Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

KARAKTERISTIK YOGURT BERBAHAN DASAR SUSU KAMBING DENGAN PENAMBAHAN BERBAGAI JENIS GULA MERAH Adi Sampurno; Antonia Nani Cahyanti
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 12, No 1 (2017): Februari
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.057 KB) | DOI: 10.26623/jtphp.v12i1.478

Abstract

Diversifikasi pangan lokal berbasis susu kambing fermentasi sebagai pangan fungsional perlu diupayakan susu kambing Etawa produksi petani lokal Jawa Tengah menjadi semakin dikenal. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya modifikasi susu kambing Ettawa ke dalam suatu bentuk produk pangan yang disukai konsumen karena tampilannya yang menarik dan citarasa yang disukai. Salah satunya adalah mengembangkan produk yogurt. Cahyanti dan Sampurno (2011) telah meneliti potensi susu kambing Ettawa sebagai frozen yogurt (froyo). Kendalanya adalah masih rendahnya tingkat kesukaan panelis terhadap produk tersebut, dan terdeteksinya aroma “prengus” (goaty flavour). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk memperbaiki profil susu kambing dan susu kambing fermentasi. Ferdian (2011) menambahkan coklat bubuk; Diwangkoro (2008) menambahkan buah durian; serta Iqrimah, dkk. (2013) menambahkan sari tape ketan hitam. Gula merah mempunyai rasa dan aroma yang khas, sehingga tidak dapat digantikan oleh gula pasir. Aroma dan rasanya yang khas diharapkan dapat memperbaiki aroma yogurt susu kambing sehingga dapat meningkatkan tingkat kesukaan konsumen. Melihat situasi demikian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penambahan gula merah sebagai sumber berbagai jenis asam dan karamel untuk menurunkan aroma “prengus” pada yogurt susu kambing. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kadar laktosa, gula reduksi, perubahan pH, total asam laktat, tingkat kesukaan (warna, rasa dan aroma), pada yogurt susu kambing yang ditambahkan berbagai jenis gula merah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, dengan perlakuan jenis gula merah (4 taraf perlakuan GS = gula siwalan, GK = gula kelapa, GA = gula aren dan GT = gula tebu; masing-masing sebanyak 50 g/50 ml) dan diulang 5 kali. Variabel yang diamati : kadar laktosa, gula reduksi, nilai pH, total asam laktat dan kesukaan panelis terhadap warna, rasa dan aroma yogurt susu kambing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan berbagai jenis gula merah tidak berpengaruh nyata pada konsentrasi laktosa, gula reduksi, total asam laktat dan pH yogurt susu kambing, serta terdapat perbedaan pengaruh antara perlakuan gula merah palma (GA, GK, GA) dengan gula merah tebu (GT) pada tingkat kesukaan panelis atas warna dan rasa yogurt susu kambing. Tingkat kesukaan panelis atas aroma yogurt susu kambing perlakuan GS dan GK berbeda dengan perlakuan GT.Local food diversification based fermented goat's milk as functional food needs to be pursued in order Etawa goat milk production of local farmers in Central Java is becoming increasingly known. Therefore it is necessary to modify Ettawa goat milk into a form of food products favored by consumers because it looks attractive and preferred flavor. One is developing into a yogurt product. Cahyanti and Sampurno (2011) have examined the potential of goat milk Ettawa as frozen yogurt (froyo). Constraints obtained is still low level of preferences level panelists of the product, is still detected aroma "prengus" (goaty flavor). Several studies have been done to improve the profile of goat milk and goat's milk fermentation. Ferdian (2011) add the cocoa powder; Diwangkoro (2008) added a durian fruit; and Iqrimah, et al. (2013) add the juice of black sticky tape. Brown sugar has a distinctive flavor and aroma, so it can not be replaced by sugar. Distinctive aroma and taste is expected to improve the aroma of goat's milk yogurt, thereby increasing the level of consumer preferences towards these products. Seeing this situation, it is necessary to conduct further research regarding the addition of brown sugar as a source of various types of acids and caramel to lose aroma "prengus" on goat's milk yogurt.The study aims to determine the levels of lactose, the sugar reduction, changes in pH, total lactic acid, the level of preference (color, taste and aroma), the goat's milk yogurt is added various types of brown sugar. Research using completely randomized design (CRD) of the factors, which as treatment is a type of brown sugar (4 levels of treatment GS = palm sugar, GK = coconut sugar, GA = palm sugar  and GT = cane sugar; each of 50 g / 50 ml) and be repeated 5 times. Observed variables include: levels of lactose, the sugar reduction, pH value, total lactic acid and panelist preferences for color, flavor and aroma of goat's milk yogurt. The results showed that the addition of various types of brown sugar had no significant effect on the concentration of lactose, reducing sugar, total lactic acid and pH of goat milk yogurt, and there is a difference between the treatment effect of brown palm sugar (GA, GK, GA) with brown sugar cane (GT ) at preferences level panelists on the color and flavor of goat's milk yogurt. A preferences level panelists on goat's milk yogurt aroma GS and GK treatment different from GT treatment
Pengaruh Lama Waktu Pencelupan Dalam Nitrogen Cair Terhadap Sifat Fisik Dan Kimiawi Bakso Daging Sapi Selama Penyimpanan Beku Christina Dewi Febriani; Dewi Larasati; Adi Sampurno
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 15, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v15i2.2656

