Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

NATURAL DEAF EDUCATION FOR THE COMMUNITY Puguh Setyo Nugroho; Agustinus Agustinus; William William; Eko Budi Siswidiyanto; Nur Rohmah; Zakiyatul Faizah
Jurnal Layanan Masyarakat (Journal of Public Services) Vol. 6 No. 1 (2022): JURNAL LAYANAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jlm.v6i1.2022.69-76

Abstract

Congenital deafness will impact the quality of life of affected individuals if they do not obtain early detection and intervention. Socialization of congenital deafness is needed, thereby the community can engage in early detection and intervention efforts. Socializing about the early detection and intervention of congenital deafness. Educational activities are carried out with counseling using the lecture method, discussion, and pretest and posttest. The average pretest result was 62.03 (± 11.51) and the posttest average was 88.39 (± 13.41). Based on the comparison between the pretest and posttest results, we found a significant difference (p < 0.0001) statistically. Public knowledge of congenital deafness needs to be improved in order to increase community participation in terms of  early detection and intervention.
Post-orgasmic Illness Syndrome: A Closer Look William; Cennikon Pakpahan; Raditya Ibrahim
Indonesian Andrology and Biomedical Journal Vol. 1 No. 2 (2020): December
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.342 KB) | DOI: 10.20473/iabj.v1i2.34

Abstract

Background: Post-orgasmic illness syndrome (POIS) is a rare condition in which someone experiences flu-like symptoms, such as feverish, myalgia, fatigue, irritabilty and/or allergic manifestation after having an orgasm. POIS can occur either after intercourse or masturbation, starting seconds to hours after having an orgasm, and can be lasted to 2 - 7 days. The prevalence and incidence of POIS itself are not certainly known. Reviews: Waldinger and colleagues were the first to report cases of POIS and later in establishing the diagnosis, they proposed 5 preliminary diagnostic criteria, also known as Waldinger's Preliminary Diagnostic Criteria (WPDC). Symptoms can vary from somatic to psychological complaints. The mechanism underlying this disease are not clear. Immune modulated mechanism is one of the hypothesis that is widely believed to be the cause of this syndrome apart from opioid withdrawal and disordered cytokine or neuroendocrine responses. POIS treatment is also not standardized. Treatments includeintra lymphatic hyposensitization of autologous semen, non-steroid anti-inflamation drugs (NSAIDs), steroids such as Prednisone, antihistamines, benzodiazepines, hormones (hCG and Testosterone), alpha-blockers, and other adjuvant medications. Summary: This syndrome still needs more research to understand its mechanisms to obtainclearer treatment. Besides that, the clinician's awareness is needed to recognize this syndrome so that it is not misdiagnosed.
Kastrasi Kimia dalam Manajemen Kejahatan Seksual terhadap Anak: Tinjauan Medis William .
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 3 (2022): Saraf
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.1776

Abstract

Kejahatan seksual terhadap anak merupakan pelanggaran hukum serius dan kasusnya terus bertambah. Kadar testosteron yang tinggi diduga berkontribusi pada kasus kejahatan seksual; sehingga selain harus dipidana sesuai ketentuan yang berlaku, pelaku juga perlu ditatalaksana dari sisi medis. Salah satu alternatif terapi medis yang dapat dipertimbangkan adalah kastrasi kimia, yaitu supresi libido pelaku menggunakan agen kimia. Studi menunjukkan bahwa kastrasi kimia 80-90% efektif mencegah pelaku menjadi residivis. Meskipun penerapannya masih dilematis, kastrasi kimia dapat menjadi pilihan yang efektif apabila sesuai indikasi.
Identifikasi Perbedaan Ekspresi hsa-miR-331-3p di Plasma Darah Kelompok Usia Tua dan Muda: Peran dalam Mekanisme Penuaan Ana Lucia Ekowati; Daniel Ardian Soeselo; William William; Ignes Nathania
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 10, No. 1 - April 2022
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2355.57 KB) | DOI: 10.23886/ejki.10.139.26-32

