Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KAJIAN PENGGUNAAN PROGRAM TITEDA DALAM PENGELOLAAN DATA DEBIT DI DAS HULU CITARUM Sophia Dwiratna Nur Perwitasari; Dwi Rustam Kendarto; Edy Suryadi
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji sejauhmana perangkat lunak Titeda dapat diaplikasikan dalam pengelolaan data debit di DAS Citarum Hulu.Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan September 2007, dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analitik. Dari hasil olahan software Titeda menunjukkan bahwa curah hujan rata-rata selama 10 tahun di stasiun Batujajar DAS Citarum Hulu sebesar 1,553 mm/hari dengan jumlah hujan selama 10 tahun sebesar 10158 mm. Curah hujan minimum sebesar 0,0 mm (tidak terjadi hujan) dan curah hujan maksimum 85 mm. Tinggi Muka Air DAS Citarum Hulu pada stasiun Cimahi-Cicakung selama 10 tahun maksimum sebesar 1,73 m dan minimum sebesar 0,115 m. Debit sungai DAS Citarum Hulu di stasiun Cimahi Cicakung selama 10 tahun menunjukkan debit maksimum sebesar 8,00 m3/detik dan debit minimum sebesar 6,67 m3/detik. Kata kunci : Titeda, Debit, DAS Citarum Hulu
ANALISIS KURVA INTENSITY-DURATION-FREQUENCY (IDF) DI KAWASAN RAWAN BANJIR KABUPATEN BANDUNG Sophia Dwiratna Nur Perwitasari; Gunawan Nawawi; Irfan Ardiyansyah
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hujan adalah komponen masukan penting dalam proses hidrologi. Karakteristik hujan di antaranya adalah intensitas, durasi, kedalaman, dan frekuensi. Intensitas berhubungan dengan durasi dan frekuensi dapat diekspresikan dengan kurva Intensity-Duration-Frequency (IDF). Kurva IDF dapat digunakan untuk menghitung banjir rencana dengan mempergunakan metode rasional. Dalam penelitian ini curah hujan harian dihitung dengan analisis frekuensi yang dimulai dengan menentukan curah hujan harian maksimum rata-rata, kemudian menghitung parameter statistik untuk memilih distribusi yang paling cocok. Intensitas hujan dihitung dengan mempergunakan metode Mononobe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi normal sangat cocok dengan sebaran data di wilayah studi. Kata kunci: Hujan, Intensitas, Durasi, Frekuensi, Distribusi
EVALUASI RESPON MASYARAKAT PADA DISEMINASI PENERAPAN TEKNOLOGI HIDROPONIK SMART WATERING Muhammad Achirul Nanda; Sophia Dwiratna Nur Perwitasari; Kharistya Amaru
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 28, No 1 (2022): JANUARI-MARET
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v28i1.32189

Abstract

Hidroponik merupakan salah satu teknik budidaya tanaman pertanian tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Pada investigasi ini, kami mengusulkan sebuah terobosan teknologi untuk mengatasi kesenjangan pada berbagai konsep hidroponik, yang dikenal sebagai teknologi smart watering (SW). Teknologi SW merupakan sebagai sebuah produk inovasi hidroponik kit yang menggunakan prinsip self-watering system atau penyiraman otomatis dan mandiri. Agar teknologi SW lebih dikenal oleh masyarakat, maka proses diseminasi teknologi harus terus dilakukan sebagai media untuk mengenalkan berbagai fitur dan keunggulan. Penelitian ini dilakukan secara virtual (webinar daring). Untuk menjaring peserta yang lebih banyak, poster terkait informasi webinar disebarkan di berbagai media online. Selanjutnya, kuisioner evaluasi disebarkan untuk mengukur indeks keberhasilan dengan memberikan skala penilaian antara 1 – 5. Semakin tinggi nilai skala, maka kegiatan webinar dinilai semakin berhasil. Berdasarkan analisis, jumlah peserta yang hadir dalam webinar adalah 35 orang, yang mana ini didominasi oleh mahasiswa (39%), disusul dengan profesi karyawan (11%), dan pengusaha, dokter, ibu rumah tangga masing-masing dengan persentase yang sama, yaitu 3%. Dalam hal usia, kegiatan webinar ini dihadiri oleh beragam usia mulai dari 17 – 44 tahun. Berdasarkan evaluasi, kegiatan webinar teknologi SW dinilai baik dengan skala 3,66 sampai 4,14. Artinya, para peserta merasa puas telah mengikuti webinar, dapat memahami penjelasan yang dibawakan oleh pemateri, dan memiliki minat untuk menerapkan hidroponik. Pada akhirnya, webinar ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait penerapan teknologi hidroponik yang sesuai dengan kebutuhan.
Penjadwalan Irigasi Berbasis Neraca Air pada Sistem Pemanenan Air Limpasan Permukaan untuk Pertanian Lahan Kering Sophia Dwiratna Nur Perwitasari; Nurpilihan Bafdal
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 4 No. 2 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2767.574 KB) | DOI: 10.19028/jtep.04.2.%p