Abstract

Daging sapi termasuk bahan pangan yang mudah rusak (perishable food), sehingga perlu adanya penanganan lanjutan supaya mutu daging sapi dapat dipertahankan. Teknologi pembekuan cepat dengan menggunakan nitrogen cair, merupakan salah satu metode pembekuan yang memerlukan waktu relatif singkat. Dengan titik didihnya yang mencapai suhu -195,8°C, nitrogen cair mempunyai kemampuan membekukan bahan organik relatif lebih efektif dibandingkan dengan pendingin berbahan amoniak maupun freon. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2019 – Juli 2019 di Laboratorium Rekayasa Pangan dan Laboratorium Kimia Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Semarang. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yaitu lama pencelupan bakso daging sapi pada nitrogen cair sebanyak 4 perlakuan, yaitu: P1 (tanpa pencelupan); P2 (20 detik); P3 (40 detik); P4 (60 detik) dengan 5 kali pengulangan. Data dianalisis dengan ANOVA jika hasil menunjukan pengaruh yang nyata diuji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test pada taraf <5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pada hari 0 lama pencelupan nitrogen cair berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap sifat fisik (daya ikat air), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tekstur, dan sifat kimiawi (kadar lemak dan kadar peroksida). Sedangkan pada hari ke 7 lama pencelupan nitrogen cair berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar peroksida dan daya ikat air. Namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar lemak dan tekstur.
Pengaruh Lama Pemanasan Lumpia Basah Kemas Non Vakum Terhadap Tpc, Ph, Aw dan Sensori Selama Penyimpanan Suhu Ruang Sutiko Sutiko; Adi Sampurno; Antonia Nani Cahyanti; Dewi Larasari
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 15, No 1 (2020): Februari
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.709 KB) | DOI: 10.26623/jtphp.v15i1.2324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah Total Plate Count (TPC), pH, Aw dan sensori pada lumpia basah kemas non vakum dengan berbagai lama pemanasan. Hasil penelitian ini  diharapkan  dapat  memberikan  informasi  ilmiah  kepada  produsen  lumpia  basah  dan masyarakat tentang pemanasan sebagai salah satu cara untuk memperpanjang umur simpan pada lumpia basah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan diulang sebanyak 5 kali, yaitu perlakuan tanpa pemanasan (P1), lama pemanasan 5 menit (P2), lama  pemanasan 10 menit (P3), dan lama pemanasan 15 menit (P4) pada penyimpanan suhu ruang. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA, dan apabila ada perbedaan akibat perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range (DMRT) pada taraf 0,05. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan nyata terhadap TPC, pH dan Aw, namun tidak berbeda nyata terhadap sensorinya. Semakin lama pemanasan pada lumpia basah kemas non vakum menunjukkan TPC  mengalami penurunan, pH mengalami kenaikan dan Aw    mengalami kenaikan, sedangkan semakin lama penyimpanan (sampai hari ke-4) menunjukkan  TPC  mengalami  kenaikan,  pH  mengalami  penurunan,  dan  Aw  mengalami kenaikan
Minuman Kesehatan Produk Fermentasi Non Susu Untuk Meningkatkan Imun Dimasa Pandemi Bagi Guru SMAN 15 Kota Semarang Adi Sampurno; Antonia Nani Cahyanti; Devy Angga Gunantar
Madaniya Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.62

