Syarifudin Syarifudin
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

An Instructional Model for Enhancing EFL Learners' Speaking Proficiency Syarifudin Syarifudin
EDULANGUE Vol. 2 No. 1 (2019): Edulangue: Journal of English Language Education
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.197 KB) | DOI: 10.20414/edulangue.v2i1.922

Abstract

Due to the central role of speaking skill and its escalating demands of instruction in various levels of education in Indonesia, a myriad of teaching approaches and strategies have been applied to equip learners with the competences enabling the development of this skill. As a widespread approach to English language teaching (ELT), which gains its popularity within the context of EFL, Communicative Language Teaching (CLT) is geared towards learners’ communicative competence comprising of grammatical competence, discourse competence, sociolinguistic competence, and strategic competence as the underlying abilities of speaking proficiency. The development of these competences can be better facilitated when learning takes its place both in and outside classrooms as the latter provides potential promises for learners’ speaking proficiency development. For this reason, this paper presents learners’ challenges for learning speaking, the model activities in and outside classrooms, the importance of speaking instruction and the components of communicative competence and speaking proficiency.
Intercultural Communication of EFL Students with Foreigners as a Strategy of Teaching Speaking Syarifudin Syarifudin; Hery Rahmat
EDULANGUE Vol. 4 No. 1 (2021): Edulangue: Journal of English Language Education
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/edulangue.v4i1.3044

Abstract

This study aimed to explore the students' perceptions of intercultural communication with foreigners, their intercultural communication strategies with foreigners, and its implication toward their speaking ability. This descriptive qualitative study involved eight university students who had taken the Speaking class and individual speaking activity with foreign tourists. To collect the data, the researchers used video recording, interviews, and documents. The findings indicated that the students positively perceived incorporation of intercultural communication with foreigners. It was also unveiled that the students used various verbal communication strategies during their intercultural communication with foreigners. This study postulates that intercultural communication has positive implications on students' speaking abilities.
The Implementation of Self-Directed Dialogue to Improve Students’ Speaking Ability Melia Nova; Syarifudin Syarifudin; Soni Ariawan
International Journal of English and Applied Linguistics (IJEAL) Vol. 2 No. 2 (2022): Volume 2 Issue 2 August 2022
Publisher : ITScience (Information Technology and Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/ijeal.v2i2.1671

Abstract

The purpose of this study was to find out the improvement of students speaking ability through the implementation of the self-directed dialogue technique, and student activities when the Self-directed Dialogue was applied to English subjects in the first grade of MA Darussalam, Beremi for the 2021/2022 academic year. In this study, the researcher used classroom action research as a research design by employing observation, tests, and documentation as techniques to gain the data. Observations were made to determine the application of self-directed dialogue techniques during the teaching and learning process while tests were used to measure student achievement in speaking ability. The subjects of this study were students in first grade of MA Darussalam Bermi with 21 students in the class. Researchers used qualitative and quantitative data analysis in calculating and analyzing data. The results of this study indicate that the self-directed dialogue technique can improve students' speaking ability. This can be seen from the results of a significant increase in each cycle. The score before implementing the technique was 48, the result of post-test 1 was 74.43, and post-test 2 was 84.43. This means that the students' speaking ability increases after applying the self-directed dialogue technique in the first grade of MA Darussalam Bermi in the 2021/2022 academic year.
Integrasi Heutagogi, Peeragogy, dan Cybergogy Dalam Transformasi Pembelajaran Pendidikan Islam di Era Digital Muhammad Dodi Alfiansyah; Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Ahmad Yasin; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4976