Abstract

AbstractDry land farmers in Jatinangor only able to plant during the growing season twice a year. Runoff harvesting systems for agriculture is expected to answer the problems of water availability in drylands. This study aimed to explore the period of water deficit in the soil, which is used as the basis for determining the scheduling and amount of irrigation water needed for the planting pattern recommended in runoff harvesting systems for dryland agriculture. The method used in this research is descriptive method, by analyzing the water balance of dry land in order to determine the frequency of irrigation and irrigation needs. Parameters required in the analysis of soil water balance are: precipitation, evapotranspiration, soil water availability on the condition of field capacity and permanent wilting point based on the value of MAD (Maximum Allowable depletion) are permitted. The results showed a total water deficit of 217.42 mm in the cropping pattern of sweet corn - sweet corn - sweet potato, where the period of water deficit occurs during planting sweet potato in the third decade of May to the first decade of September.Irrigation scheduling is determined by the selection of fixed interval irrigation between interval 2 days, 4 days and 5 days. With an area of fields to be watered amounted to 264 meter square (57.4 metercubic water needs), 60 meter cubic of runoff that was collected in the storage pond capable to irrigate the entire of land planted with sweet potato, it indicates that the runoff water harvesting systems can increase cropping intensity dry land farming.AbstrakPetani lahan kering di Kecamatan Jatinangor hanya mampu menanam dua kali dalam setahun. Sistem pemanenan air limpasan permukaan untuk pertanian diharapkan mampu menjawab permasalahan ketersediaan air di lahan kering. Penelitian ini bertujuan untuk mencari periode defisit air di lahan penelitian yang digunakan sebagai dasar dalam menentukan penjadwalan dan kebutuhan air irigasi pada pola tanam yang direkomendasikan pada sistem pemanenan air limpasan untuk pertanian lahan kering. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu dengan menganalisis neraca air lahan kering guna menentukan frekuensi irigasi dan kebutuhan air irigasi. Parameter yang dibutuhkan dalam analisis neraca air lahan terdiri dari curah hujan, evapotranspirasi, ketersediaan air tanah pada kondisi kapasitas lapang dan titik layu permanen berdasarkan nilai MAD (Maximum Allowable Depletion) yang diijinkan. Hasil penelitian menunjukkan total defisit air sebesar 217,42 mm pada pola tanam jagung manis – jagung manis – ubi cilembu, dimana periode defisit air terjadi pada saat penanaman ubi cilembu pada dasarian ketiga Mei hingga dasarian pertama September. Penjadwalan irigasi ditentukan secara fix interval dengan pilihan interval irigasi antara 2 hari sekali, 4 hari sekali dan 5 hari sekali. Dengan luas bidang yang harus diairi adalah sebesar 264 m2 (kebutuhan air 57,4 m3) maka kolam tampungan sebesar 60 m3 mampu mengairi seluruh lahan yang ditanami ubi cilembu, hal ini menunjukkan bahwa sistem pemanenan air limpasan dapat meningkatkan intensitas tanam pertanian lahan kering
Analisis Teknoekonomi Agrobisnis Taoge di Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Jawa Barat Febi Febriansyah; Rizky Mulya Samporno; Ahmad Thoriq; Sophia Dwiratna Nur Perwitasari
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2021.009.03.05

