Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK 3M PLUS SEBAGAI UPAYA PREVENTIF DEMAM BERDARAH DENGUE Ratna Dian Kurniawati; Agung Sutriyawan; Ina Sugiharti; Supriyatni Supriyatni; Desi Trisiani; Ekawati Ekawati; Verano Verano; AA Cahya; Astrid Astrid; Sony Sony
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 3, No 3 (2020): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v3i3.2642

Abstract

Abstrak: Upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui pemutusan siklus penularan DBD yaitu mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti. Pengabdian masyarakat ini bertujuan mengendalikan dan mencegah DBD melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus. DBD masih meningkat dan menjadi masalah kesehatan yang tersebar di 5 desa di wilayah kerja Puskesmas Margaasih.  Tahun 2014 - 2017 DBD mencapai 93 kasus dengan kematian 5 orang. Dari 22 RW kasus tertinggi terjadi di desa Margaasih terutama di RW 05 dan RW 13, yaitu sebanyak  30 kasus dan 3 orang diantaranya meninggal dunia. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mencegah DBD melalui kegiatan PSN 3M Plus menjadi penyebab DBD terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini sesuai penelitian Ratna bahwa ada hubungan antara kegiatan menguras dan menutup penampungan air, memanfaatkan barang bekas yang dapat menampung air dan kebiasaan menggantung baju dengan kejadian DBD. Kegiatan Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan metode penyuluhan. Penyuluhan diikuti oleh kader sebagai agent of change dalam mempercepat optimalisasi pelaksanaan PSN 3M Plus. Sebagian kader (70%) mempunyai pengetahuan yang baik setelah mengikuti penyuluhan. Kader diharapkan mampu mengaplikasikan peran sebagai agent of change dengan baik sehingga DBD bias ditekan dengan PSN 3M Plus.Abstract: Efforts to control Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) are through breaking the dengue transmission cycle, namely preventing the bite of Aedes aegypti mosquitoes. This community service aims to control and prevent dengue through the 3M Plus Mosquito Nest Eradication (PSN). DHF is still increasing and is a health problem that is spread across 5 villages in the working area of the Margaasih Puskesmas. In 2014 - 2017 DHF reached 93 cases with 5 deaths. Of the 22 RWs, the highest cases occurred in Margaasih village, especially in RW 05 and RW 13, with 30 cases and 3 of them died. Lack of public awareness in preventing dengue through the 3M Plus PSN activities is the cause of dengue fever to continue to increase every year. This is consistent with Ratna's research that there is a relationship between draining and closing water reservoirs, utilizing used items that can hold water and hanging clothes with the incidence of dengue fever. This community service activity is carried out by means of extension methods. Counseling was followed by cadres as agents of change in accelerating the optimization of the implementation of the 3M Plus PSN. Some cadres (70%) have good knowledge after attending counseling. Cadres are expected to be able to apply their role as agent of change well so that DHF can be suppressed by the 3M Plus PSN.
Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Rumah Sakit Melalui Pelatihan Aplikasi Software Workload Indicators of Staffing Need: Hospital Health Human Resource Planning Through Software Application Training Workload Indicators of Staffing Need Richa Noprianty; Winasari Dewi; Soni Muhsinin; Sri Soleha; Ina Sugiharti; Ivan Andriyansyah
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 5 (2023): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v8i5.4991

Abstract

Hospitals are one of the health services that are required to improve the quality of services that depend on the ability of human resources (HR). Therefore, planning HR needs must be calculated precisely based on needs. There are various approaches to calculating health workers, including the WISN method, where the calculation is based on workload. The purpose of this community service is to socialize the WISN software from WHO. This activity partnered with three hospitals, namely RSUD Subang with 16 people, RSUD Dr Slamet Garut with 18 participants, and RSUD Kota Bandung with 17 people. The activity is in progress from November to December 2023 and is carried out hybridly. The offline meeting was given a pre-test, then WISN socialization was carried out, and at the end, a post-test was given. Meanwhile, the online meeting invited speakers related to the WISN software application technicalities through the Zoom meeting application. Participants who attended were 51 people, consisting of hospital management. The pre-test results showed a mean value of 8.92 while the post-test value was 11.00, and the T-test results obtained a value of 0.02 (sig >0.05), meaning that there was an increase between the pre-test and post-test with an average increase of 2.29. The workshops and trainings went well. The hospital plans to calculate the workload using the WISN software as a comparison with the existing methods in the hospital.
Upaya Peningkatan Kesehatan Ibu Hamil Melalui Edukasi Pencegahan Penyulit Kehamilan Dengan Sigap Resti (Resiko Tinggi) Ina Sugiharti; Antri Ariani; Meda Yuliani; Intan Yusita; Tika Lubis; Dewi Nurlaela Sari; Iceu Mulyati; Dyah Ayu Fitriani; Nova Mawar Senja; Khilfa Syawalia Kusumah; Elsa Nurohimah
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 5 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v5i1.1095

