Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PELATIHAN PENGGUNAAN PRAKTIKUM VIRTUAL PhET BAGI GURU SD TLOGOSARI WETAN 01 SEMARANG Iryan Dwi Handayani; Seno Suharyo; Wahjoerini Wahjoerini
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 4, No 2 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.843 KB) | DOI: 10.31764/jpmb.v4i2.3948

Abstract

ABSTRAKPembelajaran daring sekarang sedang dilaksanakan oleh semua jenjang pendidikan di dunia karena adanya pendemi covid 19. Tenaga pendidik diminta membuat pembelajaran semenarik mungkin walaupun lewat online. DPhet merupakan praktikum simulasi interaktif fenomena Fisika, matematika, biologi dan kimia yang berbasis riset. Tim pengabdian memberikan pelatihan tentang penggunaan PhET dengan tujuan memberikan alternatif praktikum secara online kepada guru SD Tlogosari Wetan 01. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pelatihan langsung kepada guru dan tenaga kependidikan di lingkungan SD Tlogosari Wetan 01 Semarang tentang penggunaan PhET dalam proses pembelajaran terutama praktikum. Kata kunci: PhET; praktikum simulasi ABSTRACTOnline learning is now being carried out by all levels of education in the world because of the Covid 19 epidemic. Educators are asked to make learning as interesting as possible even though it is online. DPhet is a research-based interactive simulation practicum of physics, mathematics, biology and chemistry phenomena. The community service team provides training on the use of PhET with the aim of providing an alternative online practicum for SD Tlogosari Wetan 01 teachers.The method used in this service is direct training for teachers and education personnel in SD Tlogosari Wetan 01 Semarang on the use of PhET in the learning process, especially practicum. Keywords: PhET; simulation practicum
IDENTIFIKASI MORFOLOGI KAWASAN PESISIR PANTAI DI KOTA SEMARANG DAN PERKEMBANGANNYA (STUDI KASUS : PANTAI MARINA) Tiasa Adimagistra; Wahjoerini Wahjoerini
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol 1, No 1 (2020): VOLUME 1 NOMOR 1 MARET 2020
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1092.118 KB) | DOI: 10.26623/ijsp.v1i1.1897

Abstract

The city and its development is one of the complex things that occurs in the arrangement of spatial activities. The city's shape and dynamic city developments are influenced by physical and non-physical aspects such as social, economic, cultural, and technological evolving over time and following human needs. The change in the city form called the morphology of the city will never finish and become perfect such as building architecture, circulation system, open space, and urban infrastructure facilities. The city's morphological approach in identifying and identifying the shape of the city is not only covering the physical appearance, but also involves non-physical elements that contribute to the process of changing the city.The city of Semarang as a big city in Java Island is included in the coastal areas whose morphological development from time to time is very dynamic which grows expanding to the surrounding area. It is no exception at Marina Beach which located at PRPP Complex, Tawangsari district. This area is a residential development and settlement area planned by the developer and is now an important area for the economic growth of Semarang, with the new international airport, the airport Ahmad Yani International So this area is interesting to do a study of morphological identification and how it develops. The purpose of this research is to identify the morphology and architecture of the city in the coastal areas of Semarang in the pre-independence period, post-independence to the present. The step that will be done is to identify the pattern of the Marina coastal area based on satellite imagery and then three methods of analysis, namely the historical analysis of the region, the analysis of the area pattern, the analysis of the City room product City image analysis, townscape analysis, and building style analysis and building type. From the results of the analysis will be conducted morphological identification and how the development of coastal areas of Semarang especially in Marina beach. 
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN SATU MOBIL SATU GARASI PROVINSI DKI JAKARTA Wahjoerini Wahjoerini; Andarina Aji Pamurti
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol 2, No 2 (2021): VOLUME 2 NOMOR 2 OKTOBER 2021
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.062 KB) | DOI: 10.26623/ijsp.v2i2.3975