Abstract

Taoge merupakan kecambah dari kacang hijau yang banyak diminati sebagian besar masyarakat Indonesia karena manfaatnya bagi kesehatan. Permintaan taoge yang tinggi menyebabkan tumbuhnya agrobisnis taoge di beberapa wilayah Indonesia. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis teknoekonomi agrobisnis taoge di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui pengamatan, dokumentasi dan wawancara langsung. Analisis aspek teknis dan teknologi meliputi kapasitas produksi, teknologi proses, dan peralatan yang digunakan dalam memproduksi taoge sedangkan aspek finansial yang dianalisis meliputi harga pokok produksi, titik impas, keuntungan usaha, Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP). Hasil penelitian menunjukkan secara teknis dan teknologi, proses produksi taoge masih dilakukan secara tradisional dengan tahapan yang terdiri atas perendaman pertama, pencucian, pemisahan, perendam kedua, pemindahan, penyiraman, pemberian pupuk cair untuk tanaman taoge, panen, pengemasan, dan pengiriman taoge. Tahapan proses tersebut dilakukan dengan siklus selama empat hari dengan kapasitas input kacang hijau sebesar 6 000 kg/bulan dan dihasilkan taoge sebesar 30 000 kg taoge perbulan. Hasil analisis finansial diperoleh besarnya biaya produksi sebesar Rp 204 728 649.00 perbulan, harga pokok produksi taoge sebesar Rp 6 824 perkg. Taoge hasil produksi terjual 90% dengan harga Rp 8 000/kg. Pada analisis menggunakan suku bunga 12% pertahun dan umur proyek 10 tahun akan diperoleh NPV sebesar Rp 783 106 745, BCR sebesar 1.055 dan IRR sebesar 45.13% dan modal akan kembali pada bulan ketiga.
Pengaruh Penambahan Cahaya di Malam Hari Terhadap Pertumbuhan Chlorella sp. pada Instalasi Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu Tipe Recirculate Raceway Pond Febi Febriansyah; Rizky Mulya Samporno; Ahmad Thoriq; Sophia Dwiratna Nur Perwitasari
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.14 KB)

Abstract

Cahaya mempunyai pengaruh langsung dalam proses fotosíntesis dan tidak langsung terhadap pertumbuhan. Kurangnya intensitas cahaya menyebabkan proses fotosíntesis tidak berlangsung normal sehingga mengganggu biosíntesis sel. Energi yang diberikan oleh cahaya bergantung pada intensitas cahaya, dan lamanya pencahayaan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan cahaya pada malam hari terhadap pertumbuhan Chlorella sp, kandungan nitrat, fosfat dan amonium pada instalasi pengolahan limbah cair tahu tipe Recirculate Raceway Pond. Penelitian ini dilakukan pada kolam berbentuk lintasan sepanjang 14 m dengan kedalaman 28 cm dan berkapasitas 1200 l. Air limbah tahu dimasukkan ke dalam kolam dengan debit 5 l/jam, sehingga limbah yang tambahkan tiap harinya sebanyak 120 l. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu perlakuan dengan penambahan cahaya atau tanpa penambahan cahaya di malam hari. Berdasarkan hasil penelitian, pertumbuhan Chlorella sp. mempunyai rata-rata kepadatan sel Chlorella sp. pada hari ke-17 sampai hari ke-21 lebih tinggi yakni sebanyak 2255 x 104 sel/ml di titik awal dan sebanyak 2385 x 104 sel/ml di titik akhir. Hubungan tersebut dapat diketahui dengan persamaan y = 329.0x + 1440 dengan nilai koefisien determinasi R2 sebesar 0.94. Perlakuan penambahan cahaya di malam hari juga berpengaruh terhadap kualitas air meliputi : nitrat mengalami kenaikan (R2 = 0.738), fosfat (R2 = 0.484) dan amonium (R2 = 0.562) mengalami penurunan.
Analisis Laju Infiltrasi dengan Metode Horton Pada Sub DAS Cikeruh Wahyu Arianto; Edy Suryadi; Sophia Dwiratna Nur Perwitasari
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2021.009.01.02