Abstract

Produk pangan fungsional merupakan pangan yang dikonsumsi sebagai diet biasa, namun memiliki efek fisiologis dan dapat menjaga kesehatan tubuh; salah satunya adalah minuman probiotik. Berbagai macam minuman probiotik yang dikenal secara luas diproduksi dari susu sapi, sehingga harganya relatif mahal. Padahal ada beberapa produk minuman probiotik non susu seperti: kombucha/jamur dipo, water kefir, yoghurt dari sari buah dan dari sari kurma, cider/cuka apel. Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, selain kita dituntut untuk mematuhi dan melaksanakan protokol kesehatan, juga dituntut untuk selalu menjaga kondisi kebugaran dan kesehatan tubuh dengan cara mengkonsumsi makanan yang bergizi, serta mengkonsumsi produk pangan yang dapat memelihara dan meningkatkan imunitas tubuh. Staf pendidik di SMAN 15 Semarang sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan anak bangsa, perlu selalu menjaga kondisi kebugaran dan kesehatan tubuh secara mandiri, salah satunya dengan mengkonsumsi produk fermentasi non susu; maka perlu dilakukan pengenalan dan pelatihan pembuatan minuman probiotik yang murah dan mudah dibuat. Para guru dan administrasi di SMAN 15 Semarang adalah sasaran yang tepat untuk diberi penyuluhan, keterampilan dan pelatihan tentang pengolahan produk minuman fermentasi non susu (kombucha dan tepache). Untuk mendapatkan data mengenai peningkatan pengetahuan/pemahaman tentang produk teh kombucha dan tepache serta istilah bahasa inggrisnya, diberikan test sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Berdasarkan hasil analisis data test didapatkan bahwa program ini secara statistik belum optimal dalam meningkatkan pengetahuan peserta mengenai minuman probiotik dan pembuatan teh kombucha dan tepache serta istilah bahasa inggrisnya.
Pembuatan Pangan Fungsional Tempe dan Perbedaan Jenis Pengemasnya Bagi Siswa Siswi di PKBM Anugrah Bangsa Semarang Soraya Kusuma Putri; Antonia Nani Cahyanti; Adi Sampurno
Madaniya Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.132