Abstract

Peningkatan Kesehatan dan kesejateraan dalam masa kehamilan merupakan tujuan salah satu tujuan dalam program SGDs. Edukasi merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan derajat Kesehatan, dengan meningkatnya pengetahuan tentang Kesehatan akan merubah sikap dan perilaku seseorang tentang Kesehatan. Pemberian edukasi ini selain menggunakan metode ceramah juga dilakukan pemberian leafleat sebagi pendukung edkuasi. Kegiatan Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan memberikan edukasi secara ceramah dengan dibantu oleh media yang di modifikasi tentang kehamilan beresiko, penyulit kehamilan,serta tentang penguatan deteksi komplikasi dengan sigap resti.  Hal ini untuk meningkatkan pengetahuan bagi ibu hamil, juga mengubah perilaku dan sikap ibu hamil serta memberdayakan ibu hamil dalam mendeteksi diri terkait kondisi kehamilannya sehingga dapat mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan. Kegiatan inti yang dilakukan yaitu pemberian edukasi. Mitra dalam kegiatan pengabdian masyarakat melibatkanbidan desa setempat, kader dan puskesmas. Kegiatan Pertama yaitu edukasi mengenai kehamilan beresiko, penyulit pada kehamilan serta penguatan pengahaman tentang sigap resti sebagai pemberdayaan ibu hamil dalam meningktakan kesehatannya. Hasil yang didapatkan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu terjadi peningkatan pengetahuan tentang kehamilan beresiko sebelum dan sesudah yaitu sebesar 19 % kenaikan untuk tingkatan pengatahuan baik, dan sebesar 28,5 % pada tingkatan cukup, dan pada tingkatan pengetahuan kurang mengalami penurunan 48,1 %. Dengan adanya perubahan tingkat pengetahuan ini serta penguatan pemahaman dengan sigap resti diharapkan ibu hamil dapat lebih aware  terhadap kondisi kehamilannya dan lebih rutin melakukan pemeriksaan kehamilan. Efforts to Improve the Health of Pregnant Women Through Education on Prevention of Pregnancy Complications with a Sprightly Resti (High Risk) Improving health and well-being during pregnancy is one of the goals in the SGDs program. Education is one of the efforts to improve the degree of health, with increasing knowledge about health will change a person's attitude and behavior about health. In addition to using the lecture method, leafleat is also given as a supporter of education. This community service activity is carried out by providing lectures with the help of modified media about risky pregnancies, pregnancy complications, and about strengthening the detection of complications swiftly. This is to increase knowledge for pregnant women, also change the behavior and attitudes of pregnant women and empower pregnant women to detect themselves regarding their pregnancy conditions so that they can optimize health during pregnancy. The core activity carried out is the provision of education. Partners in community service activities involve local village leaders, cadres and puskesmas. The first activity is education about risky pregnancies, difficulties in pregnancy and strengthening understanding about swiftness as an empowerment of pregnant women in notarizing their health. The results obtained from this community service activity were an increase in knowledge about pregnancies at risk before and after, namely by 19% increase for the level of good knowledge, and by 28.5% at the sufficient level, and at the level of knowledge less decreased by 48.1%. With this change in the level of knowledge and strengthening understanding swiftly, it is hoped that pregnant women can be more aware of the condition of their pregnancy and more routinely conduct pregnancy check-ups.
EFFECTIVENESS OF YOGA CHILD POSE ON ALLEVIATING MENSTRUAL PAININ FEMALE ADOLESCENTS Meda Yuliani; Ina Sugiharti; Intan Yusita; Iceu Mulyati; Siska Nurul Agustiani
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 16 No. 2, Juli 2025
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v16i2.1848