Abstract

Infiltrasi merupakan proses masuknya air ke dalam tanah melalui pori-pori tanah yang dipengaruhi oleh tekstur tanah, kemiringan lereng, tata guna lahan dan lainlain. Pada Sub DAS Cikeruh terjadi alih fungsi lahan dan defisit air sehingga perlu dilakukan konservasi air. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju infiltrasi berdasarkan tekstur tanah dan kemiringan lereng pada Sub DAS Cikeruh dengan metode Horton dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi di Sub DAS Cikeruh. Alat yang digunakan yaitu single ring infiltrometer. Metode yang digunakan dalam perhitungan adalah metode horton, dimana untuk pengukuran laju infiltrasi menggunakan metode infiltrometer. Hasil pengukuran dan perhitungan diketahui bahwa laju infiltrasi konstan tertinggi terdapat pada kemiringan lahan landai, tekstur tanah lempung liat berdebu dan jenis tanah kambisol yaitu 78.61 cm/jam (sangat cepat) dengan persamaan Horton 42.4+527.6e-0.766t. Laju infiltrasi konstan terendah terdapat pada kemiringan lahan datar, tekstur tanah liat dan jenis tanah gleisol yaitu 1.12 cm/jam (agak lambat) dengan persamaan Horton 0.8+59.2e-1.49t
Analisis Status Daya Dukung Air di Sub DAS Cikeruh, Jawa Barat Berdasarkan Neraca Air Meteorologis Thornthwaite-Mather Rizky Ayu Aalimah; Edy Suryadi; Sophia Dwiratna Nur Perwitasari
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno, Vol. 15, Number 1, April 2022
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/at.v15i1.505

Abstract

The results of population growth, regional development, and the rising infrastructure development are indirectly or directly linked to the cause of a decline in environmental carrying capacity, especially the unavoidable water resource carrying capacity. This research aims to analyze the current condition of water resource carrying capacity based on the Thornthwaite-Mather meteorological water balance model. The research is done in Cikeruh Sub-Watershed, Citarum Upstream Watershed with a total area of 19.143,21 ha, The research methods used are descriptive research with a quantitative approach, by analyzing the current condition of water resource carrying capacity that refers to the water resource capacity and the and the water resources needed for the domestic, non-domestic, agricultural, industrial, livestock and fishery sectors. The results of the research have shown an overshoot of water resource carrying capacity in 2020 within the research area. Those condition has shown that the water balance is in a deficit condition given that the water availability index has reached up to 193.583.337,01 m3/year and the water demand for those 6 sectors has reached up to 462.306.728,53 m3/year. Based on the result, in terms of quantity, the water availability index in the research area is still inadequate to fulfill the demand of those six sectors. Based on the analysis, the availability of water resources in Cikeruh Sub-Watershed is only adequate to fulfill the demands of water for domestic, non-domestic, livestock, fishery sectors, and agricultural sectors but are still inadequate for industrial.
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada Romaine (Lactuca Sativa L. Var. Longifolia) Terhadap Perbedaan Jarak Tanam Pada Smart Watering System SWU 02 Auliannissa Fitrian; Nurpilihan Bafdal; Sophia Dwiratna Nur Perwitasari
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 6 No 1 (2023): Februari
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v6i1.37120

