Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

ANALISIS SPEKTRAL MINERAL, PORTABLE INFRARED MINERAL ANALYZER (PIMA), PADA SUMUR UJI PEMBORAN BWS-H01, DESA SUMBERBOTO, KECAMATAN WONOTIRTO, BLITAR, JAWA TIMUR Rachmawati, Dwi; Widodo, Wahyu; Radityo, Daniel
Jurnal Inovasi Pertambangan dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2024): Jurnal Inovasi Pertambangan dan Lingkungan
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jipl.v4i1.40984

Abstract

Sumur Uji Pemboran BWS-H01 memiliki total of depth (TOD) 451 m dan Inklinasi 90o. Tujuan dari sumur uji ini untuk mengetahui penyebaran mineralisasi secara horizontal, setelah dilakukan pemetaan untuk mengetahui vertikal. Salah satu metode analisis spektral mineral adalah dengan menggunakan Portable Infrared Mineral Analyzer (PIMA) untuk mengetahui mineral-mineral halus yang tidak dapat dideskripsi oleh analisis petrografi. Analisis PIMA dilakukan pada 55 buah conto batuan dan 32 buah conto batuan. Analisis PIMA yang dilakukan saling melengkapi dengan analisis petrografi. Analisis PIMA memberikan hasil analisis mineral lempung pada 55 conto batuan yaitu mineral illite, monmorilonit, kuarsa, serisit, kalsit, palygorskit, phegit, dikit, nakrit, alunit, diaspor, dan epidote. Analisis petrografi dan PIMA menunjukan empat zona mineralisasi yaitu zona Serisit-Kalsit-Kuarsa (Zona Filik), zona Klorit-Kalsit-Epidot (Zona Propilitik), Zona Kaolinit-Dickite-Illite- Monmorilonit- Kuarsa (Zona Argilik), dan zona kuarsa skunder (Zona Silisifikasi). Berdasarkan mineralogi mineral ubahan, penyebaran secara vertikal menunjukan system mineralisasi epitermal sulfida rendah dengan sisa epitermal sulfida tinggi
ANALISIS INKLUSI FLUIDA UNTUK EKSPLORASI MINERAL DI SUMUR UJI PEMBORAN BWS-H01, DESA SUMBERBOTO, KECAMATAN WONOTIRTO, BLITAR, JAWA TIMUR Rachmawati, Dwi
Jurnal Inovasi Pertambangan dan Lingkungan Vol 3, No 2 (2023): Jurnal Inovasi Pertambangan dan Lingkungan
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jipl.v3i2.35505

Abstract

Daerah penelitian berada di Kabupaten Blitar, Jawa Timur,  Kecamatan Wonotirto, dengan koordinat 112o 08’41.71”BT-112o09’16.1”BT dan 8o14’52.94” LS-8o15’15.64”LS. Daerah penelitian merupakan bagian Zona Pegunungan Selatan Jawa Timur dan secara regional termasuk dalam Formasi Mandalika. Sumur BWS-H01 (TOD 451 m, inklinasi 90o) dan merupakan kelanjutan dari Sumur Uji yang dilakukan pada tahun 2004.Inklusi dikenal sebagai material berukuran mikro yang terdapat didalam suatu mineral, pada umumnya terdapat tiga fasa yaitu fasa padat, cair, maupun gas (Roedder, 1974; dalam Yuwono, 1994). Analisis inklusi fluida bertujuan untuk mengetahui temperatur dan salinitas pada saat pembentukan urat mineralisasi. Inklusi fluida dilakukan pada empat conto batuan pada kedalaman 257,1 m, 342 m, 401,1m dan 430,1 m . Hasil dari pengukuran keempat conto inklusi fluida menghasilkan Th (Temperatur homogenisasi) berkisar pada temperatur 100-219oC Tm (Temperatur leleh) berkisar pada temperatur -0,3 sampai -1oC, dan salinitas NaCl 0,5-1,7 %Wt NaCl. Berdasarkan kisaran temperatur 100oC-219oC, sistem hidrotermal pada sumur BWS-H01 termasuk dalam sistem epitermal.  Salinitas yang rendah menunjukkan fluida yang lebih berperan berupa air meteorik yang memiliki pH netral.
Mechanism Formation Carbon Dioxide Around Muriah Trough And Bawean Arc, North East Java Basin, Indonesia Rachmawati, Dwi; Irfree, Baharianto
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 10 No. 1 (2025): JGEET Vol 10 No 01 : March (2025)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2025.10.1.19121

