Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Tindak Tutur Direktif Dalam Anime Jujutsu Kaisen Karya Gege Akutami Ula Hana Pratiwi; Novi Andari
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol 5 No 1 (2023): APRIL
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v5i1.8276

Abstract

Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasidan mengidentifikasikan diri. Tindak tutur sering digunakan dalam komunikasi. Salah satu jenis tindak tutur adalah tindak tutur ilokusi direktif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan maksud dan penanda lingual direktif dalam anime Jujutsu Kaisen karya Gege Akutami. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Pemilihan data dilakukan dengan menggunakan teori Namatame. Dalam penelitian ini ditemukan 12 penanda lingual dan 37 data tindak tutur direktif. Ditemukan 12 penanda lingual yaitu ~te ha dame, ~ru na, ~ro, ~e, ~kudasai, ~mashou, ~te kudasai, ~kure, ~te hoshii, ~te mo ii, ~ta hou ga ii dan ~to ii. 37 data tindak tutur direktif yang ditemukan yaitu 5 data tindak tutur direktif dengan maksud larangan, 15 data tindak tutur direktif dengan maksud perintah, 12 data tindak tutur direktif dengan maksud permintaan, 2 data tindak tutur direktif dengan maksud izin, 3 data tindak tutur direktif dengan maksud anjuran. Kata Kunci: Tindak tutur, direktif, penanda lingual direktif, pragmatik, anime.
Tourism Governance in the Embodiment of Resilient and Sustainable Tourism Villages Novi Andari; Eva Amalijah; Tantowi Jauhari
Plakat : Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2023): Plakat: Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/plakat.v5i1.9182

Abstract

Supporting government programs regarding the development of the tourism sector starting from the smallest areas, namely rural areas, requires assistance from various sectors. Claket Tourism Village, Pacet Sub-District, Mojokerto Regency has great tourism potential that cannot be ignored. The most important thing in tourism development is empowering local communities for sustainable tourism management. Community-Based Tourism (CBT) is community empowerment and participation to achieve strong, resilient, and sustainable tourism destinations. One way to realize this goal is to aid in the form of training related to tourism governance. Before providing material related to tourism governance, a process of observation and evaluation was carried out in the form of pretest and posttest in the form of questionnaires and direct interviews. The results obtained from the questionnaire answers stated that people who were initially unfamiliar with the material, after being given training materials, experienced a significant increase in their knowledge and insights about tourism governance, namely 74.4%.Mendukung program pemerintah tentang pengembangan sektor pariwisata dimulai dari daerah terkecil yaitu pedesaan, dibutuhkan langkah-langkah pendampingan dari berbagai sektor. Desa Wisata Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto memiliki potensi wisata yang mumpuni yang tidak dapat diabaikan. Hal paling penting dalam pengembangan pariwisata adalah pemberdayaan masyarakat setempat untuk pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan. Wisata Berbasis Masyarakat (Community-Based Tourism/CBT) merupakan pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dalam upaya mencapai tujuan daerah wisata yang kuat, tangguh, dan berkelanjutan. Salah satu cara untuk mewujudkan tujuan ini adalah dengan memberikan pendampingan berupa pelatihan terkait dengan tata kelola pariwisata. Sebelum memberikan materi yang terkait dengan tata kelola pariwisata, dilakukan sebuah proses observasi dan evaluasi berupa pretest dan postest dalam bentuk angket dan wawancara secara langsung. Hasil yang diperoleh dari jawaban angket menyatakan bahwa masyarakat yang awalnya awam terhadap materi, setelah diberikan materi pelatihan, mengalami kenaikan yang signifikan terhadap pengetahuan dan wawasannya tentang tata kelola pariwisata yaitu sebesar 74,4%. 
Resiliensi Tokoh Miiko Dalam Manga Kocchi Muite Miiko Karya Ono Eriko Volume 34-36 Maria Clara Putri; Novi Andari
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v8i1.132421

