Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

MANFAAT TEH OLOONG TERHADAP GAMBARAN URETER PADA PEMERIKSAAN MSCT STONOGRAFI PADA KASUS UROLITHIASIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR.HASAN SADIKIN BANDUNG Rahmat, Lili Julia; Damayanti, Oktarina; Aediana, Aediana; Nilasari, Vini
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 3 No. 3 (2022)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The European Society of Urogenital Radiology mendefinisikan MSCT urografi atau ct stonografi sebagai pemeriksaan diagnostic yang dioptimalkan untuk pencitraan ginjal, ureter, dan kandung kemih dengan slice thickness tipis. MSCT stonografi sangat berperan penting dalam menegakkan diagnose batu saluran kencing tanpa menggunakan zat kontras positif akan tetapi untuk menegaskan gambaran ureter pada pemeriksaan ct stonografi pasien diharuskan minum air putih sebelum dilakukan scaning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara singkat manfaat teh oolong sebagai pengganti air putih dalam mempertegas gambaran ureter berupa adanya dilatasi ureter maupun peningkatan Hounsfield unit (HU). Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat DR. Hasan Sadikin Bandung menggunakan modalitas MSCT Hitachi Scenaria 128 slice dengan slice thickness 5 mm , collimation 0,625 x 84 dan Pitch 1,0781. Jenis penelitian adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian merupakan crossectional study terhadap 30 sample pasien yang dilakukan pemeriksaan ct stonografi dengan kasus uretrolithiasis secara acak yang terbagi dua kelompok yaitu 15 sample menggunakan teh oloong dan 15 sample tanpa teh oloong Rekontruksi citra multi planar reformat dan curve planar reformat dilakukan menggunakan Terarecon iNtuition client ver. 4.4.12.100. Uji chi square dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan pemberian teh oolong terhadap gambaran ureter yang terdiri dari variable terukur yaitu proksimal ureter (PU), medial ureter (MU) dan distal ureter (DU)
Composing Radiographic Dictionary for Radiology Students and Radiographers Reliyanti, Euis; Damayanti, Oktarina
International Journal of Ethno-Sciences and Education Research Vol. 3 No. 4 (2023): International Journal of Ethno-Sciences and Education Research (IJEER)
Publisher : Research Collaboration Community (Rescollacom)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46336/ijeer.v3i4.509

Abstract

The rapid development of science and technology on radiology requires radiology students in particular and radiographers in general to be able to understand and master the science and technology through books or scientific articles, which are mostly written in English. To help them understand the radiological scientific information easily, a complete basic terminologies dictionary on radiology is needed. This study aimed to analyze the vocabularies contained in radiology textbooks linguistically which then are compiled into a radiological pocket dictionary. This research used a qualitative descriptive method. Data were taken in the form of vocabulary list resulted from previous research conducted by the author on radiology textbooks in 2019. This research had 7 stages of activities which include syntactic, morphological, semantic, and phonetic analysis. In addition, the vocabularies then went through 2 stages of evaluation to check the perfection of words regarding to their writing, meaning, and pronunciation. Furthermore, each vocabulary was given an example of its use in the form of sentences in the context of radiology. Results of the study in the form of a pocket dictionary consisting list of basic radiological vocabulary/terms accompanied by the syntactic categories, the meaning of words in Indonesian language that are in accordance with the scientific context of radiology, phonetic transcription, and examples of the use of words in sentences in the context of radiology are expected to contribute to improving the quality of human resources of radiographers in Indonesia.
Evaluasi Dosis Paparan Radiasi Pada Pemeriksaan MSCT Stonografi Kasus Urolithiasis Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung. Rahmat, Lili Julia; Oktarina Damayanti; Ardiana
JURNAL TERAS KESEHATAN Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Teras Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Politeknik Al Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38215/20zmyg78

Abstract

Multislice Computed Tomography (MSCT) stenography is one of the preferred modalities for evaluating urolithiasis due to its high diagnostic accuracy. However, the increasing use of CT imaging has raised concerns regarding patient radiation exposure. This study aims to evaluate the radiation dose received by patients undergoing MSCT stenography at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, and to assess the influence of technical parameters on dose variability. This is a quantitative descriptive study using a cross-sectional approach. A total of 40 adult patients (male and female) who underwent MSCT stenography were selected as samples. Radiation dose data, including CTDIvol and DLP, were collected directly from the CT console and supported by patients’ medical records. Multiple linear regression analysis was performed to assess the relationship between CT dose and technical parameters such as kV, mAs, scan range, and volume of focus (VOF). The research showed that the average CTDIvol was 11.83 mGy and the average DLP was 644.64  mGy·cm, both of which exceeded the international Diagnostic Reference Levels (DRLs). Statistical analysis showed that only the mAs parameter had a significant effect on CTDIvol (p = 0.043), while other parameters such as kV, scan range, and VOF showed no significant influence. 
Perancangan dan Uji Kelayakan Alat Fiksasi Presisi Sudut 45° pada Radiografi Lumbal Proyeksi Oblik Ardiana; Oktarina Damayanti
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 5 No. 6 (2026): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v5i6.7796

