Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

CHARACTER EDUCATION IN ONLINE LEARNING DURING THE COVID-19 PANDEMIC: indonesia Ruly Nadian Sari; Wiwin Windayanti; Maya Aulia
Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah AL-IBDA' Vol. 1 No. 02 (2021): Vo. 01 No. 02 Tahun 2021
Publisher : STIT Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54892/jpgmi.v1i02.168

Abstract

Abstract Strengthening character education plays an important role in shaping the character of students. A great nation is a nation that has a strong human resource character side by side with superior competence. Character education is a process of applying moral and religious values ​​to students through science, the application of these values ​​to oneself, family, fellow friends, educators and the surrounding environment as well as God Almighty. The presence of the media in the world of education, especially in the context of teaching effectiveness and efficiency is very much needed. The development of the social character of elementary school-aged children has increased, from initially only socializing with family at home, then gradually getting to know the people around them. Keywords: Character Education; Daring learning; Covid 19
Peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Membentuk Akhlakul Karimah Perspektif teori Al Ghazali Era Media Sosial Pada Siswa Kelas IV SDN 02 Panggungrejo Khoirotunnisa Khoirotunnisa; Salamun Salamun; Maya Aulia
Al-Khair Journal: Management Education Vol 5, No 1 (2025): JUNI
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/al-khair.v5i1.7206

Abstract

Abstract: The noble character among students has not been formed properly, indicated by the ongoing bullying among students, lying, instant behavior and lack of discipline. The purpose of this study is to describe and analyze the role of Islamic religious education (PAI) teachers in forming noble character from the perspective of Al Ghazali’s theory in the Social Media Era in grade students IV SDN 02 Panggungrejo Lampung. Using qualitative methods with a descriptive approach. Data were collected through interviews, questionnaires, documentation, and literature reviews, and analyzed using data reduction, data display, and verification techniques. The results of the study can be concluded that the role of Islamic religious education (PAI) teachers in forming noble morals from the perspective of Al Ghazali’s theory of social media is very diverse, it is known that students really like the story method (qishah). This method shows results of 54.15% of the opinions of 24 students. So the role of preachers is very relevant, with the use of this method, because preaching is currently trending in society. So it can be suggested that teachers are expected to have spiritual intelligence, to deal with the behavior of students in the social media era. Because the social media era has positive influences, such as increasing students’ creativity and insight, and negative influences, such as decreasing interest in learning and the formation of negative behavior in students at school.Keywords: The Role of Islamic Religious Education Teachers, Akhlakul Karimah, Al Ghazali’s Theory, Social Media Era. Abstrak: Akhlak karimah dikalangan siswa belum terbentuk secara baik, ditandai masih terjadi bulliying diantara siswa, perilaku bohong, instan dan tidak disiplin. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran guru pendidikan agama Islam (PAI) dalam membentuk akhlakul karimah perspektif teori Al Ghazali Era Media Sosial pada siswa kelas IV SDN 02 Panggungrejo Lampung. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, angket, dokumentasi, dan riview literature, serta dianalisis dengan tekhnik reduksi data, display data, dan verifikasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peran guru pendidikan agama Islam (PAI) dalam membentuk akhlak karimah perspektif teori Al Ghazali eram media sosial sangat beragam, diketahui siswa sangat menyukai metode cerita (qishah). Metode ini menunjukkan hasil sebesar 54,15% dari pendapat 24 siswa. Maka peran pendakwah sangat relevan, dengan penggunaan metode ini, karena dakwah saat ini sedang trend di kalangan masyarakat. Sehingga dapat disarankan guru diharapkan memiliki kecerdasan spiritual, untuk menghadapi tingkah laku siswa era media sosial. Karena era media sosial terdapat pengaruh posotif, seperti meningkatkan kreativitas dan wawasan siswa, dan pengaruh negative, seperti menurunnya minat belajar dan terbentuknya prilaku negatif pada siswa di sekolah.Kata kunci: Peran, Guru Pendidikan Agama Islam, Akhlakul Karimah,  Teori Al Ghazali, Era Media Sosial.
Sosialisasi Bahaya Pergaulan Bebas dan Pencegahan Anemia Melalui Peer Group Education di Karang Taruna Desa Bulokarto Iis Maisaroh; Muhtarom Muhtarom; Nurhadi Kusuma; Fuad Hasan; Ahmad Zainuri; Maya Aulia; Kukuh Maulana Al Fathan; Eri Purwanti; Wulan Octi Pratiwi
Jurnal Sinergi Bangsa Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Sinergi Bangsa
Publisher : Madiha Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pergaulan bebas dan anemia merupakan dua permasalahan kesehatan remaja yang saling berkaitan dan kerap diabaikan di lingkungan pedesaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja anggota Karang Taruna Desa Bulokarto, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, terkait bahaya pergaulan bebas dan upaya pencegahan anemia melalui pendekatan Peer Group Education. Metode yang digunakan adalah Asset-Based Community Development (ABCD), yang mengoptimalkan potensi lokal sebagai modal utama perubahan perilaku. Kegiatan dilaksanakan dalam format workshop satu hari yang diikuti oleh 50 remaja usia 15–22 tahun. Data dikumpulkan melalui instrumen pre-test dan post-test terstruktur serta lembar observasi partisipasi. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan rata-rata skor pengetahuan peserta: dari 47,8% (pre-test) menjadi 81,8% (post-test) untuk topik pergaulan bebas, dan dari 45,6% menjadi 80,7% untuk topik anemia. Sebanyak 88% peserta menyatakan kesiapan menjadi agen edukasi sebaya di lingkungan mereka. Pendekatan ABCD terbukti efektif dalam membangun kapasitas remaja desa sebagai pendidik sebaya, dengan memanfaatkan jaringan sosial Karang Taruna sebagai platform yang telah ada. Pengabdian ini berkontribusi pada penguatan literasi kesehatan remaja berbasis komunitas di wilayah pedesaan Pringsewu.