Abstract

CO2 content in natural gas in Muriah Trough and Bawean Arc, North East Java Basin. Understanding the origin and distribution of carbon dioxide is important for the research of natural gas exploration risk. This research uses gas geochemistry to identify the origin of carbon dioxide formation around the Muriah Trough and Bawean Arc. The chemical composition of CO2 and δ13CCO2 was measured in 10 gas samples taken from 6 exploration wells around the Muriah Trough. The results of the analysis indicate the origin of the carbon dioxide and carbon dioxide mechanism around Muriah Trough and Baswean Arc derived from organic and inorganic processes. The process of forming the carbon dioxide mechanism around the Muriah Trough and Bawean Arc is dominated by inorganic processes, presumably derived from the mantle degassing process. The mantle Deggasing process was related to volcanism Muriah and Bawean the Late Miocene-Pliocene.
Pembaruan Media Pembelajaran Geografi Memanfaatkan Aplikasi Berbasis Web Google My Maps Caesario, Dipo; Susetyo, Bigharta Bekti; Wijanarko, Tiok; Rachmawati, Dwi
Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 25, No 2 (2025): Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/sb.06140

Abstract

Pemanfaatan teknologi berbasis web dalam pemetaan geomorfologi sangat penting karena memudahkan penyebaran informasi secara cepat dan luas. Platform pemetaan web gratis memberikan akses mudah bagi individu untuk mendapatkan data geomorfologi, baik langsung maupun tidak langsung. Keberadaan platform ini memungkinkan analisis spasial yang efisien, menjadikannya alat yang berharga bagi siswa dan masyarakat umum. Dalam dunia pendidikan, teknologi ini dapat diintegrasikan dalam kurikulum, membantu siswa memahami konsep-konsep geomorfologi secara aplikatif dan interaktif. Selain itu, teknologi ini memungkinkan pengembangan materi ajar yang lebih menarik dan sesuai kebutuhan siswa. Dengan demikian, guru dapat meningkatkan kualitas pengajaran mereka, sementara siswa memperoleh pengetahuan lebih dalam mengenai geomorfologi dan ilmu kebumian. Penggunaan teknologi berbasis web ini tidak hanya bermanfaat dalam pendidikan, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih maju. Integrasi teknologi web dalam pemetaan geomorfologi sangat penting, baik untuk pendidikan maupun pengembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan.
Geologi Daerah Cipongkor Dan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat Sofyan, Sony; Rachmawati, Dwi; Radityo, Daniel; Sahmura, Yemina
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v11i2.13624

