Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENAMBAHAN PERASAN JERUK NIPIS DAN JAHE SERTA KOMBINASINYA TERHADAP KUALITAS KIMIA SE’I DAGING KAMBING (The Addition of Lime, Ginger juice and their Combination on the Chemical Quality of Se’i Goat) Irene Mbowa; Bastari Sabtu; Gemini E.M Malelak; Hendrikus Umbu Padu
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 10 No 1 (2023): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v10i1.9705

Abstract

Meat is a food product that is easily spoiled if it is not processed/preserved immediately after being harvested. One way to process meat is by smoking it. The purpose of this study was to know the chemical quality of goat se’i using lime juice, ginger juice and a combination of lime and ginger juice. A Completely Randomized Design (CRD) 4×4, were allotted in this experiment. The four treatments were P₀ = Control, P₁ = Addition of 15% ginger juice, P₂ = Addition of 3% lime juice, P₃ = Addition of 15% ginger juice + 3% lime juice. The results of this study stated that ttreatments were significant difference (P<0.05) on antioxidant activity and the best was in a combination of 3% lime + 15% ginger (P3). The treatments were not significant difference (P>0.05) on fat content, protein content, fat oxidation (TBA) . It was concluded that taddition of 3% lime juice or 15% ginger and their combination in se’i goat increased the antioxidant activityand the best is in 3% lime + 15% ginger (P3).
Pengaruh Penggunaan Tepung Beras Merah Terhadap Kualitas Kimia Sosis Darah Tradisional (Budik): The Effect of Adding Red Rice Flour on the Chemical Quality of Traditional Blood Sausage (Budik) Yustin Kantur; Bastari Sabtu; Heri Armadianto
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 5 No. 4 (2023): Desember
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study, among others, was to determine the addition of red rice flour and sausage ingredients (meat from the head, liver, heart, lungs) on the chemical quality of budik (traditional blood sausage). This study used a completely randomized design (CRD) with four treatments and four replications. Combination treatment of  P0: without red rice flour + sausage ingredients, P1: 2% red rice flour + sausage ingredients, P2: 4% red rice flour + sausage ingredients, P3: 6% red rice flour + sausage ingredients. The data obtained to ascertain differences between treatments, Duncan's test was used after the Analysis Of Variance. The results showed a significant effect (P<0.05) of the addition of brown rice flour on the fat content of the seed and no significant effect (P>0.05) on the content of Protein, Water and Crude Fiber. It was concluded that the addition of brown rice flour affected the fat content of the traditional blood sausage. The lowest fat content was found in the addition of 6% red rice flour, while the levels of protein, water and crude fiber were relatively the same. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penambahan tepung beras merah dan bahan sosis (daging dari bagian kepala, hati, jantung, paru-paru) terhadap kualitas kimia budik (sosis darah tradisional). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan 4 empat ulangan. Perlakuan kombinasi dari P0: tanpa tepung beras merah + bahan sosis, P1: tepung beras merah 2% + bahan sosis, P2: tepung beras merah 4 % + bahan sosis, P3: tepung beras merah 6% + bahan sosis. Data yang diperoleh untuk memastikan perbedaan antara perlakuan, ujin Duncan digunakan setelah Analysis Of Variance. Hasilnya menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) dari penambahan tepung beras merah terhadap kadar lemak budik serta berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar Protein, Air, Serat Kasar budik. Disimpulkan bahwa penambahan tepung beras merah mempengaruhi kadar lemak budik atau sosis darah tradisional. Kadar lemak paling rendah terdapat pada penambahan 6% tepung beras merah, Sedangkan kadar protein, air dan serat kasar relatif sama.                                                                      
