Sarjana Parman
Departement Of Biology, Faculty Of Science And Mathematics, The University Of Diponegoro, Semarang Indonesia

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Pertumbuhan, Kandungan Klorofil dan Serat Kasar pada Defoliasi Pertama Alfalfa (Medicago sativa L ) Akibat Pemupukan Mikorisa Parman, Sarjana; Harnina, S.
BULETIN ANATOMI DAN FISIOLOGI dh SELLULA Vol 16, No 2 (2008): Vol. XVI, No. 2, Oktober 2008
Publisher : BULETIN ANATOMI DAN FISIOLOGI dh SELLULA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.99 KB) | DOI: 10.14710/baf.v16i2.2587

Abstract

Research about growth, chlorophyl and fibre content at first defoliation in alfalfa (Medicago sativa L)after giving biofertilizer mycorrhiza have been done.. This research beginning at 15 March 2006 – 15agustus 2006 in research on biological garden FPMIPA UNNES Semarang, using plastic polybag, anddesign research of complete randomized design, one treatment that is give of mycorriza with fiveconcentration that is Mo ( without mikorizzsa); M1 ( ½ capcule/plant ;      M2 ( 1 capcule/plant), M3 ( ofmikorizza 11/2 capcule/plant) and M4 ( 2 capcule/plant). Every treatment repeating 5 times. Chlorophyllcontent determined to use method Arnon ( 1949 in Hukmani & Tripathy, 1994); Fibre content used bymethod AOC ( 1970 in Sudarmaji, 1984 data analyzed this research by computer with SPSS-13 program.Result of research show there are high difference of plant , sum of dry weight and of alfalfa at firstdefoliation. So the chlorophyll content is ( mg/100 gram naterial) is M0 ( 158,94), M1 ( 149,15), M2 (202,12),         M3 ( 208,69) and M4 ( 196,91) is sigmificant at p=0,007. Contain average fibre of alfalfa do notsignifikan ( p=0,067) start from M0 ( 26,42), M1 ( 26,11), M2 ( 29,57), M3 ( 22,55) and M4 ( 23,44).Conclusion from this research that mycorrhiza biofertilizer influence growth, but not have an in with highdry weight and crop of plant crop, and able to improve content of chlorophyll of crop and have an effect onin is not real at improvement of harsh fibre of alfalfa ( M. sativa L). At first defoliasi of crop M. sativaL.
Peningkatan Pertumbuhan dan Hasil Panen Kentang Oleh Aplikasi Biofungisida Tricho Powder Produk Lokal Temanggung Susiana Purwantisari; Sarjana Parman; Harum Sitepu
Jurnal Akademika Biologi Vol. 7 No. 4 Oktober 2018
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.968 KB)

Abstract

Penyakit hawar daun oleh jamur patogen Phytophthora infestans merupakan penyakit utamapada tanaman kentang yang dapat menurunkan produksi hingga 100%. Penggunaan agensia hayati Trichoderma spp. sebagai penginduksi ketahanan tanaman budidaya terhadap serangan patogen penyebab penyakit tanaman telah lama terbukti sebagai metode yang sangat efektif dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penggunaan biofungisida Tricho powder berbahan aktif jamur antagonis Trichoderma harzianum produk petani lokal untuk menginduksi ketahanan tanaman kentang sehingga mampu meningkatkan hasil panennya. Metode penelitian menggunakan penelitian eksperimental dengan pola penelitian rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan. Penelitian dilakukan di lahan demplot pertanaman tanaman kentang di Desa Kledung Temanggung dengan ketinggian 1350 meter di atas permukaan laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biofungisida Tricho powder dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen tanaman kentang.
Effect of Soaking of NaCl Solution on Reduction of Calcium Oxalate and Size of Amylum on Purple Yam (Dioscorea alata L.) Rofi'ana Rofi'ana; Sri Widodo Agung Suedy; Sarjana Parman
NICHE Journal of Tropical Biology Vol. 1, No. 1, Year 2018
Publisher : Department of Biology, Faculty of Sciences and Mathematics, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.005 KB) | DOI: 10.14710/niche.1.1.%p

