David Rade Manat Simanjuntak
Institut Agama Kristen Negeri Manado

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERSEPSI CALON GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK) TENTANG BELAS KASIHAN DALAM PROFESI KEGURUAN Adventrianis Daeli; Alon Mandimpu Nainggolan; David Simanjuntak
DIDASKALIA : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Pendidikan Agama Kristen
Publisher : DIDASKALIA : Jurnal Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui persepsi calon guru PAK berkenaan dengan belas kasihan dalam profesi keguruan, dalam bingkai Yesus dan profesi keguruan. Untuk mewujudkan tujuan penelitian ini penulis memilih metode kualitatif, dengan studi pustaka dan studi lapangan melalui wawancara. Pentingnya menerapkan belas kasihan dalam profesi keguruan dikarenakan pesan Undang-Undang Guru dan dosen, termotivasi menurut ajaran Allah Tritunggal dan teladan-Nya, syarat mutlak untuk mewujudkan diri menjadi guru profesional, dan berdampak positif bagi keberhasilan peserta didik. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa belas kasihan dalam profesi keguruan menurut persepsi calon guru PAK sangat bermakna dan penting didemontrasikan, bentuk-bentuk belas kasihan dan tidak berbelas kasihan dalam profesi keguruan sangat beragam, tidak semua guru PAK memiliki karakter belas kasihan, enam kunci sukses dalam menerapkan belas kasihan menjadi inspirasi dan motivasi bagi guru PAK menjadi guru PAK yang berdampak positif bagi peserta didik.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATA KULIAH LOGIKA DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI ZOOM CLOUD MEETINGS DI IAKN MANADO David Rade Manat Simanjuntak
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.153 KB) | DOI: 10.51667/djtk.v2i2.511

Abstract

Proses Pembelajaran pada IAKN Manado pada masa pandemi Covid-19 saat ini, menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh. Salah satu aplikasi yang sangat digemari oleh dosen adalah zoom cloud meetings. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar efektivitas penggunaan aplikasi zoom cloud meetings dalam proses pembelajaran logika terhadap mahasiswa semester III Program Studi Teologi Fakultas Teologi IAKN Manado. Untuk mewujudkan tujuan penelitian ini, maka penulis menggunakan metode kualitatif. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa sebanyak 69.9 % memandang penggunaan zoom cloud meetings tidak efektif dalam proses pembelajaran. Beberapa faktor yang menyebabkannya adalah jaringan tidak stabil, penggunaan paket data yang boros, dan minimnya ikatan emosional antara dosen dan mahasiswa. Kendala tersebut terjadi karena beberapa mahasiswa tinggal di daerah 3 T (terluar, terdalam, terdepan), tidak adanya perangkat wifi yang luas dan teknologi pada smartphone yang tidak mendukung.
BELENGGU TUJUH ROH JAHAT PESAN PASTORAL YESUS DALAM MATIUS 12:43-45 David Rade Manat Simanjuntak; Ryanto Adilang; Tesalonika Mandey
POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Vol. 2 No. 2 (2021): Desember
Publisher : LPPM IAKN MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pjpk.v2i2.765