Kualitas Fisik dan Organoleptik Se’i Kambing Menggunakan Jus Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia) dan Jahe (Zingiber officinale): Physical and Organoleptic Quality of Se'i Goat Using Lime (Citrus aurantiifolia) and Ginger (Zingiber officinale) Juice Maria Iwanti Eno; Gemini Ermiani Mercurina Malelak; Bastari Sabtu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to determine the effect of curing using different types of ginger juiceand lime juice on the physical and organoleptic qualities of goats. The ingredients used includefresh goat meat, ginger, lime juice, and additional ingredients, namely table salt and saltpeter. Theexperiment used a completely randomized design with 4 treatments and 4 replications. namely P0:Without adding lime and ginger (control), P1: Adding 15% ginger juice, P2: Adding 3% lime juiceand P3: Adding 15% ginger + 3% lime solution. The variables measured were organoleptic,cholesterol, yield and Total Plate Count. The results of the research showed that the treatment hada very significant effect (P<0.01) on aroma, color, taste and tenderness, and had no effect (P>0.05)on cholesterol, Total Plate Count and yield of se'i goat meat. It was concluded that the lime juiceand ginger used could improve the aroma, taste, color and tenderness of se'i goat meat but notcholesterol. Tujuan dari dilakukannya riset ini adalah untuk mengetahui efek pemeraman yang menggunakanjus jahe dan jus jeruk nipis yang berbeda pada kualitas fisik, organoleptik se’i kambing. Bahanyang digunakan antara lain Daging kambing segar, Jahe, jus jeruk nipis, dan bahan tambahan yaitugaram dapur dan saltpeter. Eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuandan 4 ulangan. yakni P0: Tanpa penambahan jeruk nipis dan jahe (kontrol), P1: Penambahanjusjahe 15%, P2: Penambahan jus jeruk nipis 3% dan P3: Penambahan dengan larutan jahe 15% +jeruk nipis 3%. Variabel yang diukur yaitu organoleptik, kolesterol, rendemen dan Total PlateCount. Hasil penelitian, perlakuan berpengaruh sangat signifikan (P<0,01) pada aroma, warna,rasa dan keempukan, tidak berpengaruh (P>0,05) pada kolesterol, Total Plate Count dan rendemendaging se’i kambing. Disimpulkan, bahwa jus jeruk nipis dan jahe yang digunakan dapatmeningkatkan aroma, rasa, warna dan keempukan daging se’i kambing tetapi tidak terhadapkolesterol  
Karakteristik Bakso Daging Sapi yang Diberi Substitusi Tepung Sorghum Merah (Sorghum bicolor L. Moench): Characteristic of Beef Meatballs Subtituted with Red Sorghum Flour (Sorghum bicolor L. Moench) Wesly Thersia Lusi; Bastari Sabtu; Gemini E. M. Malelak
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 6 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study on beef meatballs using red sorghum flour (Sorghum bicolor L. Moench), as a substitute for tapiocaflour, aims to determine the physicochemical properties of beef meatballs. The research used a CompletelyRandomized Design (CRD) with four treatments and four replications. The treatments are: TS0: consists of 0%red sorghum flour and 100% tapioca flour; TS10: consists of 10% red sorghum flour and 90% tapioca flour;TS30: consists of 30% red sorghum flour and 70% tapioca flour; and TS50: consists of 50% red sorghum flourand 50% tapioca flour. The results showed that replacing red sorghum flour had a very significant effect(P<0.01) on amylose content, amylopectin content, water content, protein content, elasticity and taste, but hadno significant effect (P>0.05) on beef meatball color. The amylopectin content, water content, and flexibility ofthe meatballs increased in proportion to the amount of wheat flour substituted for red sorghum flour.Meanwhile, amylose and protein levels are at their maximum point at 30% replacement. Thus it can beconcluded that the replacement of 30% red sorghum flour causes an increase in all parameters examined, exceptcolor Suatu penelitian pada bakso sapi yang menggunakan tepung sorgum merah (Sorghum bicolor L. Moench),sebagai substitusi tepung tapioca bertujuan untuk mengetahui sifat fisiko kimia bakso sapi tersebut. Penelitianini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuandimaksud adalah: TS0: terdiri dari 0% tepung sorgum merah dan 100% tepung tapioka; TS10: terdiri dari 10%tepung sorgum merah dan 90% tepung tapioka; TS30: terdiri dari 30% tepung sorgum merah dan 70% tepungtapioka; dan TS50: terdiri dari 50% tepung sorgum merah dan 50% tepung tapioka. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa penggantian tepung sorgum merah memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01)terhadap kadar amilosa, kadar amilopektin, kadar air, kadar protein, kekenyalan, dan rasa, namun berpengaruhtidak nyata (P>0,05) pada warna bakso sapi. Kandungan amilopektin, kadar air, dan kelenturan bakso meningkatsebanding dengan banyaknya tepung terigu yang disubstitusi tepung sorgum merah. Sementara itu, kadaramilosa dan protein berada pada titik maksimum pada penggantian 30%. Dengan demikian dapat disimpulkanbahwa penggantian 30% tepung sorgum merah menyebabkan peningkatan pada semua parameter yangdiperiksa, kecuali warna.  
PEMBERDAYAAN PEMUDA MELALUI PELATIHAN PENGOLAHAN KERUPUK KULIT DOMBA DI ROTE NDAO Heri Armadianto; Bastari Sabtu; Dewi Elfrida Sihombing
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 4 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i4.33433