Abstract

Di bidang radiologi diagnostik, ketepatan penempatan objek pemeriksaan termasuk salah satu faktor yang berperan besar terhadap mutu citra radiografi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menguji kelayakan alat bantu fiksasi presisi sudut 45° pada pemeriksaan radiografi lumbal proyeksi oblik. Permasalahan utama dalam praktik radiografi adalah penentuan sudut oblik yang masih bersifat subjektif sehingga berpotensi menurunkan konsistensi dan kualitas citra. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimental melalui tahapan perancangan, pembuatan, pengujian, dan evaluasi alat. Jumlah responden 10 tenaga medis yang terdiri dari radiolog dan radiographer, serta 15 orang pasien. Alat dirancang berbentuk prisma segitiga siku-siku dengan sisi miring 45° dengan menggunakan bahan akrilik transparan tebal 5 mm untuk menghindari artefak citra. Hasil pengujian menunjukkan bahwa alat memiliki akurasi sudut sebesar 45° sesuai nilai teoritis, dan mampu mempertahankan stabilitas posisi pasien tanpa pergeseran selama pemeriksaan. Kualitas citra radiografi menunjukkan visualisasi struktur anatomi yang jelas, khususnya Scottie Dog Sign, tanpa adanya artefak. Evaluasi kelayakan menggunakan kuesioner skala Likert menghasilkan indeks kelayakan sebesar 93,6% yang berada pada kategori sangat layak.
PENENTUAN ANALISIS DOSIS RADIASI PEMERIKSAAN CT SCAN THORAX DENGAN I-DRL BERDASARKAN ATURAN BAPETEN Oktarina Damayanti; Ardiana Ardiana; Lili Julia Rahman; Putri Siti Saihan
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 14, No 1 (2026): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jkm.v14i1.2997

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat dosis radiasi pada pemeriksaan CT scan toraks non-kontras serta menilai kesesuaiannya dengan Indonesian Diagnostic Reference Level (I-DRL) yang ditetapkan oleh BAPETEN. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional, menggunakan data dari 30 pasien dewasa yang menjalani pemeriksaan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Dustira, Cimahi. Indeks dosis radiasi yang dianalisis meliputi CTDIvol dan DLP, kemudian dibandingkan dengan nilai I-DRL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata CTDIvol sebesar 8,18 mGy dan DLP sebesar 358,97 mGy·cm masih berada di bawah batas acuan nasional masing-masing sebesar 11 mGy dan 430 mGy·cm, meskipun terdapat beberapa nilai yang melebihi batas yang direkomendasikan. Variasi dosis radiasi dipengaruhi oleh parameter teknis pemeriksaan dan karakteristik pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa protokol pemeriksaan yang diterapkan secara umum telah memenuhi standar keselamatan radiasi, namun tetap diperlukan upaya optimasi dosis secara berkelanjutan serta audit berkala
Analisis Laju Paparan Radiasi Berdasarkan Variasi Jarak Radiografer Nandira Abrar Arifien 2302180063; Lili Julia Rahmat; Surdiyah Asriningrum; Oktarina Damayanti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 6 No. 2 (2026): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i2.24302

Abstract

Abstract. Radiation protection is a critical aspect of occupational safety for radiographers, one of which involves maintaining an appropriate distance from the radiation source in accordance with the ALARA principle. The use of wired exposure switches and remote exposure switches during mobile X-ray examinations results in variations in the radiographer’s distance from the radiation source, which can affect the exposure rate. This study aims to analyze radiation exposure rates based on variations in the distance between the radiographer and the radiation source in the mobile X-ray examination room at the Radiology Department of Koja Regional General Hospital in North Jakarta. This study employed a quantitative descriptive method with a correlational approach. Measurements were taken using a calibrated Fluke Biomedical survey meter at three measurement points (A, B, and C) at distances of 2 m, 3 m, 4 m, and 5 m, using a Thoraks exposure factor of 59 kV and 8 mAs. Five measurements were taken at each point; the data were then analyzed using IBM SPSS Statistics version 31 and compared with the provisions of BAPETEN Regulation No. 4 of 2013. The results of the study show that the average radiation exposure rate at a distance of 2 m was 0.23–0.30 μSv/hour, at 3 m was 0.53–0.65 μSv/hour, at 4 m was 0.36–0.57 μSv/hour, and at 5 m was 0.25–0.34 μSv/hour. All results remain below the safety limit of 0.68 μSv/hour. Correlation tests indicate a very strong negative relationship (r = -0.853 to -0.924), meaning that as the distance from the radiation source increases, the radiation exposure rate tends to decrease. Abstrak. Proteksi radiasi merupakan aspek penting dalam keselamatan kerja radiografer, salah satunya melalui pengaturan jarak terhadap sumber radiasi sesuai prinsip ALARA. Penggunaan wired exposure switch dan remote exposure switch pada pemeriksaan Mobile X-Ray menyebabkan variasi jarak radiografer dari sumber radiasi yang dapat memengaruhi laju paparan. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju paparan radiasi berdasarkan variasi jarak antara radiografer dengan sumber radiasi pada ruang pemeriksaan Mobile X-Ray di Instalasi Radiologi RSUD Koja Jakarta Utara. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelasi. Pengukuran dilakukan menggunakan survey meter Fluke Biomedical yang telah dikalibrasi pada tiga titik pengukuran (A, B, dan C) dengan variasi jarak 2 m, 3 m, 4 m, dan 5 m menggunakan faktor eksposi Thoraks 59 kV dan 8 mAs. Setiap titik dilakukan lima kali pengukuran, kemudian data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 31 dan dibandingkan dengan ketentuan BAPETEN Nomor 4 Tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata laju paparan radiasi pada jarak 2 m sebesar 0,23–0,30 μSv/jam, 3 m sebesar 0,53–0,65 μSv/jam, 4 m sebesar 0,36–0,57 μSv/jam, dan 5 m sebesar 0,25–0,34 μSv/jam. Seluruh hasil masih berada di bawah batas aman 0,68 μSv/jam. Uji korelasi menunjukkan hubungan negatif yang sangat kuat (r = -0,853 sampai -0,924), sehingga semakin jauh jarak dari sumber radiasi, laju paparan radiasi cenderung menurun.