Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

REFLEKSI BIBLIS-TEOLOGIS TERHADAP TEOLOGI FEMINIS (BIBLIS-THEOLOGICAL REFLECTION OF FEMINIST THEOLOGY) Edi Sugianto; Christian Ade Maranatha
QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies Vol 1 No 2 (2019): QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies
Publisher : Widya Agape School of Theology and Indonesia Christian Theologians Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1634.775 KB) | DOI: 10.46362/quaerens.v1i2.7

Abstract

The fact of the unbalanced treatment of women in various fields has been a struggle for women for centuries. This is the background of the emergence of the women's movement in the 20th century, including feminism, the emancipation of women and women's liberation, which provides a major change for women in modern society. This women's movement presents a new challenge for Christianity, specifically Feminism Theology, which is a theological movement that seeks to form theological vision and reflection through the perspective of oppressed / oppressed women, as a critique of global culture and siding with social justice for women's rights, both within churches and academic institutions and the wider community that tend to be patriarchal. The history of the development of this theology was pioneered by Letty Mandeville Russell; Mary Daly; Rosemary Radford Ruether; Virginia Ramey Mollenkott; and Elizabeth Schüssler Fiorenza. This theology belongs to three groups, namely: radical feminism theology, emancipation and renewal. The challenge raised by this theology is regarding the concept of the Bible, God, Salvation and the Church from exclusively feminist perspective. Based on biblical-theological reflection on the perspective of feminist theology, a new paradigm in the study of the hermeneutics of the Bible is found, namely the perspectives of feminism that may be overlooked, but still prioritize appropriate methods of interpretation so as to provide objective and biblical understanding. Fakta perlakuan terhadap kaum perempuan yang tidak seimbang dalam berbagai bidang telah menjadi pergumulan kaum perempuan selama berabad-abad. Hal tersebut melatar-belakangi munculnya gerakan kaum perempuan pada abad ke-20, di antaranya feminisme, emansipasi perempuan dan women’s liberation, yang memberikan perubahan besar bagi kaum perempuan dalam masyarakat modern. Gerakan perempuan ini memberikan tantangan baru bagi Kristenan, secara khusus Teologi Feminisme, yaitu suatu gerakan teologi yang berusaha membentuk visi dan refleksi teologis melalui sudut pandang perempuan yang tertekan/tertindas, sebagai kritik budaya global dan memihak keadilan sosial bagi hak azasi perempuan, baik di dalam gereja maupun institusi akademis dan masyarakat luas yang cenderung patriarkal. Sejarah perkembangan dari teologi ini dipelopori oleh Letty Mandeville Russell; Mary Daly; Rosemary Radford Ruether; Virginia Ramey Mollenkott; dan Elizabeth Schüssler Fiorenza. Teologi ini tergolong dalam tiga kelompok, yaitu: teologi feminime yang bersifat radikal, emansipasi dan pembaharuan. Adapun tantangan yang dimunculkan oleh teologi ini adalah berkenaan dengan konsep tentang Alkitab, Allah, Keselamatan dan Gereja dari persektif eksklusif feminis. Berdasarkan refleksi biblis-teologi terhadap perspektif teologi feminisme tersebut, maka ditemukan suatu paradigma baru dalam studi hermeneutik Alkitab, yaitu perspekstif feminisme yang mungkin terabaikan, namun tetap mengutamakan metode penafsiran yang tepat sehingga memberikan pemahaman yang objektif dan biblikal.
KUASA ALLAH DALAM ELIA DAN IMPLIKASINYA BAGI UMAT TUHAN PADA MASA KINI (GOD'S POWER IN ELIA AND THE IMPLICATIONS FOR THE PEOPLE OF THE LORD NOW) Hadi Widoyo; Christian Ade Maranatha; Yohanis Ndapamuri
QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies Vol 2 No 1 (2020): QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies
Publisher : Widya Agape School of Theology and Indonesia Christian Theologians Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/quaerens.v2i1.20