Abstract

Wilayah Sindangkerta dan Cipongkor, dua kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang kaya akan potensi alam, merupakan wilayah yang menarik untuk dipetakan, terletak pada koordinat 6°57'00" sampai dengan 7°00'00" Lintang Selatan dan 107°21'50" sampai dengan 107°24'25" Bujur Timur dengan luas wilayah kurang lebih ±5 km x 5 km. Letak geografisnya yang strategis, dengan perbukitan, sungai, dan lahan pertanian yang subur, menjadikan wilayah ini memiliki karakteristik unik yang perlu dipetakan secara detail. Melalui pemetaan, dapat diketahui potensi sumber daya alam, kawasan lindung, dan kendala yang dihadapi wilayah tersebut, seperti lereng yang terjal atau rawan erosi. Daerah penelitian termasuk dalam Mandala Sedimentasi Cekungan Bogor dan memiliki struktur dengan Pola Meratus dan Pola Sumatera. Satuan Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi 3 satuan yaitu Dataran Aluvial, Perbukitan Lipatan dan Perbukitan Aliran Lava. Satuan Litologi terdiri dari 5 satuan dimulai dari Satuan Batugamping tertua termasuk dalam Formasi Cilanang berumur Miosen Awal yang diendapkan pada zona peralihan air laut dan daratan, Satuan Batupasir termasuk dalam Formasi Cilanang berumur Miosen Tengah yang diendapkan pada lingkungan laut, Satuan Breksi berumur Miosen Akhir, Satuan Andesit berumur Pliosen, dan Satuan Aluvium berumur Plistosen - Resen. Struktur Geologi yang berkembang pada daerah penelitian teridentifikasi berupa sesar naik dan antiklin. Hasil pengamatan peta DEM, diperoleh informasi bahwa daerah penelitian terdiri dari bentang alam perbukitan terlipat, lembah, dan dataran dengan elevasi antara 600 - 900 mdpl, arah kelurusan antara 0° - 350°, dan gradien lereng antara 0% - 40%.
Karakteristik Geologi Daerah Pamarican dan Sekitarnya, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat Rachmawati, Dwi; Fa’iq Maahir, Muhammad Daffa
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.896

Abstract

Daerah Penelitian secara administratif terletak pada daerah Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Posisi Geografis berada pada 7°27’16” - 7°29’29” LS dan 108°31’0” - 108°33’43” BT dengan luas daerah 5x5 km. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menyajikan data geologi daerah penelitian dengan hasil dari pemetaan geologi daerah penelitian dalam peta 1: 12.500. Berdasarkan analisis geologi, daerah penelitian dibagi menjadi 3 (tiga) satuan batuan dengan urutan yang paling tua hingga paling muda yaitu satuan breksi vulkanik berumur Oligosen Awal – Miosen Awal (Formasi Jampang) diendapkan pada lingkungan darat, kemudian diendapkan secara tidak selaras diatasnya terendapkan satuan napal (Formasi Halang) berumur Miosen Akhir diendapkan dilaut, dan selanjutnya secara tidak selaras terendapkan satuan batupasir berumur Pliosen Tengah-Akhir (Formasi Tapak) diendapkan dilingkungan darat berasal dari proses erosi. Di daerah penelitian terdapat 1 (satu) Struktur yaitu Strukutr Lipatan Antiklin Sukahutip.  
Sukuk Ijarah sebagai Instrumen Pembiayaan Syariah: Peluang, Tantangan, dan Kepatuhan Syariah Rachmawati, Dwi
Qawanin: Jurnal of Economic Syaria Law Vol 9 No 2 (2025): December
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/qaw.v9i2.720

Abstract

Sukuk ijarah is one of the Islamic financial instruments based on lease contracts (ijarah) on the benefits of assets. This instrument serves as a significant alternative source of financing in supporting infrastructure development and national economic growth, particularly in Indonesia, which has the largest Muslim population in the world. This study aims to examine the opportunities offered by sukuk ijarah as a sharia compliant financing instrument, identify the challenges in its implementation in Indonesia, and analyze how sharia compliance principles are applied in the issuance of sukuk ijarah. This research employs a qualitative approach using the library research method. The analysis is conducted descriptively and analytically by examining academic and regulatory substance related to these issues. The findings indicate that sukuk ijarah has promising prospects as a sharia investment instrument due to its fixed returns, asset-backed structure, and relatively stable design. To optimize its role, regulatory strengthening, enhanced inter-institutional synergy, and consistent public education are required to ensure the sustainability and integrity of the national Islamic financial market. Sukuk ijarah merupakan salah satu instrumen keuangan syariah yang berbasis akad sewa atas manfaat aset. Instrumen ini menjadi alternatif pembiayaan yang signifikan dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan perekonomian nasional, khususnya di Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peluang yang ditawarkan oleh sukuk ijarah sebagai instrumen pembiayaan syariah, mengidentifikasi tantangan dalam penerapannya di Indonesia, serta menganalisis bagaimana prinsip kepatuhan syariah diterapkan dalam penerbitan sukuk ijarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menelaah substansi akademik dan regulatif terkait isu-isu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sukuk ijarah memiliki prospek menjanjikan sebagai instrumen investasi syariah karena menawarkan imbal hasil tetap, berbasis aset nyata, dan memiliki struktur yang relatif stabil. Untuk mengoptimalkan perannya, diperlukan penguatan regulasi, peningkatan sinergi antar lembaga, serta edukasi publik yang konsisten untuk menjamin keberlanjutan dan integritas pasar keuangan syariah nasional.
Fatwa, Default, and Legal Certainty: A Study of Normative-Practical Gaps in the Resolution of Non-Performing Loans in Sharia Microfinance Institutions Wahyuni; Salma Naqiyya Firaasya; Dwi Rachmawati; Hurin In Nurul Firdausi
Istinbath : Jurnal Hukum Vol 22 No 02 (2025): Istinbath: Jurnal Hukum
Publisher : Faculty of Sharia, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro, Lampung, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/istinbath.v22i02.art07

