Sugeng Nugroho
Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang – BMKG Jln. Raya Bukittinggi-Medan Km 17, Palupuh, Kab. Agam, Prov. Sumatera Barat Telp.: 0752-7446089, Fax.: 0752-7446449

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

RELIGIOUS VALUES IN FOLKLORE OF KANG CIDRA IN PANCASILA CHARACTER EDUCATION Widawati, Seruni; Nugroho, Sugeng
JUPIIS: JURNAL PENDIDIKAN ILMU-ILMU SOSIAL Vol. 15 No. 1 (2023): JUPIIS (JURNAL PENDIDIKAN ILMU ILMU SOSIAL) JUNE
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jupiis.v15i1.43851

Abstract

This study aims to analyze the religious values contained in the Wahyu puppet show of Kang Cidra™s student play Nyi Lucia Siti Aminah Subanto which can be the basis for the development of pancasila character education. Religious values in Catholicism include various aspects related to faith deepening and spiritual strengthening. This play is interesting to study because it is a representation of the sacred event of the crucifixion of Jesus Christ, so it contains teachings on religiosity that serve as a subject of faith for Catholics. The meaning of religious values is analyzed through dramatic structures and textures. The result of this study is that this play contains religious values, including: love, repentance, and loyalty. This value can be lived in everyday life as a development of character education for Catholics. The play Siswa Kang Cidra contains a meaning to invite Catholics to appreciate suffering through the story of the passion and death of Jesus Christ. On the other hand, this play also reveals a reflection of the inner religious attitude shown through Jesus™ disciples. God™s love and forgiveness is very clear in how God still accepts Peter even though he has denied it. This event changed Peter to repent and live by the teachings of Christ until the end of his life. Meanwhile, the act of betrayal by Judas was a reflection of the failure of the faith process. Repentance is the path to blessing because God always accepts repentant humans. The failure of the faith process is a sign that closeness to God is always faced with trials and obstacles. Misguidance due to trials and obstacles can occur if faith is weakened, and weakened faith allows people to make decisions that deviate from the teachings of Christ. For this reason, learning from the failure of the faith process is an effort to strengthen the belief that humans follow and proclaim the teachings of Jesus Christ. The religious values contained in the play include: loyalty, love, and repentance.  These values can be lived out in everyday life as the development of Pancasila character education.
GARAP PERTUNJUKAN WAYANG KULIT JAWA TIMURAN Nugroho, sugeng; Sunardi, S; Murtana, I Nyoman
Acintya Vol. 10 No. 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v10i2.2278

Abstract

This research is meant to prove the result of aesthetic aspect in wayang kulit performance of Jawa Timur style categorized as ‘kerakyatan (folk)’ pakeliran. The problem is analyzed based on the concept of ‘garap pakeliran’ offered by Sugeng Nugroho (2012) and the theory belongs to Umar Kayam (1981) concerning arts categorization. The method used is qualitative method with descriptive analysis. The data is collected through library study, documentation studies, interview, and field observation. The research finding shows that the current wayang kulit performance of Jawa Timur style cannot be categorized as folk art but rather to be kitsch. It represents a performing art that always change and move on along the time. It is attempted to be more interesting supposed to be survived and to earn money.Keywords: wayang kulit, Jawa Timuran, performance treatment.
KREATIVITAS PURBO ASMORO DALAM PENCIPTAAN DAN PENYAJIAN PAKELIRAN PURWA LAKON DUMADINE GAMELAN Nugroho, Sugeng
PANGGUNG Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i4.2905