Abstract

Nabi Elia merupakan salah satu nabi yang unik dan dipakai oleh Allah sebagai penyambung lidah Allah. Artikel ini bertujuan untuk menggali apa yang menjadi karya Allah bagi nabi Elia dan bagaimana implikasinya bagi umat tuhan masa kini. Dimana dtemukan bahwa Allah menyertai nabi Elia dengan kuasa dan kerendahan hati. Hal ini menjadi pembelajaran bagi umat bagaimana sebagai umat Tuhan harus bersikap dan bagaimana dalamkehidupannya harus dipenuhi oleh kuasa Allah.
Pengajaran Hukum Taurat Yang Kelima Dalam Keluaran 20:12 Dan Pendekatannya Melalui Efesus 6:1-3 Terhadap Perubahan Karakter Menjadi Serupa Dengan Kristus Pada Mahasiswa Di STT STAPIN Majalengka Christian Ade Maranatha; Mahlon Obet Butar-butar
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 2 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural Vol.1 No.2 (October 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.939 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i2.44

Abstract

The fifth commandment (Exodus 20:12) is part of the Ten Commandments that God gave to Moses on Mount Sinai. The Bible is the eternal Word of God, thus the Fifth Law has a meaning that must be understood in an eternal dimension. The Bible gives the principle that if a man fails to do one of the commandments in the law, then he has completely failed. There are many interpretations of this law, but it only boils down to the practical, ethical and moral dimensions because it only focuses on its current relevance. The Bible states that the curse of the Law has been redeemed and fulfilled by Jesus Christ. After the resurrection, Jesus said that in the Torah, the Psalms and the Prophets were written about Him. Thus Jesus gave a new concept of interpretation in understanding the Law. This principle is called the approach in the teaching of the Apostle Paul (Ephesians 6: 1-3) which brings changes to the present era, especially for STAPIN Majalengka Students. The Bible states that the culmination of the completion of the entire redemptive work of Jesus will be the time of the second coming in the realization of a new heaven and earth. Therefore, how to explain the relevance of the Fifth Law in the context of the teaching of the Apostle Paul (Ephesians 6: 1-3) in the changing character of STAPIN Majalengka Students. This paper focuses on the study of understanding the Fifth Law in dimensions. Perintah kelima (Keluaran 20:12) adalah bagian dari Sepuluh Hukum Taurat yang diberikan Allah kepada Musa di gunung Sinai. Alkitab adalah Firman Allah yang kekal dengan demikian Hukum Kelima ini memiliki makna yang harus dipahami dalam dimensi kekekalan. Alkitab memberikan prinsip jika manusia gagal melakukan salah satu perintah dalam hukum Taurat, maka ia telah gagal seluruhnya. Ada banyak interpretasi terhadap hukum ini, namun hanya bermuara pada dimensi praktis, etis dan moral karena hanya befokus pada relevansi masa kini. Alkitab menyatakan bahwa kutuk Hukum Taurat telah ditebus dan digenapi oleh Yesus Kristus. Setelah kebangkitan, Yesus mengatakan bahwa dalam Kitab Taurat, Mazmur dan para Nabi tertulis tentang Dia. Dengan demikian Yesus memberikan sebuah konsep interpretasi baru dalam memahami Hukum Taurat. Prinsip inilah yang disebut dengan pendekatan di dalam pengajaran Rasul Paulus (Efesus 6:1-3) yang membawa perubahan terhadap jaman masa kini terutama terhadap Mahasiswa STAPIN Majalengka. Alkitab menyatakan puncak penyempurnaan seluruh karya penebusan Yesus adalah saat kedatangan yang kedua kali dalam realisasi terhadap langit dan bumi yang baru. Oleh karena itu, bagaimanakah menjelaskan relevansi Hukum Kelima dalam konteks pengajaran Rasul Paulus (Efesus 6:1-3) di dalam perubahan Karakter Mahasiswa STAPIN Majalengka. Tulisan ini fokus pada kajian terhadap pemahaman Hukum Kelima dalam dimensi.
Penyalahgunaan Narkotika Di Kalangan Remaja Kristen: Studi Kasus Di Pademangan Barat, Jakarta Utara Anggretitte Adinda Soli Naga; Wahyu Bintoro; Christian Ade Maranatha
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 2 No 1 (2021): Journal of Religious and Socio-Cultural Vol.2 No.1 (April 2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.918 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v2i1.86

