Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Effect of hormonal contraceptives on the ocular surface and the tear film Muhammad Syauqie
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 54, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19106/JMedSci005404202205

Abstract

Dry eye syndrome (DES) is a common multifactorial disease of the tears andocular surface associated with sex hormones. Hormonal contraception is arisk factor for DES, but its relationship with DES exacerbations in womenof childbearing age is still unclear. This study aimed to evaluate changesof the tear film and ocular surface of young women using the hormonalcontraceptive agent. It was a case-control study involving 56 healthywomen aged 20 to 45 y.o. Subjects was divided into two groups i.e. thehormonal contraceptives group and the control group without hormonalcontraceptive. Subjects were interviewed with the ocular surface diseaseindex (OSDI) questionnaire. Tear secretion and tear stability were measuredusing Schirmer’s I test and fluorescein tear break-up time test (TBUT).Ocular surface impression cytology with cellulose acetate filter paper wastaken from inferonasal bulbar conjunctiva and was stained with periodicacid- Schiff (PAS) and counterstained with hematoxylin and eosin (HE). Nosignificantly decrease in tear secretion and tear stability in the hormonalcontraceptives group compared with the control groups was observed (p >0.05). However, a statistically significant decrease in goblet cell density andconjunctival epithelium metaplasia was observed, where 25% of the hormonalcontraceptives group had an abnormal impression cytology result comparedwith the control group (p<0.05). The hormonal contraceptives group also hada higher OSDI score than the control group, although it was not statisticallysignificant (p> 0.05). The hormonal contraceptives group had a signifificanteffect on the ocular surface in which it induced squamous metaplasia andinflflammation of conjunctival cells and the reduced number of goblet cellsp<0.05). The slightly decreased tear film volume and stability accompaniedby an increase in OSDI score found in the hormonal contraceptives groupsupport the possibility of hormonal contraceptive use as one of the riskfactors in the occurrence of dry eye syndrome.
Hubungan Tipe Katarak Senilis dengan Nilai Sensitivitas Cahaya pada Pemeriksaan Perimetri Putri Afisia Gusman; Muhammad Syauqie; Julizar Julizar
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 3 No 3 (2022): September 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v3i3.872

Abstract

Latar Belakang: Katarak senilis adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata akibat penuaan, terdiri atas katarak nuklear, kortikal, dan subkapsular posterior. Katarak dapat mengakibatkan penurunan cahaya yang masuk ke mata sehingga terjadi penurunan sensitivitas cahaya pada mata yang dilihat pada pemeriksaan perimetri. Objektif: Mengetahui hubungan tipe katarak senilis dengan nilai sensitivitas cahaya pada pemeriksaan perimetri. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan di Rum pada bulan Februari – Maret 2022. Sampel yang masuk kriteria inklusi adalah sebanyak 45 orang dengan jumlah mata yang dijadikan sampel adalah 77 mata. Analisis data menggunakan chi-square dan Kruskal Wallis. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien mengalami katarak nuklear (59,7%) dan kategori sensitivitas cahaya terbanyak adalah early defect (35,1%). Kategori sensitivitas cahaya terbanyak pada tipe katarak nuklear adalah early defect (43,5%), tipe katarak kortikal adalah moderate defect (36,8%), dan katarak subkapsular posterior adalah kategori severe defect (41,7%). Nilai sensitivitas cahaya terendah terjadi pada katarak subkapsular posterior (-8,63 dB). Hasil analisis dengan uji Kruskal Wallis didapatkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) dari nilai sensitivitas cahaya pada masing-masing tipe katarak senilis dengan nilai p=0,048. Hasil analisis dengan uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p<0,05) antara tipe katarak senilis dengan nilai sensitivitas cahaya dengan nilai p=0,039. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tipe katarak senilis dengan nilai sensitivitas cahaya pada pemeriksaan perimetri.
Efektivitas Vitamin D sebagai Terapi pada Dry Eye Izzati Mujahidah; Hendriati Hendriati; Kemala Sayuti; Muhammad Syauqie; Ulya Uti Fasrini; Erlina Rustam
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i1.1024

