Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Evaluasi Penerapan Rekam Medis Elektronik dengan Pendekatan Technology Acceptance Model di Rumah Sakit X di Kota Surabaya Intansari Intansari; Martya Rahmaniati; Dian Fajar Hapsari
J-REMI : Jurnal Rekam Medik dan Informasi Kesehatan Vol 4 No 3 (2023): June
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/j-remi.v4i3.3914

Abstract

Electronic medical records have an important in the provision of health services in hospitals, electronic medical records are a source of health data and information that can be used in assessing the quality of health services. Hospital X has implemented the use of electronic medical records since 2020 but has never conducted an evaluation of the implementation of electronic medical records, so need a formative evaluation to see the quality of electronic medical records using the Technology Acceptance Model, assessing a system based on the ease of use. use) and perceived usefulness (usefulness) which can affect the use of the system (attitude toward using) and applying the system on an ongoing basis (actual usage). This study uses a quantitative approach by using bivariate correlation test analysis to be able to assess the relationship between the variables studied. The results showed that there was a significant positive relationship (p-value 0.001, r = 0.717) between the belief that EMR can be used easily (perceived ease of use) and benefits in performance and performance productivity (perceived usefulness). p-value 0.001, r = 0.747) between EMR variables can provide benefits in terms of performance and performance productivity (perceived usefulness) and attitude toward using EMR (Attitude toward using). The belief that EMR can be used easily (perceived ease of use) has a positive and significant effect on attitudes towards using EMR (Attitude toward using) with a p-value of 0.001, r = 0.7, and a significant relationship with a p-value of 0.001, r = 0.717 between the belief that the attitude towards using EMR (Attitude toward using) and significant towards the actual use of EMR (actual usage)
Pengaruh Pelatihan Aplikasi Khanza Terhadap Peningkatan Pengetahuan Mahasiswa Rekam Medis di Universitas X Rahmawati Jalih; Martya Rahmaniati
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49720

Abstract

Era digitalisasi telah mendorong rumah sakit di Indonesia untuk beralih dari pencatatan manual menuju sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) yang terintegrasi. Salah satu aplikasi SIMRS yang banyak digunakan adalah KHANZA, sebuah sistem berbasis open source yang mendukung pelayanan medis dan administrasi. Mahasiswa Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) perlu memiliki kompetensi dalam mengoperasikan aplikasi ini untuk menunjang kesiapan mereka di dunia kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan rata-rata pengetahuan mahasiswa sebelum dan sesudah pelatihan aplikasi KHANZA. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan total kuota sampling terhadap 48 mahasiswa semester 2 yang belum memiliki pengalaman menggunakan KHANZA. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda 25 butir yang diberikan pada pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 59,33 pada pre-test menjadi 85,58 pada post-test, dengan selisih 26,25 poin. Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (< 0,05) yang menandakan perbedaan signifikan secara statistik. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan aplikasi KHANZA efektif dalam meningkatkan pengetahuan mahasiswa dan dapat menjadi model pelatihan teknologi kesehatan di institusi pendidikan.
Analisis Spasial Kejadian Campak di Indonesia Tahun 2022 Suharyo Adijoyo Nugroho; Martya Rahmaniati
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 7 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i7.2833

Abstract

Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia meskipun program imunisasi telah dilaksanakan secara luas. Penurunan cakupan imunisasi selama pandemi COVID-19 meningkatkan risiko terjadinya immunity gap yang berpotensi memicu peningkatan kejadian campak. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi spasial faktor risiko campak di Indonesia tahun 2022. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan analisis spasial berdasarkan data sekunder dari Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022 dan Badan Pusat Statistik. Unit analisis terdiri atas 34 provinsi di Indonesia. Variabel dependen adalah kejadian campak, sedangkan variabel independen meliputi cakupan imunisasi campak, cakupan vitamin A, cakupan ASI eksklusif, dan kepadatan penduduk. Analisis dilakukan menggunakan metode penilaian risiko untuk mengklasifikasikan tingkat risiko pada setiap provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan skor komposit, sebanyak 33 provinsi termasuk kategori risiko sedang dan satu provinsi termasuk kategori risiko rendah. Aceh merupakan provinsi dengan skor risiko tertinggi, ditandai oleh rendahnya cakupan imunisasi campak (52,9%), cakupan ASI eksklusif (49,4%), serta cakupan vitamin A yang belum optimal (89,2%). Sebaliknya, Nusa Tenggara Barat memiliki skor risiko terendah dengan cakupan imunisasi, vitamin A, dan ASI eksklusif yang lebih baik serta proporsi kejadian campak yang rendah. Pendekatan analisis spasial menggunakan penilaian risiko mampu mengidentifikasi variasi tingkat risiko campak antarprovinsi melalui integrasi beberapa indikator kesehatan. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam penentuan prioritas wilayah serta mendukung perencanaan program pengendalian campak dan penguatan imunisasi di Indonesia.
Pemetaan Risiko Campak di Indonesia Tahun 2022 Berdasarkan Skor Komposit Multi-Indikator: Pendekatan Sistem Informasi Geografis (GIS) Suharyo Adijoyo Nugroho; Martya Rahmaniati
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 23 No. 01 Juli 2026
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia meskipun program imunisasi telah dilaksanakan secara luas. Penurunan cakupan imunisasi selama pandemi COVID-19 meningkatkan risiko terjadinya immunity gap yang berpotensi memicu peningkatan kejadian campak. Penelitian ini bertujuan menyusun dan memetakan skor risiko komposit campak pada 34 provinsi di Indonesia tahun 2022 berdasarkan 4 indikator kesehatan menggunakan sistem informasi geografis (GIS). Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data sekunder dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2022 dan Badan Pusat Statistik. Variabel dependen adalah kejadian campak, sedangkan variabel independen meliputi cakupan imunisasi campak, cakupan vitamin A, cakupan ASI eksklusif, dan kepadatan penduduk. Setiap variabel diberi skor 1–3 berdasarkan ambang risiko yang telah ditetapkan, kemudian dijumlahkan menjadi skor komposit dan divisualisasikan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan skor komposit, 33 provinsi termasuk kategori risiko sedang dan 1 provinsi (Nusa Tenggara Barat) termasuk kategori risiko rendah; tidak terdapat provinsi yang berisiko tinggi. Aceh merupakan provinsi dengan skor risiko tertinggi (skor 12), ditandai oleh rendahnya cakupan imunisasi campak (52,9%), cakupan ASI eksklusif (49,4%), serta cakupan vitamin A yang belum optimal (89,2%). Sebaliknya, Nusa Tenggara Barat memiliki skor risiko terendah (skor 5) dengan capaian keempat indikator yang lebih baik. Sebagai analisis pelengkap, regresi linier berganda pada log-transformasi proporsi kejadian campak menunjukkan bahwa cakupan imunisasi campak berasosiasi negatif secara konsisten dan signifikan dengan kejadian campak (β=-6,39; p<0,001), sedangkan kepadatan penduduk menunjukkan asosiasi positif yang signifikan setelah dikontrol oleh variabel lain (β=0,39 pada skala log; p=0,009); cakupan ASI eksklusif dan vitamin A tidak menunjukkan asosiasi yang signifikan (model R² disesuaikan=0,35). Peta risiko komposit berbasis GIS ini berfungsi sebagai alat skrining cepat (rapid risk screening tool) untuk membantu penentuan prioritas wilayah intervensi campak, dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan analisis epidemiologi spasial formal. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar awal untuk menentukan prioritas wilayah serta mendukung perencanaan program pengendalian campak dan penguatan imunisasi di Indonesia.