Abstract

Kebijakan mengenai kepemilikan kendaraan bermotor disertai dengan kepemilikan garasi telah tertuang Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2014 Pasal 140. Namun karena berbagai kendala, peraturan yang terbit pada tahun 2014 belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam mengurangi jumlah kendaraan bermotor. Satu diantara metode yang sangat berguna dalam kajian kebijakan adalah Institutional Analysis Development (IAD) yang dikembangkan oleh Elinor Ostrom pada tahun 1994. kebijakan terkait kepemilikan garasi bagi pemilik kendaraan bermotor khusus nya mobil terdapat tumpang tindih dengan kebijakan yang kedudukannnya diatasnya yang saling terkait. kemungkinan terjadinya konflik kepentingan antar stakeholder terkait implementasi sementara itu jika dirinci lebih lanjut, terdapat kemungkinan konflik kepentingan dan potensi yang dapat dikembangkan melalui interaksi antar stakeholder. Masalah yang ada berakar dari ketiadaan aturan teknis dan kurangnya koordinasi antar sektor pemerintahan baik dalam skala nasional maupun lokal (provinsi). Kedua akar masalah tersebut menghasilkan permasalahan yang terjadi saat ini seperti perbedaan peraturan dan kepentingan antar Lembaga. Kemudian belum adanya mekanisme kontrol perizinan dan pengawasan yang terstruktur dan terintegrasi antar Lembaga. 
KONSEP PERANCANGAN DI KAWASAN PESISIR PANTAI SARI KOTA PEKALONGAN Wahjoerini Wahjoerini
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol 1, No 1 (2020): VOLUME 1 NOMOR 1 MARET 2020
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.378 KB) | DOI: 10.26623/ijsp.v1i1.1988

Abstract

Kawasan pesisir merupakan wilayah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia di bumi. Wilayah pesisir memiliki potensi besar terhadap pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang dapat memberikan dampak terhadap ekonomi. Dampak ekonomi dapat dirasakan secara langsung bagi pemerintah maupun masyarakat seperti kontribusi tersebut terhadap pendapatan dan pertumbuhan ekonomi wilayah, pendapatan masyarakat nelayan serta penyerapan kesempatan kerja. Lokasi kawasan pesisir yang strategis pun juga dapat memudahkan terjadinya pedagangan antar kota, daerah dan pulau, yang tentu saja akan dapat meningkatkan perekonomian sekitar. Selain itu keunikan kawasan pesisir adalah menghasilkan sektor bernilai tinggi seperti sektor pangan, pemukiman, pariwisata, perikanan, dan industri. Kota Pekalongan yang terletak di pesisir pantai utara Jawa, pada dasarnya menyimpan beberapa potensi yang dapat dikembangkan bagi pembangunan wilayahnya. Di sekitar kawasan Pantai Pasir terdapat beberapa obyek wisata yang memiliki daya tarik bagi pengunjung dan wisatawan, antara lain galangan kapal, Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP) dan TPI, wisata bahari PPNP, obyek wisata pantai Pasir Kencana, koridor Pantai Sari, dan Pekalongan Mangrove Park. Namun dikarenakan pengelolaannya yang kurang optimal oleh pemerintah dan kurangnya partisipasi masyarakat dalam memelihara kualitas lingkungan, obyek-obyek yang berdampingan tersebut tidak dapat terintegrasi dengan baik sebagai satu kawasan wisata yang saling mendukung. Hal ini menyebabkan kawasan wisata potensial ini tidak dapat berkembang secara optimal dan menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata pesisir yang berkelanjutan.
PELATIHAN PEMBUATAN VISUALISASI DATA SPASIAL BAGI SISWA SMA WALISONGO SEMARANG Wahjoerini Wahjoerini; Andarina Aji Pamurti; Dwi Prabowo
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 3 (2022): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i3.9331

