Yohanes Adhi Satiyoko
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Widyaparwa

ANEKDOT TENTANG KEKUASAAN DAN MENTALITAS DALAM CERKAK “KURSI” DAN “LEDHEK” KARYA KRISHNA MIHARJA (ANECDOTE ABOUT AUTHORITY AND MENTALITY IN CERKAK “KURSI” AND “LEDHEK” BY KRISHNA MIHARJA) Yohanes Adhi Satiyoko
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.16 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.203

Abstract

Penelitian “Anekdot tentang Kekuasaan dan Mentalitas dalam Cerkak ““Kursi”” dan ““Ledhek”” karya Krishna Miharja” berusaha melihat bagaimana dialektika individu dengan dunia sosial budaya mereka melalui tokoh utama  Den Lurah dan Ledhek Kuning dalam memperoleh dan menjalankan fungsi sosial mereka. Tujuan penelitian ini ialah menjelaskan dialektika antara tokoh-tokoh cerita tersebut dan dunia sosial budaya mereka melalui tiga momen simultan, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dalam kerangka sosiologi pengetahuan Peter Berger. Pembahasan dilakukan dengan pembacaan terhadap kedua cerkak tersebut melalui perwatakan tokoh, latar, dan alur, kemudian menemukan tipifikasi atau perlambangan fungsional yang dapat ditafsirkan menjadi sebuah simpulan yang dapat dipaparkan menjadi sebuah ekspresi dialektis dalam momen eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi tokoh utama dengan dunia sosial budayanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tokoh utama tersebut tidak melakukan interaksi yang benar dalam momen eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dengan dunia sosial budaya mereka sehingga perjalanan karir mereka berakhir tragis.Research about “Anecdote about Authority and Mentality in Cerkak “Kursi” and “Ledhek” by Krishna Miharja” tries to reveal the dialectic between individuals and their social cultural world through the main character, Den Lurah and Ledhek Kuning in obtaining and running their social functions. The research aims to explain dialectic between those main caharacters and their social cultural through three simultant moments, externalization, objectivation, and internalization in the frame of sociology of knowledge by Peter Berger. The discussuin is conducted by reading to those two cerkaks (Javanese short stories) through characterization, setting, and plot, then by finding functional typifications to be expressed as dialectic expression in moments of externalization, objectivation, and internalization between the main characters and their social cultural worlds. The result shows that those two main characters do not interact properly in the moment of externalization, objectivation, and internalization with their social cultural worlds. It then impacts their carreer to tragic ending.
WANI NGAIAH LUHUR WEKASANE, PESAN MORAL JAWA DALAM NOVEL BERBAHASA JAWA CANDHI KALAKAPURANTA KARYA SUGIARTA SRI WIBAWA: SEBUAH KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Yohanes Adhi Satiyoko
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3262.862 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.39

Abstract

Novel berbahasa Jawa Candhikala Kapuranta adalah sebuah novel berlatar belakang sejarath, yaitu pada masa pemerintahan Pakubuwono VI sampai dengan Pakubuwono X di Surakarta. Latar cerita diangkat menjadi dasar perumusan masalah, yaitu pengungkapan lingkungan sosial budaya (lebenswelf) masyarakat Jawa serta fenomena sosial yang muncul melalui penggambaran tokoh-tokoh cerita dalam aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Pembahasan rnenggunakan pendekatan dan teori sosiologi verstehen Janet Wolff dengan menguraikan fenomena kemasyarakatan yang terjadi pada masyarakat golongan bangsawan di Surakarta masa pemerintahan Pakubuwono VI sampai dengan Pakubuwono X serta menemukan perlambangan-perlambangan yang muncul dari interaksi sehari-hari antartokoh dalam Candhikala Kapuranta. Perlambangan-perlambangan yang diperoleh tersebut ditafsirkan untuk memahami ideologi pengarang. Latar cerita Candhikala Kapuranta menguraikan gambaran realis masyarakat golongan bangsawan dan interaksinya dengan orang kecil (wong cilik) yang dihadirkan sebagai oposisi kelas dalam latar sosial budaya. Oposisi tersebut adalah sebuah analogi dari laku spiritual manusia (wong cilik) untuk mencapat derajat kesempurnaan yang digambarkan dengan pencapaian derajat kebangsawanan. Laku spiritual tersebut menunjukkan satu pesan moral waningalah luhur wekasane dalam konteks logika orang Jawa, yaitu untuk mencapai sebuah cita-cita diperlukan perjuangan dengan sikap rendah hati, mengalah tidak untuk kalah, dan tidak meremehkan dan mengorbankan orang lain.Kata kunci: wani ngalah luhur wekasane, bangsawan, wong cilik, laku spiritualAbstractJavanese language novel Candhikala Kapuranta is a fiction historical background in the reign of Pakubuwana VI to Pakubuwana X in Surakarta. Story background of the novel was taken as problem formulation to reveal social cultural world (lebenswelt) of Javanese society and social phenomena through characters portrayal in which they interact daily. Discussion of the novel was conducted using sociological approach and verstehen sociological theory of Janet Wolff in finding social phenomena of noble society in Surakarta in the reign of Pakubuwana VI to Pakubuwana X and in interpreting typification as reflected in daily interactian among characters. Furthermore, the typifications were identified and interpreted to comprehend ideology of the author. Illustration of noble society and its interaction with lower class people (wong cilik) was portrayed as oppositional classes in social cultural background. The opposition was an analogy of spiritual exercise of people (wong cilik) to reach perfection degree as symbolized in noble degree achievement. The spiritual exercise shows moral value wani ngalah luhur wekasane in the context of Javanese people way of thinking that in reaching desirability they are required to be low profile, to be defeatist but not to be defeated, and never underestimate or sacrifice others.