Agustina Christina Patty
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Manajemen (STIEM) Rutu Nusa

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

AKUNTABILITAS PERPULUHAN GEREJA Patty, Agustina Christina; Irianto, Gugus
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 4, No 2 (2013): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.645 KB)

Abstract

Abstract: The church tithe accountability. The purpose of this research is to seek the meaning of perpuluhan accountability by GPM Bethel Allang congregation. This research use Husserl’s transcendental phenomenology. The finding of this research is the existence of eight sense accountability dimension by congregation of GPM Bethel Allang, that is: perpuluhan accountability perpuluhan as belong to God, perpuluhan accountability as sign of confession, perpuluhan accountability as care and humble, perpuluha.Abstrak: Akuntabilitas Perpuluhan Gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari makna akuntabilitas perpuluhan oleh jemaat GPM Bethel Allang. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi transendental Husserl. Hasil analisis menemukan adanya delapan dimensi pemaknaan akuntabilitas oleh jemaat GPM BETHEL Allang yaitu: akuntabilitas perpuluhan sebagai milik Tuhan, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanda pengakuan, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanda kasih dan kemurahan hati, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanda iman dan kepercayaan, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanggung jawab diri terhadap gereja, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanggung jawab sosial terhadap orang-orang yang membutuhkan. Hasilnya, realita perpuluhan yang terjadi di jemaat GPM BETHEL Allang dipenuhi dengan berbagai persepsi yang melekat pada pemikiran anggota jemaat.
Akuntabilitas Pengelolaan Perpuluhan Jemaat Patty, Agustina Christina; Kwalomine, Azmida L.; Gomies, Stevanus Johan
Journal of Business Application Vol. 2 No. 2 (2023): Journal of Business Application
Publisher : Program Studi Administrasi Niaga STIA Said Perintah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55098/jba.v2.i2.p189-199

Abstract

This study was aimed to understand the meaning of by-tens accountability in GPM BETHEL Church. By thents accountability is a phenomenon that should be examined by the church. Paradigm used in this study was interpretive paradigm with Husserl transcendental phenomenology”. Based on meaningful accountability practice, thus BETHEL Church Congregation of Allang had three accountability dimension that are: social dimension which put by tenth accountability being understand as self-responsibility toward church and social responsibility toward people in need. and finance dimension which is a supporting dimension between spiritual and social dimension. BETHEL Church Congregation of Allang actually had long-practice accountability.
Hubungan Pengalaman Auditor dan Kompleksitas Klien terhadap Materialitas Audit: Pendekatan Kuantitatif Patty, Agustina Christina; Rumalatu, Gilbert Alvin
KINERJA Vol 22 No 2 (2025): Mei
Publisher : FEB Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkin.v22i2.15448

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi determinan materialitas audit melalui analisis korelasional antara pengalaman auditor dan kompleksitas klien menggunakan metodologi kuantitatif. Data sekunder dari 150 auditor dan klien dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan korelasional. Temuan mengungkapkan bahwa auditor berpengalaman (>10 tahun) menerapkan materialitas konservatif 3,6%, kontras dengan auditor novice (<5 tahun) yang menetapkan 4,8%. Kompleksitas klien menunjukkan korelasi negatif terhadap materialitas, dengan entitas berkompleksitas tinggi memperoleh threshold 2,8% dibandingkan entitas sederhana 5,1%. Interaksi signifikan antara pengalaman auditor dan kompleksitas klien menghasilkan efek moderasi yang substansial (p<0,05). Auditor berpengalaman mendemonstrasikan adaptabilitas superior dalam menyesuaikan materialitas berdasarkan kompleksitas klien, sementara auditor novice menunjukkan pola penetapan yang relatif uniform. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan teori professional judgment dalam audit dan memberikan implikasi praktis untuk optimalisasi alokasi sumber daya audit serta pengembangan framework penetapan materialitas yang lebih komprehensif
Strategi Pemberdayaan Perempuan Masyarakat Pesisir Dalam Pengolahan Hasil Laut dan Wirausaha Mikro: Studi Kasus pada Kecamatan Nusalaut Kabupaten Maluku Tengah Patty, Agustina Christina; Tehuayo, Dir Berly; Rumalatu, Gilbert Alvin
FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi Vol. 27 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : FEB Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jfor.v27i1/4499

Abstract

Pemberdayaan masyarakat pesisir merupakan pendekatan penting dalam pembangunan berbasis masyarakat yang menekankan kelestarian lingkungan, distribusi pendapatan yang adil, dan partisipasi masyarakat yang aktif. Kecamatan Nusalaaut yang terletak di Pulau Nusalaaut di Kepulauan Lease terdiri dari tujuh desa pesisir: Abubu, Akoon, Ameth, Leinitu, Nalahia, Sila, dan Titawaai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi ekonomi perempuan di masyarakat pesisir dan merumuskan strategi penguatan pemberdayaan perempuan di Kabupaten Nusalaaut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif menggunakan data primer dan sekunder. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup pengurangan data, tampilan data, dan penarikan kesimpulan. Selain itu, analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) digunakan untuk mengkaji faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kegiatan ekonomi perempuan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi perempuan pesisir belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan modal, ketergantungan pada pembelian barang dari pemasok lain, dan perlunya dukungan pihak ketiga dalam kegiatan perdagangan. Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan dengan memaksimalkan kekuatan dan peluang lokal sekaligus meminimalkan kelemahan dan ancaman yang ada dalam rangka mendukung pengembangan usaha mikro yang berkelanjutan