Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Semaglutide Oral (Rybelsus) pada Diabetes Melitus Tipe 2 di Ras Asia: Tinjauan Pustaka Ghilda Ainun Nisaa S; Santun Bhekti Rahimah; Yuke Andriane
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.546

Abstract

Abstract. Oral semaglutide is a GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) which activates the GLP-1 receptor and causes increased control of blood glucose, through increased insulin secretion by pancreatic beta cells, decreased glucagon secretion by pancreatic alpha cells, and decreased emptying rate. stomach. The hormone GLP-1 can have an incretin effect, namely the production of more insulin due to high glucose levels. The effect of increasing in patients with DM(T)2 decreased as active GLP-1 levels also decreased. GLP-1 can also regulate pancreatic beta cell genes by inhibiting their apoptosis, preventing glucolipotoxicity, and enhancing beta cell function. The administration of oral semaglutide drug in DM(T)2 patients with Asian race is also superior because the drug can suppress appetite and make weight loss which will control DM(T)2 in Asian races who have adiposity/fat content and waist circumference is higher. higher than other races, and had a higher decrease in HbA1c levels. Abstrak. Semaglutide oral merupakan GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang akan mengaktifkan reseptor GLP-1 dan menyebabkan peningkatan kontrol dari glukosa darah, melalui peningkatan sekresi insulin oleh sel beta pankreas, penurunan sekresi glukagon oleh sel alfa pankreas, dan penurunan laju pengosongan lambung. Hormon GLP-1 dapat memberikan efek incretin, yaitu pengeluaran insulin yang lebih banyak karena kadar glukosa yang tinggi. Efek incretin pada pasien DM(T)2 mengalami penurunan seiring dengan kadar GLP-1 aktif yang juga menurun. GLP-1 juga dapat mengatur gen sel beta pankreas dengan menghambat apoptosisnya, mencegah glukolipotoksisitas, dan meningkatkan fungsi sel beta. Pemberian obat semaglutide oral pada pasien DM(T)2 dengan ras Asia juga lebih unggul karena obat tersebut dapat menekan nafsu makan dan membuat penurunan berat badan yang akan mengendalikan DM(T)2 pada ras Asia yang memiliki adipositas/ kandungan lemak dan lingkar pinggang lebih tinggi dibandingkan ras lain, serta memiliki penurunan kadar HbA1c yang lebih tinggi.
Teh Hijau (Camellia Sinensis) dapat Menurunkan Profil Lipid pada Pasien Dislipidemia: Kajian Pustaka Gita Puspa Mahardhika; Yuke Andriane; Riri Risanti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1533

Abstract

Abstract. Dyslipidemia is a lipid metabolism disorder that causes an increase or decrease in the lipid fraction of the plasma. Dyslipidemia is a risk factor for diseases with high mortality rates, such as cardiovascular disease. World Health Organization (WHO) stated there are 2.6 million deaths due to dyslipidemia per year. Fifty-three percent of dyslipidemic patients did not comply with treatment due to fear of side effects. Non-adherence to hypolipidemic drugs causes an increase in cardiovascular events and mortality, hence alternative therapy needs to be considered. Green tea contains epigallocatechin gallate (EGCG), epicatechin gallate (ECG), epigallocatechin (EGC), and epicatechin (EC) which can lower lipid profiles by various mechanisms. Catechins with gallate esters in green tea decrease the synthesis of cholesterol and triglycerides by interfering with emulsification, hydrolysis, micelle formation, and lipid absorption in the intestinal lumen. EGCG can lower LDL by increasing LDL-R expression. Abstrak. Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid yang menyebabkan adanya peningkatan atau penurunan fraksi lipid dalam plasma. Dislipidemia menjadi faktor risiko dari penyakit – penyakit dengan tingkat mortalitas tinggi, seperti penyakit kardiovaskular. Berdasar atas data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan terdapat 2,6 juta kematian akibat dislipidemia per tahunnya. Terdapat 53% pasien dislipidemia yang tidak patuh menjalani pengobatan karena takut akan efek samping yang ditimbulkan. Ketidakpatuhan penggunaan obat dislipidemia ini menyebabkan peningkatan kejadian kardiovaskular dan kematian sehingga terapi alternatif perlu dipertimbangkan. Teh hijau mengandung epigallocatechin gallate (EGCG), epicatechin gallate (ECG), epigallocatechin (EGC), dan epicatechin (EC) yang dapat menurunkan profil lipid dengan berbagai mekanisme. Catechin dengan ester gallate pada teh hijau dapat mengganggu proses emulsifikasi, hidrolisis, pembentukan misel, dan penyerapan lipid di lumen usus sehingga sintesis kolesterol dan trigliserid menurun. EGCG dapat menurunkan LDL dengan meningkatkan ekspresi LDL-R.
Scoping Review: Efek Daun Belalai Gajah (Clinacanthus nutans) terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah pada Tikus Model Diabetes Rifqy Zidane El-Fariq Nizar; Yuke Andriane; Saleh Trisnadi
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1749

