Syafiin Mansur
Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Cara Memahami dibalik Perintah Thaharah dalam Islam Syafiin Mansur
Holistic al-Hadis Vol 5 No 1 (2019): June 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/holistic.v5i1.3250

Abstract

Tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan thaharah yang begitu sempurna melainkan ajaran agama Islam. Sebab thaharah dalam Islam mencakup kesucian atau kebersihan dan kesehatan, bahkan Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi menyatakan bahwa thaharah mengandung empat tingkatan adalah [1] Pembersihan jasmani dari kotoran dan najis, [2] Pembersihan anggotaanggota badan dari dosa-dosa yang timbul darinya seperti dosa tangan dengan mencuri atau dosa mata dengan pandangan, dosa kaki dengan berjalan kepada tempat yang haram dan lain sebagainya, [3] Pembersihan hati dari segala sifat yang tercela, [4] Pembersihan hati dari selain Allah, thaharah pada tingkat ini adalah thaharahnya para Nabi dan Rasul.
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Syafi'in Mansur; Muhayat Hasan
Al-Fath Vol 8 No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v8i1.3058

Abstract

Agama selalu hadir untuk menghargai eksistensi dan martabat manusia: siapa pun, berada di bumi mana pun dan dengan identitas apa pun dia, seperti yang dijelaskan alam QS. Al-Hujurat: 13. Begitu pula keragaman syari’at adalah kehendak Tuhan sendiri, QS. Al-Mâidah: 48, QS. Al-Kâirûn: 1-6. Bahkan adanya keragaman menuntut kita untuk mengajak mereka dengan bijaksana dan nasihat-nasihat yang baik. Yakni, dengan cara berdialog dan berdiskusi, seperti dalam QS. An-Nahl: 125, QS. Al-Ankabut: 46, QS. Ali Imran: 64. Sejalan dengan arti penting dari kerukunan itu ada sejumlah nilai dasar yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai dasar tersebut antara lain adalah, saling menghargai, saling menghormati, saling membantu, saling kerjasama, mengembangkan azas persamaan, kebebasan, dan keadilan, dapat bekerja-sama dalam menciptakan keamanan dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang pluralistic ini.
REORIENTASI MAKNA JIHAD MENURUT MUFASIR KONTEMPORER Syafi'in Mansur; Henki Oktaveri
Al-Fath Vol 7 No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v7i1.3110

Abstract

Sayyid Qutb tidak semena-mena melepaskan kata ”Jihad fisik” dari lisannya. Konsep jihad selalu membawa kemaslahatan untuk masyarakat banyak, bukan sebagai konsep yang menakutkan pribadi manusia. keutamaan jihad Jaminan Allah terhadap orang-orang yang keluar di jalan-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Sayyid Qutb mempertegas lebih spesifik lagi bahwa hukum jihad adalah fardh ‘ain jika telah berhadapan dengan musuh.
Studi Sejarah Agama Syafiin Mansur
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3292

Abstract

Agama-agama di dunia ini, memiliki tingkat pengaruh yang masih tinggi pada pengikutnya. Hal ini dikarenakan agama memiliki kitab suci yang setiap saat dapat dibacanya. Namun demikian, agama-agama ini ternyata muncul atau turun di kawsan wilayah Asia. Agama-agama yang muncul di Asia ini, tidak saja agama samawi, melainkan agama ardi yang didalam kitabnya terdapat unsur-unsur pemikiran manusia. Berbeda dengan agama samawi. Seperti agama Islam karena agama ini tidak memasukkan unsur-unsur pemikiran manusia dalam kitab sucinya..
Jihad dalam Islam Syafi'in Mansur
Al-Fath Vol 9 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v9i1.3330