Abstract

This study aims to analyze the forms of default in Islamic financing, particularly murābaḥah transactions (mutually beneficial transactions) at Baitul Māl wa Tamwīl (BMT) Adzkiya Khidmatul Ummah (AKU) in Metro City, and to examine the normative-practical gap between the settlement mechanisms applied and the provisions stipulated in the DSN-MUI fatwa. This study adopts a qualitative approach, collecting data through interviews, document analysis, and direct observation of murābaḥah financing procedures and default handling. The study’s results show significant differences between the provisions of the DSN-MUI fatwa and the operational practices of BMT. First, late fees are imposed uniformly on all problematic customers, including those who are unable to pay, while DSN-MUI Fatwa No. 47/2005 limits fines only to debtors who are able but negligent (mumāthil). Second, the allocation of penalty funds has not been disclosed transparently, contrary to the provisions of DSN-MUI Fatwa No. 04/2000, which requires clarity on fund usage. Third, there is no classification of debtor ability before sanctions are imposed. Fourth, restructuring, which is recommended as the first step in Sharia-based settlements, is only carried out after three late payments, making penalties the primary response. This study contributes empirically by presenting comprehensive evidence of normative-practical inconsistencies in sharia financing and legal certainty, and conceptually emphasizes the importance of compliance governance in achieving fairness, transparency, and compliance with sharia principles. [Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk wanprestasi dalam pembiyaan syariah khususnya transaski murābaḥah (transaksi saling menguntungkan) pada Baitul Māl wa Tamwīl (BMT) Adzkiya Khidmatul Ummah (AKU) Kota Metro serta mengkaji kesenjangan normatif–praktis antara mekanisme penyelesaian yang diterapkan dengan ketentuan yang diatur dalam fatwa DSN-MUI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, analisis dokumen, dan observasi langsung terhadap prosedur pembiayaan murābaḥah dan penanganan wanprestasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara ketentuan fatwa DSN-MUI dan praktik operasional BMT. Pertama, denda keterlambatan dikenakan secara seragam kepada seluruh nasabah bermasalah, termasuk yang tidak mampu membayar, sementara Fatwa DSN-MUI No. 47/2005 membatasi denda hanya untuk debitur mampu tetapi lalai (mumāthil). Kedua, alokasi dana denda belum disampaikan secara transparan, bertentangan dengan ketentuan Fatwa DSN-MUI No. 04/2000 yang mewajibkan kejelasan penggunaan dana. Ketiga, tidak terdapat klasifikasi kemampuan debitur sebelum penetapan sanksi. Keempat, restrukturisasi yang direkomendasikan sebagai langkah awal penyelesaian berbasis syari’ah baru dilakukan setelah tiga kali keterlambatan sehingga denda menjadi respons utama. Penelitian ini berkontribusi secara empiris dengan memaparkan bukti komprehensif mengenai ketidaksesuaian normatif–praktis dalam pembiyaan syariah dan kepastian hukum, serta secara konseptual menegaskan pentingnya tata kelola kepatuhan untuk mewujudkan keadilan, transparansi, dan kesesuaian prinsip syariah].