Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Strengthening Destination Branding Through Local Product Innovation in Watusigar Village, Ngawen, Gunungkidul Wiyatiningsih Wiyatiningsih; Tutun Seliari; Cheryl Marlitta Stefia; Maria Kinanthi Sakti Ning Hapsari; Angelica Riwu Kore
Journal of Innovation and Community Engagement Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Faculty of Smart Technology and Engineering, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/ice.v4i3.7126

Abstract

Kalurahan Watusigar, which declared itself a conservation village, has a strategic location as the main access point for tourists from the north and east to the tourism area in Gunungkidul Regency, offering the opportunity to pioneer a green tourism village. The local community of Kalurahan Watusigar has initiated various initiatives through collaboration with relevant stakeholders. One such collaboration, with the Research and Community Service Institution of Duta Wacana Christian University (LPPM UKDW), is a community service activity aimed at strengthening destination branding through training for local product innovations of eco prints. The selection of eco print products is based on the availability of plants in the Watusigar area that can be used as natural dyes. The objective of this community service activity is to focus on developing the branding of Kalurahan Watusigar as a conservation village and green tourism village through local product innovation using natural materials and marketing strategies in accordance with digital technology. The target audience for this activity is the community members and Karang Taruna members of Kalurahan Watusigar. This community service activity introduces the eco print product ecosystem, which is the value chain of eco print products starting from creation, production, distribution, consumption, and conservation, utilizing action research methods through training, discussions, and workshops. The result of this community service activity is the expansion of knowledge about plants and materials in the environment to be used as environmentally friendly craft products. The eco print product innovation is an essential step in creating a creative economy ecosystem in Kalurahan Watusigar.
Perubahan Pola Ruang Gender akibat Syariat dan Alih Fungsi dalam Arsitektur Rumoh Aceh Mayola Glorya Siregar; Wiyatiningsih Wiyatiningsih; Paulus Bawole
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 5 No. 1 (2026): Eksplorasi Teori, Budaya, dan Inovasi dalam Arsitektur Kontemporer
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v5i1.898

Abstract

Rumoh Aceh adalah arsitektur tradisional yang kental dengan nilai budaya dan diatur ketat oleh Syariat Islam, terutama dalam hal batasan ruang gender untuk menjaga privasi dan interaksi keluarga. Prinsip spasial ini masih diterapkan di Kecamatan Ingin Jaya. Namun, tekanan sosial-ekonomi telah memicu alih fungsi signifikan, mengubah Rumoh Aceh dari hunian pribadi menjadi fasilitas komersial seperti homestay dan warung. Alih fungsi ini menimbulkan dilema kritis karena berpotensi melonggarkan bahkan menggeser kaidah Syariat Islam terkait ruang gender. Batasan ruang yang semula kaku kini beradaptasi menjadi lebih longgar demi memenuhi tuntutan komersialisasi dan modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola spasial baru yang terbentuk akibat alih fungsi, dan menganalisis upaya adaptasi sosial-budaya masyarakat. Adaptasi ini penting untuk memitigasi konflik antara kebutuhan ekonomi dengan kepatuhan syariat. Menggunakan penelitian kualitatif dengan metode Etnografi untuk mengkaji perubahan perilaku dan budaya dalam konteks ruang. Kebaruan penelitian ini terletak pada pembahasan perubahan Ruang Gender dan dampaknya terhadap kaidah Syariat Islam pada Rumoh Aceh yang dikomersialkan. Hasilnya menunjukkan bahwa alih fungsi komersial adalah faktor utama yang menyebabkan pelonggaran batasan ruang gender. Ditemukan adanya pola konflik yang jelas antara pemanfaatan ruang untuk tujuan ekonomi dan upaya masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai agama.
Pola Adaptasi Meruang Pengungsi pada Hunian Sementara (Huntara) Bencana Erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang Jawa Tengah Evi Yuliyanti; Wiyatiningsih Wiyatiningsih
Jurnal Permukiman Vol 17 No 2 (2022)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2022.17.77-84

Abstract

Saat terjadi erupsi Gunung Merapi, Pemerintah Kabupaten Magelang harus mengungsikan penduduk yang berada pada jarak 5 km dari puncak Merapi, hal ini membutuhkan penanganan yang khusus karena pada setiap fase erupsi Gunung Merapi, warga diungsikan selama 7 sampai dengan 11 bulan. Pengungsian tersebut terjadi secara berkala setiap 4-5 tahun sekali. Adapun selama masa pengungsian tersebut Pemerintah Kabupaten telah menyediakan huntara, namun huntara yang disediakan belum optimal dalam memberikan kenyamanan sehingga pada tahun 2020 saat terjadi pengungsian erupsi Gunung Merapi, terdapat pengungsi yang memutuskan untuk meninggalkan huntara menuju ke rumahnya dan ada pula yang tetap tinggal di huntara namun membentuk pola perilaku dan adaptasi sebagai upaya mereka dalam mengatasi ketidaknyamanan tersebut. Ketidaknyamanan bangunan baik secara fisik maupun termal mengakibatkan perubahan perilaku dan pembentukan pola adaptasi pengungsi. Ada beberapa hal yang perlu dirubah pada ruang huntara agar dalam pengungsian erupsi Gunung Merapi selanjutnya para pengungsi dapat menjalani pengungsian dengan lebih nyaman.