Abstract

ABSTRAKDewasa ini perkembangan dalam dunia teknologi informasi sangat tinggi, hal ini akan memberikan banyak manfaat dan kemudahan kita dalam penggunaan teknologi informasi itu sendiri. Permasalahan yang ada pada mitra yaitu dalam penyajian bentuk data, banyak siswa yang masih menggunakan tabel sehingga diperlukan penyajian data yang lebih informatif  dengan cara memvisualisasikan data dengan bentuk lainnya seperti peta. Metode yang akan dilaksanakan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi adalah Identifikasi permasalahan, selanjutnya pendekatan penyelesaian masalah dengan pelaksanaan pelatihan pembuatan visualisasi data spasial. Pelatihan ditujukan untuk siswa-siswi SMA Walisongo Semarang dengan jumlah peserta 19 orang. Sebelum melaksanakan pelatihan, kami melakukan pretest dan setelah pelatihan dilakukan post test untuk mengevaluasi kegiatan. Pelaksanaan kegiatan berjalan lancar sesuai dengan tujuan. Hal ini ditunjukan dengan capaian sebesar 100% mahasiswa telah memahami mengenai visualisasi data. Tujuan utama dari visualisasi data adalah untuk mengkomunikasikan informasi secara jelas dan efisien. Visualisasi yang efektif membantu pengguna dalam menganalisis dan penalaran tentang data dan bukti. Metode yang digunakan untuk memvisualisaikan data yaitu dengan menggunakan Microsoft Excel 3D Map. Untuk luaran yang akan dihasilkan berupa jurnal pengabdian masyarakat. Kata kunci: visualisasi; data; ms. excel. ABSTRACTDevelopment in the world of information technology are very high, this will provide many benefits and convenience for us in the use of information technology itself. The problem with partners is that in presenting data in the form of data, many students still use tables, so it is necessary to present more informative data by visualizing data in other forms such as maps. The method that will be implemented in overcoming the problems faced is the identification of the problem, then the approach to solving the problem is by implementing training in making spatial data visualization. The training is intended for students of SMA Walisongo Semarang with 19 participants. Before carrying out the training, we did a pretest and after the training we did a post test to evaluate the activities. The implementation of activities runs smoothly according to the objectives. This is shown by the achievement of 100% of students have understood about data visualization. The main purpose of data visualization is to communicate information clearly and efficiently. Effective visualization assists users in analyzing and reasoning about data and evidence. The method used to visualize the data is by using Microsoft Excel 3D Map. The output that will be produced is in the form of a community service journal. Keywords: visualization; data; ms. excel.
PELATIHAN PEMODELAN 3 DIMENSI MENGGUNAKAN SOFTWARE SKETCHUP BAGI SISWA SMAN 11 SEMARANG Andarina Aji Pamurti; Wahjoerini Wahjoerini; Rizqy Ridho Prakasa
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 3 (2022): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i3.10567

Abstract

ABSTRAKSiswa Sekolah Menengah Umum yang notabene bukan Sekolah Menengah Kejuruan memerlukan ketrampilan khusus akan penguasaan teknologi agar memiliki pandangan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau sebagai bekal di dunia kerja pasca lulus Sekolah Menengah Atas. Tujuan pelatihan ini yaitu memberikan pengetahuan kepada siswa SMAN 11 Semarang agar mendapatkan ketrampilan khusus yaitu membuat pemodelan 3 dimensi menggunakan software SketchUp. Metode pelatihannya yaitu pengenalan akan software SketchUp, Pre Test untuk mengetahui keminatan siswa, pemberian materi pelatihan yaitu penggunaan toolbars serta pembuatan gambar    3 dimensi, kemudian evaluasi berupa Post test. Pelatihan dilaksanakan di Laboratorium Komputer SMAN 11 Semarang yang diikuti oleh 18 siswa. Pemodelan yang dibuat yaitu gambar 3 dimensi perumahan, yang meliputi jaringan jalan, unit rumah, vegetasi, penggunaan component, penggunaan material serta pembayangan. Hasil dari Pre Test adalah 39% siswa sangat tertarik dan 44% siswa tertarik akan penggunakan komputer untuk desain 3 dimensi. Sedangkan hasil Post Test adalah 67% siswa mengetahui penggunaan toolbars. Semua siswa dapat melakukan hasil akhir pembuatan objek 3 dimensi perumahan dengan baik dan benar. Diharapkan pelatihan ini menambah pengetahuan serta point plus bagi siswa sehingga siswa mendapatkan pandangan untuk jenjang berikutnya. Kata Kunci: 3 dimensi; keterampilan; sketchup ABSTRACTGeneral high school students who are not vocational high schools need special skills in mastering technology in order to have a view to continuing to college or as a provision in the world of work after graduating from high school. The purpose of this training is to provide knowledge to SMAN 11 Semarang students in order to gain special skills, namely making 3-dimensional modeling using SketchUp software. The training method is an introduction to the SketchUp software, Pre Test to determine student interests, providing training materials, namely the use of toolbars and making 3-dimensional images, then evaluation in the form of a Post test. The training was held at the Computer Laboratory of SMAN 11 Semarang, which was attended by 18 students. The model made is a 3-dimensional image of housing, which includes the road network, housing units, vegetation, use of components, use of materials and shading. The results of the Post Test are 39% of students are very interested and 44% of students are interested in using computers for 3-dimensional designs. While the results of the Post Test are 67% of students know the use of toolbars. All students can do the final result of making 3-dimensional housing objects properly and correctly. It is hoped that this training will increase students' knowledge as well as a plus point so that students can gain insight into the next level. Keywords: 3 dimensional; skills; sketchup
ANALISIS KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA PERMUKIMAN KECAMATAN SEMARANG TENGAH Wahjoerini Wahjoerini; Rizqy Ridho Prakasa; Andarina Aji Pamurti
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol. 3 No. 1 (2022): VOLUME 3 NOMOR 1 MARET 2022
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ijsp.v3i1.5253