Abstract

Jihad adalah berusaha sungguh-sungguh di jalan Allah atau menegakkan agama Allah dengan harta, jiwa, kekuatan dan dakwah dengan lisan, tulisan, media dan keteladanan. Jihad tidak berarti hanya perjuangan fisik dengan mengangkat senjata, melainkan juga nonfisik dalam bentuk memerangi hawa nafsu dan juga memerangi kebodohan dan kemiskinan. Jihad adalah kewajiban yang telah disyariatkan kepada umat Islam hingga akhir zaman, karena jihad tidak berhenti pada harta, jiwa dan peperangan sebagai solusi yang terakhir. Kalau semua langkah menjadi buntu dan terus-menerus memerangi Islam, maka perang tidak dapat dielakkan lagi, namun tetap selalu dalam prinsip-prinsip ajaran Islam yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Jihad sekarang ini lebih banyak berkaitan dengan politik dari pada motif agama, sehingga menjadi keras dan radikal karena ada kepentingan kekuasaan. Walaupun Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin dan tidak mengajarkan kekerasan dan radikalisme yang membuta, namun tetap Islam dianggap sebagai agama yang keras dan menakutkan karena ulah media Barat dan Orientalis supaya Islam tetap dipandang sebagai agama keras, agama teroris dan agama pedang. Walaupun radikalisme dan terorisme itu dibuat oleh Barat dan untuk kepentingan dunia Barat, tetapi yang rusak Islam, supaya umat Islam tidak maju peradabannya.
Reorientasi Makna Jihad Menurut Mufasir Kontemporer Syafi'in Mansur; Henki Oktaveri
Al-Fath Vol 13 No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v13i2.2899

Abstract

Sayyid Qutb tidak semena-mena melepaskan kata ‛Jihad fisik‛ dari lisannya. Konsep jihad selalu membawa kemaslahatan untuk masyarakat banyak, bukan sebagai konsep yang menakutkan pribadi manusia. keutamaan jihad Jaminan Allah terhadap orang-orang yang keluar di jalan-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Sayyid Qutb mempertegas lebih spesifik lagi bahwa hukum jihad adalah fardh ‘ain jika telah berhadapan dengan musuh.
Hermeneutika: Sisi Positif dan Negatif Syafi'in Mansur
Al-Fath Vol 6 No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v6i1.3206

Abstract

Hermeneutika awalnya digunakan sebagai metode filsafat, kemudian digunakan untuk menafsirkan teks Bibel yang pada akhirnya menimbulkan pro dan kontra. Bahkan saat ini lagi tren menggunakan hermeneutika untuk studi Al-Qur’an. Sisi positif dan negatifnya tidak bisa disangkal karena heremeneutika mempunyai kelema-han dan kele-bihan sebagai metode yang dikembangkan oleh manusia sebagai makhluk Tuhan yang terbatas. Karena perdebatan tentang hermeneutika itu pada wila-yah metodologi, baik yang menyangkut bahasa, penga-rang, dan teks itu sendiri maka tergantung tujuan manusia yang menggunakannya. Jika digunakan untuk menying-kap kebenaran maka sah-sah saja, tetapi jika digunakan hanya untuk mencari kelemahan dan kesalahan maka hal itu akan menda-tangkan keburukan dan kemudaratan.
KTIRIK ATAS ORIENTALIS DALAM INTERPRETASI HADIS Syafi'in Mansur; Salim Rosyadi
Holistic al-Hadis Vol 8 No 2 (2022): July -December 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/holistic.v8i2.9608

Abstract

The purpose of this research is to illustrate that Orientalist studies and interpretations of the Prophet's Hadith or Sunnah are positive and negative. Positive Orientalist studies and interpretations are not polemical, but sympathetic and academically good and enlightening. While the study and interpretation of the negative Orientalists brought polemics both among the Orientalists themselves and among Muslim intellectuals. The Orientalist who brought this polemic, is due to untruthfulness, dishonesty and objectivity so that the Orientalist gets sharp criticism from Muslim intellectuals, both inclusive, exclusive and modernist. All of that, aimed at Orientalists studying and interpreting the Hadith of the Prophet and the Sunnah with a scientific and systematic purpose, not for their personal, group and religious interests.
The Nature of Allah in the Perspective of Shia, Mu'tazilah and Ahlussunnah Wal Jama'ah Mansur, Syafiin
Aqlania Vol. 15 No. 1 (2024): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v15i1.9945

Abstract

This research aims to find out more about the attributes of God and their division in terms of similarities and differences between Shia, Mu'tazilah and Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. These three schools recognize that God has properties based on God's revelation, such as qudrat, hayat, iradah, bashar, sama, qadim, wujud, and kalam. The division of God's attributes is based on reason. Although there are differences, they do not interfere with the basis of Islamic faith, such as Mu'tazilah rejecting the existence of God's attributes but recognizing the existence of God's Substance and its division. Shia divides the nature of God into two things: the nature of Tsubutiyah and Salbiya. Mu'tazilah has three properties of God's Substance, namely the Fi'li nature of God, the nature of God's Substance, and God's Body. Ahlus Sunnah Wal Jama'ah has three attributes: obligatory nature, impossible nature, and Jaiz nature of God. The difference is used as knowledge and God's mercy and should not fade the unity of Islam.