Abstract

Purple yam (Dioscorea alata L.) is a traditional food as a source of alternative carbohydrates and potentially as food functional ingredients. Purple yam contains high carbohydrate and some antioxidant compounds but contains high enough Ca oxalate. This study aims to reduce the content of Ca oxalate by soaking in NaCl solution and analyze its effect on amylum size in purple yam. The research used Completely Randomized Design (CRD) with the single factor of NaCl concentration. Treatment of soaking with different concentrations of 5%, 10%, 15% and with four replications for each treatment. The parameters observed were number and size of crystal Ca oxalate (μm), Ca oxalate content (ppm) and decrease percentage, and amylum size (μm). The data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at 95% confidence level and continued by multiple-range test Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results showed that soaking in NaCl solution had an effect on Ca oxalate content of each treatment but did not affect on the number and size of crystals Ca-oxalate and amylum size. The best treatment was found in the treatment of P2 (10% NaCl) which can reduce Ca oxalate to 22.89% with oxalate content of 78.92 ppm. The higher concentration of NaCl in the solution increasingly affect the reduction of oxalate content on purple yam. . Keywords: Amylum, Ca oxalate, Dioscorea alata L., Purple yam.
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L. var. Granola) pada Sistem Budidaya yang Berbeda Partiyani Hidayah; Munifatul Izzati; Sarjana Parman
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.218-225

Abstract

Kentang merupakan tanaman semusim yang penting dan memiliki potensi untuk diekspor ke negara lain serta banyak digunakan sebagai sumber karbohidrat atau makanan pokok bagi masyarakat dunia setelah gandum, jagung dan beras. Kentang sebagian besar dibudidayakan pada tanah yang miring dan di lahan yang memacu erosi tanah sehingga dapat menimbulkan tanah longsor. Hal ini disebabkan karena cara budidaya dengan penggemburan tanah sehingga tanah akan mudah lepas. Oleh karena itu, perlu dilakukan metode budidaya dalam polybag. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji penanaman kentang di polybag dan lahan dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi kentang serta mengkaji perbedaan pertumbuhan dan produksi kentang yang ditanam dalam planterbag, polybag dan di lahan. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tunas yang tumbuh, jumlah umbi dan bobot umbi serta morfologi umbi. Perlakuan dilakukan dengan penanaman umbi kentang pada lahan, polybag dan planterbag atau 3 perlakuan dan 7 ulangan. Data penelitian dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil analisis menunjukkan bahwa penanaman kentang dalam tempat penanaman yang berbeda dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kentang dibandingkan dengan yang di lahan, meskipun yang berbeda nyata hanya tinggi tanaman dan jumlah daun. Kentang yang ditanam dalam polybag menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik seperti tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah tunas demikian juga dengan bobot umbinya dibandingkan dengan planterbag dan lahan. Sedangkan kentang yang ditanam di dalam planterbag menghasilkan jumlah umbi yang lebih banyak dibandingkan dengan polybag dan lahan. Budidaya tanaman kentang di dalam Polybag layak dilakukan karena dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kentang varietas Granola. Kata kunci: pertumbuhan; produksi; kentang; polybag
Pengaruh Pemberian Pupuk Nanosilica terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Serat Kasar Tanaman Rumput Gajah (Pennisetum purpureum Schum.) sebagai Bahan Pakan Ternak Alivia Prima Laksmita; Sri Widodo Agung Suedy; Sarjana Parman
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.3.1.2018.29-38