Abstract

Rendahnya produksi selada menunjukkan bahwa diperlukan upaya budidaya yang efektif dengan memanfaatkan lahan yang sempit yaitu dengan budidaya selada romaine secara hidroponik. Smart Watering SWU 02 dapat dijadikan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produksi selada di Indonesia khususnya selada romaine karena dapat diaplikasikan dilahan yang sempit juga dapat mengurangi biaya produksi dikarenakan tidak menggunakan energi listrik. Selada romaine sangat bergantung pada cahaya matahari apabila kekurangan cahaya matahari maka akan mengalami etiolasi. Kurangnya cahaya matahari disebabkan karena jarak tanam yang terlalu rapat. Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah penerapan variasi jarak tanam yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada romaine (Lactuca sativa L. var. longifolia) pada Sistem Smart Watering SWU 02 serta untuk memperoleh jarak tanam yang paling optimal untuk menunjang pertumbuhan dan hasil tanaman selada romaine (Lactuca sativa L. var. longifolia) pada Sistem Smart Watering SWU 02. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL). Jarak tanam yang digunakan yaitu 20 cm x 25 cm, 20 cm x 20 cm, 25 cm x 25 cm dan 12,5 cm x 12,5 cm masing-masing 3 ulangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh pertumbuhan dan hasil tanaman selada romaine terhadap perbedaan jarak tanam pada Smart Watering SWU02. Jarak tanam 20 cm x 25 cm merupakan jarak tanam terbaik diantara jarak tanam lainnya. Jarak tanam yang renggang mengurangi persaingan antar tanaman dalam mendapatkan cahaya matahari dan nutrisi sehingga tanaman mendapatkan cahaya matahari dan nutrisi optimal.
OPTIMASI PROSES PENGERINGAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BUNGA TELANG (Clitoria ternatea) MENGGUNAKAN METODE RESPON PERMUKAAN Rizal Anwar Fauzi; Asri Widyasanti; Sophia Dwiratna Nur Perwitasari; Siti Nurhasanah
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 23 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.459 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2022.023.01.2

Abstract

          Bunga telang (C. ternatea) diidentifikasi mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi menjadi sumber antioksidan alami namun mudah terdegradasi oleh suhu tinggi. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui model matematis dan kombinasi suhu dan waktu pengeringan yang menghasilkan bunga telang kering dengan kadar air, rendemen dan aktivitas antioksidan paling optimum. Pengering yang digunakan yaitu food dehydrator dengan suhu 45 °C hingga 65 °C serta waktu 4 hingga 6 jam. Metode penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan optimasi menggunakan Response Surface Methodology tipe CCD pada aplikasi Design Expert 11. Parameter yang dianalisis selain respon pada RSM yaitu kelarutan bubuk dan warna seduhan bunga telang kering. Kondisi pengeringan optimum yang diberikan RSM diperoleh pada pengeringan dengan suhu 64,46 °C selama 5,95 jam. Diperoleh nilai hasil dari validasi aktivitas antioksidan 159,75 ppm (kategori sedang), kadar air 4,33%, kelarutan 63,09%, rendemen 8,44%, L* 41,39, a* -24,18, b* -18,39, kromatisitas warna 30,23, dan Hue 216,88 (Blue green). Persamaan matematis aktivitas antioksidan didapatkan Y = 2630,202 – 62,236 A – 140,078 B – 4,171 AB + 0,707 A2 + 28,864 B2, dengan Y adalah aktivitas antioksidan (ppm), A adalah suhu (°C), dan B adalah waktu (jam). Penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi suhu dan waktu pengeringan berpengaruh pada aktivitas antioksidan bunga telang kering.                                    Butterfly pea (C.ternatea) was identified to contain bioactive compounds that have the potential as a source of natural antioxidants but are easily degraded by high temperatures. The purpose of this research was to determine the mathematical model and combination temperature and dry time produces C.ternatea dry with the most optimum moisture content, yield and antioxidant activity. The dryer used was a food dehydrator with a temperature of 45 °C to 65 °C and a time of 4 to 6 hours. This research method was experimental research with optimization using Response Surface Methodology type CCD on Design Expert 11. Parameters analyzed in addition to the response in RSM were powder solubility and steeping color of dried C.ternatea. The most optimum dry conditions were given RSM obtained at a temperature of 64,46 °C for 5,95 hours. The results obtained from the validation of antioxidant activity 159.75 ppm (medium category), water content 4.33%, solubility 63,09%, yield 8,44%, L* 41,39, a* -24,18, b* -18,39, chroma 30,23, and Hue 216,88 (Blue-green). The mathematical equations for antioxidant activity was Y = 2630,202 – 62,236 A – 140,078 B – 4,171 AB + 0,707 A2 + 28,864 B2, Y: antioxidant activity (ppm), A: temperature (°C), and B: time (hours). This study proved that the combination of temperature and time affects the antioxidant activity of dried C.ternatea.