Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

The Effect of Quantitative Job Demands on Psychological Well-Being of Neuroscience Nurse: Social Support as Moderator Rahmi Khrisna Rasasti Dewi; Tulus Budi Sulistyo Radikun
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 3 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i3.15883

Abstract

Nurses in a hospital need to provide the best possible service to patients. To provide the best service, nurses need to maintain their psychological well-being in prime condition. However, heavy work demands cause high levels of stress and burnout which can reduce the psychological well-being of nurses. Therefore, it is necessary to ensure that the psychological well-being of nurses is maintained so that they can serve patients as well as possible by providing social support to nurses in carrying out their work. This research aims to determine how much the role of quantitative work demands can interfere with the psychological well-being of nurses at Hospital. This research is a correlational study using survey methods for data collection. The sampling for this research was carried out using a convenience sampling technique, with a total sample of 102 nurses. Data analysis used multiple regression techniques using JAMOVI software version 2. The results of the study showed a significant negative relationship between quantitative job demands and psychological well-being (r = -0.28, p < 0.05). A significant positive relationship between social support and psychological well-being (r = 0.20, p 0.05. While social support did not moderate the relationship between quantitative job demands and psychological well-being b = 0.01, p > 0.05 Thus, it can be concluded that quantitative work demands need to be ensured not to be too high beyond the limits of nurses' abilities so that nurses' psychological well-being is maintained.Perawat di suatu rumah sakit perlu memberi pelayanan sebaik-baiknya kepada pasien. Agar dapat memberi pelayanan terbaik, perawat perlu menjaga kondisi kesejahteraan psikologisnya dalam kondisi prima. Namun Tuntutan kerja yang berat beresiko menimbulkan tingkat stress dan burnout yang tinggi yang dapat menurunkan kesejahteraan psikologis pada perawat. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar kesejahteraan psikologis perawat tetap terjaga agar dapat melayani pasien dengan sebaik-baiknya dengan cara memberikan dukungan sosial kepada perawat dalam melaksanakan pekerjaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peran tuntutan kerja kuantitaif dapat mengganggu kesejahteraan psikologis pada perawat di Rumah Sakit X dan peran dukungan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis atau menghambat efek negatif dari tuntutan kerja kuantitatif terhadap kesejahteraan psikologis perawat. Penelitian ini merupakan studi korelasional menggunakan metode survei untuk pengumpulan datanya. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan teknik convenient sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 102 perawat. Analisis data menggunakan teknik regresi berganda menggunakan perangkat lunak JAMOVI versi 2. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara tuntutan kerja kuantitatif dan kesejahteraan psikologis (r = -0,28, p < 0.05). Hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis (r = 0,20, p 0.05. Sedangkan dukungan sosial tidak memoderatori hubungan antara tuntuan kerja kuantitatif dan kesejahteraan psikologis b = 0,01, p > 0.05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tuntutan kerja kuantitatif perlu diupayakan tidak terlalu tinggi di luar batas kemampuan perawat agar kesejahteraan psikologis perawat tetap terjaga.
Bagaimana Peran Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Resiliensi Terhadap Burnout yang Diakibatkan Tuntutan Kerja Kuantitatif Sarah Marua; Tulus Budi Sulistyo Radikun
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 3 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v11i3.8240