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease caused by a decrease in the activity of the pancreas in producing insulin or when the body cannot use the insulin it produces effectively. The body of people with diabetes is unable to absorb glucose properly, causing hyperglycemia conditions which can lead to life-threatening complications. The prevalence and cases of DM in the world increased continuously over the last few decades. Non-compliance to the use of antidiabetic drugs can cause disruption of body functions and mortality, hence alternative therapies need to be considered. The compounds in belalai gajah leaves that have been tested to have antihyperglycemic effects include flavonoids, saponins, and tannins with various mechanisms.. The purpose of this study was to determine the effect of belalai gajah leaves (Clinacanthus nutans) on reducing blood glucose levels in diabetic rats. This research method is scoping review, by searching for articles published in 2011-2021 on the Google Scholar, Proquest, Springer Link, and Science Direct databases. The sample in this study is research articles in international journals that meet the inclusion, exclusion and feasibility criteria based on PICOS, totaling three articles. The results of this study showed that belalai gajah leaves (Clinacanthus nutans) could significantly reduce blood glucose levels (p≤0.05) compared to the control group. Flavonoid, saponins, and tannins play a role in the repair of pancreatic beta cells, inhibition of glucose release, and increase insulin activity and GLUT-4 translocation through the P13K and MAPK pathways. This mechanism can reduce blood glucose levels in diabetic rats. Abstrak. Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit kronis yang diakibatkan oleh penurunan aktivitas pankreas dalam memproduksi insulin atau saat tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya secara efektif. Tubuh penderita DM tidak mampu menyerap glukosa dengan baik sehingga menimbulkan kondisi hiperglikemia yang menyebabkan komplikasi yang dapat mengancam jiwa. Jumlah prevalensi dan kasus DM di dunia terus mengalami peningkatan selama beberapa dekade terakhir. Ketidakpatuhan penggunaan obat antidiabetes dapat menyebabkan terganggunya fungsi tubuh dan kematian sehingga terapi alternatif perlu dipertimbangkan. Kandungan senyawa dalam ekstrak daun belalai gajah yang telah teruji memiliki efek antihiperglikemik di antaranya flavonoid, saponin, dan tanin dengan berbagai mekanisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek daun belalai gajah (Clinacanthus nutans) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus model diabetes. Metode penelitian ini adalah scoping review, dengan mencari artikel yang dipublikasikan tahun 2011-2021 pada database Google Scholar, Proquest, Springer Link, dan Science Direct. Sampel dalam penelitian ini berupa artikel penelitian pada jurnal internasional yang memenuhi kriteria inklusi, eksklusi dan uji kelayakan berdasarkan PICOS berjumlah tiga artikel. Hasil penelitian ini menunjukkan daun belalai gajah (Clinacanthus nutans) dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan signifikan (p≤0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Senyawa flavonoid, saponin, dan tanin berperan dalam perbaikan sel beta pankreas, inhibisi pengeluaran glukosa, serta meningkatkan aktivitas insulin dan translokasi GLUT-4 melalui jalur P13K dan MAPK. Mekanisme tersebut dapat menurunkan kadar glukosa darah pada tikus model diabetes.
Efek Antikanker dan Ko-Kemoterapi Nanopartikel Alginat Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona Muricata) dengan Doxorubicin pada Kultur Sel Kanker Serviks Uteri (HeLa) Revina Mayra Salsabila Hasyim; Lelly Yuniarti; Yuke Andriane
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5741