Abstract

Penelitian ini menganalisis resiliensi karakter Miiko dalam manga Kocchi Muite Miiko (Volume 34–36) karya Ono Eriko. Penelitian ini berfokus pada identifikasi ciri resiliensi Miiko, yang didefinisikan sebagai kemampuannya untuk bertahan dan beradaptasi dengan berbagai tantangan dalam kehidupan sosial, emosional, dan pribadinya. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini mengkaji dialog dan narasi Miiko dalam manga, dengan merujuk pada teori resiliensi Baumgardner (2010). Ciri-ciri resiliensi Miiko yang teridentifikasi meliputi kecerdasan praktis, kecerdasan emosional, kemampuan beradaptasi, citra diri yang positif, sikap optimis, nilai-nilai pribadi, dan selera humor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Miiko memperlihatkan resiliensi melalui kemampuannya untuk tetap berkomitmen pada tujuan pribadi, menjaga citra diri yang positif, dan secara efektif mengelola tantangan emosional, meskipun ia merasa tidak kompeten. Kemampuannya untuk mendukung orang lain, seperti menghibur adiknya Momo, menunjukkan kecerdasan emosionalnya. Selain itu, sikap optimis Miiko dalam menghadapi tantangan, terutama dalam interaksinya dengan teman-teman, mengungkapkan resiliensinya dalam konteks sosial. Miiko menunjukkan bahwa resiliensi bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang perkembangan pribadi yang berkelanjutan. Penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana resiliensi digambarkan dalam manga, khususnya dalam konteks pembentukan identitas remaja, dan berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang resiliensi psikologis dalam karya sastra. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi merupakan faktor penting dalam perkembangan karakter yang kuat dan dapat beradaptasi, bahkan di tengah kesulitan.
ANALISIS SELFDISCLOSURE TOKOH MIE AI DALAM MANGA “SUKINA KO GA MEGANE WO WASURETA” KARYA KOUME FUJICHIKA Gigih Rahman; Novi Andari
TANDA Vol 6 No 01 (2026): BAHASA DAN SASTRA
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v6i01.2608

Abstract

Penelitian ini mengkaji keterbukaan tokoh Mie Ai dalam manga Suki na ko ga megane wo wasureta karya Koume Fujichika. Tujuan dari penelitian ini ada 3 (tiga) antara lain; 1. Mendeskripsikan karakteristik keterbukaan diri; 2. Mendeskripsikan fungsi keterbukaan diri; dan 3. Mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi keterbukaan diri pada tokoh Mie Ai dalam manga suki na ko ga megane wo wasureta karya Koume Fujichika. Data dalam penelitian ini berbentuk dialog tentang konteks keterbukaan diri tokoh Mie Ai pada manga Suki na ko ga megane wo wasureta karya Koume Fujichika. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dihasilkan bahwa dari 5 karakteristik keterbukaan diri menurut Wheeles dan Grotz, kesemua karakteristik keterbukaan diri tersebut seluruhnya tergambarkan pada diri tokoh Mie Ai yaitu terdapat consciously intended disclosure, amount of disclosure, positive-negative nature of the disclosure, control of the depth, dan honesty-accuracy of the disclosure. Terkait dengan fungsi keterbukaan diri berdasarkan konsep Derlega dan Grzelak, ditemukan seluruh fungsi yang tergambarkan pada tokoh Mie Ai, yang mencakup 5 fungsi yaitu Social validation, Relationship building, Self expression, Self clarification, dan Social control. Sedangkan faktor yang mempengaruhi perubahan tokoh Mie Ai yang mulanya tertutup menjadi terbuka, hanya ditemukan 4 dari 5 faktor yang mempengaruhi yaitu antara lain Attraction, Sosial norms, Culture, dan Age. Total data yang mencakup ketiga fokus penelitian ini adalah 72 data yang terbagi antara lain karakteristik keterbukaan diri ditemukan 56 data. Fungsi keterbukaan diri ditemukan 10 data. Dan faktor yang mempengaruhi keterbukaan diri ditemukan 6 data. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tokoh Mie Ai tergambarkan mengalami perubahan dari karakteristik yang tertutup menjadi terbuka karena ada faktor yang mempengaruhinya yaitu melalui tokoh Komura.
Enhancing The Capacity of Art Performances Through The Availability of Artistic Costumes as a Form of Strengthening Tourist Village of Jenisgelaran, Jombang Regency Anik Cahyaning Rahayu; Sudarwati; Novi Andari
Proceeding of Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies Vol. 5 No. 1 (2026): Proceeding of Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies: ICONE
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/pcllcs.v5i1.6566

