Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengaruh Penggunaan Tepung Ubi Jalar Putih, Ubi Jalar Merah dan Ubi Jalar Putih pada Pembuatan Tangzhong terhadap Kualitas Japanese Milk Bread Andri Suryapraja; Cucu Cahyana; Mutiara Dahlia
Jurnal Gizi dan Kuliner (Journal of Nutrition and Culinary) Vol 3, No 2 (2023): EDISI AGUSTUS
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jnc.v3i2.42863

Abstract

Konsumsi ubi jalar cenderung makin turun dari tahun ke tahunnya, dikarenakan ada anggapan bahwa masyarakat yang pangan pokoknya non beras mempunyai status ekonomi dan sosial yang lebih rendah dibandingkan masyarakat yang mengkonsumsi beras. Dikarenakan kandungan air yang cukup tinggi maka masa simpan ubi tidak bisa terlalu lama. Metode yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar air dalam ubi jalar yaitu dengan cara dibuat tepung. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yang diawali dengan uji fisik dengan mengukur volume roti, tinggi roti, lebar roti dan berat roti. Dilanjutkan dengan uji organoleptik kepada 5 panelis ahli. Tepung yang digunakan dalam pembuatan tangzhong menggunakan 80% tepung ubi jalar, dan 20% tepung terigu protein tinggi. Volume terbaik didapatkan oleh formula yang menggunakan tangzhong ubi putih. Warna kulit roti bagian atas terbaik didapatkan oleh formula yang menggunakan tangzhong ubi jalar merah. Formula yang menggunakan tangzhong ubi putih memiliki nilai terbaik untuk aspek aroma susu dan yang menggunakan tanghzong ubi merah memiliki nilai terbaik untuk aspek aroma ubi jalar. Formula yang menggunakan tangzhong ubi putih memiliki nilai terbaik untuk aspek warna remah, pori-pori remah, tekstur remah, dan tekstur ketika dirasakan. Rasa manis pada formula yang menggunakan tangzhong ubi putih dan tangzhong ubi madu memiliki nilai terbaik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Japanese milk bread dengan penggunaan tangzhong ubi jalar putih merupakan formula terbaik, karena berdasarkan hasil uji organoleptik lebih banyak unggul diberbagai aspek . Namun perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menilai daya terima konsumen produk Japanese milk bread dengan penggunaan tangzhong ubi jalar putih.
Pengaruh Substitusi Tepung Millet Putih (Panicum miliaceum) Pada Pembuatan Berownies Crispy Terhadap Kualitas Fisik Dan Daya Terima Konsumen Sahla Auliya Syukur; Alsuhendra Alsuhendra; Mutiara Dahlia
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i2.1361

Abstract

Tepung millet putih digunakan dalam pembuatan brownies crispy untuk menjadi alternatif bahan yang dapat mengurangi penggunaan tepung terigu, menambah variasi produk tepung millet putih, serta pemanfaatan biji millet putih sebagai bahan pangan nasional yang bersifat fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh substitusi tepung millet putih terhadap kualitas fisik dan daya terima konsumen pada brownies crispy. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Pastry dan Bakery Pendidikan Tata Boga , Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta. Waktu penelitian dimulai pada September 2023 hingga Mei 2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan tiga jenis perlakuan yaitu brownies crispy dengan penggunaan tepung millet putih persentase 80%, 90% dan 100%, hasil produk kemudian dilakukan uji daya terima terhadap 30 panelis agak terlatih. Berdasarkan hasil uji hipotesis statistik dengan uji Friedman menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh substitusi tepung millet putih terhadap daya terima brownies crispy persentase 80%, 90% dan 100% ditinjau dari aspek warna, aroma, rasa manis, rasa tepung millet putih, kerenyahan dan ketebalan. Berdasarkan hasil uji hipotesis statistik uji kualitas fisik dengan menggunakan uji Anova tidak terdapat pengaruh atau perbedaan nyata terhadap aspek ketebalan namun terdapat perbedaan nyata pada aspek daya patah brownies crispy tepung millet putih persentase 80%, 90% dan 100%, sehingga dilanjutkan dengan uji Duncan yang menunjukkan bahwa setiap perlakuan memiliki perbedaan yang nyata pada aspek daya patah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah merekomendasikan brownies crispy subtitusi tepung millet putih 100% sebagai bahan alternatif pengganti tepung terigu.
Pengaruh Penambahan Soygurt Terhadap Kualitas Organoleptik, Nilai pH, dan Total Padatan Terlarut Dressing Salad Buah Shafiyah Ingklang; Ridawati Ridawati; Mutiara Dahlia
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 7 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v4i7.829