Abstract

Latar Belakang: Dry eye merupakan salah satu penyakit yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dan merupakan penyakit yang cukup sering dikeluhkan. Terapi dry eye beragam, vitamin D diduga dapat menjadi salah satu pilihan terapi. Vitamin D diduga dapat menjadi salah satu pilihan terapi dry eye karena memiliki peran sebagai anti inflamasi, sehingga dapat memutus lingkaran setan dry eye, namun belum diketahui secara pasti efek yang dapat ditimbulkan vitamin D pada dry eye. Objektif: Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efek vitamin D sebagai terapi pada dry eye. Literatur didapatkan dari database PubMed dan Google Scholar. Metode: Penelitian berupa studi literatur naratif yang menganalisis literatur mengenai efek vitamin D pada dry eye dari tahun 2016 hingga 2021. Hasil: Didapatkan 12 literatur yang sesuai dengan seleksi judul serta kriteria inklusi dan eksklusi. Efek yang dilihat berdasarkan pemeriksaan pada battery test TFOS-DEWS II. Kesimpulan: Vitamin D memperbaiki secara signifikan keadaan dry eye. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan vitamin D dengan pilihan terapi lainnya dan kadar optimal vitamin D untuk terapi dry eye.
Manifestasi Klinis Okular dan Orbital pada Penyakit Sinus Paranasal dan Manajemennya di RS Dr. M. Djamil Padang Muhammad Syauqie; Ardizal Rahman
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 2 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i2.190

Abstract

Latar belakang : Hubungan yang erat antara penyakit sinus paranasal dan orbita disebabkan karena letaknya yang berbatasan secara anatomis. Sekitar 60% hingga 80% dari dinding orbita tersusun dari dinding sinus paranasal. Pasien dengan penyakit sinus paranasal dapat memperlihatkan gejala okular yang lebih menonjol tanpa disertai gejalai rhinologik yang nyata. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan gejala okular yang khas pada pasien dengan penyakit sinus paranasal menurut etiologi yang mendasarinya. Metode : Penelitian retrospektif dari rekam medis dari bulan Januari 2008 - Desember 2017. Data yang dikumpulkan berupa umur, jenis kelamin, diagnosa penyakit sinus paranasal, sinus yang terlibat, ada tidaknya invasi orbita dan gejala klinis okular. Hasil : Terdapat 55 pasien yang berobat ke poliklinik rawat jalan bagian oftalmologi RSUP Dr. M. Djamil Padang selama periode tahun 2008-2017, baik datang secara langsung atau dikonsulkan dari bagian THT-KL, dengan kecurigaan invasi orbita akibat penyakit sinus paranasal, yang terdiri dari 34 (61.8%) laki-laki dan 21 (38.2%) perempuan. Usia pasien bervariasi dari umur 4 tahun hingga 83 tahun, dengan kelompok umur terbanyak antara umur 51 hingga 60 tahun. Invasi orbita terjadi pada 45 pasien (81.8%) dan disebabkan oleh tumor sinonasal pada 35 pasien (77.7%), oleh infeksi sinus pada 8 pasien (17.7%) dan oleh mukokel pada 2 pasien (4.6%). Tumor sinonasal merupakan penyakit sinus paranasal terbanyak yaitu pada 43 pasien (78.2%) dan sinus maksilaris merupakan sinus yang terbanyak terlibat. Mayoritas pasien (67.7%) datang dengan presentasi klinis proptosis, diikuti dengan oftalmoplegia (54.8%) dan penurunan visus (43.5%). Kesimpulan: Tumor sinonasal merupakan etiologi terbanyak abnormalitas orbita akibat invasi penyakit sinus paranasal dan sinus maksilaris merupakan sinus yang terbanyak terlibat. Proptosis merupakan manifestasi klinis okular terbanyak sebagai komplikasi orbita yang disebabkan penyakit sinus paranasal. Proptosis bersifat nonaksial dan arah proptosis berlawanan dengan letak sinus yang terlibat
Resolusi Neuroretinitis dengan Terapi Ciprofloxacin Muhammad Syauqie
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 46 No 2 (2020): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v46i2.100098