Abstract

Abstrak: Kabupaten Rote Ndao terkenal memiliki plasma nutfah lokal unggulan, Domba Rote. Biasanya masyarakat hanya mengkonsumsi daging domba. Kulit domba hanya dibuang atau dijadikan sebagai pakan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk memanfaatkan sisa hasil ikutan ternak menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis melalui pelatihan pembuatan kerupuk kulit Domba Rote. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada bulan Mei 2025 berlokasi di Kecamatan Lobain, Kabupaten Rote Ndao, NTT. Sasaran pengabdian adalah pemuda dengan jumlah 45 peserta Metode yang digunakan adalah kombinasi ceramah, diskusi, demonstrasi dan praktik langsung. Beberapa tahapan kegiatan pengabdian meliputi pra, pelaksanaan pelatihan dan evaluasi. Tahapan pelatihan meliputi tahapan penyembelihan, pengulitan, perendaman dengan air panas dan kapur, pemotongan, pengungkepan dengan minyak panas, penjemuran dan penggorengan. Berdasarkan evaluasi pre dan posttest, peserta mengalami peningkatan pengetahuan dan keterampilan mencapai 60%. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat diharapkan tidak hanya berdampak positif pada ekonomi lokal, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan limbah dan peningkatan keberlanjutan peternakan berbasis zero waste.Abstract: Abstract: Rote Ndao Regency is renowned for its superior local germplasm, the Rote Sheep. Typically, the community only consumes lamb meat. Sheep skin is discarded or used as animal feed. This community service activity aims to utilize livestock byproducts into products with economic value through training in the production of Rote Sheep skin crackers. The community service activity was carried out in May 2025 in Lobain District, Rote Ndao Regency, NTT. The target group was 45 young people. The method used was a combination of lectures, discussions, demonstrations, and hands-on practice. Several stages of the community service activity included pre-training, implementation, and evaluation. The training stages included slaughtering, skinning, soaking in hot water and lime, cutting, boiling in hot oil, drying, and frying. Based on pre- and post-test evaluations, participants experienced a 60% increase in knowledge and skills. This community service activity is expected to not only have a positive impact on the local economy but also contribute to waste reduction and increased sustainability of zero-waste livestock farming.
Kualitas Fisik dan Uji Organoleptik Keripik Sosis Daging Ayam dengan Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) : Physical Quality and Organoleptic Evaluation of Chicken Sausage Chips with the Addition of Moringa Leaf Powder (Moringa oleifera) Yasinta M. Kurniawati; Bastari Sabtu; Heri Armadianto; Dewi Elfrida Sihombing
Jurnal Ilmiah Peternakan Halu Oleo Vol. 7 No. 4 (2025): JIPHO (Jurnal Ilmiah Peternakan Halu Oleo)
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56625/jipho.v7i4.430

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan tepung daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kualitas fisik dan organoleptik keripik sosis daging ayam. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan berdasarkan konsentrasi tepung daun kelor P0 (0%), P1 (2%), P2 (4%) dan P3 (6%) dengan 4 ulangan. Parameter yang diamati meliputi  warna L*, a*, b* dan uji organoleptik (warna, aroma dan rasa).  Uji organoleptik menggunakan 15 panelis tidak terlatih. Data dianalisis menggunakan (ANOVA) apabila terdapat perbedaan dilanjukan uji lanjut Duncan, uji organoleptik menggunakan kruskall wallis, apabila terdapat perbedaan di uji lanjut dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun kelor berpengaruh signifikan terhadap parameter warna, yaitu kecerahan (L*), kemerahan (a*), dan kekuningan (b*), di mana peningkatan konsentrasi tepung daun kelor menyebabkan warna produk menjadi lebih gelap. Uji organoleptik menunjukkan penambahan tepung daun kelor pengaruh nyata pada warna dan aroma, tetapi tidak berpengaruh nyata pada rasa. Karateristik pada uji organoleptik memiliki warna 1,53 (coklat kehijauan), aroma 3,02 ( beraroma kelor) dan rasa 4(suka). Dengan demikian, tepung daun kelor memiliki potensi sebagai bahan tambahan fungsional dalam diversifikasi produk olahan daging ayam. Penggunaan tepung daun kelor juga dapat menjadi inovasi untuk menghasilkan produk yang lebih sehat, tahan lama, dan memiliki nilai fungsional tinggi, sambil tetap mempertahankan daya tarik sensorik bagi konsumen.