Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal Shanan

PERAN PENDIDIKAN PERDAMAIAN KAITANNYA DENGAN PAK DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) Djoys Anneke Rantung
Jurnal Shanan Vol. 1 No. 1 (2017): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.026 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v1i1.1466

Abstract

Masyarakat Ekonomi Asean sementara berlangsung di negara-negara Asean dengan berbagai bentuk kerjasama di berbagai bidang yang berfokus pada bidang ekonomi. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi setiap bangsa yang terlibat di dalamnya dan terutama bagi bangsa Indonesia. Peluang dan tantangan harus segera disikapi dan dihadapi. Jika tidak, akibatnya bisa merugikan dan bukan menguntungkan. Peningkatan kualitas pendidikan yang baik haruslah dimiliki oleh anak bangsa dalam menghadapi MEA sebagai kunci kesuksesan. Berbagai konflik dapat saja terjadi sebagai dampak dari Masyarakat Ekonomi Asean. Bilamana konflik tidak segera diatasi maka dampaknya akan menjadi semakin buruk dan konflik tersebut dapat berpeluang pada tindakan kekerasan. Pendidikan perdamaian haruslah menjadi agenda utama dalam kehidupan setiap orang, terutama mencegah dan mengatasi berbagai konflik sebagai dampak negatif dari MEA. Pendidikan perdamaian kaitannya dengan PAK, mengajarkan setiap orang untuk hidup dalam rasa aman, nyaman, bebas dari berbagai masalah atau dapat menangani berbagai konflik. Pentingnya pendidikan perdamaian terutama dalam menghadapi MEA ini, supaya semua pihak dapat menjalin hubungan dengan baik. Kata Kunci: Pendidikan, Pendidikan Perdamaian, Pendidikan Agama Kristen, Masyarakat Ekonomi Asean.
HUBUNGAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN PERAN PENDETA DENGAN PERTUMBUHAN ROHANI JEMAAT GSJA KALIMANTAN TENGAH Dirk Roy Kolibu; Djoys Anneke Rantung
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 1 (2019): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.007 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i1.1571

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelaksanaan pendidikan agama Kristen dan peran pendeta dengan pertumbuhan rohani jemaat GSJA Kalimantan Tengah menggunakan metode penelitian survei dengan pendekatan korelasional. Hasil survei dengan pendekatan korelasional tersebut akan dianalisis dengan menggunakan jalur (path analysis). Untuk melakukan analisis jalur, diperlukan persyaratan adanya hubungan linear yang signifikan antara setiap dua variabel. Sedangkan guna penyelesaian perhitungan koefisien jalur, terlebih dahulu harus dilakukan analisis korelasi dan regresi tiap dua variabel. Selanjutnya guna menghitung koefisien jalur digunakan koefisien korelasi product moment antara tiap dua variabel penelitian. Sedangkan persyaratan yangharus dipenuhi sebelum melakukan analisis kausal adalah adanya hubungan antara tiap dua variabel di dalam kausal tersebut adalah linear. Sampel penelitian ini berjumlah 86 jemaat GSJA Sinode Wilayah Palangkaraya dan Tamyanglayang Kalimantan Tengah yang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling yaitu, pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang adadalam populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Berdasarkan hasil uji pengaruh parsial (uji t), nilai signifikan variabel X1 (Pelaksanaan PAK ) terhadap Pertumbuhan Rohani remaja adalah sebesar 0,155 dengan koefisien regresi sebesar 0,176. Jika dilakukan melalui pengontrolan terhadap maka diperoleh hasil bahwa hubungan tersebut ternyata positif 0,019. (2) Berdasarkan hasil uji pengaruh parsial (uji t), nilai signifikan variabel X2 (Peran Pendeta) terhadap Pertumbuhan Rohani Jemaat adalah sebesar 0,007 dengan koefisien regresi bertanda positif sebesar 0,334. Jika hubungan Peran Pendetadengan Pertumbuhan Rohani dilakukan melalui pengontrolan terhadap Pelaksanaan PAK, maka diperoleh hasil bahwa hubungan tersebut ternyata positif 0,401. (3) Berdasarkan hasil uji pengaruh parsial (uji F), nilai signifikan adalah sebesar 0,022. Oleh karena nilai signifikan yang diperoleh > 0,05 dan koefisien regresi bertanda negatif.Kata kunci: Pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen, Peran Pendeta, dan Pertumbuhan Rohani.
DESAIN KURIKULUM PAK ANAK USIA 9-12 TAHUN DI SINODE GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN (GKPS) DENGAN MENGGUNAKAN TEORI WYCKOFF Yenni Septiani Purba; Djoys Anneke Rantung
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.081 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i2.1578