Abstract

PKBM Anugrah Bangsa Semarang merupakan sekolah yang mempunyai mata pelajaran Bioteknologi, yang mana proses fermentasi merupakan bagian dari mata pelajaran tersebut. Penyuluhan mengenai pangan fungsional tempe dan perbedaan jenis pengemasnya serta praktek sederhana pembuatan tempe sangat tepat dilakukan untuk menambah wawasan dan ketrampilan dalam bidang bioteknologi. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi berupa penyuluhan untuk meningkatkan pemahaman mengenai fermentasi pada tempe kacang merah, kacang hijau, dan kacang tanah. Hal ini dilakukan untuk menambah wawasan bagi siswa siswi PKBM Anugrah Bangsa Semarang mengenai pangan fungsional tempe dari kacang merah, kacang hijau, dan kacang tanah, menggunakan pengemas dari daun dan plastik, serta mengetahui pengaruh perbedaan pengemas antara daun dan plastik. Jumlah peserta pada kegiatan ini adalah 8 orang siswa-siswi dengan didampingi oleh 3 orang tutor dari PKBM Anugrah Bangsa. Berdasarkan hasil penyuluhan dan praktek sederhana pembuatan tempe menunjukkan bahwa hasil posttest siswa-siswi 100% benar dibandingkan dengan hasil pretest sebelum dilakukan penyuluhan dan praktek sederhana, jumlah benar dari pretest hanya 40-75%.
Karakteristik fisikokimia tepung rebung terfermentasi dan pati rebung terfermentasi dari bambu ampel kuning (bambusa vulgaris schrad var. striata) serta potensinya sebagai pengental [Physicochemical characteristics of fermented bamboo shoot flour and fermented bamboo shoot starch from yellow ampel bamboo (Bambusa vulgaris schrad var. striata) and their potential as thickeners] Rohadi Rohadi; Adi Sampurno; Bambang Kunarto
Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian Vol 27, No 2 (2022): Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian
Publisher : Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtihp.v27i2.90-98

Abstract

This study aimed to characterize the physical and chemical properties of fermented bamboo shoot flour (TRF) and fermented bamboo shoot starch (PRF) and to test their potential as thickeners. The research was carried out in 4 stages: sample authentication, TRF preparation and characterization, PRF preparation and characterization, and PRF gelling testing at various pH. The results showed that TRF contained 23.92±0.33% insoluble fiber, 6.03±0.10% cellulose, 1.85±0.01% hemicellulose, 15.87±0.10% lignin, and soluble fiber. 2.91±0.03%. PRF had a density of 707 kg/m3, slightly dull color, and reddish brown. TRF cannot be used as a thickener due to it does not form a stable suspension and does not form a gel when heated, but it has potential as an animal feed with a value of acid detergent fiber (ADF) 22.18 and neutral detergent fiber (NDF) 2. 40. Meanwhile, PRF-tapioca has potential as a thickening agent because it formed a stable suspension and formed a gel when heated. Adding 0.5-2.5% PRF to 1%, tapioca suspension produced a gel viscosity of 6.4 – 8.5 cP., similar to 3 g/25 mL modified cassava flour gel formation. 
Sosialisasi Penanganan dan Pengawetan Daging Segar Bagi Siswa Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) di SMK Negeri 6 Kabupaten Kendal Adi Sampurno; Rohadi Rohadi
Madaniya Vol. 3 No. 4 (2022)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.291

