Violence against children remains a serious social problem in Indonesia, including in the West Nusa Tenggara (NTB) region, which is inhabited by three major ethnic groups: Sasak, Samawa, and Mbojo (Sasambo). The problem lies not only in economic and educational factors but also in gender-insensitive child-rearing practices that overlook local values. This article examines gender-transformative parenting based on local wisdom as a strategy to prevent violence against children among these three ethnic groups. It employs a descriptive qualitative approach within a phenomenological paradigm, drawing on literature reviews and field data analysis. The study shows that child-rearing patterns in the Sasak, Samawa, and Mbojo (Sasambo) communities are still influenced by patriarchal structures. However, these communities also uphold noble values such as respect, responsibility, cooperation, and compassion, which can serve as a foundation for preventing violence. A gender perspective plays an important role in balancing the roles of fathers and mothers in parenting. At the same time, local wisdom practices, such as deliberation (Pepaduan in the Sasak, Satemung Panangar in the Samawa, and Mbolo Weki in the Mbojo) and communal responsibility in problem-solving (Wirang in the Sasak, Basiru in the Samawa, and Karawi Kaboju in the Mbojo), function as social mechanisms for shaping children’s character in a humanistic manner. This study confirms that the synergy between cultural values and a gender-equality approach to parenting is an effective strategy for preventing violence against children. Future studies should explore more diverse local wisdom-based parenting models beyond this setting to prevent child violence. Kekerasan terhadap anak masih menjadi masalah sosial yang serius di Indonesia, termasuk di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dihuni oleh tiga kelompok etnis utama, yaitu Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo). Permasalahan ini tidak hanya terletak pada faktor ekonomi dan pendidikan, tetapi juga pada pola pengasuhan anak yang tidak sensitif gender dan mengabaikan nilai-nilai lokal. Artikel ini mengkaji pengasuhan transformatif gender berbasis kearifan lokal sebagai strategi untuk mencegah kekerasan terhadap anak di antara ketiga kelompok etnis tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dalam paradigma fenomenologi dengan memanfaatkan kajian pustaka dan analisis data lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan anak dalam masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo) masih dipengaruhi oleh struktur patriarki. Namun demikian, masyarakat tersebut juga menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti rasa hormat, tanggung jawab, kerja sama, dan kasih sayang yang dapat menjadi dasar pencegahan kekerasan. Perspektif gender berperan penting dalam menyeimbangkan peran ayah dan ibu dalam pengasuhan. Pada saat yang sama, praktik kearifan lokal seperti musyawarah (Pepaduan pada masyarakat Sasak, Satemung Panangar pada masyarakat Samawa, dan Mbolo Weki pada masyarakat Mbojo), serta tanggung jawab komunal dalam penyelesaian masalah (Wirang pada masyarakat Sasak, Basiru pada masyarakat Samawa, dan Karawi Kaboju pada masyarakat Mbojo), berfungsi sebagai mekanisme sosial dalam membentuk karakter anak secara humanis. Penelitian ini menegaskan bahwa sinergi antara nilai-nilai budaya dan pendekatan kesetaraan gender dalam pengasuhan merupakan strategi yang efektif untuk mencegah kekerasan terhadap anak. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi model-model pengasuhan berbasis kearifan lokal yang lebih beragam di luar konteks penelitian ini guna mencegah kekerasan terhadap anak.