Abstract

Background: Menstrual pain, or dysmenorrhea, arises from heightened prostaglandin production, leading to uterine cramps. This discomfort can interfere with daily activities. One recommended non-pharmacological approach to relieve this condition is practising the child's pose in yoga. This study aims to assess the effectiveness of this pose in reducing menstrual discomfort among students. Methods: The research was conducted at SMPN 2 Pamulihan during the period of July through August. This study employed a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The participants were 7th and 8th grade junior high school students experiencing primary dysmenorrhea who met the inclusion and exclusion criteria. Pain assessment was conducted using the Numeric Rating Scale (NRS), a validated and widely accepted instrument for evaluating pain levels. The yoga intervention was implemented based on established Standard Operating Procedures (SOP) to ensure consistency and adherence to protocol. Data were analysed using univariate and bivariate analyses, with the Wilcoxon test applied to assess the differences between pretest and posttest results. Results: Prior to the intervention, 25 participants (69.4%) experienced mild pain. Following the yoga sessions, 26 students (72.2%) reported mild pain. Statistical analysis revealed a significant difference before and after the intervention (p = 0.000 < 0.05), indicating the potential of child's pose yoga as a non-pharmacological method for easing dysmenorrhea. Conclusion: The child's pose yoga technique shows promise in managing menstrual discomfort among adolescents, serving as a viable non-pharmacological alternative.
Breastfeeding Problems In Teenage Mothers: A Scoping Review Wulan Wijaya; Ina Sugiharti; Linda Listriyati
JOURNAL EDUCATIONAL OF NURSING(JEN) Vol 9, No 1 (2026): Journal Educational of Nursing (JEN)
Publisher : STIKes RSPAD RSPAD Gatot Soebroto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37430/jen.v9i1.328

Abstract

Background: Breastfeeding practices among teenage mothers are among the lowest globally, despite the increasing proportion of breastfeeding teenage mothers. The impact of breastfeeding teenage mothers who do not breastfeed will cause growth and development delays in infants, lack of bonding (relationship) between mother and infant, and malnutrition in infants. Objective: To examine breastfeeding issues among teenage mothers. Method: This scoping review method consists of several steps, namely identifying scoping review questions, identifying relevant literature sources, selecting literature, compiling, summarizing, and reporting the results. Results: Based on a critical review, 19 articles were obtained. The results of the study found 3 themes, namely low education levels, lack of maternal knowledge about breastfeeding, and lack of support for breastfeeding mothers. Conclusion: Breastfeeding issues among teenage mothers are an important note that must be considered because when a teenager has to become a mother at a young age and they are required to be able to become a mother at a young age. The problems faced by teenage mothers are very diverse. The findings of this study can be used as a basis or input for further researchers to examine more deeply other problems related to breastfeeding among teenage mothers.
Pemberdayaan Keluarga Dalam Deteksi Dini Tanda Bahaya Pada Balita Melalui Media Kartu Flashcard Sri Lestari Kartikawati; Ria Indriani; Ina Sugiharti; Pujiati Setyaningsih; Tata Juarta
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 Mei 2026
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpmpkm.v8i1.25788

Abstract

Kesehatan balita merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kualitas layanan kesehatan dasar dan derajat kesejahteraan masyarakat. Balita memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai penyakit infeksi maupun noninfeksi karena sistem kekebalan tubuh belum matang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sebagian besar kematian balita dapat dicegah melalui deteksi dini tanda bahaya dan pengambilan keputusan medis yang cepat dan tepat di tingkat keluarga. Selama ini edukasi kesehatan di posyandu umumnya dilakukan melalui ceramah dan pembagian leaflet. Metode tersebut kurang efektif bagi masyarakat dengan literasi kesehatan rendah karena mengandalkan teks dan komunikasi satu arah. Media edukasi berbasis flashcard merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Flashcard menggabungkan gambar dan pesan singkat sehingga memudahkan masyarakat memahami konsep kesehatan secara cepat dan sederhana. Kegiatan pemberdayaan keluarga ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas keluarga dalam mengenali dan merespons tanda bahaya balita melalui edukasi berbasis media kartu flashcard. Kegiatan ini dilakukan melalui ceramah, diskusi kelompok, demonstrasi, dan simulasi. Demonstrasi dilakukan dengan memperlihatkan flashcard satu per satu dan menjelaskan makna setiap ilustrasi. Kegitan ini dilakukan pada 30 orang tua balita dan 20 kader kesehatan di Desa Cibiru Wetan pada tanggal 30 November 2025.  Evaluasi dilakukan melalui pre test dan post test. Kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan keluarga dan kader mengenai tanda bahaya balita, yang tercermin dari peningkatan skor rata-rata pre-test dan post-test. Media flashcard terbukti efektif sebagai sarana edukasi yang sesuai dengan karakteristik masyarakat desa Kata Kunci: pemberdayaan keluarga, media flashcard
Peningkatan Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi dan Konsumsi Tablet Tambah Darah (Fe) melalui Edukasi Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Meda Yuliani; Intan Yusita; Dyah Ayu Fitriani; Tika Lubis; Ina Sugiharti; Dewi Nurlaela Sari; Widya Arumningtyas
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/f07jtb68

