dari kegiatan ini adalah meningkatnya semangat dan motivasi belajar siswa. Selama kegiatan berlangsung, siswa SD Tuwokona terlihat sangat antusias. Hal ini karena kegiatan belajar diselingi dengan media pembelajaran ular tangga.   Melalui permainan edukasi ular tangga, siswa dapat belajar dan mengulang kembali materi-materi terkait pengenalan hutan dan lingkungan hidup yang telah disampaikan oleh Tim PKM sehingga kegiatan ini diharapkan tidak hanya membuat siswa paham tentang pentingnya keberadaan hutan dan lingkungan hidup namun lebih jauh dari itu dapat merubah sikap dan pola pikir siswa tentang pentingnya hutan dan lingkungan hidup bagi generasi selanjutnya. Kata kunci: hutan; lingkungan hidup; anak usia dini; sekolah dasar ABSTRACTThe problem of Tuwokona Elementary School in Bangko, East Jailolo of West Halmahera Regency has never provided knowledge about the introduction of forests and the environment to students. This causes students to be seen playing in their environment surroundings looking for lizard and bird eggs as a game tool later they spoil the eggs. Knowledge of the environment and forests from an early age is an important thing to increase and conserve biodiversity to create a better life for the next generation. The aim of this activity is to foster the values, attitudes, and spirit of conservation in students through the introduction of forest and the environment activity. The introduction of forest and the environment are carried out through two activities, such as socialization activities and educational games, namely snakes and ladders. Socialization activities carried out such as delivering information about the importance of reforestation, awareness of waste, use of clean water for household purposes, washing hands with soap, and loving wildlife. All information is presented in the form of infographics to make it easier for students to understand. Furthermore, the snake and ladder educational game involved 18 students in grades 4th–6th. The result of this activity is an increase in students’ enthusiasm and motivation to learn. During the activity, students of Tuwokona Elementary School looked very enthusiastic. This is because learning activities are interspersed with snake and ladder learning media. Through the educational game snakes and ladders, students can learn and repeat materials related to the introduction of forest and the environment that have been delivered by the PKM team so that this activity is expected to not only make students understand the importance of the existence of forest and the environment but also to change students’ attitude and mindset about the importance of forest and the environment for the next generation. Keywords: forest; environment; early childhood; elementary school
PENGEMBANGAN TAMAN SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI PULAU TERNATE Nurlaila Syaifuddin; Firlawanti Lestari Baguna; Aqshan Shadikin Nurdin; Much Hidayah; Fadila Tamnge
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 3 No 3: Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v3i3.1975

Abstract

Vegetasi penyusun taman dan hutan kota merupakan bagian yang berperan dalam fungsi ruang terbuka hijau (RTH). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipologi ruang terbuka hijau dan vegetasi penyusunnya di Pulau Ternate, Mengevaluasi kesesuaian jenis vegetasi berdasarkan persyaratan sivikultur, manajemen dan estetika serta Menyusun akternatif pemilihan jenis vegetasi yang memiliki kesesuaian tempat tumbuh pada ruang terbuka hijau. Metode penelitian menggunakan metode survei, survei dilakukan dengan cara sensus pohon. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan skoring untuk menilai kecocokan jenis vegetasi berdasarkan persyaratan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe ruang terbuka hijau di Kawasan Perkotaan Pulau Ternate secara fisik tergolong RTH alami dan RTH non alami, memiliki fungsi ekologis, sosial budaya, ekonomi dan estetika serta ekonomi. Secara struktur termasuk RTH yang mengikuti pola ekologis dengan bentuk mengelompok dan berdasarkan kepemilikan termasuk dalam RTH publi. Jenis vegetasi penyusun RTH di Kawasan perkotaan Pulau Ternate terdiri atas 18 jenis pohon diantaranya 16 jenis pohon sesuai dan 2 jenis pohon cukup sesuai dengan persyaratan dan kriteria silvikultur, manajemen dan estetika. Vegetasi penyusun RTH yang sesuai dengan tempat tumbuh dan efektif dalam mengendalikan pencemaran udara yaitu Tanjung, Angsana dan Mahoni.
Edukasi Burung Cekakak Biru-Putih (Todiramphus diops) Kepada Anak Usia Dini Menggunakan Metode Story Telling di Kelurahan Kastela Fadila Tamnge; Andy Kurniawan; Zulkarnain Riswan Umanahu
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 3 No 1 (2023): JPMI - Februari 2023
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.971

