p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Pijar MIPA
Muhammad Syazali
Program Studi PGSD FKIP Universitas Mataram

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Ira Mardiana; Muhammad Syazali
Jurnal Pijar Mipa Vol. 15 No. 1 (2020): Januari
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram. Jurnal Pijar MIPA colaborates with Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.08 KB) | DOI: 10.29303/jpm.v15i1.1558

Abstract

Aktivitas dan hasil belajar ilmu pengetahuan alam (IPA) peserta didik SMPN 23 Mataram tergolong masih rendah. Proporsi peserta didik yang mendapat nilai diatas kriteria ketuntasan minimal (KKM)  adalah  42,86%,  dan sebanyak 57.14% peserta didik lainnya mendapatkan nilai di bawah KKM,  dengan  rata-rata  nilai  69. Salah satu penyebabnya adalah pembelajaran konvensional yang selama ini diimplementasikan kurang  mengeksplorasi wawasan, sikap, tidak menarik, membuat peserta didik  sering  mengalami  kesulitan  dalam memahami  konsep  karena  kurangnya keterlibatan  peserta didik  secara  aktif mencobakan  atau  meneliti  suatu rancangan  percobaan  dan  menarik kesimpulan dan apa yang telah dicobakan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar IPA peserta didik di SMPN 23 Mataram melalui implementasi model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) melalui 2 siklus. Peningkatan hasil belajar ditentukan berdasarkan adanya kenaikan pada rata-rata hasil belajar, pencapaian daya serap dan ketuntasan belajar. Kenaikan mengacu pada perbandingan antara nilai pada kondisi awal, siklus I dan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing dapat meingkatkan hasil belajar IPA peserta didik di SMPN 23 Mataram. Rata-rata hasil belajar meningkat dari 69 (kondisi awal), menjadi 73 (siklus I) dan 78 (siklus II). Peningkatan juga terjadi pada pencapaian daya serap dan ketuntasan belajar. Pencapaian daya serap meningkat dari 69.43% menjadi 73.33% dan 78.33%. Adapaun ketuntasan belajar mengalami peningkatan dari 42.86% menjadi 57.14% dan 85.71%.
Komunitas Amfibi Di TWA Kerandangan Pasca Musim Kemarau Muhammad Syazali; Andri Sahria; Ria Amelia; Lisa Alpina; Nadia Febriani
Jurnal Pijar Mipa Vol. 15 No. 4 (2020): September
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.88 KB) | DOI: 10.29303/jpm.v15i4.1911

Abstract

Amfibi merupakan herpetofauna yang berperan penting dalam aliran energi dan siklus biogeokimia di habitat perairan dan terestrial. Sebagai biota yang sangat tergantung pada habitat perairan, kemarau berpotensi untuk mempengaruhi komunitas amfibi. Fenomena tersebut dapat menjadi bencana lingkungan karena habitat perairan di TWA Kerandangan adalah sungai musim. Penelitian bertujuan untuk menganalisis komunitas amfibi di TWA Kerandangan. Analisis komunitas mencakup kelimpahan, indeks diversitas dan piramida umur. Pengumpulan data dilakukan pada malam hari diawal musim hujan dengan 5 kali ulangan. Metode yang digunakan adalah Nocturnal Cencus. Data dianalisis menggunakan kelimpahan relatif, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, indeks evennes, dan indeks dominansi. Piramida umur ditentukan berdasarkan jumlah amfibi muda (juvenile) dan dewasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies yang paling melimpah adalah Limnonectes kadarsani (Kr = 63.64%). Indeks keanekaragaman spesies rendah (H’ = 0.86), namun komunitas amfibi di TWA Kerandangan stabil karena memiliki indeks kemerataan yang tinggi (E = 0.78), dan indeks dominansi rendah (D < 0.05). Berdasarkan geometrinya, populasi Limnonectes kadarsani sedang mengalami pertumbuhan.
Profil Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Melalui Implementasi SPADA Unram Muhammad Syazali; Aisa Nikmah Rahmatih; Nursaptini Nursaptini
Jurnal Pijar Mipa Vol. 16 No. 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram. Jurnal Pijar MIPA colaborates with Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.466 KB) | DOI: 10.29303/jpm.v16i1.2290