Abstract

Rendahnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dan pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (Fe) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia, kehamilan usia dini, dan gangguan kesehatan reproduksi. Hasil Survei Mawas Diri (SMD) di wilayah kerja Puskesmas “R” menunjukkan masih terdapat remaja yang memiliki pengetahuan rendah mengenai Infeksi Menular Seksual (IMS), kesehatan reproduksi, dan konsumsi Tablet Tambah Darah (Fe). Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dan pentingnya konsumsi Tablet Darah Tambah (Fe) melalui edukasi kesehatan. Metode pelaksanaannya dilakukan melalui penyuluhan kesehatan dengan pendekatan edukatif menggunakan ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, leaflet, dan video edukasi berdasarkan hasil identifikasi masalah dari Survei Mawas Diri. Sasaran kegiatan adalah remaja di wilayah kerja Puskesmas “R”. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS), serta pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (Fe) sebagai upaya pencegahan anemia pada remaja. Peserta juga menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung dan mampu memahami materi yang diberikan dengan lebih baik. Pendidikan kesehatan terbukti menjadi salah satu upaya promotif yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan anemia. Kegiatan serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, sekolah, kader kesehatan, dan masyarakat.
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PASANGAN USIA SUBUR TENTANG KB MKJP MELALUI METODE PENYULUHAN INTERAKTIF Wulan Wijaya; Linda Listriyati; Ina , Sugiharti; Ecih Winengsih; Dyah Ayu Fitriani; Tika Lubis
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.38112

Abstract

Abstrak: Rendahnya pengetahuan dan kuatnya stigma terhadap metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) menjadi hambatan dalam peningkatan penggunaan kontrasepsi efektif pada pasangan usia subur (PUS). Pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan sikap PUS terhadap MKJP melalui penyuluhan interaktif yang terstruktur. Kegiatan melibatkan 36 responden dengan desain pre-experimental one group pre-test–post-test. Intervensi meliputi ceramah partisipatif, diskusi dua arah, klarifikasi mitos, dan konseling singkat. Evaluasi menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap, dengan analisis deskriptif serta uji Paired t-test dan effect size (Cohen’s d). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan skor pengetahuan dari 61,8±9,8 menjadi 83,9±8,1 (p<0,05; d=1,60) dan sikap dari 28,4±4,0 menjadi 35,1±3,5 (p<0,05; d=1,55). Pengetahuan kategori baik meningkat dari 19,4% menjadi 77,8%, dan sikap positif dari 38,9% menjadi 80,6%. Temuan ini menunjukkan penyuluhan interaktif efektif meningkatkan pemahaman dan penerimaan MKJP serta berpotensi mendukung program keluarga berencana di tingkat komunitas.Abstract: Low levels of knowledge and strong stigma surrounding long-acting contraceptive methods (LACMs) pose barriers to increasing the use of effective contraception among couples of reproductive age (CRAs). This community service project aims to improve CRAs’ knowledge and attitudes toward LACMs through structured interactive education. The study involved 36 participants using a one-group pre-test–post-test pre-experimental design. The intervention included participatory lectures, two-way discussions, myth clarification, and brief counseling. Evaluation utilized knowledge and attitude questionnaires, with descriptive analysis as well as Paired t-tests and effect size (Cohen’s d). Results showed a significant increase in knowledge scores from 61.8 ± 9.8 to 83.9 ± 8.1 (p < 0.05; d = 1.60) and in attitudes from 28.4 ± 4.0 to 35.1 ± 3.5 (p < 0.05; d = 1.55). The proportion of participants with “good” knowledge increased from 19.4% to 77.8%, and those with positive attitudes increased from 38.9% to 80.6%. These findings indicate that interactive health education effectively improves understanding and acceptance of MKJP and has the potential to support family planning programs at the community level.
Kegiatan promotif-preventif kesehatan keluarga dan pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi pengelolaan sampah Agus Mi’raj Derajat; Rahmat Santoso; Yunisa Mega Pasha; Ina Sugiharti; Madinatul Munawaroh; Dewi Kurnia; Nadia Ushfuri Amini; Roganda Situmorang
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4419