Abstract

Jumlah populasi lanjut usia (lansia) di Indonesia terus meningkat dan menyebabkan kerentanan terhadap kondisi terkait penuaan. MicroRNA (miRNA) telah diketahui mengatur berbagai proses biologi di manusiatermasuk penuaan dan mungkin patogenesis penyakit terkait usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasidan menganalisis secara in silico hsa-miR-331-3p di plasma darah yang diduga berperan dalam penuaan danmungkin penyakit terkait usia tertentu. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode potong-lintang dan analitikmenggunakan pendekatan bioinformatika. Penelitian dilakukan pada Januari 2016 sampai Desember 2018 diLaboratorium Biomedis FK Unika Atma Jaya dan Laboratorium mirXES di Singapura. Plasma darah berasaldari dua pasang kakek-cucu laki-laki dengan usia kakek = 65 tahun dan usia cucu 17-25 tahun. Setelah RNAplasma darah diekstraksi dan dilakukan profiling menggunakan metode RT-qPCR, diperoleh daftar 50 miRNAyang diekspresikan secara berbeda bermakna dalam dua kelompok umur (tua dan muda) dengan nilai FoldChange (FC) antara 1,4 – 10,7. Berdasarkan daftar tersebut, dipilih hsa-miR-331-3p, kemudian dilakukan analisisin silico untuk memprediksi gen target dan jalur persinyalan biologisnya. Hasil studi ini adalah hsa-miR-331-3pyang upregulated pada orang tua diduga mentarget kuat gen ERBB2 dan NRP2 yang mungkin berperan dalammekanisme penuaan kronologis. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah hsa-miR-3313pturut berperan dalam mekanisme penuaan maupun patogenesis penyakit kanker.
Kastrasi Kimia dalam Manajemen Kejahatan Seksual terhadap Anak: Tinjauan Medis William
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 3 (2022): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.214

Abstract

Kejahatan seksual terhadap anak merupakan pelanggaran hukum serius dan kasusnya terus bertambah. Kadar testosteron yang tinggi diduga berkontribusi pada kasus kejahatan seksual; sehingga selain harus dipidana sesuai ketentuan yang berlaku, pelaku juga perlu ditatalaksana dari sisi medis. Salah satu alternatif terapi medis yang dapat dipertimbangkan adalah kastrasi kimia, yaitu supresi libido pelaku menggunakan agen kimia. Studi menunjukkan bahwa kastrasi kimia 80-90% efektif mencegah pelaku menjadi residivis. Meskipun penerapannya masih dilematis, kastrasi kimia dapat menjadi pilihan yang efektif apabila sesuai indikasi. Sexual assault against children is serious violation of law and cases continue to escalate. High testosterone levels are thought to contribute to the rise in crime rates. In line with the existing regulations, the perpetrators need to be treated from a medical perspective. An alternative medical therapy is chemical castration, using chemical agents to suppress libido. Studies show that chemical castration is 80-90% effective in preventing offenders from becoming recidivist. Although its application is still dilemmatic, chemical castration can be an effective option if properly indicated.
Intervensi Telemedicine Dalam Menekan Angka Mortalitas Akibat Respiratory Distress Syndrome Karmenia Jessica Kurnia Niaga; Eldy Eldy; Pedro Arruda Supinto; Rivan Yo; William William
Journals of Ners Community Vol 13 No 1 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangkaian evaluasi meliputi tangisan, pernafasan, dan detak jantung harus segera dilakukan untuk menentukan kondisi kritis dan kebutuhan bayi akan pertolongan keselamatan yang disebut sebagai resusitasi neonates. Karena itu, faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan resusitasi neonatus kembali dipertanyakan. Neonatus yang membutuhkan resusitasi atau perawatan lanjutan, terutama bayi dengan berat lahir sangat rendah atau bayi tidak cukup bulan, akan memiliki hasil yang lebih buruk ketika dilahirkan di fasilitas kesehatan dengan tingkat perawatan neonatal yang lebih rendah . Respiratory distress syndrome neonatus terjadi akibat kurangnya surfaktan, baik karena produksi surfaktan yang tidak memadai, atau inaktivasi surfaktan karena paru-paru neonatus yang belum matang. Pada studi ini, tenaga medis spesialis secara virtual akan mendampingi serta memandu proses resusitasi yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan primer di lokasi yang terpencil. Penerapan telemedicine dalam skala yang luas membutuhkan penyetaraan kompetensi dari tim resusitasi dan penggunaan teknologi tersebut sendiri. Hal ini sangat diperlukan pada rumah sakit di daerah pedesaan dikarenakan rendahnya kasus darurat neonatus sehingga resusitasi yang berisiko tinggi dan jarang dilakukan bisa diantisipasi dengan latihan bagi tenaga medis. Dokter yang telah menggunakan telemedicine juga mengatakan bahwa pertukaran informasi dengan tenaga medis lainnya mengenai denyut jantung, warna kulit, atau kerja nafas neonatus terjadi sangat lancar pada 93% kasus.
Intervensi Telemedicine Dalam Menekan Angka Mortalitas Akibat Respiratory Distress Syndrome Karmenia Jessica Kurnia Niaga; Eldy Eldy; Pedro Arruda Supinto; Rivan Yo; William William
Journals of Ners Community Vol 13 No 1 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i1.2574