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran pendidikan Islam. Transformasi tersebut menuntut adanya model pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada guru, tetapi juga mampu mendorong kemandirian belajar, kolaborasi, serta pemanfaatan teknologi digital secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep heutagogy, peeragogy, dan cybergogy serta mengkaji integrasi ketiga pendekatan tersebut dalam transformasi pembelajaran pendidikan Islam di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data penelitian diperoleh dari berbagai literatur berupa buku, artikel jurnal ilmiah, prosiding, dan laporan penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa heutagogy menekankan kemandirian belajar peserta didik melalui konsep self-determined learning, peeragogy menekankan pembelajaran kolaboratif melalui interaksi antar peserta didik dalam komunitas belajar, sedangkan cybergogy menekankan pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran daring yang melibatkan aspek kognitif, emosional, dan sosial. Integrasi ketiga pendekatan tersebut dapat menciptakan model pembelajaran pendidikan Islam yang lebih adaptif, partisipatif, kolaboratif, dan inovatif di era digital. Dengan demikian, integrasi heutagogy, peeragogy, dan cybergogy berpotensi menjadi model transformasi pembelajaran pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan peserta didik pada era digital.
Analisis Indikator Evaluasi Empati dan Moderasi Beragama dalam PAI: Perspektif Kurikulum Berbasis Cinta Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Ahmad Yasin; Muhammad Dodi Alfiansyah; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4977

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan sosial siswa, termasuk pengembangan empati dan moderasi beragama. Namun, penerapan evaluasi yang sistematis terhadap kedua aspek tersebut masih memerlukan kajian mendalam, khususnya dalam konteks Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan indikator evaluasi empati dan moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan perspektif kurikulum berbasis cinta yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana indikator tersebut dapat diukur dan diimplementasikan dalam konteks sekolah multikultural. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis hubungan antara evaluasi empati dan sikap toleransi siswa, serta mengevaluasi reliabilitas penilaian guru dalam mengukur moderasi beragama. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan menelaah berbagai literatur, jurnal, buku, dan artikel ilmiah yang kemudian direduksi dan dianalisis secara deduktif untuk merumuskan indikator evaluasi empati dan moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan perspektif kurikulum berbasis cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator evaluasi yang tepat melibatkan aspek afektif dan kognitif, di mana penilaian berbasis moderasi beragama dapat mempengaruhi pencegahan sikap eksklusivisme keagamaan di kalangan siswa. Oleh karena itu, asesmen autentik yang berfokus pada sikap inklusif sangat penting untuk diterapkan dalam pembelajaran PAI di lingkungan sekolah multikultural.
Dinamika Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam Transnasional di Indonesia Serta Tantangan Bagi Madrasah dan Pesantren Ahmad Yasin; Muhammad Dodi Alfiansyah; Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4978

Abstract

Tulisan ini berjudul “Tujuan Dinamika Pertumbuhan Dan Perkembangan Pendidikan Islam Transnasional Di Indonesia Serta Tantangannya Bagi Madrasah Dan Pesantren” membahas tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam tradisional, khususnya madrasah dan pesantren. Pendidikan Islam transnasional merujuk pada jaringan pemikiran, gerakan, dan lembaga pendidikan Islam yang memiliki keterkaitan dengan ideologi serta jaringan keislaman global di luar Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perkembangan pendidikan Islam transnasional di Indonesia serta implikasinya terhadap sistem pendidikan Islam yang telah lama berkembang dalam konteks keislaman lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pendidikan Islam transnasional di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain globalisasi pendidikan, mobilitas intelektual Muslim, jaringan organisasi dakwah internasional, serta perkembangan teknologi informasi. Fenomena ini memberikan kontribusi dalam memperkaya wacana keislaman dan mendorong pembaruan dalam sistem pendidikan Islam. Namun di sisi lain, keberadaannya juga menimbulkan sejumlah tantangan bagi madrasah dan pesantren, seperti munculnya perbedaan orientasi ideologi keagamaan, potensi pergeseran nilai-nilai Islam moderat, serta tantangan dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang kontekstual dengan budaya lokal Indonesia. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa madrasah dan pesantren perlu memperkuat identitas keislaman yang moderat, meningkatkan literasi keagamaan yang inklusif, serta mengembangkan kurikulum pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebudayaan lokal. Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam di Indonesia dapat tetap relevan dan mampu menghadapi dinamika perkembangan pendidikan Islam di era globalisasi.