Abstract

Silika merupakan unsur yang memiliki peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman khususnya kelompok Graminae seperti rumput gajah. Rumput gajah (Pennisetum purpureum Schum.) merupakan bahan pakan utama bagi kehidupan ternak serta merupakan dasar dalam usaha pengembangan peternakan. Rumput gajah membutuhkan silika lebih banyak, karena lahan pertanian di Indonesia banyak mengalami leaching unsur hara mikro termasuk Si. Penambahan Si melalui pemupukan diperlukan untuk tanaman akumulator Si. Pemupukan silika dalam bentuk nano saat ini sedang dikembangkan karena langsung mencapai target, dan dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian pupuk nanosilika serta konsentrasi optimal pupuk nanosilika terhadap pertumbuhan dan kandungan serat kasar rumput gajah. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi pemupukan nanosilika, 5 perlakuan dan 5 ulangan dengan konsentrasi nanosilika P0:0mL/L (kontrol), P1:2,5 mL/L, P2: 5 mL/L, P3: 7,5 mL/L, P4: 10 mL/L dan dipanen pada umur 40 HST dan 60 HST. Data dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan P4 dapat meningkatkan pertumbuhan yaitu tinggi tanaman sebanyak 17,5%, jumlah daun sebanyak 27,1%, luas daun sebanyak 76,03% dari perlakuan kontrol pada umur 40 HST, sedangkan pada umur 60 HST parameter pertumbuhan yaitu tinggi tanaman meningkat 42,6%, jumlah daun meningkat 49,5%, luas daun meningkat 86,02%, berat basah meningkat 157,81%, berat kering meningkat 102,44% dibandingkan kontrol. Hasil pemupukan pada perlakuan P3 dapat meningkatkan serat kasar sebanyak 13,2% pada umur 60 HST dibandingkan kontrol. Kata kunci: pertumbuhan; serat kasar; rumput gajah; nanosilika
Pengaruh Pupuk Kandang dan NPK Mutiara terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) pada Tanah Berpasir Atika Oktavianti; Munifatul Izzati; Sarjana Parman
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.236-241

Abstract

Kacang panjang (Vigna sinensis L.) sebagai sayuran yang sangat digemari masyarakat, mengandung vitamin dan mineral yang sangat tinggi, sehingga memiliki potensi yang besar untuk selalu dikembangkan. Pemanfaatan lahan pasir dapat digunakan untuk memperluas kegiatan budidaya kacang panjang, apabila diberi penambahan bahan organik di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penambahan pupuk kandang dan NPK Mutiara dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi serta apakah terdapat perbedaan pertumbuhan dan produksi kacang panjang (Vigna sinensis L.) pada tanah berpasir. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 9 kali ulangan. P0: kontrol (tanpa pupuk), P1: Pupuk kandang sapi 500 g/tanaman, dan P2: Pupuk NPK mutiara 1 g/L atau setara dengan 125 mL/tanaman. Perlakuan kontrol, pupuk kandang dan NPK Mutiara pada parameter pertumbuhan lebih tinggi hasilnya oleh perlakuan pupuk NPK Mutiara yaitu berpengaruh pada tinggi tanaman namun tidak berpengaruh pada jumlah daun kacang panjang. Perlakuan kontrol, pupuk kandang dan NPK Mutiara pada parameter produksi lebih memiliki pengaruh oleh perlakuan pupuk NPK Mutiara yaitu berpengaruh pada hasil jumlah polong, panjang polong, berat basah tanaman, berat basah polong, berat kering tanaman, berat kering polong, dan berat kering biji namun tidak berpengaruh hasilnya pada jumlah bunga tanaman kacang panjang. Kata kunci: kacang panjang; pupuk kandang; NPK Mutiara; tanah berpasir
Analisis Proksimat dan Nilai Kesukaaan Beras Artifisial Berbahan Dasar Tepung Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz ) dan Tepung Labu Kuning (Cucurbita moschata Durch) Dewi Kartika Rahmawati; Munifatul Izzati; Sarjana Parman
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.057 KB) | DOI: 10.14710/baf.3.2.2018.203-206