Abstract

Serangkaian evaluasi meliputi tangisan, pernafasan, dan detak jantung harus segera dilakukan untuk menentukan kondisi kritis dan kebutuhan bayi akan pertolongan keselamatan yang disebut sebagai resusitasi neonates. Karena itu, faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan resusitasi neonatus kembali dipertanyakan. Neonatus yang membutuhkan resusitasi atau perawatan lanjutan, terutama bayi dengan berat lahir sangat rendah atau bayi tidak cukup bulan, akan memiliki hasil yang lebih buruk ketika dilahirkan di fasilitas kesehatan dengan tingkat perawatan neonatal yang lebih rendah . Respiratory distress syndrome neonatus terjadi akibat kurangnya surfaktan, baik karena produksi surfaktan yang tidak memadai, atau inaktivasi surfaktan karena paru-paru neonatus yang belum matang. Pada studi ini, tenaga medis spesialis secara virtual akan mendampingi serta memandu proses resusitasi yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan primer di lokasi yang terpencil. Penerapan telemedicine dalam skala yang luas membutuhkan penyetaraan kompetensi dari tim resusitasi dan penggunaan teknologi tersebut sendiri. Hal ini sangat diperlukan pada rumah sakit di daerah pedesaan dikarenakan rendahnya kasus darurat neonatus sehingga resusitasi yang berisiko tinggi dan jarang dilakukan bisa diantisipasi dengan latihan bagi tenaga medis. Dokter yang telah menggunakan telemedicine juga mengatakan bahwa pertukaran informasi dengan tenaga medis lainnya mengenai denyut jantung, warna kulit, atau kerja nafas neonatus terjadi sangat lancar pada 93% kasus .
A Case Report of Psychogenic Erectile Dysfunction with Ego Dystonic Sexual Disorientation: Is Still Relevant to Treat? Geraldo Laurus; Cennikon Pakpahan; William William; Raditya Ibrahim
Indonesian Andrology and Biomedical Journal Vol. 4 No. 1 (2023): June
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/iabj.v4i1.44619

Abstract

Background: Converting Ego-dystonic homosexual to heterosexual is still controversial. homosexuals are encouraged to be accepted and do not require conversion. Currently, many cases of homosexuals are required to accept their identity and do not require conversion. However, there are times when patients want to be heterosexual and experience sexual dysfunction because of this orientation. Then, how a medical professional deal with such a case especially in the era of ease of information and technology? Choose to demand that the patient accept their sexual orientation or help the patient to become heterosexual. Objective: Here we present the case of a man, 44 years old, with a psychogenic erection with ego-dystonic homosexual disorientation, along with a review of the literature related to the case. Method: A case report with literature review Case/Result: We report 44-year-old man who has been married for six years complains of difficulty and decreased erection for 5.5 years. This man had a history of sexual intercourse with men during college but decided to become a heterosexual man and married his current wife. For the first six months, the patient performed oral sex with his wife. Then afterwards, the patient has difficulty getting an erection and even fails. The patient feels guilty toward his wife until their relationship becomes a crisis. The patient wants to commit to being a heterosexual man. So, the patient came to the andrology clinic for therapy. We applied intersystemic assessment approach to the patient. There is progress in the patient’s condition until now. Conclusion: Many experts say that homosexuality should be accepted and should not be converted. But in the end, the choice is returned to the patient, whether to choose to convert or not. Physicians only need to support the patient's therapy and choices so that he does not experience any mental disorders that ultimately endanger his life. Keywords: , , , ,
Kastrasi Kimia dalam Manajemen Kejahatan Seksual terhadap Anak: Tinjauan Medis William
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 3 (2022): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.214

Abstract

Kejahatan seksual terhadap anak merupakan pelanggaran hukum serius dan kasusnya terus bertambah. Kadar testosteron yang tinggi diduga berkontribusi pada kasus kejahatan seksual; sehingga selain harus dipidana sesuai ketentuan yang berlaku, pelaku juga perlu ditatalaksana dari sisi medis. Salah satu alternatif terapi medis yang dapat dipertimbangkan adalah kastrasi kimia, yaitu supresi libido pelaku menggunakan agen kimia. Studi menunjukkan bahwa kastrasi kimia 80-90% efektif mencegah pelaku menjadi residivis. Meskipun penerapannya masih dilematis, kastrasi kimia dapat menjadi pilihan yang efektif apabila sesuai indikasi. Sexual assault against children is serious violation of law and cases continue to escalate. High testosterone levels are thought to contribute to the rise in crime rates. In line with the existing regulations, the perpetrators need to be treated from a medical perspective. An alternative medical therapy is chemical castration, using chemical agents to suppress libido. Studies show that chemical castration is 80-90% effective in preventing offenders from becoming recidivist. Although its application is still dilemmatic, chemical castration can be an effective option if properly indicated.