Abstract

Humans have a unique system called character. Character is a pattern that distinguishes attitudes and traits from one human to another. This character then becomes a non-standard measuring tool, to determine whether someone can be called good or bad. Besides face, character is the identity of a human being. However, it turns out that changes in a person's character can be influenced by many factors, both internal and external. One of the factors to be discussed is the intervention of evil spirits. Jesus explained in his sermon that evil spirits can make a person's condition worse. Even when the evil spirit is gone, he will come back inviting seven other, more evil spirits to come and destroy again. however, the second damage has a very high level of destructiveness. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. Because it involves Bible verses, specifically the New Testament, a hermeneutic method is needed. The hermeneutic method chosen is a combination of the methods of narrative criticism and historical criticism. This research will explore narrative elements and historical facts and then combine them in an analysis to obtain substantial meaning. The results of this study are expected to provide new contributions in the field of Theology, especially Pastoral and Biblical New Testament. It is hoped that there will be a substantial understanding of evil spirits and their effects on humans
Menuju Equilibrium: Pengintegrasian Makna Teologis pada Budaya Madundum Banua Ryanto Adilang; Junaydi Jufriadi Lempoy; Tifany Fergie Tombokan; Jekson Berdame; David Rade Manat Simanjuntak
Jurnal Salvation Vol. 2 No. 2 (2022): Januari 2022
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Madandum Banua is a culture carried out by the people of Dapihe Village, Talaud Islands Regency, which aims to expel riwu (seasonal diseases) or things that are considered odd by the local community through a ritual led by Ratumbanua or Inangguwanua on a large rock called Batu Tarenggo or Watum'barian. The existence of Christianity in Talaud Islands Regency as the majority religion is slowly starting to displace the existence of Madandum Banua. The labeling of syncretism towards the implementation of this culture certainly makes the congregation start to be reluctant and feel afraid in reflecting and implementing this culture. On the other hand, the government continues to encourage people who are also members of the congregation to preserve the culture of Madandum Banua by providing subsidies and establishing traditional groups. This situation shows that there is a struggle and clash of values between Christianity and the culture of Madandum Banua, which makes congregation members feel confused and in a dilemma. Through this paper, burapaya researchers seek common ground or balance (equilibrium) between the two values, namely by integrating theological meaning into the culture of Madandum Banua. The contextual theology approach of the translation model is used as an entry point in understanding the culture of Madandum Banua and interpreting theological values in that culture, so that the integration process can take place in a balanced way. In the end, it is hoped that writing will be an alternative for congregation members in responding to the circumstances experienced when practicing and preserving the madundum banua culture in accordance with government recommendations and avoiding the stigmatization of syncretism produced by the church. Abstrak: Madandum Banua merupakan budaya yang dilakukan masyarakat desa Dapihe Kabupaten Kepulauan Talaud yang bertujuan untuk mengusir riwu (penyakit musim) atau hal-hal yang dianggap janggal oleh masyarakat setempat melalui ritual yang dipimpin oleh Ratumbanua atau Inangguwanua di sebuah batu besar yang di sebut dengan batu Tarenggo atau Watum’barian. Keberadaan kekristenan di Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai agama mayoritas secara perlahan mulai menggusur eksistensi Madandum Banua. Pelebelan sinkretisme terhadap pelaksanaan budaya ini tentunya membuat jemaat mulai enggan dan merasa takut dalam merefleksikan dan melaksnakan budaya ini. Di sisi lain, pihak pemerintah terus mendorong masyarakat yang sekaligus anggota jemaat untuk melestarikan budaya Madandum Banua dengan memberikan subsidi dan pendirian kelompok adat. Keadaan ini menunjukan adanya pertarungan dan benturan nilai antara kekristanan dan budaya Madandum Banua sehingga membuat anggota jemaat merasa binggung serta dilematis. Melalui tulisan ini, peneliti burapaya mencari titik temu atau kesimbangan (equilibrium) antar kedua nilai tersbut yaitu dengan cara mengintegrasikan makna teologi pada budaya Madandum Banua. Pendekatan teologi kontekstual model terjemahan digunakan sebagai pintu masuk dalam memahami budaya Madandum Banua dan memaknai nilai teologis pada budaya tersebut, sehingga proses integrasi dapat berlangsung dengan seimbang. Pada akhirnya tulisan diharapkan mampu menjadi alternatif bagi anggota jemaat dalam merespon keadaan yang dialami ketika mempraktikan dan melestarikan budaya madundum banua sesuai dengan anjuran pemerintah dan terhindar dari stikmatisasi sinkretisme yang diproduksi oleh gereja.
KONSEP KERAMAHTAMAHAN DAN WACANA MODERASI BERAGAMA DALAM KONTEKS SULAWESI UTARA Tifany Fergie Tombokan; Nency Heydemans; David Simanjuntak; Dennis Palar
POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Vol. 5 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Program Studi Pastoral Konseling, Fakultas Teologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious moderation is one of the priority programs of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia. This discourse was developed and socialized in such a way as to address various cases of intolerance that lead to crimes in the name of religion. Within the scope of Christianity, religious moderation which contains the values of openness and acceptance is found in one of the ancient traditions of Christianity, namely hospitality. In this article, the author will examine the concept of hospitality according to Christine Pohl's writings and its implications in the discourse on Religious Moderation, especially in North Sulawesi. The research method used is a qualitative method based on literature study.
Kepada Allah yang tidak Dikenal: Konsep I Genggona Langi dalam Sorotan Kisah Para Rasul 17:23 dan Implementasinya terhadap Ekologi dan Eduekologi Masyarakat Sangihe Simanjuntak, David Rade Manat; Adilang, Ryanto
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Kristiani (Desember 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53674/teleios.v2i2.61

Abstract

Abstract: Community religion, or what is more commonly known as tribal religion, is often accused of being a religion that is no truer than the official religion. Christian congregations are still trapped in the stigma that places tribal religions in a dichotomy that is far apart from Christianity. This is an action that cannot be accounted for academically because in fact Christian values can be found in tribal religious teachings. This study uses a descriptive qualitative research method. For the purposes of text analysis, the hermeneutic method of historical criticism is used. The purpose of this study is to examine and then analyze the Christian theological values contained in the concept of I Genggona Langi in understanding the religion of the Sangihe ethnic group in the spotlight of Acts 17:23.Abstrak: Agama masyarakat atau yang lebih sering dikenal sebagai agama suku seringkali dituding sebagai agama yang tidak lebih benar dari agama resmi. Jemaat Kristen masih terjebak dalam stigma yang menempatkan agama suku dalam dikotomi yang terpisah jauh dengan agama Kristen. Hal ini merupakan aksi yang kurang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis sebab nyatanya nilai kristiani justru bisa ditemukan dalam ajaran agama suku. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Untuk keperluan analisis teks, dugunakan metode hermeneutik kritik historis. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengkaji dan kemudian menganalisis nilai-nilai Teologis kristiani yang terkandung dalam konsep I Genggona Langi dalam pemahaman agama suku masyarakat Sangihe dalam sorotan Kisah Para Rasul 17:23