Abstract

The world of youth is very vulnerable to promiscuity because they are to free, of tentang their daily activities are not controlled by the parents and the school. If this continued itu is nt impossible that many negative things will happen to them one of them is falling into the world of drug abuse. This is very ilfluential in life in the community orang in the life of the Nation and state where the influence of drug abuse is significantly far from ignoring religious values and moralmu that of the widespread use of drugs among Christian youth in a Christian youth circle in the community. There are still many of these teenagerss who meet orang associate with chicken who abuse barcotict. Dunia Remaja sangat rentan oleh pergaulan bebas. Karena terlalu bebasnya, seringkali kegiatan mereka sehari-hari tidak terkontrol oleh pihak orang tua dan pihak sekolah. Jika hal tersebut terus berlanjut bukan tidak mungkin akan banyak hal negatif yang akan menimpa mereka. Salah satunya adalah terjerumusnya ke dunia penyalahgunaan narkotika. Hal ini sangatlah berpengaruh dalam kehidupan di lingkungan masyarakat ataupun di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini dimanapun. Pengaruh penyalahgunaan narkoba secara nyata jauh dalam mengabaikan nilai-nilai agamawi dan norma yang berlaku di dalam masyarakat ini adalah suatu problema meraknya penggunaan narkoba di kalangan remaja kristen. Di suatu kalangan remaja Kristen di masyarakat masih banyak dari antara anak remaja ini yang berjumpa atau bergaul dengan anak penyalahgunaan narkotika
DAMPAK KEPEMIMPINAN NEHEMIA DAN RELEVANSINYA DENGAN GEREJA-GEREJA DI JAWA TENGAH Sentot Purwoko; David Ming; Christian Ade Maranatha
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 1 (2020): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.1, No.2, December 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v2i1.33

Abstract

The church in terms of organization and communication systems cannot be separated from the leadership of God's servants, because leaders have an influence on the growth and development of the organization in the church. The role of a successful leader in organization and communication is critical. The formulation of the problem posed by the author is: the success of implementing leadership based on the book of Nehemiah for God's servants in churches throughout Central Java? Is the character of dependence on God the most dominant character modeled by God's servants in churches throughout Central Java? Which background category is the most dominant in determining the success of implementing the leadership of God's servants based on Nehemiah's book for God's servants at GKKI throughout Central Java. The author uses a quantitative descriptive method with an explanation method for the type of correlation review. Is the successful implementation of leadership based on the book of Nehemiah for God's servants in churches throughout Central Java in the sufficient category? Is the dimension of depending on God as Nehemiah's most dominant character in the role modeled by God's servants in churches throughout Central Java in carrying out successful leadership based on the Book of Nehemiah proven true? Gereja dalam pengertian organisasi dan sistem komunikasi tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan hamba-hamba Tuhan, kerena para pemimpin mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan pengembangan organisasi di gereja. Peranan pemimpin yang berjaya dalam organisasi dan komunikasi sangat penting. Rumusan masalah yang ditimbulkan oleh penulis adalah: keberhasilan pelaksanaan kepemimpinan berdasarkan buku Nehemia untuk hamba-hamba Tuhan di gereja-gereja di seluruh Jawa Tengah? Apakah watak bergantung pada Tuhan merupakan watak paling dominan yang dimodelkan oleh hamba-hamba Tuhan di gereja-gereja di seluruh Jawa Tengah? Kategori latar belakang mana yang paling dominan menentukan keberhasilan pelaksanaan kepemimpinan hamba-hamba Tuhan berdasarkan buku Nehemia untuk hamba-hamba Tuhan di GKKI di seluruh Jawa Tengah. Penulis menggunakan kaidah deskriptif kuantitatif dengan kaidah penjelasan jenis tinjauan korelasi. Apakah pelaksanaan kepemimpinan yang sukses berdasarkan kitab Nehemia untuk hamba-hamba Tuhan di gereja-gereja di seluruh Jawa Tengah berada dalam kategori yang mencukupi? Apakah dimensi bergantung kepada Tuhan sebagai watak Nehemia yang paling dominan dalam peranan yang dimodelkan oleh hamba-hamba Tuhan di gereja-gereja di seluruh Jawa Tengah dalam melaksanakan kepemimpinan yang sukses berdasarkan Kitab Nehemia terbukti benar?
Analisis Apokaliptik Pada Hermenuetika Christian Ade Maranatha; Ronaganta Barus
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 3 No 2 (2022): Journal of Religious and Socio-Cultural Vol.3 No.2 (October 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/jrsc.v3i2.61