Abstract

Abstract. Uterine cervical cancer ranks fourth in the world and Asia and second in Indonesia. Cervical uteri cancer chemotherapy with doxorubicin still has high side effects. To reduce these side effects, combination therapy can be carried out between standard drugs and drugs from natural ingredients, one of which is soursop leaf in the form of nanoparticles which can increase the delivery of compounds. The purpose of this study was to analyze the anticancer effect of alginate nanoparticles of soursop leaf ethanol extract and its combination with doxorubicin on cervical uteri cancer (HeLa) cells. This research is a pure in vitro experimental study on cervical uteri cancer cell culture (HeLa). The cytotoxicity test was carried out using the microtetrazolium method and analyzed using the SPSS software probit regression. The combination test was carried out with concentrations of 1/2 IC50, 3/8 IC50, 1/4 IC50, 1/8 IC50 and analyzed using CompuSyn software to obtain a CI value indicating the synergy of the preparations. This study had an IC50 of soursop leaf extract nanoparticles of 52.0825 (±24.26) µg/mL (moderate effect) and doxorubicin which had an IC50 of 4.8 (±0.10) µg/mL (strong effect). The lowest CI value obtained was 0.04106. The conclusion of this study is that soursop leaf extract nanoparticles have a moderate anticancer effect and are highly synergistic with eight combinations of doxorubicin. Abstrak. Kanker serviks uteri menempati urutan keempat di dunia dan Asia serta kedua di Indonesia. Kemoterapi kanker serviks uteri dengan doxorubicin masih memiliki efek samping yang tinggi. Untuk menurunkan efek samping tersebut, dapat dilakukan terapi kombinasi antara obat standar dengan obat dari bahan alam, salah satunya adalah daun sirsak dalam bentuk nanopartikel yang dapat meningkatkan penghantaran senyawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efek antikanker sediaan nanopartikel alginat ekstrak etanol daun sirsak dan kombinasinya dengan doxorubicin pada sel kanker serviks uteri (HeLa). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni in vitro pada kultur sel kanker serviks uteri (HeLa). Uji sitotoksisitas dilakukan menggunakan metode microtetrazolium dan dianalisis melalui regresi probit software SPSS. Uji kombinasi dilakukan dengan konsentrasi 1/2 IC50, 3/8 IC50, 1/4 IC50, 1/8 IC50 dan dianalisis menggunakan software CompuSyn hingga didapatkan nilai CI yang menunjukkan sinergitas sediaan. Penelitian ini memiliki hasil IC50 nanopartikel ekstrak daun sirsak sebesar 52,0825 (±24,26) µg/mL (efek sedang) dan doxorubicin yang memiliki IC50 sebesar 4,8 (±0,10) µg/mL (efek kuat). Nilai CI terendah yang didapatkan adalah sebesar 0,04106. Kesimpulan penelitian ini adalah nanopartikel ekstrak daun sirsak memiliki efek antikanker sedang dan bersifat sinergis sangat kuat dengan doxorubicin sebanyak delapan kombinasi.
Hubungan Penyakit Ginjal Kronik dengan Derajat Klinis Covid-19 di Ruang Rawat Inap RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2021 Tasya Sherina; Yuke Andriane; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6710