Abstract

Daging merupakan bahan pangan sumber protein hewani yang tergolong perishable food (makanan yang mudah rusak). Oleh karena itu, pengetahuan tentang penanganan dan pengawetan daging segar sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat umum dan pelaku industri pangan, termasuk siswa Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) di SMK Negeri 6 Kendal yang nantinya akan terjun ke dunia usaha terkait dengan industri pertanian khususnya pangan. Sosialisasi tentang penanganan dan pengawetan daging segar dilakukan dalam rangka menambah wawasan siswa APHP, dimana salah satu tujuan SMK adalah menyiapkan lulusan yang terampil dan siap kerja di bidang keahliannya. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan informasi berupa sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman tentang penanganan dan pengawetan daging segar yang aman dan sesuai dengan aspek ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal) kepada siswa APHP di SMK Negeri 6 Kendal. Metode sosialisasinya berupa ceramah tentang penanganan dan pengawetan daging segar serta demonstrasi cara mendapatkan daging melalui paparan audiovisual. Peserta kegiatan sebanyak 45 siswa dan dipilih secara acak 23 siswa untuk mengisi angket pre dan post test (berisi 10 pertanyaan terkait materi sosialisasi). Data hasil pengisian angket diolah secara statistik dengan uji-t (t-test); analisis perubahan perilaku menggunakan parameter Efektifitas Penyuluhan (EP) dan Efektifitas Perubahan Perilaku (EPP). Hasil uji-t data pre dan post test menunjukkan nilai rata-rata pengetahuan sebelum kegiatan adalah 6,09 menjadi 6,91 setelah kegiatan, meningkat sebesar 0,82 (82%) dengan nilai signifikansi 0,034 (p<0,05). Berdasarkan hasil uji-t diketahui bahwa program pengabdian secara statistik mampu meningkatkan pengetahuan peserta. Nilai EP sebesar 8,26% dan EPP sebesar 21% berada pada kategori rendah atau kurang efektif, dengan kata lain kegiatan penyuluhan kurang efektif dalam mengubah perilaku peserta. Metode dan media yang digunakan dalam penyampaian sosialisasi turut mendukung keberhasilan penangkapan pesan oleh peserta kegiatan.
Chemical Composition and Organoleptic Properties of Emulsion-Type Lamb Meat Sausage with Different Fat Levels Iswoyo Iswoyo; Juni Sumarmono; Triana Setyawardani; Adi Sampurno; Cornelius Hari Wibowo
ANIMAL PRODUCTION Vol. 24 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University in associate with the Animal Scientist Society of Indonesia (ISPI) and the Indonesian Association of Nutrition and Feed Science (AINI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jap.2022.24.2.134

Abstract

Various lamb-based processed products have become popular in many countries, including Indonesia that are well known for lamb satay, lamb curry, grilled lamb, and others. Processing lamb meat into sausages is a potential alternative to diversify lamb-based processed food. This study aims to develop a lamb-based processed product in form of emulsion sausage. We used mixed lamb meat and fat of Batur lamb (0, 5, 10, 15, 20 and 25%) that was coarsely ground and added with 2.0% salt, 0.5% dextrose, 0.5% garlic powder, 0.5% pepper powder, 0.3% paprika powder and 0.5% chili powder. Meat, fat, and other ingredients are mixed evenly and then put into collagen casings and measured 10-cm long. Next, the sausage was steamed for +45 minutes, then cooled and drained. We used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) assigning 6 treatments and 4 replicates. The treatments included T0: Lamb sausage without fat; T1 : Lamb sausage + 5% fat; T2 : Lamb sausage + 10% fat; T3 : Lamb sausage + 15% fat; T4 : Lamb sausage + 20% fat and T5 : Lamb sausage + 25% fat. The observed characteristics of sausages were chemical content (moisture, protein, fat, and ash content) and organoleptic properties (preferred colour, aroma, texture, taste, and acceptability). F test (anova) results showed that the treatment had a significant effect (P<0.05) on the moisture, protein, fat, and ash content of lamb sausage, as well as on preference for colour, aroma, texture, taste, and acceptance of lamb sausage. The results showed that the addition of 10% lamb fat produced emulsion-type lamb sausage with the most optimal characteristics, containing 63.290% water, 15.245% protein, 12.518% fat and 2.536% ash. The preferred colour, aroma, texture, taste and acceptance have satisfied the neutral criteria.
Komposisi Proksimat dan Sensori Sosis Daging Domba Masak Oven dengan Kadar Lemak Berbeda Iswoyo Iswoyo; Adi Sampurno; Cornelius Hari Wibowo; Juni Sumarmono; Triana Setyawardani
JURNAL TRITON Vol 14 No 2 (2023): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v14i2.455