Abstract

alad buah adalah makanan sehat karena kaya akan serat dan vitamin. Untuk memberikan rasa pada salad buah dapat ditambahkan saus salad atau dressing salad. Salah satu bahan yang dapat ditambahkan sebagai dressing salad adalah soygurt. Namun, pada pembuatan soygurt, susu skim yang digunakan untuk meningkatkan total padatan bukan lemak sehingga perlu di eval_uasi kembali menggunakan uji organoleptik, nilai pH dan total padatan untuk dijadikan dressing salad buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah pengetahuan dengan menyelidiki secara sistematis pengaruh penambahan soygurt terhadap kualitas organoleptik, nilai pH, dan total padatan terlarut dalam dressing salad buah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen yang dilakukan dengan tiga formulasi yaitu, 25%, 50%, dan 75%. Cara untuk mengetahui kualitas penambahan soygurt pada dressing salad buah dilakukan uji organoleptik, nilai pH, dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan soygurt sebesar 50% pada produk dressing salad buah menghasilkan kualitas terbaik dalam aspek warna, aroma, kekentalan, rasa manis, rasa asam, dan rasa langu kedelai. Uji total padatan terlarut menunjukkan perbedaan nyata dengan persentase 75% memiliki nilai tertinggi, yaitu 15.33 brix°. Nilai pH tetap sama pada semua persentase (25%, 50%, dan 75%), yaitu 4. Penilaian organoleptik terhadap kualitas warna, aroma, kekentalan, rasa manis, rasa asam, dan rasa langu kedelai menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan di antara penambahan soygurt 25%, 50%, dan 75%.
Analisis Mutu Sensori Dan Daya Terima Konsumen Kue Putri Salju Tepung Talas Bogor Dengan Persentase Lemak Yang Berbeda Serta Potensinya Sebagai Rintisan Usaha Difa Aulia; Raifa Novel; Sukaenah Sukaenah; Mutiara Dahlia; Nur Riska
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2055