Abstract

Abstract. Chronic kidney disease can increase the risk of death due to COVID-19 infection. It is caused by changes in the immune system, including persistent systemic inflammation and immunosuppression. Apart from respiratory cells, SARS-Cov-2 also attacks other organs, including the kidney where there are proximal renal tubular epithelial cells, glomerular mesangial cells, and podocytes that express ACE2 receptors on their surface which are the targets of COVID-19. This study uses an observational analytic design through a cross-sectional approach. The sampling technique used simple random sampling which met the inclusion and exclusion criteria, with a total sample of 60 taken from secondary data in the form of inpatient medical records. Bivariate analysis was carried out to analyze the relationship between chronic kidney disease and the clinical degree of COVID-19 using the chi-square test. Univariate data analysis showed that the number of Covid-19 sufferers who experienced chronic kidney disease was 30 people (50.0%), Covid-19 sufferers who did not experience chronic kidney disease were 30 people (50.0%) and the clinical degree of Covid-19 was without symptoms and mild symptoms none (0%), moderate symptoms 37 people (61.7%), severe symptoms 9 people (15.0%) and critical symptoms 14 people (23.3%). The results of bivariate data analysis obtained 0.596 (p> 0.05) so that it can be concluded that there is no relationship between chronic kidney disease and the degree of clinical symptoms in Covid-19 patients at Al Ihsan Hospital in Bandung. Abstrak. Penyakit ginjal kronik dapat meningkatkan risiko kematian karena infeksi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh perubahan sistem kekebalan, termasuk inflamasi sistemik persisten dan terjadi imunosupresi. Selain sel pernapasan, SARS-Cov-2 juga menyerang organ lain, termasuk ginjal yang dimana terdapat sel epitel tubulus ginjal proksimal, sel mesangial glomerulus, dan podosit yang mengekspresikan reseptor ACE2 pada permukaannya yang menjadi target COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional melalui pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan jumlah sampel 60 yang di ambil dari data sekunder berupa rekam medis pasien rawat inap. Analisis bivariat di lakukan untuk menganalisis hubungan penyakit ginjal kronik dengan derajat klinis COVID-19 menggunakan uji chi-square. Analisis data univariat menunjukan jumlah penderita Covid-19 yang mengalami penyakit ginjal kronik sebanyak 30 orang (50.0%), penderita Covid-19 yang tidak mengalami penyakit ginjal kronik sebanyak 30 orang (50.0%) dan derajat klinis Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan tidak ada (0%), gejala sedang 37 orang (61.7%), gejala berat 9 orang (15.0%) dan gejala kritis 14 orang (23.3%). Hasil analisis data bivariat diperoleh 0.596 (p>0,05) sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara penyakit ginjal kronik dengan derajat gejala klinis pada pasien covid-19 di RSUD Al Ihsan Bandung.
Kebersihan Tangan dan Infeksi Cacing Enterobius Vermicularis pada Anak Sekolah Dasar Ahmad Heru Sopyan; Yuke Andriane; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6138

Abstract

Abstract. Enterobiasis is an infection with the worm Enterobius vermicularis which is still a global public health problem in both developed and developing countries. One of the factors that increases the risk of Enterobiasis is poor hand hygiene. The purpose of this study was to find out whether there is a relationship between hand hygiene and Enterobiasis in grade 6 students at SDN Jayamakmur 1 Karawang, West Java, in 2022. The type of research was analytic observational with a cross sectional research design. The research population was 6th grade students at SDN Jayamakmur 1 Karawang, West Java, with a total sample of 32 people. Data collection was carried out using a hand hygiene questionnaire and anal swab examination and analyzed using the Chi-square test. The results of the study showed that the number of students who had good hand hygiene and those who had poor hand hygiene were almost the same and the frequency distribution of Enterobiasis examinations showed that most of the respondents did not experience Enterobiasis. The results showed that there was a relationship between hand hygiene and Enterobiasis in grade 6 students at SDN Jayamakmur 1 Karawang, West Java, in 2022 (P-value = 0.006). Hand hygiene is important in everyday life because hands are the first medium that is very often contaminated with parasites, especially Enterobius vermicularis, which can cause Enterobiasis. Abstrak. Enterobiasis merupakan infeksi cacing Enterobius vermicularis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global baik di negara maju maupun berkembang. Salah satu faktor yang meningkatkan risiko Enterobiasis adalah kebersihan tangan yang kurang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan kebersihan tangan dengan Enterobiasis pada siswa kelas 6 SDN jayamakmur 1 Karawang Jawa Barat tahun 2022. Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian adalah siswa kelas 6 di SDN Jayamakmur 1 Karawang Jawa Barat dengan jumlah sampel sebanyak 32 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner kebersihan tangan dan pemeriksaan anal swab serta dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil penerlitian menunjukan jumlah siswa yang memiliki kebersihan tangan yang baik dengan yang memiliki kebersihan tangan yang buruk hampir sama banyak dan distribusi frekuensi pemeriksaan Enterobiasis sebagian besar responden tidak mengalami Enterobiasis. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara kebersihan tangan dengan Enterobiasis pada siswa kelas 6 SDN Jayamakmur 1 Karawang Jawa Barat tahun 2022 (P-value = 0,006). Kebersihan tangan merupakan hal penting dalam kehidupan sehari-hari karena tangan merupakan perantara pertama yang sangat sering terkontaminasi parasit khususnya Enterobius vermicularis sehingga dapat menyebabkan Enterobiasis.
Kurangnya Aktivitas Fisik dapat Mengakibatkan Obesitas Sentral Syahrir Zein Rumatumia; Yuke Andriane, dr., M.Kes.
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6253