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan PAK Anak usia 9-12 tahun, bagaimana desain kurikulum PAK Anak di sinode GKPS selama ini, dan bagaimana mendesain kurikulum PAK Anak usia 9-12 tahun di sinode GKPS berdasarkan teori Wyckoff. Penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif melalui penelitian pustaka dan penelitian lapangan. Penelitian lapangan dilakukan dengan metode wawancara. Sampel ditetapkan menggunakan model sampel bertujuan (purposive sampling). Responden dalam penelitian ini berjumlah empat belas orang, yang terdiri dari delapan orang kepengurusan tingkat sinodal GKPS di Pematangsiantar dan enam orang kepengurusan yang berhubungan dengan Sekolah Minggu di jemaat GKPS Cengkareng, Jakarta. Data dari wawancara tersebut dianalisis dengan model deskripsi analisis.Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pemahaman GKPS tentang PAK Anak sudah memadai namun pelaksanaan PAK Anak di jemaat masih terbatas. Ditemukan data bahwa peraturan pembagian kelas Sekolah Minggu di GKPS belum konsisten. GKPS juga belum memiliki kurikulum PAK Anak. Bahan pengajaran yang ada hanya Buku Pedoman Pembelajaran Aku Gereja, yang sebenarnya bukan kurikulum. Ada beberapa faktor yang menyebabkan masalah ini: pertama, GKPS terbentur dengan bahan atau teks pengajaran Sekolah Minggu yang sudah ditetapkan oleh gereja-gereja anggota Sekretariat Bersama UEM. Kedua, belum ada ahli PAK Anak yang bertugas secara penuh dalam kepengurusan sinodal GKPS, dan faktor-faktor lainnya. Berdasarkan penelitian, kurikulum merupakan hal yang penting dan sangat dibutuhkan dalam PAK Anak. Menurut Wyckoff, kurikulum disusun berdasarkan kaitan antara beberapa unsur dasar, yaitu konteks, ruang lingkup, tujuan, dan proses. Berdasarkan teori Wyckoff tersebut, dalam penelitian ini, peneliti mendesain kurikulum PAK Anak usia 9-12 tahun di sinode GKPS.Kata kunci: Pendidikan Agama Kristen, anak, desain, kurikulum, teori Wyckoff
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN UNTUK KELUARGA MENURUT POLA ASUH KELUARGA ISHAK DALAM PERJANJIAN LAMA Djoys Anneke Rantung
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.338 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i2.1579