Abstract

Daging domba memiliki potensi untuk diolah menjadi produk sosis emulsi. Kadar lemak dalam adonan daging sangat berpengaruh terhadap kualitas sosis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh kadar lemak adonan terhadap komposisi proksimat, dan sifat sensori sosis domba emulsi yang dimasak dengan oven. Bahan penelitian adalah daging domba lokal Batur jantan dengan kisaran umur 5-6 bulan yang dicampur dengan lemak domba (sesuai perlakuan: 0, 5, 10, 15, 20 dan 25%). Rancangan penelitian berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, 6 perlakuan dan ulangan sebanyak 4 kali. Perlakuan meliputi P1 (sosis daging domba tanpa penambahan lemak), P2 (sosis daging domba + lemak 5%), P3 (sosis daging domba + lemak 10%), P4 (sosis daging domba + lemak 15%), P5 (sosis daging domba + lemak 20%), dan P6 (sosis daging domba + lemak 25%). Kadar proksimat dari sampel sosis yang teramati meliputi kadar air (56,44 – 65,27%), protein (13,94 – 15,63%), lemak (12,98 – 15,64%), abu (2,27 – 2,93%) serta sifat sensori yang meliputi kesukaan warna, aroma, tekstur, rasa, dan penerimaan (overall) melalui uji panelis. Hasil penelitian menunjukkan komposisi proksimat dan kesukaan warna, aroma, tekstur, rasa dan penerimaan sosis domba oven secara nyata dipengaruhi oleh penambahan lemak. Formulasi adonan sosis yang dapat menghasilkan sosis domba oven dengan sifat optimal yaitu variasi kadar lemak adonan 10% yang menghasilkan sosis dengan kadar air 62,153%, protein 14,634%, lemak 13,601%, abu 2,709%. Hasil analisis sensori menunjukkan tingkat kesukaan terhadap warna, rasa dan penerimaan adalah netral sedangkan tingkat kesukaan terhadap tekstur sosis adalah tidak suka.
Chemical Composition and Organoleptic Properties of Emulsion-Type Lamb Meat Sausage with Different Fat Levels Iswoyo Iswoyo; Juni Sumarmono; Triana Setyawardani; Adi Sampurno; Cornelius Hari Wibowo
ANIMAL PRODUCTION Vol. 24 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University in associate with the Animal Scientist Society of Indonesia (ISPI) and the Indonesian Association of Nutrition and Feed Science (AINI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jap.2022.24.2.134

Abstract

Various lamb-based processed products have become popular in many countries, including Indonesia that are well known for lamb satay, lamb curry, grilled lamb, and others. Processing lamb meat into sausages is a potential alternative to diversify lamb-based processed food. This study aims to develop a lamb-based processed product in form of emulsion sausage. We used mixed lamb meat and fat of Batur lamb (0, 5, 10, 15, 20 and 25%) that was coarsely ground and added with 2.0% salt, 0.5% dextrose, 0.5% garlic powder, 0.5% pepper powder, 0.3% paprika powder and 0.5% chili powder. Meat, fat, and other ingredients are mixed evenly and then put into collagen casings and measured 10-cm long. Next, the sausage was steamed for +45 minutes, then cooled and drained. We used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) assigning 6 treatments and 4 replicates. The treatments included T0: Lamb sausage without fat; T1 : Lamb sausage + 5% fat; T2 : Lamb sausage + 10% fat; T3 : Lamb sausage + 15% fat; T4 : Lamb sausage + 20% fat and T5 : Lamb sausage + 25% fat. The observed characteristics of sausages were chemical content (moisture, protein, fat, and ash content) and organoleptic properties (preferred colour, aroma, texture, taste, and acceptability). F test (anova) results showed that the treatment had a significant effect (P<0.05) on the moisture, protein, fat, and ash content of lamb sausage, as well as on preference for colour, aroma, texture, taste, and acceptance of lamb sausage. The results showed that the addition of 10% lamb fat produced emulsion-type lamb sausage with the most optimal characteristics, containing 63.290% water, 15.245% protein, 12.518% fat and 2.536% ash. The preferred colour, aroma, texture, taste and acceptance have satisfied the neutral criteria.