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mutu sensori dan daya terima konsumen terhadap produk kue putri salju tepung talas bogor dengan tiga perlakuan persentase lemak yang berbeda, yaitu sebesar 75%, 85%, dan 95% dari total tepung yang digunakan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui potensi produk sebagai rintisan usaha. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari - Juli 2025 di Laboratorium Pastry dan Bakery, Program Studi Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan teknik analisis deskripsi kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan uji mutu sensori dan uji daya terima konsumen, yang melibatkan 10 panelis terbatas dan 100 panelis konsumen. Aspek yang dinilai meliputi warna bagian atas dan warna bagian bawah, aroma talas bogor dan aroma butter, rasa talas bogor dan rasa manis, serta kerapuhan produk. Berdasarkan hasil keseluruhan aspek, kue putri salju tepung talas bogor dengan persentase lemak 95% merupakan produk terbaik menurut penilaian panelis terbatas dan panelis konsumen. Produk ini selanjutnya dikembangkan menjadi rintisan usaha dengan merek “Snowkiro”, yang dijual dengan harga Rp. 50.000,- per 280 gram. Hasil dari penjualan “Snowkiro” selama satu bulan mampu meraih total omset sebesar Rp. 3.850.000,-. dengan laba bersih yang diperoleh mencapai Rp. 1.098.795,-. Temuan kue putri salju tepung talas bogor ini dapat diaplikasikan untuk mendukung pemanfaatan pangan lokal dan membuka peluang usaha kue kering bebas gluten.
Analisis Kualitas Sensori Dan Daya Terima Konsumen Terhadap Sus Kering Substitusi Tepung Ketan Putih Sebagai Upaya Peluang Usaha Jihan Jihan; Nevia Rahmadani Arsita; Ghaida Rosa Jundana Falujah Aulia; Mutiara Dahlia; Sachriani Sachriani
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas sensori dan daya terima konsumen terhadap sus kering dengan substitusi tepung ketan putih pada tingkat substitusi 10%, 20%, dan 30%. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan beberapa tahap uji coba formulasi hingga diperoleh formula terbaik yang selanjutnya divalidasi oleh panelis ahli. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Juli 2026 di Laboratorium Pastry & Bakery, Program Studi Seni Kuliner dan Pengelolaan Jasa Makanan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta. Pada uji sensori formulasi pada tingkat substitusi 10% dan 20% memiliki nilai rata-rata tertinggi dibandingkan dengan formulasi substitusi 30%. Uji daya terima konsumen dilakukan pada bulan Juni 2026. Penelitian uji daya terima menggunakan metode survei pada 100 panelis di wilayah Jakarta Timur. Pada uji daya terima konsumen secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi dengan substitusi tepung ketan putih sebesar 10% memberikan keseimbangan karakteristik organoleptik yang paling baik dan paling disukai oleh konsumen. Dengan demikian, penggunaan tepung ketan putih sebesar 10% sebagai bahan substitusi pada sus kering direkomendasikan karena mampu menghasilkan produk dengan tingkat penerimaan konsumen yang paling tinggi, dan dapat dikembangkan menjadi peluang usaha di bidang kuliner.
The Effect Of Peanut Extract As A Cow’s Milk Substitute On The Physical And Sensory Quality Of Diplomat Cream Nadia Salma Maharani; Mutiara Dahlia; Efrina Efrina
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 7 No. 2 (2026): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v7i2.11721

Abstract

The increasing demand for plant-based food products has encouraged the development of alternatives to cow's milk in pastry products. This study aimed to analyze the effect of different peanut-to-water ratios in peanut extract on the physical quality and sensory attributes of diplomat cream. An experimental method was applied using three treatment ratios of peanut to water: 1:1, 1:1.5, and 1:2. Physical quality was evaluated through pH and volume consistency tests using ANOVA, while sensory quality was assessed using the Kruskal-Wallis test with 45 semi-trained panelists. Results indicated that peanut extract ratio significantly affected the pH value of diplomat cream (F-count 31.63 > F-table 5.143), with mean pH values of 5.41, 5.39, and 5.28 for the 1:1, 1:1.5, and 1:2 treatments, respectively. Duncan's test showed that the 1:2 treatment differed significantly from the other two treatments. Volume consistency was not significantly affected (F-count 0.29 < F-table 5.143). Sensory evaluation revealed no significant differences in color, consistency, texture, and sweetness among treatments, but significant differences were found in peanut aroma (H-count 7.17 > χ²-table 5.991) and peanut flavor (H-count 13.17 > χ²-table 5.991). The 1:2 treatment produced the most neutral sensory characteristics, closest to the control diplomat cream. Therefore, peanut extract at a 1:2 ratio is recommended as the best formulation to substitute cow's milk in diplomat cream production.
COMMUNITY EMPOWERMENT THROUGH COOKIE-MAKING TRAINING BASED ON LOCAL BANANAS AS A POTENTIAL BUSINESS PRODUCT ALTERNATIVE Sachriani Sachriani; Mutiara Dahlia; Mariani Mariani; Wisnu Riyanto; Yuni Muliyana; Zahra Salindri
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2026): JUNI
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v10i2.3448

