Benedictus Audy Andarto
Universitas Tanjungpura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERUBAHAN PEMBELAJARAN DARING KE LURING DI SMA NEGERI 1 SUNGAI AMBAWANG Iwan Ramadhan; Benedictus Audy Andarto; Figur Adhiyakam; Muhammad Teddy Fachreza; Valena Anggelini Melisa
Gema Pendidikan Vol 29, No 1 (2022): Januari, Gema Pendidikan
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/gapend.v29i1.22240

Abstract

Pandemi Covid berdampak pada semua aspek kehidupan kita termasuk di bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia mengalami perubahan saat pandemi Covid-19 melanda, namun perlahan kasus Covid-19 mulai menunjukkan perubahan yang signifikan, sehingga sekolah kembali diperbolehkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka walaupun dengan pembatasan jumlah siswa dan penerapan kebiasaan baru seperti mencuci tangan dan memakai masker serta pelaksanaan tes swab di awal pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SMAN 01 Sungai Ambawang. Metode yang digunakan untuk Mengamati Perubahan Pembelajaran Online Ke Offline Di SMA Negeri 01 Sungai Ambawang adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik penelitian observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perubahan pembelajaran di SMA Negeri 01 Sungai Ambawang masih harus menyesuaikan lagi dengan kebijakan pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Guru harus memiliki strategi khusus agar target pembelajaran tercapai sesuai dengan hasil belajar. Perubahan pembelajaran dari luring ke offline menimbulkan respon positif siswa karena menimbulkan motivasi belajar dan membangun kembali komunikasi antara guru dan siswa.
Traditional Rituals of Death: Kanjan Serayong Traditional Ritual Procession for Pesaguan Dayak Ethnicity in Natai Panjang Village, Tumbang Titi District Benedictus Audy Andarto; Imran Imran
International Journal Ethnic, Racial and Cultural Heritage Vol 1, No 1 (2023): July 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/ijerch.v1i1.65010

Abstract

The research aims to explore information about the Kanjan Serayong traditional ritual of death, which has received limited exposure outside the region, as well as to understand the series of processions involved, ranging from the initial to the core and concluding processes of the Kanjan Serayong custom. This traditional ritual of death is unique to the Dayak Pesaguan tribe, where the mourning atmosphere transforms into a joyful one. However, the community tends to perceive the Kanjan Serayong ritual merely as a festive celebration, overlooking its cultural significance. The methods employed in this research include interviews, direct observation, and documentation. The findings reveal that the Kanjan Serayong traditional ritual begins with the core procession, which includes membulah tetaruk, membulah natar, menyimah tihang sandung, mamatik tambarirang, and menumang kepala. The core procession comprises the presentation of palalawat, manungkung garung, ma'alap tulang, memutus bulen, and memasar tambak. The closing procession involves memantang kasau, papalit porang baliung, and pepiring boras, signifying the conclusion of the Kanjan Serayong traditional ritual. Throughout the Kanjan Serayong ritual, it becomes evident that this traditional practice consists of a complex series of rituals that require considerable financial, temporal, and physical investments, thereby making it profoundly sacred to the Dayak Pesaguan community. Kanjan Serayong is also seen as a way to express gratitude and respect towards deceased family members. In this traditional ritual, the strong sense of kinship among the Dayak Pesaguan community, especially in the village of Natai Panjang, is evident as they collectively prepare for the Kanjan Serayong ritual.