Abstract

Sarana adalah sesuatu yang beruapa alat yang biasa digunakan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang biasa   digunakan sebagai penunjang utama agar terselenggaranya suatu produksi, sedangkan prasarana adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan, kawasan, kota atau wilayah sehingga memungkinkan ruang tersebut berfungsi sebagaimana mestinya. Meningkatnya penduduk sebanding dengan peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ketersediaan sarana dan prasarana permukiman di Kecamatan Semarang Tengah. Metode yang akan digunakan yaitu menggunakan analisis proyeksi penduduk serta proyeksi sarana dan prasarana. Output yang diharapkan yaitu ketersediaan sarana dan prasarana permukiman di Kecamatan Semarang Tengah.
PENGARUH PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP KINERJA JALAN di PEREMPATAN JALAN WOLTER MONGINSIDI Widya Ineuke Citra Pramesti; Wahjoerini Wahjoerini
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol. 3 No. 2 (2022): VOLUME 3 NOMOR 2 OKTOBER 2022
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ijsp.v3i2.5359

Abstract

Perempatan Jl. Wolter Monginsidi merupakan jalan kolektor sekunder yang terletak di wilayah Kelurahan Pedurungan Tengah. Masalah yang terjadi terkait kemacetan yang terjadi pada waktu prime time (pagi 06.30-07.30) dan (sore 16.30-17.30), hilangnya bahu jalan, serta adanya parkir liar dibeberapa sarana perdagangan dan jasa.Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan lahan terhadap kinerja jalan di perempatan Jalan Wolter Monginsidi. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dan menggunakan analisis regresi linear. Dilihat dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011-2031, sarana perempatan Jalan Wolter Monginsidi tidak salah dan sudah sesuai. Pada jam puncak pagi dan sore, tingkat pelayanan jalan termasuk kategori B (stabil), jam non puncak siang kategori A (bebas). Besar pengaruh penggunaan lahan 0,473, dalam artian arah pengaruh variabel X terhadap Y akan bertambah dan tidak berkurang pengaruhnya meskipun hanya 1%. Dalam pembangunan tata guna lahan atau pemanfaatan ruang daerah/ perkotaan, pemerintah perlu memperhatikan daya dukung lingkungannya. Perencanaan mendatang bisa menerapkan vertical building yang dimana tidak memakan banyak lahan. Pembatasan penggunaan jalan dari pemerintah dimana kolektor sekunder seharusnya menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau sekunder kedua dengan sekunder ketiga, tetapi perempatan Jalan Wolter Monginsidi ini seakan penggunaannya seperti jalan nasional.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN EKSISTENSI MORFOLOGI KAMPUNG PEKOJAN SEMARANG SEBAGAI KAMPUNG MULTI ETNIS Wahjoerini Wahjoerini
Jurnal Riptek Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.346 KB) | DOI: 10.35475/riptek.v13i1.50

