Eko Pangestu
Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan Dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang, 50275

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PRODUKSI VOLATILE FATTY ACIDS DAN AMONIA (NH3) HIJAUAN PAKAN KAMBING SECARA IN VITRO Okta Filasari; Marry Christiyanto; Limbang Kustiawan Nuswantara; Eko Pangestu
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 17 No 1 (2019): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36762/jurnaljateng.v17i1.791

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai nutrien hijauan yang biasa diberikan sebagai pakan kambing dilihat dari produksi volatile fatty acids dan Amonia (NH3). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari perlakuan 8 jenis bahan pakan hijauan dengan 3 ulangan. Produksi NH3 daun mangga, daun nangka, daun pisang, daun lamtoro, daun turi, daun gamal dan daun kaliandra sudah mencukupi untuk kebutuhan sintesis mikrobia secara optimal. Produksi VFA daun mangga, daun nangka, daun pisang, daun turi, daun gamal, daun mahoni, dan daun kaliandra sudah mencukupi kebutuhan ternak rumen sebagai sumber energi utama untuk kebutuhan hidup pokok guna pertumbuhan.
KECERNAAN SERAT BERBAGAI JENIS PAKAN PRODUK SAMPING PERTANIAN (BY PRODUCT) SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA YANG DI UJI SECARA IN VITRO Siti Athiya Wibowo; Marry Christiyanto; Limbang Kustiawan Nuswantara; Eko Pangestu
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 17 No 2 (2019): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36762/jurnaljateng.v17i2.797

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kecernaan serat bahan pakan hasil samping pertanian sebagai pakan alternatif pengganti hijauan untuk ternak ruminansia. Penelitian dilakukan dengan metode in vitro menggunakan cairan rumen kambing Peranakan Etawa (PE). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 jenis bahan pakan (kulit kacang, kulit kopi, kulit pisang, sabut kelapa, onggok dan janggel jagung) dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berbagai macam bahan pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan Neutral Detergent Fiber (NDF), kecernaan Acid Detergent Fiber (ADF) dan kecernaan Hemiselulosa. Kecernaan bahan kering dan kecernaan NDF menunjukkan bahwa onggok dan janggel jagung memiliki kecernaan yang paling baik, kecernaan ADF menunjukkan bahwa onggok, janggel jagung dan kulit kopi memiliki kecernaan yang paling baik dan kecernaan hemiselulosa menunjukkan onggok, janggel jagung dan kulit pisang memiliki kecernaan yang paling baik. Onggok, janggel jagung, kulit kopi dan kulit pisang memiliki kecernaan serat yang baik dan dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pakan hijauan untuk pemenuhan kebutuhan ruminansia.
KECERNAAN BAHAN KERING, BAHAN ORGANIK, LEMAK KASAR DAN TOTAL DIGESTIBLE NUTRIENTS BERBAGAI HIJAUAN SECARA IN VITRO Farah Faradilla; Limbang Kustiawan Nuswantara; Marry Christiyanto; Eko Pangestu
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 17 No 2 (2019): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36762/jurnaljateng.v17i2.798

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan bahan kering, bahan organik, lemak kasar dan Total Digestible Nutrients (TDN) beberapa hijauan secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 – Januari 2019 di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 8 jenis hijauan pakan sebagai perlakuan masing-masing 3 ulangan. Parameter yang diamati kecernaan bahan kering, bahan organik, lemak kasar dan TDN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai jenis hijauan menghasilkan nilai kecernaan dan TDN yang berbeda (P<0,05). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah kecernaan bahan kering, bahan organik dan lemak kasar dipengaruhi oleh kandungan nutrien dalam bahan pakan, sedangkan nilai TDN berkorelasi dengan nilai kecernaan nutrien dalam bahan pakan.
POTENSI FERMENTABILITAS RUMINAL HIJAUAN PAKAN KAMBING Anggun Novi Barlian; Marry Christiyanto; Eko Pangestu; Limbang Kustiawan Nuswatara
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36762/jurnaljateng.v18i1.807

Abstract

The goal of this experiment was to examine the value of ruminal fermentability that is total VFA and total NH3 of forages for goat. The benefits of this research were can help check the ruminal fermentability of forages for goat and help the efficient formulation of feed as seen from VFA and NH3 production carried out in vitro. The research was done in randomized block design (RBD) with 7 types of forages as treatment and 3 rumen groups as replications. Treatment coverage: R1 = Indigofera leaves; R2 = Insulin leaves; R3 = Guava leaves; R4 = Melinjo leaves; R5 = Rambutan Leaves; R6 = Cassava Leaves; R7: Waru leaves. The result showed that production of NH3 in indigofera leaves, insulin leaves, guava leaves, melinjo leaves, cassava leaves, and waru leaves are optimal for rumen microbial protein synthesis. VFA production in indigofera leaves, insulin leaves, guava leaves, melinjo leaves, rambutan leaves, and cassava leaves can fulfill for rumen microbial growth.
KECERNAAN NEUTRAL DETERGEN FIBER (NDF), ACID DETERGENT FIBER (ADF) DAN HEMISELULOSA HIJAUAN PAKAN SECARA IN VITRO Isnaini Nurkhasanah; Limbang Kustiawan Nuswantara; Marry Christiyanto; Eko Pangestu
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36762/jurnaljateng.v18i1.809