Abstract

Pembahasan ini lebih membahas tentang kanon kristen pada jaman dulu. Hal ini menyebabkan nilai-nilai dan pesan moral sebagai substansi dasar dalam sastra cenderung dianggap dan sikapi sebagai acuan standart ideal perilaku manusia dalam kehidupannya sebagai makhluk individual dan sosial, bukan sebagai makhluk biologis, lebih-lebih sebagai makhluk ekologis. Wacana etika sering kali menjelaskan tujuan dari penglihatan bagi para pembaca. Simbolisme esoterik merupakan sifat yang paling tampak dari sastra apokalipsis. Pada pembahasan apokaliptik selalu melibatkan hermeneuetik. Oleh akrna itu hermeneuetik menjadi acuan dalam pembahasan analisis apokaliptik, dan tidak biasa di lepas dari situ. Oleh karna itu, hermeneuetik juga harus dipahami secara dasar. . Pada tulisan ini menggunakan metodologi kualitatif, dimana sumber-sumber dari pustaka menjadi acua. Kita juga tahu bahwa pmbelajaran apokaliptik ini sendiri sangat sulit di buat batasannya. Karena apokaliptik ini pada umumnya digunakan dalam kata benda. Jadi sering sekali analisi ini tidak digunakan dalam penganalisisan.
Pendampingan Kreativitas Guru Mengajar Dengan Mengunakan Metode Mewarnai Dalam Meningkatkan Minat Siswa Dalam Proses Pembelajaran Di Sekolah Dasar 36 Menining Verra Ria Christia; Novida Dwici Yuanri Manik; Christian Ade Maranatha
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2022)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.25 KB) | DOI: 10.46362/servire.v3i1.132

Abstract

Teacher creativity in teaching is the main thing so that children have an interest in learning. Teacher creativity is the basis for producing children who have an interest in the learning process and become creative children. Apparently, in creating learning, creative teachers are needed, this must be based on various aspects, one of which is seen from the teacher, so that children have an interest in learning, there it will be seen clearly how a teacher teaches creatively and makes children have an interest in learning. the learning. A teacher has a duty to educate and instill creativity in children. This writing tries how a teacher is able to create children to have an interest in learning. The teacher's creativity is the basis for children to be more interested in participating in the learning process, and teachers must also be able to be creative in learning. Various tools and facilities that support in creating a comfortable atmosphere, one of which is by using coloring it is really needed in the teaching process so that the child's learning process is not boring. The main objective of this research is to find out how much the teacher's creativity in the teaching process will be seen by students in increasing children's interest in the learning process. Kreatifitas guru dalam mengajar merupakan hal yang utama agar anak memiliki minat belajar. Kreatifitas guru menjadi dasar supaya menghasilkan anak-anak yang memiliki minat dalam proses pembelajaran dan menjadi anak yang kreatif. Ternyata, dalam menciptakan Pembelajaran di perlukan guru yang kreatif, hal tersebut harus didasari oleh berbagai aspek salah satunya adalah dilihat dari gurunya, sehingga anak memiliki minat untuk belajar, di situ akan terlihat dengan jelas bagaimana seorang guru mengajar dengan kreatif dan menjadikan anak memiliki minat dalam pembelajaran tersebut. Seorang guru memiliki tugas untuk mendidik, dan menanamkan kreatifitas kepada anak. Penulisan ini mencoba bagaimana seorang guru mampu menciptakan anak agar memiliki minat dalam pembelajaran. Kreatifitas guru yang dimiliki menjadi dasar agar anak lebih berminat untuk mengikuti proses pembelajaran, dan guru juga harus bisa menjadi kreatif dalam pembelajaran. Berbagai alat dan sarana yang menjadi pendukung dalam menciptakan suasana yang nyaman, salah satunya dengan menggunakan mewarnai hal tersebut sangat dibutuhkan dalam proses mengajar agar proses belajar anak tidak membosankan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kreatifitas guru dalam proses mengaar yang akan dilihat oleh anak didik dalam meningkatkan minat anak untuk proses pembelajaran.
Penafsiran Alkitab yang Dinamis (Dynamic Biblical Interpretation): Hermeneutika Kontekstual sebagai Pendekatan Multidimensional (Contextual Hermeneutics as a Multidimensional Approach) Maranatha, Christian Ade
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 4 No. 2 (2024): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Moriah Theological Seminary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/rerum.v4i2.339