Abstract

Abstract. Obesity is a condition that exceeds a person's relative body weight. Obesity can be caused by a lack of physical activity. Ambon province is one of the provinces that does less physical activity in Indonesia. Maluku is a district that has relatively the most problems with central obesity which has a number above the national rate (24.1%). This study aims to determine the relationship between physical activity using the IPAQ questionnaire with central obesity in adults in Amantelu Village, Sirimau District, Ambon City. This research uses observational analytic method with cross sectional research design. The research sample was the people of Amantelu Village, Sirimau District, Ambon City who met the criteria, a total of 70 respondents who were conducted in March - December 2022 using the accidental sampling method. Data were collected using the IPAQ questionnaire for physical activity and measuring waist circumference for obesity. Data were analyzed using pearson statistical analysis. The results showed that 51% of respondents had moderate physical activity, 46% of respondents had strenuous activity. The results of the description of obesity found that 74% of respondents did not experience central obesity. The results showed that there was a positive correlation (r = 0.280) between physical activity and central obesity in the adult community in Amantelu Village, Sirimau District, Ambon City. The lower a person's activity, the higher the risk level of central obesity. Keywords: Central Obesity, IPAQ, Physical Activity Abstrak. Obesitas adalah suatu kondisi yang melebihi berat badan relatif seseorang. Obesitas dapat disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik. Provinsi Ambon merupakan salah satu provinsi yang kurang melakukan aktivitas fisik di Indonesia. Maluku merupakan kabupaten yang relatif paling banyak mengalami masalah obesitas sentral dengan angka di atas angka nasional (24,1%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik menggunakan kuesioner IPAQ dengan obesitas sentral pada orang dewasa di Desa Amantelu Kecamatan Sirimau Kota Ambon. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian adalah masyarakat Desa Amantelu Kecamatan Sirimau Kota Ambon yang memenuhi kriteria sebanyak 70 responden yang dilakukan pada bulan Maret – Desember 2022 dengan menggunakan metode accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner IPAQ untuk aktivitas fisik dan pengukuran lingkar pinggang untuk obesitas. Data dianalisis dengan menggunakan analisis statistik pearson. Hasil penelitian menunjukkan 51% responden melakukan aktivitas fisik sedang, 46% responden melakukan aktivitas berat. Hasil gambaran obesitas didapatkan 74% responden tidak mengalami obesitas sentral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif (r = 0,280) antara aktivitas fisik dengan obesitas sentral pada masyarakat dewasa di Desa Amantelu Kecamatan Sirimau Kota Ambon. Semakin rendah aktivitas seseorang, semakin tinggi tingkat risiko obesitas sentral. Kata kunci: Aktivitas Fisik, IPAQ, Obesitas Sentral
Pengembangan Obat Kanker dari Daun Kelor (Moringa Oleifera) Silmi Hizba Hunafa; Yuke Andriane; Lelly Yuniarti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6638