Abstract

Pola asuh dalam keluarga adalah tugas pendidikan agama Kristen yang dilakukan di dalam keluarga sebagai pembentukan karakter dan pertumbuhan iman terutama anak-anak. Alkitab memberikan gambaran yang jelas bagaimana pola asuh dari keluarga-keluarga baik menurut Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kehidupan keluarga Ishak dimulai dari Abraham dan Sarah sebagai orangtua Ishak, kemudian Esau dan Yakub sebagai anak-anak Ishak. Ada pola asuh yang baik dan ada pola asuh yang tidak baik dari keluarga ini. Sesuatu yang baik yang dilakukan akan memberi dampak yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, tetapi sesuatu yang buruk tentu saja sebaliknya dari yang baik. Keluarga berperan penting dalam pembinaan nilai-nilai, memberi dukungan afektif; berupa hubungan kehangatan, saling mengasihi, dan dikasihi, mempedulikan, dan dipedulikan, memberikan motivasi, dan saling menghargai. Penelitian ini dilakukan di Universitas Kristen Indonesia, dengan metode penelitian yang digunakan adalah library research. Untuk menjawab masalah dalam penelitian ini, peneliti meneliti teori-teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, bersumber dari buku, artikel nasional, dan internasional dalam bentuk prosiding dan jurnal, dokumen, dan sumber lainnya. Temuan penelitian ini adalah bahwa tujuan pola asuh keluarga yang sesuai dengan pendidikan agama Kristen adalah menghasilkan keluarga-keluarga yang berkarakter dengan nilai-nilai kasih dan kepedulian, memiliki motivasi, dan saling menghargai.Kata Kunci: Pendidikan Agama Kristen, Keluarga, Pola Asuh, Keluarga Ishak.
PERAN ORANGTUA SEBAGAI PENDIDIK DAN PEMBENTUK KARAKTER SPIRITUALITAS REMAJA Christa Siahaan; Djoys Anneke Rantung
Jurnal Shanan Vol. 3 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.825 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v3i2.1581

Abstract

Artikel ini berisi pembahasan tentang peran orangtua sebagai pendidik dan pembentuk karakter spiritualitas remaja dalam pandangan Alkitab dan secara psikologis. Pendidikan karakter spiritualitas remaja merupakan satu dari sekian banyak tujuan pembelajaran PAK. Guru yang berperan dalam pengajaran PAK tidak hanya yang ada dalam sekolah formal saja. Dalam sekolah informal ada guru yang paling dekat dengan naradidiknya bahkan tinggal dalam satu rumah yaitu orangtua. Sebagai guru PAK orangtua berperan dalam membentuk karakter spiritualitas remaja. Orangtua dikatakan sebagai guru pertama dan utama dalam mengajarkan firman Tuhan kepada remaja. Pengajaran yang diberikan hendaknya dapat membentuk suatu kepribadian yang khas dari remaja. Inilah yang disebut sebagai pembentukan karakter spiritualitas.Kata Kunci : Peran Orangtua, Pendidik, Karakter, Spiritualitas, Remaja
TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN YANG ANTISIPATIF DI ERA REVOLUSI INDUSRI 4.0 Djoys Anneke Rantung; Fredik Melkias Boiliu
Jurnal Shanan Vol. 4 No. 1 (2020): Maret
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.088 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v4i1.1770

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan untuk membahas tentang bagaimana manusia menciptakan, menggunakan dan mengembangkan teknologi sesuai iman Kristen.Teknologi sudah ada sejak saat manusia diciptakan. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei) Kejadian 1:27-28. Allah memerintahkan manusia untuk menciptakan bahtera dan Allah turut campur tangan menentukan dimensi ruang bahtera bahkan bahannya pun Allah yang menentukan. Keterlibatan Allah dalam menciptakan teknologi menunjukan bahwa teknologi diciptakan tujuannya digunakan untuk keselamatan manusia dan untuk kemuliaan Tuhan. Allah memperlengkapi manusia dengan akal budi sehingga lewat akal budi inilah manusia mengembangkan teknologi dengan cepat, sesuai perkembangan zaman dan peradaban. Manusia yang menciptakan teknologi seharusnya manusia pula yang mengusai teknologi namun faktanya teknologi yang menguasai manusia, manusia menjadi budak teknologi dan mentuhankan teknologi. Dalam penulisan ini, memasukan pendidikan agama Kristen sebagai upaya untuk mengantisipasi penggunaan teknologi menurut iman Kristen di era revolusi industri 4.0 melalui pengajaran pendidikan agama Kristen di lingkungan keluarga, gereja dan sekolah. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kajian literaurdan riset pustaka.Kata kunci: Teknologi, Iman, Pendidikan Agama Kristen