Abstract

This study aims to determine the effect of various types of forage on the fiber qualty for goat. The experimental design used was a randomized complete block design (RCBD) consisting of 7 treatment types of forage feed ingredients with 3 block rumens. The treatment was T1: indigofera leaves, T2: insulin leaves, T3: jambu biji leaves, T4: melinjo leaves, T5: rambutan leaves, T6: singkong leaves and T7: waru leaves. The results showed that the effect types of forage on NDF, ADF and hemicellulose digestibility was significantly different (P<0,5). The highest digestibility value of NDF is Indigofera leaves (61,48% dan 50,42%). The highest digestibility value of hemicellulase is Singkong leaves (74,21%).
Substitusi rumput gajah dengan rumput laut coklat (Sargassum polycys-tum) terhadap produk metabolisme rumen dan kecernaan nutrien secara in vitro Marselinus Hambakodu; Eko Pangestu; Joelal Achmadi
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 29, No 1 (2019): April
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2019.029.01.05

Abstract

This research was conducted to assess the level of substitution of napier grass with brown seaweed (Sargassum polycystum) in diet of the goat on rumen metabolism product and nutrient digestibility in vitro. The experimental design used was completely randomized design with 4 treatments and 4 replications. Feed treatments consisted of T1 (control) = 50% napier grass + 50% concentrate; T2 = napier grass 37,5% + S. polycystum 12,5% + 50% concentrate; T3 = napier grass 25% + S. polycystum 25% + 50% concentrate; T4 = napier grass 12,5% + S. polycystum 37,5% + 50% concentrate. The result, substitution of napier grass with brown seaweed (S. polycystum) did not significant (P>0.05) effect on pH, N-NH3, VFA total, acetate, propionate, butyrate, adenosine triphosphate (ATP), dry matter digestibility, organic matter digestibility, and neutral detergent fiber digestibility. It is suggested that brown seaweed (S. polycystum) could replace napier grass on goat feed at up to 37,5%.
Fermentasi Litter Broiler dengan Lama Inkubasi yang Berbeda dan Pengaruhnya terhadap Produksi Protein Total dan Kecernaan Protein secara In-Vitro: Broiler Litter Fermentation with Different Incubation Time and Its Effect on Total Protein Production and Protein Digestbility In-Vitro Christiyanto, Marry; Pangestu, Eko; Sari, Betty Mega Kartika; Utama, Cahya Setya
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 4 No. 2 (2021): August
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.514 KB) | DOI: 10.32530/jlah.v4i2.365

Abstract

Litter broiler dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ruminansia karena kandungan nutrien yang masih baik. Penelitian bertujuan mengkaji produksi protein total dan kecernaan protein dari litter broiler fermentasi dengan lama inkubasi yang berbeda secara in vitro. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL)  dengan 4 perlakuan  dan 4 ulangan. Perlakuan lama inkubasi adalah T0 = fermentasi 0 minggu (0 hari), T1 = fermentasi 3 minggu (21 hari), T2 = fermentasi 6 minggu (42 hari), dan T3 = fermentasi 9 minggu (63 hari). Parameter penelitian meliputi produksi protein total dan kecernaan protein litter broiler. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan lama fermentasi yang berbeda memberikan pengaruh berbeda nyata (p kecil dari 0,05) terhadap produksi protein total dan kecernaan protein kasar. Produksi protein total litter broiler berturut-urut T0, T1, T2, dan T3 adalah 666 mg/g, 822 mg/g, 914 mg/g, dan 934 mg/g. Kecernaan protein litter broiler berturut-urut T0, T1, T2, dan T3 adalah 47%, 51,3%, 53,2% dan 53%. Kesimpulan dari penelitian adalah semakin lama inkubasi litter broiler fermentasi meningkatkan produksi protein total dan kecernaan protein. Fermentasi litter broiler terbaik pada lama inkubasi 6 minggu.
Pengaruh Penggunaan Sabut Kelapa Terfermentasi dalam Ransum Sapi Potong terhadap Kecernaan Nutrien secara In-Vitro Septiyanto, Andika Rahmat; Nuswantara, Limbang Kustiawan; Pangestu, Eko
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 9, No 1 (2022): JITRO, January
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.207 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v9i1.18781