Abstract

Along with the increasing workload of employees, the higher the risk that employees will experience job stress and eventually become burnout. Job demands that are too high can cause burnout in employees. Therefore, high job demands need to be balanced with the availability of work resources that can help employees carry out their work well to reduce job stress, ultimately preventing burnout in employees. This study aims to determine whether job resources in the form of transformational leadership styles and personal resources in the form of resilience could buffer the negative effects of quantitative job demands so that employees could avoid burnout. This research is survey research by distributing online questionnaires through social media. With a convenient sampling technique, 131 participants were obtained as employees working in Serang, Banten Province. The results of moderated regression analysis using the Macro Process Hayes model 1 in the SPSS program showed that neither transformational leadership styles nor resilience could reduce the harmful effects of quantitative work demands to prevent employee burnout. Therefore, to avoid burnout in employees, quantitative job demands must be maintained or limited so that they are not too high beyond the employee's capacity. Seiring dengan meningkatnya beban kerja karyawan, semakin tinggi resiko karyawan akan mengalami stres pekerjaan yang akhirnya menjadi burnout. Tuntutan kerja yang terlalu tinggi dapat menimbulkan burnout pada karyawan. Oleh karena itu, tuntutan kerja yang tinggi  perlu diimbangi dengan tersedianya sumberdaya kerja yang dapat membantu karyawan melaksanakan pekerjaannya dengan baik sehingga dapat mengurangi stres pekerjaan yang akhirnya dapat mencegah timbulnya burnout pada karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sumberdaya kerja berupa gaya kepemimpinan transformasional dan sumberdaya pribadi berupa resiliensi dapat menjadi buffer efek negatif dari tuntutan kerja kuantitatif sehingga karyawan terhindar dari burnout. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan menyebarkan kuesioner secara daring melalui media sosial. Dengan teknik convenient sampling diperoleh partisipan sebanyak 131 orang yang bekerja di Serang, Provinsi Banten. Dengan analisis regresi moderasi menggunakan Macro Process Hayes model 1 dalam program SPSS, hasil analisis menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional maupun resiliensi tidak dapat mengurangi efek negatif dari tuntutan kerja kuantitatif untuk mencegah timbulnya burnout pada karyawan. Implikasi studi ini adalah untuk mencegah timbulnya burnout pada karyawan, maka tuntutan kerja kuantitatif perlu dijaga atau dibatasi agar tidak terlalu tinggi melebihi kapasitas karyawan sehingga karyawan tidak menjadi terlalu stres dalam bekerja yang pada akhirnya burnout dapat dicegah.
Teacher Engagement: Confirmatory Factor Analysis (CFA) in Measuring Preschool Teacher Engagement Behaviorally, Emotionally and Cognitively Indriani Rusydi; Tulus Budi Sulistyo Radikun
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 3 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i3.15508

Abstract

Currently, student engagement is still a hot topic of discussion.   Previous studies show that students who are involved in the learning process tend to achieve better results. Student engagement in learning cannot be separated from the teacher's involvement in teaching.   This study aims to test the construct validity of the preschool teacher engagement measuring tool in terms of behavior, emotions and cognition developed by Pedler et al. (2020) Participants in this research were early childhood teachers with at least 1 year of teaching experience and numbered around 230 people. The measurement method uses self-report with 4 Likert scales. The total number of question items in this questionnaire is 23.   The data were analyzed using confirmatory factor analysis techniques with STATA version 13 software. Through the confirmatory factor analysis procedure, a Teacher Involvement Scale was obtained that matched the model, namely the Teacher Involvement Scale is a tool for measuring teacher involvement which consists of 3 factors, namely behavioral, emotive and cognitive factors. Apart from that, a shorter number of items was obtained, namely 12 items which also had good internal reliability, overall and for each factor or dimension. Thus, the Teacher Involvement Scale can be used to measure teacher involvement in teaching students in the classroom.Saat ini keterlibatan siswa masih merupakan topik yang hangat diperbincangkan.  Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran cenderung mencapai hasil yang lebih baik. Keterlibatan siswa dalam belajar tidak terlepas dari keterlibatan gurunya dalam mengajar.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas konstruk alat ukur keterlibatan guru prasekolah dari segi perilaku, emosi, dan kognitif  yang dikembangkan oleh Pedler et al. (2020) Partisipan dari penelitian ini adalah guru anak usia dini dengan pengalaman mengajar minimal 1 tahun dan berjumlah sekitar 230 orang. Metode pengukuran menggunakan self-report dengan 4 skala Likert. Total aitem pertanyaan dalam kuisioner ini berjumlah 23 buah.  Data dianalisis menggunakan teknik analisis faktor konfirmatori dengan software STATA versi 13.  Melalui prosedur analisis faktor konfirmatori didapatkan Skala Keterlibatan Guru yang cocok dengan modelnya, yaitu Skala Keterlibatan Guru merupakan alat ukur keterlibatan guru yang terdiri dari 3 faktor, yaitu faktor perilaku, emotif dan kognitif. Selain itu, diperoleh jumlah aitem yang lebih singkat, yaitu berjumlah 12 item yang juga memiliki reliabilitas internal yang baik, secara keseluruhan maupun tiap faktor atau dimensinya. Dengan demikian Skala Keterlibatan Guru dapat digunakan untuk mengukur Keterlibatan Guru dalam mengajar siswa di kelas.