Abstract

Background: Indonesia faces significant health challenges, ranging from the double burden of disease to issues regarding the distribution of medical facilities and personnel. Official data from the Indonesian Ministry of Health and Statistics Indonesia (BPS) indicate that the country is grappling with a double health burden: a high prevalence of infectious diseases alongside a surge in non-communicable diseases. Consequently, educational interventions are required to provide insights aimed at improving health outcomes. Purpose: To enhance public knowledge regarding the risks of stunting, adolescent early marriage, and hypertension, and to provide guided training on household waste management and the adoption of clean and healthy living behaviors. Method: This initiative consisted of interactive education and training interventions conducted in Mandalahaji Village, Pacet District, Bandung Regency. Forty-two residents participated in the program, which involved eight lecturers and twenty-six students. Participant knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational activities. Knowledge was evaluated by comparing pretest and posttest results, while participant skills were assessed through observations of waste sorting practices, health cadres conducting screening visits, and the implementation of clean and healthy living behaviors. These results were analyzed descriptively to provide an overview of healthy living behaviors implementation and to evaluate the success of the educational activities. Results: Evaluation showed an improvement in participants' knowledge and skills across the entire series of activities, with achievements approaching or exceeding the minimum target of 70% of the total program target. Post-test results indicated that the number of participants demonstrating a "good" level of knowledge was 38 (90.5%) for waste management; 40 (95.2%) for balanced nutrition and immunization; 38 (90.5%) for screening techniques and hypertension; and 42 (100.0%) for the prevention of early marriage. Additionally, 40 participants (95.2%) demonstrated a "good" level of knowledge regarding clean and healthy living behavior following the educational activities. Conclusion: The program successfully improved community knowledge and skills regarding household waste management, balanced nutrition, early detection of hypertension, adolescent reproductive health, and healthy living behavior, with outcomes approaching or meeting the minimum target of 70% of the program's objectives. Suggestion: Periodic follow-up support by health volunteers and waste bank administrators is necessary to ensure the sustainability of waste management and healthy living behaviors practices. Health volunteers need to continue monitoring changes in community behavioral patterns specifically waste sorting practices, screening visits, and healthy living behaviors implementation in the subsequent months to ensure the program's impact is sustained. Keywords: Community empowerment; Family health education; Healthy living behaviors; Household waste management Pendahuluan: Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar di bidang kesehatan, mulai dari beban ganda penyakit hingga masalah penyebaran fasilitas dan tenaga medis. Data resmi dari Kementerian Kesehatan RI dan Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia menghadapi beban ganda kesehatan, yaitu tingginya penyakit menular serta lonjakan penyakit tidak menular. Sehingga diperlukan intervensi edukasi untuk memberikan wawasan sebagai upaya perbaikan derajat kesehatan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai risiko stunting, pernikahan dini pada remaja, hipertensi, serta pelatihan dengan pendampingan pengelolaan sampah rumah tangga dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Metode: Kegiatan ini merupakan edukasi interaktif dengan intervensi pelatihan yang dilaksanakan di Desa Mandalahaji, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini diikuti 42 warga untuk menjadi partisipan. Pelaksanaan kegiatan melibatkan 8 orang dosen serta 26 orang mahasiswa. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi pengetahuan dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest, sedangkan untuk tingkat kemampuan partisipan di evaluasi berdasarkan observasi ketika melakukan praktik pemilahan sampah, kader dalam melakukan kunjungan skrining, dan penerapan PHBS. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk memberikan gambaran penerapan PHBS dan menilai keberhasilan kegiatan edukasi. Hasil: Evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta pada seluruh rangkaian kegiatan, dengan capaian mendekati atau melampaui target minimal 70 persen dari total sasaran program. Berdasarkan posttest menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dalam kategori baik menjadi sebanyak 38 partisipan (90.5%), untuk tingkat pengetahuan mengenai gizi seimbang dan imunisasi dalam kategori baik menjadi sebanyak 40 partisipan (95.2%), untuk tingkat pengetahuan mengenai teknik skrining dan hipertensi dalam kategori baik menjadi sebanyak 38 partisipan (90.5%), untuk tingkat pengetahuan mengenai pencegahan pernikahan dini dalam kategori baik menjadi sebanyak 42 partisipan (100.0%). Sedangkan untuk tingkat pengetahuan mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kategori baik menjadi sebanyak 40 partisipan (95.2%) setelah kegiatan edukasi. Simpulan: Program berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, gizi seimbang, deteksi dini hipertensi, kesehatan reproduksi remaja, dan PHBS, dengan capaian mendekati atau memenuhi target minimal 70 persen dari sasaran program. Saran: Perlu dilakukan pendampingan lanjutan secara berkala oleh kader kesehatan dan pengurus bank sampah agar praktik pengelolaan sampah dan PHBS dapat berjalan berkelanjutan. Pemantauan perubahan pola perilaku masyarakat (praktik pemilahan sampah, kunjungan skrining, dan penerapan PHBS) perlu terus dilakukan oleh kader kesehatan pada bulan-bulan berikutnya untuk memastikan keberlanjutan dampak program.