Abstract

Accurate and relevant biblical interpretation requires an approach that integrates various dimensions, both historical, theological, and contemporary. This article explores the application of contextual hermeneutics as a holistic method of biblical interpretation by combining four main contexts: faith, history, literature, and contemporary situation. The aim of this research is to demonstrate how contextual hermeneutics can yield a deeper and more applicable understanding that is relevant for contemporary readers. The research method employed is qualitative analysis using a contextual hermeneutic approach, involving literature studies and evaluation of biblical texts in relation to their historical, literary, and social contexts. The findings show that by understanding the contexts of faith, history, literature, and contemporary situations, interpreters can produce more comprehensive and balanced interpretations that bridge denominational differences and offer relevant guidance for modern Christians. The main contribution of this research is emphasizing the importance of a multidimensional approach to biblical interpretation to create more inclusive, adaptive, and applicable interpretations in addressing contemporary challenges. Penafsiran Alkitab yang akurat dan relevan dengan konteks zaman kini memerlukan pendekatan yang dapat mengintegrasikan berbagai dimensi, baik historis, teologis, maupun kontemporer. Dalam artikel ini, penulis mengeksplorasi penerapan hermeneutika kontekstual sebagai metode penafsiran Alkitab yang holistik, dengan menggabungkan empat konteks utama: iman, sejarah, sastra, dan situasi kontemporer. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana hermeneutika kontekstual dapat menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dan aplikatif, serta relevan bagi pembaca masa kini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dengan pendekatan hermeneutika kontekstual, yang melibatkan studi literatur dan evaluasi terhadap teks Alkitab dalam kaitannya dengan konteks historis, sastra, dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan memahami konteks iman, sejarah, sastra, dan kontemporer, penafsir dapat menghasilkan interpretasi yang lebih lengkap dan seimbang, yang mampu menjembatani perbedaan denominasi serta memberikan panduan hidup yang relevan bagi umat Kristen di era modern. Kontribusi utama dari penelitian ini adalah penekanan pada pentingnya pendekatan yang multidimensional dalam penafsiran Alkitab untuk menciptakan interpretasi yang lebih inklusif, adaptif, dan aplikatif dalam menghadapi tantangan zaman kini.
The Meaning of Death in Islam and Christianity: A Conceptual and Spiritual Analysis Maranatha, Christian Ade
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 2 No. 1 (2024): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (November 2024)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/moderate.v2i1.12

Abstract

The concept of death has been a subject of human contemplation across various religious and philosophical traditions. Both Islam and Christianity provide their followers with distinct interpretations of death, offering perspectives on the afterlife and how death should be approached. This study aims to compare the understanding of death in Islam and Christianity, exploring theological differences and similarities between the two religions. Using a qualitative approach through literature review, the research examines religious texts, scholarly articles, and other sources to analyze how death is perceived and how each religion encourages its followers to prepare for it. The findings reveal that while both religions view death as a transition to the afterlife, Islam focuses on the journey to the barzakh and ultimate judgment, while Christianity emphasizes salvation through faith in Jesus Christ and eternal life with God. This comparative study provides deeper insight into how both religions shape their followers’ views on mortality and the afterlife.   Contribution: This study contributes to the understanding of how Islamic and Christian teachings on death influence the behavior and attitudes of their followers toward life and mortality. It provides a framework for interfaith discussions on the spiritual implications of death and afterlife.
Digital Faith Formation and Christian Religious Education Teachers’ Leadership in 21st-Century Learning Maranatha, Christian Ade; Tandana, Ester Agustini
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 3 No. 1 (2025): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (November 2025)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/moderate.v3i1.25