Abstract

Pemberdayaan Masyarakat adalah proses pembangunan dimana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Kegiatan sosialisasi dan edukasi “Mengenal lebih dekat cekakak biru-putih (T.diops), burung endemik Maluku Utara” ini diselenggarakan di Kelurahan Kastela yang bertujuan untuk mengedukasi anak-anak usia dini tentang satwa liar endemik Maluku Utara yang ada di sekitar lingkungan mereka. Kegiatan dilaksanakan melalui dua tahapan yaitu tahap sosialisasi dan literasi pantai Kastela. Kegiatan sosialisasi merupakan kegiatan penyampaian materi seputar fakta ekologis, status penyebaran, status konservasi, dan peran penting burung cekakak di alam menggunakan metode story telling. Sementara itu literasi pantai Kastela merupakan kegiatan bebas yaitu membaca dan bermain bersama mitra. Hasil kegiatan PKM menunjukkan bahwa anak-anak usia dini yang terlibat sangat antusias dengan kegiatan yang ditawarkan. Beberapa dampak positif yang ditunjukan oleh mitra adalah perkembangan imajinasi dan daya pikir anak saat proses diskusi berlangsung serta ketertarikan anak-anak pada buku bacaan yang ditawarkan oleh tim PKM.
Penyuluhan dan Pembagian Alat Produksi Kasbi Lempeng pada Kelompok Masyarakat di Desa Dodinga Aqshan Shadikin Nurdin; Ramli Hadun; Abdul Kadir Kamaluddin; Asiah Salatalohy; Andy Kurniawan; Mahdi Tamrin; Nurhikmah Nurhikmah; Rosita Rosita; Reyna Ashari; Fadila Tamnge; Firlawanti Lestari Baguna; Laswi Irmayanti; Aisjah Rachmawaty Ryadin; Much Hidayah Marasabessy; Adesna Fatrawana
Repong Damar: Jurnal Pengabdian Kehutanan dan Lingkungan Vol 2, No 1 (2023): June
Publisher : Magister of Forestry,Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/rdj.v2i1.7410

Abstract

Kasbi lempeng adalah makanan tradisional yang banyak dikonsumsi di beberapa daerah di Indonesia. Dalam penyuluhan dan pembagian alat produksi Kasbi lempeng, penting untuk memastikan peserta memahami informasi yang disampaikan dan memiliki keterampilan dalam menggunakan alat produksi tersebut. Penyuluhan dan pembagian alat produksi kasbi lempeng adalah kegiatan yang bertujuan untuk memberikan informasi dan bantuan kepada masyarakat terkait dengan proses produksi kasbi lempeng.  Pembagian alat produksi kasbi lempeng dapat dilakukan dalam rangka memperluas produksi kasbi lempeng di masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan produksi kasbi Lempeng.
Empowerment of The Village Forest Management Institution Baharu through Optimizing the Utilization of Bamboo in Foramadiahi Baguna, Firlawanti Lestari; Tamnge, Fadila; Kurniawan, Andy; Hadun, Ramli; Nurdin, Aqshan Shadikin; Marasabessy, Much Hidayah
Altifani Journal: International Journal of Community Engagement Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/altifani.v4i1.7017

Abstract

The lack of public in using bamboo is due to the absence of a market and lack of public. Optimizing the use of bamboo can help society increase an economic household. The aim of carrying out service activities is to improve the skills and abilities of the village forest management institution or LPHD Baharu in using bamboo as a basic material for crafts and being able to understand the concept of an independent community economy. The activity was carried out at LPHD Baharu of Foramadiahi in Ternate, North Maluku. Activities were carried out with the LPHD forest farmers group in Foramadiahi. The method used is socialization and training to process bamboo into crafts that have marketable value. All stages of activities were carried out well and supported by community participation. Some of the uses of bamboo in Foramadiahi are as house fences, braces (gata-gata), and support poles (house building materials/concoctions). Apart from that, bamboo can also be processed into various crafts and weaves. It is hoped that these activities can provide knowledge and skills for the community to develop the potential of bamboo in Foramadiahi so that it can help the community become an independent sub-district. 
Edge Effect on Bird Community in Ternate, North Maluku, Indonesia Tamnge, Fadila; Nurdin, Aqshan Shadikin; Baguna, Firlawanti Lestari; Kurniawan, Andy; Tamrin, Mahdi; Husen, Nurmila
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 30 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7226/jtfm.30.1.21

Abstract

The edge is a meeting place between two ecosystems, or it can also be interpreted as a boundary where two habitats meet and interact. The presence of edges can create an edge effect and increase richness and species abundance. In the present study, we analyzed how edge and vegetation diversity affect a) bird communities and b) how birds respond to edges. Observation plots were placed in jamblang stands and coconut plantations (edge and interior). Bird communities were observed using point counts with a fixed radius of 25 m, and the distance between plots was 50 m. A survey of vegetation diversity was conducted using a combination of the transect and plot methods. The research showed that the highest species richness and diversity of birds (128 individuals of 18 species) and vegetation (168 individuals of 20 species) were found at the edge, although there were only slight differences in the number of species in each habitat. This was influenced by the structure and composition of the vegetation at the observation site. Nevertheless, this proves that the edge effect shapes the composition of bird communities. There are 9 species of bird can be mapped into 4 response models: generalis neutral, generalist edge exploiter, specialist edge exploiter, and edge specialist.