Abstract

Singasari Village, Jonggol District, Bogor Regency has abundant banana fruit potential; however, its utilization is still limited to fresh fruit, so it has not yet provided optimal economic added value for the community. This Community Service activity aims to improve the community's knowledge and skills in processing local bananas into Banana Sable Cookies as an alternative business product based on local food. The activity was carried out on 18 June 2026, involving 20 housewives through the stages of preparation, implementation, evaluation, and data analysis. Evaluation was conducted using pre-test, post-test, and a participant satisfaction questionnaire. The results showed an increase in the average pre-test score from 65 to 82 on the post-test, indicating an improvement in participants' understanding after the training. In addition, the satisfaction questionnaire results obtained an average score of 4,46, showing that participants gave a positive response to the material, learning media, delivery method, and implementation of the activity. This training not only improved participants' knowledge and skills in processing local bananas into value-added food products, but also increased participants' motivation to utilize local food potential as a home-based business opportunity. This activity is expected to support the community's economic empowerment while contributing to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly No Poverty and Good Health and Well-being.
The Effect Of Cassava Flour Substitution On The Physical Properties And Sensory Quality Of Apang Coe Shakila Rafa; Cucu Cahyana; Mutiara Dahlia
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 7 No. 2 (2026): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v7i2.11732

Abstract

Apang Coe is a traditional steamed cake from Manado, North Sulawesi, whose characteristic expansion and surface cracks depend on the behavior of its flour matrix. This study evaluated the effects of substituting cassava flour for 20%, 30%, and 40% of the total flour premix on physical properties and sensory quality. The experiment was conducted at the Pastry and Bakery Laboratory at Universitas Negeri Jakarta from August 2025 to July 2026. Expansion and relative cracking were measured in triplicate and analyzed by one-way analysis of variance; Duncan's test was used to follow up on significant results. Sensory quality was assessed by 45 semi-trained panelists (15 independent panelists per treatment) using eight five-point attribute scales, and the data were analyzed as individual scores with a tie-corrected Kruskal–Wallis test. Mean expansion increased from 89.93% at 20% substitution to 101.67% at 30% and 119.73% at 40%. The effect was significant (F(2,6)=6.07; p=0.036); the 40% treatment differed from the 20% treatment, with the 30% treatment intermediate. Relative cracking did not differ (p=0.770). None of the sensory attributes—surface cracking, color, brown-sugar aroma, cassava aroma, softness, pore structure, sweetness, or cassava taste—differed significantly (p=0.197–0.757). The 20% formulation is proposed as a practical, balanced formula because it retains the characteristic color, aroma, and pores, and a low cassava note. However, it was not statistically superior in overall sensory quality.
Effect Of Composite Flour Ratios (Rice Flour, Tapioca, Cornstarch, And Almond Powder) On The Sensory And Physical Quality Of Scones Naurah Qurratul Islam; Ridawati Ridawati; Mutiara Dahlia
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 7 No. 2 (2026): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v7i2.11787

