Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Widyaparwa

PENANDA JAMAK INFLEKSI DALAM BAHASA SUNDA Riani Riani
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2241.69 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.57

Abstract

Inti Sari Penelitian ini memerikan afiks-afiks infleksi penanda jamak serta proses infleksi afiksasi penanda jamak pada nomina, adjektiva, dan verba dalam bahasa Sunda dengan menggunakan teori Word-and-Paradigm yang dikemukakan oleh Booij (2005). Konstruksi Word-and-Paradigm dapat memberikan gambaran proses terjadinya infleksi, yaitu proses afiksasi yang tidak mengubah kelas kata dan memberikan paradigma tambahan berupa penanda jamak. Metode dalam penelitian ini ialah metode intropeksi dan observasi terhadap empat buku tata bahasa Sunda karangan Coolsma (1985), Robins (1983), Rusyana (1978), dan Kats, J dan Soeriadiradja (1982). Data dianalisis dengan menggunakan metode formal, distributional dan teknik parafrase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ditemui sedikit afiks dan reduplikasi yang dapat dikategorikan sebagai pembentuk kata infleksi. Afiks pembentuk infleksi karena bahasa Sunda termasuk ke dalam bahasa aglutinatif. The research describes some afixes that form inflection plural markers and plural marker afixation of inflection process on noun, adjective, and verb in Sundanese language by using Word-and-Paradigm proposed by Booij (2005). Word-and-Paradigm construction can be used to illustrate inflection process, which is afixation process that does not change word class and gives plural paradigm addition. The method in the research is intropection on Sundanese native speaker and observation on four Sundanese grammar books written by Coolsma (1985), Robins (1.983), Rusyana (1978), dan Kats, I and Soeriadiradja (1.982). The data is analyzed by using formal method, distribution, and pharafrase technique. The research result shows that there are small numbers of afixxes and reduplications categorized as inflectional word formation. The small number of inflectional affixes indicate that Sundanese language is clasified as aglunitative language.
DOMINASI BAHASA INGGRIS PADA NAMA BADAN USAHA DI YOGYAKARTA Riani Riani
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2870.9 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.92

Abstract

Tulisan ini membahas pengaruh bahasa Inggris terhadap penggunaan bahasa Indonesia dalam penamaan badan usaha di Yogyakarta. Data penelitian ini berupa frasa dan kata yang digunakan untuk menamai badan usaha di Yogyakarta. Data dikumpulkan dengan metode simak dan catat. Teori dalam tulisan ini meliputi struktur frasa nomina, relasi makna asosiatif, dan xenoglossophilia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengaruh bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia dalam penamaan badan usaha sangat besar yang terlihat pada (1) bagaimana pengaruh struktur frasa nomina bahasa Inggris MD (menerangkan-diterangkan) terhadap struktur frasa nomina bahasa Indonesia DM (diterangkan-menerangkan) yang cukup mendominasi baik pada struktur maupun pilihan kata pada nama badan usaha; (2) pemilihan kosakata bahasa Inggris dalam penamaan nama badan usaha juga lebih diutamakan oleh pemilik badan usaha karena pengaruh kuat makna asosiasi bahasa Inggris yang dianggap lebih bergengsi dibandingkan bahasa Indonesiai; (3) dominasi pemakaian struktur dan pilihan kata bahasa Inggris terhadap penamaan badan usaha tampak tinggi terlihat dari jumlah nama badan usaha banyak menggunakan bahasa Inggris. Kecenderungan ini menunjukkan gejala xenoglossophilia atau rasa cinta berlebihan terhadap bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dibandingkan dengan bahasa Indonesia. This paper discusses the influence of English in naming of enterprise in Yogyakarta. The research data are phrase and word that are used for naming enterprise in Yogyakarta. The data is collected by observing and recording. The theory includes noun phrase structure, associative meaning relation, and xenoglossophilia. The research result shows that the influence of English on lndonesia in naming enterprise is great that can be shown on (1) haw the influence of English noun phrase structure MD (to explain-to be explained) on lndonesian noun phrase structure DM (to be explained-to explain) that is quite dominated both on structure and word choice of enterprise name; (2) The English vocabulary selection in naming enterprise is also more emphasized by the enterprise owner because the strong influence of English association meaning that is considered more prestige than lndonesian's. Domination of English structure and vocabulary in naming seems high as shown by great number of English use on enterprise name. The tendency of English domination points to xenoglossophilia or an infatuation with foreign languages, particularly English than lndonesian.