Abstract

Pendahuluan : Neuroretinitis merupakan suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan visus unilateral akut dengan makulopati eksudatif berupa hard exudates yang tersusun dalam pola bintang di sekitar fovea. Pada artikel ini, penulis mempresentasikan suatu kasus neuroretinitis yang memperlihatkan outcome yang baik setelah pemberian terapi ciprofloxacin. Presentasi kasus : Seorang pasien perempuan, umur 18 tahun, datang dengan keluhan utama berupa penglihatan mata kiri kabur. Visus mata kiri saat presentasi awal yaitu 1/300 dan pada funduskopi hanya didapatkan edema papil nervus optik disertai perdarahan peripapil. Pasien diberikan metilprednisolon intravena secara intravena selama 3 hari namun tidak didapatkan perbaikan gejala klinis. Pada follow up hari keempat, muncul gambaran macular star pada funduskopi yang khas untuk neuroretinitis dan diberikan terapi ciprofloxacin. Setelah pemberian ciprofloxacin selama 2 minggu didapatkan perbaikan visus menjadi 5/60 dengan visus akhir pada follow up bulan ketiga menjadi 6/12. Kesimpulan : Meskipun neuroretinitis bersifat self-limited tapi pada kasus ini pemberian ciprofloxacin mempercepat perbaikan visus dan resolusi dari edema papil nervus optik dan makula. Tiga bulan pasca presentasi awal juga tidak menunjukkan adanya sekuele berupa gangguan penglihatan warna atau penurunan sensitivitas kontras.
Nilai Sensitivitas Kontras Pasien Katarak yang Dilakukan Operasi Fakoemulsifikasi Di RS Unand Ahdaliza, Anisa; Syauqie, Muhammad; Handayani, Tuti
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.820

Abstract

Latar Belakang: Katarak senilis merupakan kekeruhan lensa mata yang terjadi pada orang berusia 50 tahun keatas yang terbagi atas katarak nuklear, kortikal dan subkapsular posterior. Kekeruhan lensa menyebabkan terjadinya penurunan sensitivitas kontras sehingga pasien sulit membedakan objek dan latar belakangnya. Terapi katarak senilis yang digunakan saat ini yaitu operasi dengan metode terbanyak dipakai adalah fakoemulsifikasi. Objektif: Mengetahui pengaruh operasi fakoemulsifikasi terhadap sensitivitas kontras pada pasien katarak senilis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif numerik berpasangan dua kelompok dengan menggunakan desain penelitian intervensional (one group pretest-posttest. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Teknik pengambilan subjek adalah consecutive sampling. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 32 subjek. Data akan dianalisis dengan Wilcoxon test. Hasil: Hasil penelitian didapatkan rentang usia pasien terbanyak adalah 65-74 tahun (40,6%), jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (53,1%), dan tipe katarak senilis terbanyak adalah katarak nuklear (34.4%). Sensitivitas kontras terendah terjadi pada katarak subkapsular posterior dengan nilai 0,00 logaritma. Hasil analisis bivariat didapatkan peningkatan signifikan dari sensitivitas kontras subjek setelah operasi fakoemulsifikasi dengan nilai p <0,001. Kesimpulan: Operasi fakoemulsifikasi terbukti berpengaruh dalam meningkatkan sensitivitas kontras pasien katarak senilis Kata kunci: katarak senilis, tipe katarak, operasi fakoemulsifikasi, sensitivitas kontras
Clear Lens Phacoemulsification Untuk Koreksi Miopia Tinggi Syauqie, Muhammad
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 71 No 1 (2021): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.71.1-2021-258

Abstract

Introduction: High myopia correction with clear lens extraction, with or without IOL implantation, remains controversial and associated with a high risk of postoperative complications, especially retinal detachment. However, advanced technology development in the cataract surgery field had resulted in excellent surgical outcomes with a very low complication rate. In this article, we will present an outcome of clear lens phacoemulsification for high myopia correction in four eyes from two patients.Case presentation: Two women with high myopia undergone clear lens phacoemulsification with supracapsular tilt and tumble technique. IOL calculation using SRK-T formula. Both patients had 20/20 postoperative visual acuity in both eyes, which remains until one year postoperative. No retinal abnormalities found in both patients.Conclusion: Clear lens phacoemulsification for high myopia correction is an effective procedure and can prove excellent visual outcome for a long-term period. It can be considered as an alternative method for high myopia management.