Abstract

Abstract. Colon cancer ranks third most common in the world with the second highest mortality rate. Colon cancer therapy, one of which can be through chemotherapy using doxorubicin. Single use of doxorubicin has significant side effects. One effort to reduce side effects and increase its effectiveness is to combine doxorubicin with Moringa leaves (Moringa oleifera). Moringa leaves contain many active ingredients such as flavonoids, D-allose, and eugenol. Another effort that can be made to increase the effectiveness of drugs is by developing nanoparticles. The literature review method was carried out by searching the literature through national and international literature searches as well as data on articles and scientific journals that focused on colon cancer, doxorubicin, the mechanism of action of doxorubicin, the content of Moringa leaves, the anti-cancer effects of Moringa leaves. The results of this study are: There is a cytotoxic effect produced by Moringa leaves (Moringa oleifera) against colon cancer cells and there is a synergistic effect between the combination of doxorubicin and Moringa leaves (Moringa oleifera) against colon cancer cells. Abstrak. Kanker kolon menempati urutan ketiga tersering di dunia dengan tingkat kematian tertinggi kedua. Terapi kanker kolon salah satunya dapat melalui kemoterapi menggunakan doxorubicin. Penggunaan tunggal doxorubicin memiliki efek samping yang signifikan. Salah satu upaya untuk mengurangi efek samping dan meningkatkan efektivitasnya adalah dengan mengkombinasikan doxorubicin dengan daun kelor (Moringa oleifera). Daun kelor memiliki banyak kandungan bahan aktif seperti flavonoid, D-allose, dan eugenol. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas obat adalah dengan pengembangan nanopartikel. Metode literatur review ini dilakukan dengan pencarian literatur melalui pencarian literatur nasional maupun internasional serta data artikel dan jurnal ilmiah yang berfokus pada kanker kolon, doxorubicin, mekanisme aksi doxorubicin, kandungan daun kelor, efek anti-kanker daun kelor. Hasil dari penelitian ini adalah: Terdapat efek sitotoksik yang dihasilkan daun kelor (moringa oleifera) terhadap sel kanker kolon dan terdapat efek sinergis antara kombinasi doxorubicin dengan daun kelor (Moringa oleifera) terhadap sel kanker kolon.
Hubungan Frekuensi Konsumsi Junk Food dengan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa Tingkat 2 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung M. Rizki Budiman; Sastramihardja, Herri S.; Andriane, Yuke
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10616

Abstract

Abstract. Anxiety is defined as the body's response to fear, which manifests as disturbances in feelings, thoughts, attitudes, and physiological changes. One of the factors that causes anxiety is consuming foods high in fat and sugar that are contained in junk food or fast food which is food that is easy to consume. This study aims to analyze relationship between frequency of junk food consumption and anxiety level in level 2 students at the Unisba Faculty of Medicine. This research is cross sectional study with sample size of 33 second year students of FK Unisba who met the inclusion criteria. Data was collected using the Food Frequency Questionnaire (FFQ) and Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A). Data were analyzed using the Spearman statistical test. The research results showed that mostly respondents consumed junk food with a frequency of 1-3 times a month. It was also found that the entire research sample had anxiety with more than half of the respondents having mild levels of anxiety and 3 had severe anxiety. The Spearman test shows p value of 0,048 (< 0,05) and R value of 0,347. There is significant relationship between frequency of junk food consumption and level of anxiety with weak correlation strength. Abstrak. Kecemasan didefinisikan sebagai respon tubuh terhadap rasa takut, yang bermanifestasi sebagai gangguan perasaan, pemikiran, sikap, dan perubahan fisiologis. Salah satu faktor penyebab munculnya kecemasan adalah konsumsi makanan tinggi lemak dan gula yang terkandung dalam junk food atau makanan cepat saji yang merupakan makanan yang mudah dikonsumsi dan dibuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi konsumsi junk food dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa tingkat 2 Fakultas kedokteran Unisba. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan jumlah sample sebanyak 33 orang mahasiswa tingkat 2 FK Unisba yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuisioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A). Data dianalisis dengan uji statistik spearman. Hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang mengonsumsi junk food dengan frekuensi 1-3 kali perbulan sebanyak 12, 1 kali perminggu sebanyak 3, 2-4 kali perminggu sebanyak 11, 1 kali perhari sebanyak 2, 2-3 kali perhari sebanyak 2, 4 kali perhari sebanyak 3. Seluruh sample penelitian memiliki kecemasan dengan lebih dari setengah jumlah responden memiliki tingkat kecemasan ringan dan kecemasan berat 3 responden. Uji spearman menunjukkan nilai p sebesar 0,048 (<0,05) dan nilai R 0,347. Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi konsumsi junk food dengan tingkat kecemasan dengan kekuatan korelasi lemah.
Perbandingan Kadar Gula Darah Puasa Antara Mahasiswa dengan Berat Badan Berlebih dan Mahasiswa dengan Berat Badan Normal Angkatan 2020 di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Toni Praditya Irwansyah; Herri S. Sastramihardja; Yuke Andriane
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12063