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek pemanfaatan sabut kelapa terfermentasi dalam ransum sapi terhadap kecernaan nutrien. Ransum yang digunakan merupakan pakan komplit yang disusun menggunaan sabut kelapa terfermentasi dengan level berbeda. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 5 kelompok cairan rumen yang berbeda. Ransum perlakuan berupa T1 = Pakan komplit (sabut kelapa fermentasi 15%), T2 = Pakan komplit (sabut kelapa fermentasi 20%), T3 = Pakan komplit (sabut kelapa fermentasi 25%), T4 = Pakan komplit (sabut kelapa fermentasi 30%). Parameter yang diukur meliputi kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO), kecernaan lemak kasar (KcLK) dan Total Digestible Nutrients (TDN). Data yang didapat diolah menggunakan analisis ragam dengan taraf 5% dan apabila menunjukkan adanya pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sabut kelapa terfementasi dalam ransum tidak berpengaruh pada KcBK, KcBO dan KcLK dengan nilai rataan berturut-turut 52,88; 52,62; 48,84% namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai TDN yaitu pada T4 meningkat sebesar 57,28%. Disimpulkan bahwa penggunaan sabut kelapa terfermentasi dalam ransum dengan level berbeda tidak mempengaruhi nilai KcBK, KcBO dan KcLK namun  pada level 30% mampu meningkatkan nilai TDN sebesar 57,28%.Kata Kunci: kecernaan, sabut kelapa, fermentasi, in vitroThe Effect of Use of Fermented Coconut Husk in Beef Cattle Ration On In Vitro Nutrient DigestibilityABSTRACTThis study aims to examine the effect of using fermented coconut husk in rations on nutrient digestibility. The ration used is a complete feed prepared using fermented coconut husks at different levels. The experiment used a randomized block design (RBD) with 4 treatments and 5 different groups of rumen fluid. Treatment rations in the form of T1 = complete feed (15% fermented coconut husk), T2 = complete feed (20% fermented coconut husk), T3 = complete feed (25% fermented coconut husk), T4 = complete feed (30% fermented coconut husk). The parameters measured included dry matter digestibility (KcBK), organic matter digestibility (KcBO), crude fat digestibility (KcLK) and Total Digestible Nutrients (TDN). The data obtained were analyzed based on analysis of variance with a level of 5%, and if the treatment had a significant effect, it was continued with the Duncan multiple range test. The results showed that the use of cementated coconut husk in the ration had no effect on KcBK, KcBO and KcLK with a mean value of 52,88 respectively; 52.,62; 48,84% but had a significant effect (P <0.05) on the TDN value, namely the increase in T4 was 57,28%. It was concluded that the use of fermented coconut coir in different levels of ration did not affect the value of KcBK, KcBO and KcLK but at the level of 30% it was able to increase the TDN value by 57,28%.Keywords: digestibility, coconut husk, fermentation, in vitro
Kecernaan, Fermentabilitas dan Produksi Protein Mikrobia Secara In Vitro pada Complete Feed Berbasis Pelepah Sawit Fermentasi Limbang Kustiawan Nuswantara; Eko Pangestu; Sunarso Sunarso; Marry Christiyanto
Jurnal Agripet Vol 21, No 2 (2021): Volume 21, No. 2, Oktober 2021
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v21i2.20554