Abstract

Pandemi Covid-19 menyebabkan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau daring. Di Universitas Mataram, pembelajaran secara daring terfasilitasi melalui SPADA Unram. Oleh karena implementasinya yang tergolong baru, maka perlu diketahui efeknya terhadap capaian tujuan pembelajaran yang menjadi kompetensi minimal dapat dikuasai oleh mahasiswa. Pada studi ini, kami mengkaji keterampilan proses sains mahasiswa. Penelitian dilakukan pada mahasiswa semester 5 yang memprogramkan matakuliah Ilmu Alamiah Dasar (IAD). Sampel berjumlah 35 mahasiswa yang ditentukan secara purposive. Data keterampilan proses sains mahasiswa dikumpulkan menggunakan instrumen tes yang sudah divalidasi ahli. Item berjumlah 6 soal subjektif yang disesuaikan dengan jumlah indikator keterampilan proses sains (KPS) dasar yaitu observing, classification, measuring, communicating, predicting, dan infering. Tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu melalui quiz 1 topik Pengantar IAD, dan quiz 2 topik Materi dan Energi. Analisis data keterampilan proses sains mahasiswa menggunakan statistik deskriptif dan inferensial dengan mengukur rata-rata (mean), persentase, dan uji komparasi. Kami menemukan bahwa rata-rata derajat penguasaan (DP) mahasiswa terhadap KPS dasar berada pada kategori sangat kurang. Proporsi mahasiswa dengan kategori baik dan cukup hanya 11.43% pada quiz pertama, dan pada quiz kedua hanya 2.86% kategori baik dan 8.57% kategori cukup. Hasil uji komparasi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan DP KPS dasar yang signifikan antara quiz 1 dan quiz 2. Kondisi ini mengindikasikan bahwa perlu adanya inovasi yang dapat memberikan pengalaman belajar lebih baik dan dapat meningkatkan KPS dasar mahasiswa.
Keanekaragaman dan Distribusi Formicidae di Hutan Wisata Sesaot, Lombok Barat NTB Moh. Liwa Ilhamdi; Muhammad Syazali
Jurnal Pijar Mipa Vol. 16 No. 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram. Jurnal Pijar MIPA colaborates with Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.841 KB) | DOI: 10.29303/jpm.v16i2.2468

Abstract

Hutan Wisata Sesaot merupakan kawasan wisata yang berbasis ekologi. Mempertahankan keberadaan sumberdaya hayati di kawasan perlu dilakukan supaya kegiatan wisata terjadi secara berkelanjutan. Salah satu sumberdaya hayati tersebut adalah formicidae. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis keanekaragaman dan distribusi spesies formicidae.  Data dikoleksi dari sampel yang diambil di 2 stasiun yaitu stasiun 1 berada di jalan masuk utama kawasan hutan wisata Sesaot dan stasiun 1 berada di sebelah utara stasiun 1. Pembatas antara stasiun 1 dan stasiun 2 adalah sungai yang di jadikan tempat pemandian untuk pariwisata. Analisis keanekaragaman menggunakan indeks Shanon-Wienner, dan distribusi spesies diukur menggunakan indeks Morisita. Hasil menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman pada stasiun1 (H’= 1,57) dan stasiun 2 (H’= 1,55). Sedangkan nilai indeks Morisita semua spesies > 1. Selama pengamatan berhasil dikoleksi 1493 spesimen dari 5 jenis formicidae yaitu Oecophylla smaragdina, Odontomachus bauri, Monomorium minimum, Melophorus bagoti, dan Formica rufa. Spesies yang paling banyak ditemukan adalah Melophorus bagoti. dan yang paling sedikit adalah Formica rufa. Kesimpulan penelitian ini Indeks keanekaragaman formicidae lebih tinggi pada stasiun 1 dibandingkan dengan stasiun 2. Semua spesies formicidae memiliki pola distribusi mengelompok.