Abstract

One of the essential elements in an aesthetic art performance lies in the costumes worn by the performers. Costumes are an urgent supporting aspect in every presentation because they serve as an aesthetic representation that becomes a medium for implementing the distinctive identity of each region. In art performances, costumes function to create visual beauty, distinguish one character from another, depict character traits, provide freedom of movement, and deliver dramatic effects. Thus, costumes are the most important element after artistic movements and musical instruments in a performance. Considering the limitations of available art wardrobes, the lack of contemporary relevance, and the absence of distinctive costume characteristics, solutions to the problems faced by art communities in Jenisgelaran Village need to be provided in the form of funding for artistic costumes that suit the character of each type of art and the age of the performers. Independent ownership of costumes is one of the crucial elements in business management for art groups, as it helps stabilize both individual and group economies. The results of this community service program, funded through the Kemenristek Dikti Grant, are expected to contribute to the economic independence of art performers in the Artist Village of Jenisgelaran, Jombang Regency.
Representasi faktor lingkungan dan trauma pada perilaku psikopat pada tokoh Yukio Murata dalam film Cold Fish Rendy Arianto; Novi Andari
Proceeding of Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies Vol. 6 No. 1 (2026): Vol. 6 No. 1 (2026): UNCOLLCS: PROCEEDING RESEARCH ON LITERARY, LINGUISTIC, AND
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/pcllcs.v6i1.6935

Abstract

Film Cold Fish (2010) karya Sion Sono menggambarkan perilaku kekerasan Yukio Murata yang berkaitan dengan pengalaman buruk dalam lingkungan keluarganya pada masa kecil. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan faktor-faktor yang melatarbelakangi perilaku Yukio Murata dalam film Cold Fish. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan metode deskriptif kualitatif. Analisis menggunakan klasifikasi faktor penyebab dari Aksan dalam Rozali et al. (2019), yang terdiri atas faktor biologis, genetik, lingkungan, dan trauma. Pandangan Kartono (2017) mengenai kurang atau tidak adanya kasih sayang yang diterima dari lingkungan, terutama keluarga, digunakan untuk menganalisis faktor lingkungan. Sementara itu, teori Kolk (2016) mengenai dampak jangka panjang dari peristiwa traumatis digunakan untuk menganalisis faktor trauma. Data penelitian berupa dialog, tindakan, dan visual yang berkaitan dengan latar belakang kehidupan Yukio Murata. Hasil penelitian menemukan dua data, yaitu satu data faktor lingkungan dan satu data faktor trauma. Faktor biologis dan genetik tidak ditemukan dalam film. Faktor lingkungan ditunjukkan melalui kurangnya kasih sayang, perlindungan, dan interaksi sosial yang sehat dalam kehidupan Murata sejak kecil. Faktor trauma ditunjukkan melalui pengalaman pengurungan dan perlakuan kasar yang dilakukan oleh ayahnya. Pengalaman tersebut terus membayangi Murata hingga dewasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan keluarga yang tidak sehat dan trauma masa kecil merupakan faktor utama yang melatarbelakangi perilaku Yukio Murata dalam film Cold Fish.