Abstract

Beras artifisial adalah beras yang dibuat dari non padi dengan kandungan karbohidrat mendekati atau melebihi beras. Beras artifisial berbahan dasar tepung ubi kayu dan labu  kuning merupakan solusi agar ketergantungan masyarakat terhadap beras dapat dikurangi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji kandungan gizi beras  artifisial  berbahan dasar tepung ubi kayu dan labu kuning ditinjau dari analisis proksimat dan antioksidan serta mengetahui dan mengkaji tingkat kesukaan masyarakat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor yaitu jumlah perbandingan tepung ubi kayu dan tepung labu kuning yang terdiri dari 3 taraf yaitu formula 2:1, 1:1 dan 1:2. Metode dari penelitian ini meliputi analisis proksimat, analisis antioksidan dan uji nilai kesukaan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula beras artifisial berbahan dasar tepung ubi kayu dan labu kuning yang memiliki kualitas gizi terbaik yaitu formula 1:2. Formula 1:2  memiliki kadar abu sebesar 3,5%; kadar  a ir 9,2%; kadar serat kasar 8,2%;kadar protein 8%; kadar lemak 0,4%; kadar karbohidrat 78,5% dan  kadar antioksidan 8%. Uji nilai kesukaan menunjukan bahwa beras artifisial berbahan dasar tepung ubi kayu dan labu kuning formula 1:2 kurang disukai dari segi warna, aroma, dan penerimaan umum,  namun dari segi rasa panelis rata-rata menyukainya.
Interaksi antara Tingkat Ketersediaan Air dan Varietas terhadap Kandungan Prolin serta Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merr) Eko Wahono; Munifatul Izzati; Sarjana Parman
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.3.1.2018.11-19

Abstract

Produksi kedelai di Indonesia mengalami penurunan karena kondisi cuaca yang tidak menentu, maka perlu dilakukan penanaman kedelai yang toleran terhadap cekaman kekeringan untuk mengatasi permasalahan ini. Kedelai melakukan adaptasi cekaman kekeringan dengan cara mengakumulasi prolin untuk melindungi sel dari kerusakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat ketersediaan air terhadap pertumbuhan dan kandungan prolin pada tanaman kedelai varietas Wilis dan Grobogan. Penelitian ini dilaksanakan di Greenhouse Gombel Lama dan di Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan Jurusan Biologi FSM Undip. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial, 2 faktor yaitu tingkat ketersediaan air dan varietas dengan 6 perlakuan dan 3 pengulangan. Analisis data menggunakan Analisis of Variance (Anova) dilanjutkan uji beda nyata Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikasi 95%. Parameter yang diamati adalah kandungan Prolin dan pertumbuhan (tinggi tanaman, berat basah dan kering tajuk, berat basah dan kering akar). Hasil penelitian menunjukkan tingkat ketersediaan air berpengaruh terhadap kandungan prolin dan pertumbuhan. Ketersediaan air terendah menghasilkan kandungan prolin tertinggi, yaitu pada varietas Grobogan sebesar 2,15 µmol/gr dan Wilis 2,30 µmol/gr. Varietas tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan prolin dan pertumbuhan tanaman kedelai, tetapi berpengaruh signifikan terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun trifoliat. Varietas Grobogan lebih unggul terhadap cekaman kekeringan dibandingkan Wilis dilihat dari tinggi tanaman dan jumlah daun trifoliat.Kata kunci :  prolin; ketersediaan air; kedelai; Glycine max
Screening Cellulolytic Bacteria from the Digestive Tract Snail (Achatina fulica) and Test the Ability of Cellulase Activity Wijanarka Wijanarka; Endang Kusdiyantini; Sarjana Parman
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 8, No 3 (2016): December 2016
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v8i3.7263