Abstract

Abstract.Overweight is an accumulation of excess fat in the body which can disrupt overall health. This condition occurs because there is an imbalance between incoming energy and outgoing energy. Since 2014, more than 1.9 billion adults over the age of 18 have been overweight. According to WHO, overweight has become a world problem, especially in Indonesia as a developing country where there are changes in consumption patterns and lifestyles. Diabetes is a condition where blood sugar levels exceed 200mg/dL. One of the risk factors for diabetes is being overweight, but it does not rule out the possibility that even normal weight people suffer from diabetes because there are other factors that can influence blood glucose levels. This study aims to analyze the comparison of fasting blood sugar levels in 2020 FK UNISBA students who are overweight and those who are normal. This research is a cross-sectional study with a sample size of 65 people consisting of active students from the class of 2020 and meeting the inclusion and exclusion criteria. Data was collected by direct measurement using a glucometer and weight scale. Data were analyzed using the chi square test. The results of this study showed that almost half of the respondents were overweight, 49.2%. The highest percentage of fasting blood sugar levels was also found, namely respondents who had normal fasting blood sugar levels (70-100mg/dL) as many as 64.6%, and there were students with low fasting blood sugar levels as many as 35.4%. The chi square test shows a p value of 0.228 (>0.05). There was no significant difference between fasting blood sugar levels in overweight and normal students. Abstrak. Overweight merupakan suatu akumulasi lemak berlebih di dalam tubuh yang dapat mengganggu kesehatan secara keseluruhan. Kondisi ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar. Sejak 2014 sudah lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di atas usia 18 tahun mengalami overweight. Menurut WHO overweight telah menjadi masalah dunia, khususnya di Indonesia sebagai negara berkembang dimana adanya perubahan pola konsumsi dan gaya hidup. Dibates merupakan kondisi kadar gula darah melebihi 200mg/dl. Salah satu faktor risiko dari diabetes adalah overweight. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kadar gula darah puasa pada mahasiswa yang memiliki berat badan berlebih dan yang normal. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional desain cross sectional dengan jumlah sampel 65 orang yang memenuhi kriteria inklusi yaitu mahasiswa angkatan 2020 dan bersedia menjadi reponden, dan kriteria eksklusi yaitu sudah terdiganosis diabetes mellitus dan mahasiswa dengan underweight. Data dikumpulkan dengan cara pengukuran langsung di laboraturium dan pengukuran tinggi dan berat badan. Data dianalisis dengan uji chi square. Hasil penelitian ini didapatkan indeks masa tubuh dengan presentase terbanyak yaitu responden yang memiliki berat badan normal sebanyak 33 responden. Didapatkan juga kadar gula darah puasa dengan presentase terbanyak yaitu responden yang memiliki kadar gula darah puasa 70-100mg/dL sebanyak 42 responden. Uji chi square menunjukkan nilai p sebesar 0,228 (>0,05). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar gula darah puasa pada mahasiswa dengan berat badan berlebih dan yang normal.