Abstract

Semarang is one of the major cities in Indonesia that borders on the Java and  one of  the city in Central Java that its development is largely influenced by function as a port city since the colonial. This led to a large number of acculturation between cultures with indigenous migrants. One of the old village in Semarang that is characterized as a multi ethnic villages namely is Kampung Pekojan. The village is  Kampong Pekojan in Semarang. The village at Purwodinatan, Semarang Central which runs from the intersection of JL. Agus Salim (formerly Jurnatan) to the South. Pekojan  taken from the name ' Koja' is a region in Western India, which a lot of wandering and settled in this area. Kampung Pekojan consists of three different ethnic, namely Chinese, Koja and Java. In addition, in the village there is a mosque pekojan still believed to be the relics of the ancestral city of Semarang. Citizens maintain ancestral traditions as Pekojan reference. With the development of the city of Semarang growing bolder leaps and bounds, then developed the village Pekojan. The problems that exist among them that Pekojan building followed by changes in function, with the development, then change morphology Kampung Pekojan. Morphological changes in Kampung Pekojan can be seen from the building that is the origin of the mosque which is inseparable from the history of the area of Kampung Pekojan, so  research to understanding anything which determines the existence of the village. In addition, the emergence of commercial activity and Services strongly influenced the development of the village because the event is for the communities.Purpose of doing research is to know the existence of the morphology of Kampung Pekojan  Semarang along with the development of the city of Semarang. The benefits of the research done by defending the existence of the people living there were able to survive and the village became the city of Kampong  Pekojan in place and can be used to provide input to the local governments in the region in the city of Semarang.The methods used in this research uses qualitative descriptive analysis. The Output of research of the factors that determine the existence of the morphology of them namely Kampung Pekojan in Semarang structures still existing in the original Kampung Pekojan Semarang, the function as well as the village tradition is still maintained.
PELATIHAN PENGUKURAN KEBISINGAN LINGKUNGAN BAGI SISWA SMA WALISONGO SEMARANG Andarina Aji Pamurti; Wahjoerini Wahjoerini; Dwi Prabowo
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 1 (2023): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i1.13029

Abstract

ABSTRAKSekolah adalah tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Salah satu faktor untuk mencapai kondisi lingkungan belajar yang baik adalah terhindar dari masalah kebisingan. SMA Walisongo Semarang merupakan sekolah yang terletak di jalan raya primer yang berada pada kawasan stadion dan komersil. Aktivitas jalan raya, stadion dan komersil menimbulkan kebisingan. Kegiatan pembelajaran di SMA Walisongo Semarang mendapat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, namun belum diberikan pengetahuan akan pengukuran kebisingan yaitu penggunaan alat ukur kebisingan. Oleh karena itu diperlukan pelatihan pengukuran kebisingan untuk siswa SMA Walisongo Semarang. Pelatihan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan siswa yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Alam. Manfaat dari pelatihan ini dapat digunakan untuk jenjang berikutnya yaitu perguruan tinggi dan dunia kerja. Metode pelaksanaan terdiri dari metode pengenalan, Pre Test, pelatihan pengukuran kebisingan yaitu siswa mengukur kebisingan di halaman sekolah yaitu membaca dan mencatat angka kebisingan dalam satuan desibel, kemudian evaluasi dilakukan Post Test. Hasil Pre Test yaitu menunjukkan 66,3 % siswa paham akan pengetahuan tentang kebisingan. Sedangkan hasil Post Test menunjukkan siswa 95,3 % paham akan pengetahuan kebisingan jadi dapat disimpulkan bahwa pemahaman siswa mengalami peningkatan setelah mengikuti pelatihan. Pelatihan ini siswa dapat mengetahui kebisingan di lingkungan sekolah yang berkaitan dengan besaran desibel, sumber kebisingan dan solusi penurunan kebisingan. Kata Kunci: kebisingan; lingkungan; sekolah ABSTRACTSchool is the place where the teaching and learning process takes place. One of the factors for achieving a good learning environment is avoiding noise problems. SMA Walisongo Semarang is a school located on a primary highway which is in the stadium and commercial area. Road, stadium and commercial activities generate noise. Learning activities at SMA Walisongo Semarang receive lessons in Natural Sciences, but they have not been given knowledge of noise measurement, namely the use of noise measuring instruments. Therefore, noise measurement training is needed for SMA Walisongo Semarang students. This training aims to increase students' knowledge related to Natural Sciences. The benefits of this training can be used for the next level, namely higher education and the world of work. The implementation method consists of an introduction method, Pre Test, noise measurement training in which students measure noise in the school yard, namely reading and recording noise numbers in decibel units, then the evaluation is carried out in the Post Test. The results of the Pre Test showed that 66.3% of students understood knowledge about noise. While the results of the Post Test showed that 95.3% of students understood noise knowledge, so it can be concluded that students' understanding has increased after participating in the training. In this training students can find out about noise in the school environment related to the decibel level, noise sources and noise reduction solutions. Keywords: noise; environment; school