Abstract

On the research of enzyme production levels observed cellulase produced by bacteria in the digestive tract of the isolation of the Snail (Achatina fulica). Isolation of bacteria based on the ability of bacteria to grow on CMC media. The purpose of this study was to determine cellulase activity by cellulolytic bacteria. Some bacterial isolates were identified as cellulolytic bacteria, they were KE-B1, KE-B2, KE-B3, KE-B4, KE-B5, and KE-B6. Isolates KE-B6 was the best isolates. Furthermore KE-B6 isolates were grown on media production to determine the pattern of growth and enzyme activity. Measurement of cell growth was conducted by inoculating starter aged 22 hours at CMC production of liquid medium. Cellulase enzyme activity measurements was performed by the DNS method. The results showed that the highest activity by new isolate bacteria KE-B6 and its value of the activity of 0.4539 U/mL, growth rate (µ) 0.377/hour and generation time (g) 1.84 hour. This research expected cellulase of producing bacteria were easy, inexpensive and efficient. This enzyme can be used as an enzyme biolytic once expected to replace expensive commercial enzyme. The biotylic enzyme can be applied to strains improvement (protoplast fusion).How to CiteWijanarka, W., Kusdiyantini, E. Parman, S. (2016). Screening Cellulolytic Bacteria from the Digestive Tract Snail (Achatina fulica) and Test the Ability of Cellulase Activity. Biosaintifika: Journal of Biology Biology Education, 8(3), 386-392. 
Uji Kualitas Beberapa Madu Lokal di Semarang Suedy, Sri Widodo Agung; Aisyah, Ajeng Aulia; Darmanti, Sri; Parman, Sarjana
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 8, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.8.2.2023.161-168

Abstract

Madu berasal dari nektar bunga (floral) atau bagian lain dari tumbuhan (extra floral) yang dikumpulkan oleh lebah madu. Madu yang memiliki kualitas baik apabila memenuhi standar kualitas madu tertentu. Kualitas madu dapat diketahui diantaranya berdasarkan kadar air, gula pereduksi, dan hidroksimetilfurfural (HMF). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas madu lokal di Semarang dan sekitarnya. Saat ini permintaan madu nasional masih sangat tinggi, dan belum dapat diimbangi dengan produksi madu nasional. Kondisi ini dimanfaatkan oleh produsen madu ilegal untuk melakukan pemalsuan madu. Perlu dilakukan uji berstandar secara berkala untuk mencegah pemalsuan madu. Rancangan penelitian yang digunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan metode purposive sampling pada 5 wilayah produksi madu lokal Semarang yaitu Ngareanak, Limbangan, Mijen, Karangjati dan Klero. Variabel penelitian adalah kualitas madu yaitu kadar air, gula pereduksi, dan hidroksimetilfurfural (HMF). Data dianalisis dengan uji ANOVA pada taraf signifikansi 5%, dan dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test), dan dibandingkan dengan SNI 8664:2018. Berdasarkan hasil uji kualitas madu lokal dari 5 wilayah di Semarang, rata-rata telah memenuhi standar SNI, nilai kadar air berkisar antara 19,0-25,7%, gula gereduksi berkisar antara 77-94%, dan HMF berkisar antara 3,8-10,8 mg/kg. Honey comes from the nectar of flowers (floral) or other parts of plants (extra floral) collected by honeybees. Honey is of good quality if it meets certain honey quality standards. Honey quality can be determined based on moisture content, reducing sugar, and hydroxymethylfurfural (HMF). This study was conducted to determine the quality of local honey in Semarang and surrounding areas. Currently, the national demand for honey is still very high, and has not been matched by national honey production. This condition is utilized by illegal honey producers to counterfeit honey. Periodic standardized tests are needed to prevent honey adulteration. The research design used RAL (Completely Randomized Design) with purposive sampling method in 5 local honey production areas of Semarang, namely Ngareanak, Limbangan, Mijen, Karangjati and Klero. The research variables were honey quality, namely moisture content, reducing sugar, and hydroxymethylfurfural (HMF). Data were analyzed by ANOVA test at 5% significance level, followed by DMRT (Duncan's Multiple Range Test), and compared with SNI 8664:2018. Based on the quality test results of local honey from 5 regions in Semarang, the average has met SNI standards, the value of water content ranges from 19.0-25.7%, reducing sugar ranges from 77-94%, and HMF ranges from 3.8-10.8 mg/kg.