Abstract

ABSTRACT. Penelitian bertujuan mengetahui kualitas complete feed dengan level pelepah sawit fermentasi berdasarkan kecernaan bahan kering, bahan organik, produksi N-NH3, produksi volatile fatty acids (VFA) dan produksi biomassa protein mikrobia serta protein total secara in vitro. Materi yang digunakan adalah complete feed tersusun atas konsentrat dan pelepah sawit fermentasi dengan berbagai level yaitu 0, 10, 20 dan 30%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan complete feed dengan level pelepah sawit fermentasi yang berbeda. Data diolah menggunakan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji beda wilayah berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa complete feed dengan level pelepah sawit fermentasi yang berbeda berpengaruh nyata (p0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik, produksi N-NH3, produksi VFA, dan produksi protein total, sedangkan pada biomassa protein mikrobia tidak terdapat perbedaan yang nyata (p0,05). Rata-rata nilai kecernaan bahan kering pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 adalah 69,59; 71,9; 69,05; dan 62,58%. Rata-rata nilai kecernaan bahan organik pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 adalah 63,59; 63,15; 65,50; 52,66 %. Rata-rata produksi VFA pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 sebesar 105,8; 142,7; 136,4; dan 135,7 mM. Rata-rata produksi NH3, biomassa protein mikrobia dan produksi protein total pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah 6,48mM, 15,04mg/ml;, 34,10mg/g; 7,36mM, 15,75mg/ml, 23,72mg/g; 8,18mM, 12,59mg/ml, 33,72mg/g); dan 6,60mM, 15,31mg/ml, 40,80mg/g. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan pelepah sawit fermentasi dengan level 20% dalam complete feed menghasilkan produksi VFA, kecernaan bahan kering dan bahan organik yang cukup baik sehingga dapat menjadi pakan alternatif sumber serat pengganti rumput.(Digestibility, fermentability and in-vitro production of microbial protein on complete feed based on fermented palm frond) ABSTRAK. This study aimed to determine the quality of a complete feed containing fermented palm fronds based on the digestibility of dry matter, organic matter, N-NH3, VFA, microbial protein biomass, and total protein in vitro. The material used was complete feed composed of concentrates and fermented palm fronds at various levels, i.e., 0, 10, 20, and 30%. The experiment was conducted as a completely randomized design (CRD) with four complete feed treatments containing different levels of fermented palm fronds. The data were processed using analysis of variance, followed by Duncans multiple range test. The results demonstrated that the complete feed with different levels of fermented palm fronds had a significant effect (p0.05) on the digestibility of dry matter and organic matter, N-NH3 production, essential fatty acids production, and total protein production, whereas there was no significant difference (p 0.05) on microbial protein biomass. The average dry matter and organic matter digestibility values of T0, T1, T2, and T3 treatments were 69.59; 63.59, 71.9; 63.15, 69.05; 65.50, and 62.58%; 52.66% respectively. The average production of volatile fatty acids of T0, T1, T2, and T3 treatments were 105.8; 142.7; 136.4; and 135.7 mM. respectively, while the average N-NH3 production, microbial protein biomass, and total protein production of the T0, T1, T2, and T3 treatments were 6.48, 7.36, 8.18, 6.60 mM; 15.04, 75, 12.59, 15.31 mg/ml; and 34.10, 23.72, 33.72, 40.80 mg/g. In conclusion, the use of fermented palm fronds at a 20% level in complete feed gave the best result in the production of volatile fatty acids, improved digestibility of dry matter, and organic matter, so it can be used as an alternative feed to replace grass fiber.
Kecernaan Bahan Kering, Bahan Organik, Lemak Kasar dan Nilai Total Digestible Nutrient Hijauan Pakan Kambing Puspadina Dwi Rahmawati; Eko Pangestu; Limbang Kustiawan Nuswatara; Marry Christiyanto
Jurnal Agripet Vol 21, No 1 (2021): Volume 21, No. 1, April 2021
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v21i1.17933

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO), kecernaan lemak kasar (KcLK) dan total digestible nutrient (TDN) dari hijauan pakan kambing. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) terdiri dari 7 jenis hijauan pakan sebagai perlakuan dengan 3 kelompok cairan rumen kambing Jawarandu yang diambil pada waktu dan kambing yang berbeda. Perlakuan meliputi : R1 : daun indigofera; R2 : daun insulin; R3 : daun jambu Biji; R4 : daun melinjo; R5 : daun rambutan; R6 : daun singkong; R7 : daun waru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis hijauan pakan memberikan pengaruh nyata (P0,05) terhadap kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBK), kecernaan lemak kasar (KcLK) dan total digestible nutrient (TDN). Simpulan penelitian diperoleh bahwa kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO), kecernaan lemak kasar (KcLK) dan total digestible nutrients (TDN) dipengaruhi oleh kandungan protein, lemak, karbohidrat hijauan pakan pada ternak kambing.(Digestibility of dry matters, organic matters, crude lipid and total digestible nutrients of forage for goats) ABSTRACT. The objectives of this research to evaluate digestibility of dry matter (DMD), organic matter (OMD), crude fat (CFD) and total digestible nutrients (TDN) of various forages for goat. The experimental design used randomized block design (RBD) which consists of 7 types of forages as treatment with 3 different groups of rumen fluid of Jawarandu goats taken at different times and goats. The treatments were R1: indigofera leaves; R2: insulin leaves; R3: guava leaves; R4: melinjo leaves; R5: rambutan leaves; R6: cassava leaves; R7: waru leaves. The results indicated that the different types of forages have significant effects (P 0.05) on digestibility of dry matter (DMD), organic matter (OMD), crude fat \ (CFD) and total digestible nutrient (TDN). The research concluded that dry matter digestibility (DMD), organic matter digestibility (ODM), crude fat digestibility (CFD) and total digestible nutrients (TDN) were affected by protein, fat, and carbohydrate contains of various forages for goat.