Abstract

Penelitian ini bermaksud menjawab tiga rumusan masalah: bagaimana Purbo Asmoro menciptakan lakon Dumadine Gamelan, bagaimana sanggit lakonnya, dan bagaimana garap pakeliran-nya? Pertunjukan wayang ini menarik untuk dikaji karena selain termasuk lakon baru, juga penyajiannya bersifat kolosal, melibatkan seratus musisi (pengrawit), dengan perangkat gamelan Jawa, gambelan Bali, dan talempong. Penelitian ini menggunakan paradigma ethnoart, dengan analisis berdasarkan Teori Sanggit dan Garap. Data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa penciptaan lakon wayang tidak selalu diadaptasi dari sumber-sumber cerita wayang (Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa, dan sebagainya), tetapi dapat diadaptasi dari berbagai cerita termasuk babad dan gotèk, antara lain Wédhapradangga. Sanggit lakon Dumadiné Gamelan meskipun beralur linier seperti dongeng, tetapi struktur adegannya fokus pada tema lakon. Unsur garap pakeliran Purbo Asmoro saling mendukung dan saling mengisi. Meskipun instrumen gamelannya bersifat kolosal, tetapi interaksi garap antara karawitan dan pakeliran dapat terjalin dengan baik. Kata kunci: Dumadine Gamelan, pakeliran purwa, kreativitas, penciptaan, penyajian
Dèwi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme Prasetiyanto, Thomas Yudha Tri; Nugroho, Sugeng
PANGGUNG Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i4.4282

Abstract

Penelitian ini mengkaji sanggit lakon dan simbolisme lakon Dèwi Sri pada pertunjukan wayang kulit gaya Kedu Temanggungan yang disajikan oleh Legowo Cipto Karsono. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna yang terkandung dalam pakeliran tersebut dengan menganalisis sanggit lakon dan simbolisme Dèwi Sri. Analisis ini dilakukan dengan paradigma tekstual-kontekstual dengan payung metode ethnoart. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan observasi pertunjukan wayang kulit. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa sanggit lakon Dèwi Sri menunjukkan tingkat integritas artistik yang tinggi, mematuhi prinsip-prinsip dramatik Jawa yaitu tutug (tuntas), kempel (koherensi), dan mulih (penyelesaian konklusif). Simbolisme Dèwi Sri tidak hanya merepresentasikan kesuburan padi, tetapi juga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sosial. Lebih lanjut, figur Dèwi Sri memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan alam, yang terefleksi dalam ritual pertanian seperti wiwitan dan mapag.
Peran Sanggar Wayang Kulit Jawatimuran Candrasiswa dalam Regenerasi Anak untuk Percepatan SDGs Indonesia Emas 2045 Ike Nur Kumalasari; Nugroho, Sugeng
Proceedings National Conference Sinesia Vol. 1 No. 2 (2025): Accelerating SDGs Implementation in Indonesia towards a Golden Indonesia 2045
Publisher : Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/ncrcs-sinesia.v1i2.115

Abstract

Implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia menemukan tantangan besar untuk menghasilkan generasi penerus yang kompeten. Seni pedalangan gaya Jawatimuran memiliki peranan penting dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya yang relevan dengan tuntutan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menelusuri bagaimana seni wayang kulit gaya Jawatimuran berfungsi sebagai media pendidikan karakter anak usia sekolah serta berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) menuju Indonesia Emas 2045. Pendekatan penelitian yang digunakan bersifat deskriptif kualitatif dengan metode studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap dalang, pengelola sanggar, serta peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sanggar wayang kulit Jawatimuran menjadi wadah pembelajaran yang menumbuhkan nilai-nilai moral, sosial, dan budaya melalui proses pelatihan yang disesuaikan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengikuti kegiatan belajar mendalang menunjukkan peningkatan kedisiplinan, empati, dan kesadaran etika yang lebih baik. Faktor bakat dan keturunan jiwa seni dapat mempercepat penguasaan teknik dasar, tetapi keberhasilan belajar tetap dipengaruhi oleh kemampuan kognitif dan metode pengajaran yang tepat.  Pelatihan intensif sanggar seni tidak hanya berorientasi pada ketrampilan teknik, tetapi juga turut menanamkan nilai kearifan lokal yang memperkuat karakter dan kesadaran sosial. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa seni pedalangan gaya Jawatimuran tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan seni, tetapi juga sebagai sarana efektif dalam pembentukan karakter dan regenerasi sumber daya manusia yang berbudaya, berdaya saing, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.