Abstract

This study analysed the effect of composite flour ratios consisting of white rice flour, tapioca, cornstarch, and almond powder on the sensory and physical quality of scones. Three wheat-free formulations were prepared at ratios of 2:1:1:1, 2:1:1:2, and 2:1:1:3, while a wheat-flour formulation was retained as the physical-quality control. The experimental study involved five expert validators and 45 semi-trained panelists. Sensory attributes included top colour, side colour, aroma, taste, outer texture, and inner texture. Physical quality was evaluated through bake loss and expansion, each measured in three replications. Sensory data were analysed using the Kruskal–Wallis test, while physical data were examined using one-way ANOVA followed by Duncan’s Multiple Range Test when a significant effect was detected. The three composite-flour ratios did not significantly affect any sensory attribute because all calculated Kruskal–Wallis values were below the critical value of 5.991. Nevertheless, the 2:1:1:2 formulation produced the highest descriptive scores for top colour (4.8) and taste (4.1), while maintaining favourable aroma and texture. Composite flour ratio significantly affected bake loss (F = 10.177 > Fcritical = 4.066), with means of 10.39%, 10.26%, and 9.97% for the three treatments, respectively. Expansion did not differ significantly (F = 0.452 < Fcritical = 4.066), with corresponding means of 9.84%, 9.73%, and 9.26%. Overall, the 2:1:1:2 ratio was recommended because it combined the strongest sensory acceptance with acceptable physical performance. The results demonstrate that a balanced composite-flour system can produce acceptable wheat-free scones while increasing the use of alternative flour ingredients.
PEMETAAN KETERAMPILAN MAHASISWA PROGRAM STUDI D3 TATA BOGA DARI HASIL PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) Tria Masyitha; Rina Febriana; Mutiara Dahlia
Jurnal Pendidikan Teknik dan Vokasional Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Teknik dan Vokasional
Publisher : LPPM, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JPTV.7.2.161

Abstract

Abstrak: Pendidikan vokasi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, khususnya pada bidang jasa boga. Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu bentuk pembelajaran berbasis kerja yang bertujuan menjembatani kompetensi yang diperoleh di perguruan tinggi dengan praktik kerja di industri. Namun, keteraplikasian keterampilan mahasiswa selama PKL belum tentu mencerminkan keseluruhan kompetensi yang dirancang dalam kurikulum. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan keterampilan mahasiswa Program Studi D3 Tata Boga Universitas Negeri Jakarta berdasarkan hasil pelaksanaan PKL. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian terdiri atas 37 mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2018 yang telah melaksanakan PKL. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup berjumlah 28 butir pernyataan yang mewakili delapan indikator keterampilan, kemudian dianalisis menggunakan teknik persentase dan pemetaan kategori keterampilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan yang sering diaplikasikan selama PKL meliputi penggunaan alat pengolahan memasak, penerapan potongan bahan makanan, penggunaan dan penyimpanan bumbu, serta pembuatan kaldu. Sebaliknya, keterampilan yang tergolong jarang diaplikasikan meliputi penggunaan alat persiapan memasak, persiapan proses memasak, penerapan metode dasar memasak, serta pembuatan hidangan manis (dessert). Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan di perguruan tinggi dengan keterampilan yang diterapkan mahasiswa di dunia kerja. Oleh karena itu, hasil pemetaan keterampilan ini dapat digunakan sebagai dasar evaluasi dan pengembangan kurikulum, khususnya dalam penguatan pembelajaran praktik dan optimalisasi pelaksanaan PKL agar lebih selaras dengan kebutuhan industri jasa boga. Abstract: Vocational education is expected to produce graduates with competencies aligned with the needs of industry, particularly in the culinary service sector. Internship or Practical Work serves as a form of work-based learning designed to bridge competencies acquired in higher education with real workplace practices. However, the extent to which students’ skills are applied during internships does not always reflect the full range of competencies defined in the curriculum. This study aims to map the skills of students in the D3 Culinary Arts Program at Universitas Negeri Jakarta based on their internship experiences. The study employed a descriptive quantitative approach. The participants consisted of 37 D3 Culinary Arts students from the 2018 cohort who had completed their internships. Data were collected using a closed-ended questionnaire comprising 28 items representing eight skill indicators and were analyzed using percentage analysis and skill mapping categorization. The results indicate that skills frequently applied during internships include the use of cooking equipment, food cutting techniques, the use and storage of seasonings, and stock preparation. In contrast, skills that were rarely applied include the use of food preparation tools, preparation of the cooking process, application of basic cooking methods, and dessert preparation. These findings reveal a gap between the competencies taught in higher education and the skills actually applied by students in the workplace. Therefore, the results of this skill mapping can serve as a basis for curriculum evaluation and development, particularly in strengthening practical learning and optimizing internship implementation to better align with the needs of the culinary industry.