Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Silvarum

Keanekaragaman Tumbuhan Obat di Kelurahan Manado Tua II, Kecamatan Bunaken Kepulauan Alexsandro, Brayen J.; Lasut, Marthen T.; Pangemanan, Euis F.S.
Silvarum Vol. 2 No. 3 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i3.53218

Abstract

Kelurahan Manado Tua II terlertak di kepulauan Manado Tua Kecamatan Bunaken Kepulauan. Masyarakat di kelurhan Manado Tua II yang bermukim di sekitaran hutan umumnya memanfaatkan sumber daya hutan untuk keperluan sehari-hari salah satunya yaitu tumbuhan obat. Pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan secara tradisional untuk pengobatan atau perawatan kesehatan sehari-hari pengetahuan itu didapatkan secara turun-temurun. Di Kelurahan Manado Tua II masih banyak yang menggunakan tumbuhan obat tapi sayangnya sejauh ini belum pernah ada penelitian tentang penggunaan atau pemanfaatan tumbuhan obat sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa lama kelamaan hal ini akan menghilang atau resepnya tidak lengkap. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman serta pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat di Kelurahan Manado Tua II Kecamatan Bunaken Kepulauan pada bulan Februari 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi lapangan. Teknik pemilihan informan yang digunakan dalam observasi ini yaitu teknik Snowball sampling responden ditentukan berdasarkan informasi dari pihak kelurahan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui 26 jenis tumbuhan dari 20 famili yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Bagian-bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat yaitu daun, kulit pohon, buah, semua bagian tumbuhan, akar, getah, bunga, dan rimpang. Berdasarkan habitus, dari 26 jenis tumbuhan obat yang paling banyak dimanfaatkan yaitu herba 14 jenis (54%), pohon 7 jenis (27%) dan perdu 5 jenis (19%). Khasiat dari tumbuhan yang diperoleh salah satunya melancarkan persalinan, dan mengobati penyakit sarampa/morbili, dibalurkan pada benjolan merah di kepala bayi, mengobat ginjal, mengobati panas, mengobati sakit perut, mengobati kencing batu, mengobati sakit pinggang, mengobati diare anak-anak, menurunkan kolestrol, mengobati keracunan, mengobati maag, mengobati patah tulang dan mengobati stroke.
Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan kayu oleh Masyarakat sekitar Hutan Kampung Manunggal Jaya, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Papua Korwa, Veby Yola; Lasut, Marthen T.; Pangemanan, Euis F.S.
Silvarum Vol. 2 No. 3 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i3.53223

Abstract

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia salah satunya di Kampung Manunggal Jaya Distrik Makimi Kabupaten Nabire Papua dengan status hutan APL dan luas kawasan hutan kurang lebih 525 ha. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan manfaat hasil hutan bukan kayu di Kampung Manungga Jaya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan melakukan survei langsung untuk mendapatkan informasi data menggunakan kuisioner kepada 30 responden yang sudah ditentukan sebelumnya. Jenis hasil hutan bukan kayu di Kampung Manunggal Jaya yaitu buah merah (Pandanus conoideus) untuk pangan, pewarna makanan, pakan ternak, dan obat herbal, daun gatal (Laportea decumana) untuk obat herbal, matoa (Pometia pinnata)buahnya sebagai pangan, melinjo (Gnetum gnemon) kulit batangnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan noken dan daun untuk pangan, rotan (Calamus sp) dimanfaatkan sebagai tali busur , ikan mujair (Oreochromis mossambicus), ikan gabus (Channa striata), dan babi hutan (Sus scrofa) dijadikan pangan. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa pemanfaatan HHBK oleh masyarakat Kampung Manunggal Jaya masih berkembang.
Pertumbuhan Awal Langusei (Ficus minahassae (Teysm.et.Vr.) Miq) Nawawi, Pravitasari; Pangemanan, Euis F.S.; Lasut, Marthen T.
Silvarum Vol. 4 No. 3 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i3.63801

Abstract

Langusei (Ficus minahassae (Teysm.et.Vr.) Miq) merupakan salah satu diantara flora endemik Sulawesi yang tersebar di Pulau Sulawesi bagian utara, kepulauan Sangir dan Talaud. Namun kini keberadaan langusei sudah semakin langkah. Upaya untuk pelestarian keberadaan spesies F. minahassae patut menjadi perhatian karena spesies F. minahassae yang tidak dapat tumbuh sendiri. Mengantisipasi permasalahan tersebut, salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah mengetahui informasi budidaya jenis langusei. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan awal F. minahassae dengan menggunakan beberapa perlakuan perendaman dalam ekoenzim dan GA3. Jenis penelitian ini ialah penelitian kuantitatif dengan metode percobaan menggunakan desain Rancang Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan, dan satu kontrol yaitu: (A) Air suling (kontrol), (B) Ekoenzim murni, (C) Ekoenzim: Air  1:1ml, (D) Ekoenzim: Air  1:10, (E) GA3 dengan 4% (F) GA3 d15%, dan  (G) GA3 25%. Setiap perlakuan di ulang sebanyak empat kali. Berdasarkan hasil penelitian ini, perlakuan yang diberikan pada biji langusei terdapat satu perlakuan yang membuat biji langusei bertumbuh/berkecambah, yaitu, perlakuan Giberalin dengan konsentrasi 15%.
Inventarisasi Tumbuhan Obat yang Digunakan Masyarakat Desa Tombasian Atas, Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa Tondon, Indrawati Bone; Pangemanan, Euis F.S.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 4 No. 3 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i3.64004

Abstract

Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang satu atau lebih bagiannya mengandung zat aktif yang bermanfaat bagi kesehatan dan dapat digunakan untuk mengobati penyakit. Menurut Dalimarta (2000), tumbuhan obat adalah spesies yang bagian-bagian tertentu—seperti akar, batang, kulit kayu, daun, atau sekresinya—diyakini dapat menyembuhkan atau meringankan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan obat, bagian tumbuhan yang digunakan, dan cara pemanfaatannya oleh masyarakat di Desa Tombasian Atas, Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, selama bulan Juli 2025. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 20 spesies tumbuhan obat yang termasuk dalam 15 famili yang digunakan sebagai obat tradisional. Bagian tumbuhan yang paling umum digunakan adalah daun. Tanaman obat ini digunakan secara tradisional untuk mengobati berbagai kondisi kesehatan seperti gangguan pencernaan, penyembuhan luka, menurunkan kolesterol, meningkatkan produksi ASI, kesehatan mata, mengurangi kadar asam urat, kesehatan kulit, meredakan nyeri sendi, sakit perut, kembung, sakit gigi, tekanan darah tinggi, jerawat, demam, pengaturan gula darah, bau badan, diare, mendukung sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan jumlah trombosit.