Abstract

The rapid integration of digital technology in education has transformed how faith is taught and experienced in Christian contexts. This shift challenges Christian Religious Education (CRE) teachers to maintain theological integrity while engaging learners in online and hybrid spaces. Traditional models of discipleship must now coexist with virtual practices of learning and community building, requiring teachers to navigate the tension between spiritual authenticity and digital innovation. As education in the 21st century emphasizes creativity, collaboration, and critical thinking, Christian educators must also redefine their leadership as a calling that unites faith, ethics, and pedagogy. This transformation positions teachers not merely as instructors but as spiritual mentors who embody servant and transformative leadership within digital learning environments. The purpose of this study is to develop a theological and pedagogical framework for digital faith formation and teacher leadership in contemporary Christian education. Employing a qualitative theological method and literature-based analysis, the research draws from biblical principles and scholarly works in theology, education, and digital pedagogy. Findings show that faith formation in digital contexts must remain relational, participatory, and grounded in the incarnational model of Christ. Effective leadership integrates humility, moral integrity, and technological discernment to sustain authentic spiritual growth. The study contributes by bridging theology and pedagogy, offering a holistic model for spiritually grounded and digitally competent Christian educators in the 21st century.   Contribution: This study contributes to contemporary Christian education by formulating an integrative framework that unites theology, pedagogy, and digital literacy, positioning Christian educators as transformative spiritual leaders who cultivate faith, ethics, and relational depth within digital learning communities.   Integrasi teknologi digital yang berlangsung pesat dalam dunia pendidikan telah mengubah cara iman diajarkan dan dihayati dalam konteks Kristen. Pergeseran ini menantang para guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) untuk tetap menjaga integritas teologis sambil melibatkan peserta didik di ruang pembelajaran daring dan hibrida. Model pemuridan tradisional kini harus berdampingan dengan praktik pembelajaran dan pembentukan komunitas secara virtual, menuntut para pendidik untuk menavigasi ketegangan antara keotentikan spiritual dan inovasi digital. Ketika pendidikan abad ke-21 menekankan kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis, para pendidik Kristen juga perlu mendefinisikan kembali kepemimpinan mereka sebagai panggilan yang mempersatukan iman, etika, dan pedagogi. Transformasi ini menempatkan guru bukan sekadar sebagai pengajar, melainkan sebagai mentor rohani yang menghidupi kepemimpinan melayani dan transformatif dalam konteks pembelajaran digital. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan kerangka teologis dan pedagogis untuk pembentukan iman digital serta kepemimpinan guru dalam pendidikan Kristen kontemporer. Dengan menggunakan metode teologis kualitatif dan analisis berbasis literatur, penelitian ini berlandaskan pada prinsip-prinsip biblika serta kajian ilmiah dalam bidang teologi, pendidikan, dan pedagogi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan iman dalam konteks digital harus tetap bersifat relasional, partisipatif, dan berakar pada model inkarnasional Kristus. Kepemimpinan yang efektif mengintegrasikan kerendahan hati, integritas moral, dan kepekaan terhadap teknologi untuk menopang pertumbuhan rohani yang otentik. Studi ini memberikan kontribusi dengan menjembatani teologi dan pedagogi, menawarkan model holistik bagi para pendidik Kristen abad ke-21 yang berakar pada spiritualitas Kristen dan kompeten secara digital.   Kontribusi: Penelitian ini memperkaya pendidikan Kristen dengan mengintegrasikan teologi, pedagogi, dan literasi digital ke dalam satu kerangka utuh yang memberdayakan pendidik Kristen sebagai pemimpin rohani dalam konteks pembelajaran digital.