Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH KECEMASAN SOSIAL TERHADAP IMPOSTOR SYNDROME PADA REMAJA AKHIR Matthew Joe Adithio; Agustina Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8476

Abstract

ABSTRACT Social anxiety and impostor syndrome are significant psychological challenges in late adolescence, especially among high school students, where academic demands, social pressures, and the dynamics of identity formation can trigger feelings of inadequacy and fear of failure. The gap between objective achievements and self-evaluation due to impostor syndrome is the main focus of this study, which aims to examine the significance of the role and contribution of social anxiety in predicting impostor syndrome. This study uses a correlational quantitative research design involving 231 high school students categorized as late adolescents, selected using purposive sampling. Data collection was conducted using the Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) and Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) instruments, then analyzed using simple linear regression. The results of the analysis showed that the regression model was significant with an F (1,229) value of 145.00 and p < 0.001. The correlation coefficient (R) value of 0.623 indicated a strong relationship between the two variables in the model. The coefficient of determination (R²) value of 0.388 indicates that social anxiety contributes 38.8% to the variation in impostor syndrome in late adolescents, while the rest is influenced by other factors. In conclusion, the higher the level of social anxiety experienced, the more vulnerable late adolescents are to experiencing impostor syndrome. ABSTRAK Kecemasan sosial dan impostor syndrome merupakan tantangan psikologis yang signifikan di fase remaja akhir, terutama siswa Sekolah Menengah Atas, di mana tuntutan akademik, tekanan dari lingkungan sosial, dan dinamika pembentukan identitas diri dapat memicu perasaan tidak layak serta ketakutan akan kegagalan. Kesenjangan antara pencapaian objektif dan penilaian diri yang rendah akibat impostor syndrome inilah yang menjadi fokus utama penelitian, sehingga studi ini bertujuan untuk menguji signifikansi peran dan besarnya kontribusi Kecemasan sosial dalam memprediksi impostor syndrome. Studi ini menggunakan desain penelitian kuantitatif korelasional dengan melibatkan 231 siswa SMA yang dikategorikan sebagai remaja akhir, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) dan Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa model regresi signifikan dengan nilai F(1,229) = 145.00 dan p < 0.001. Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0.623 menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kedua variabel dalam model. Secara definitif, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.388 mengindikasikan bahwa Kecemasan sosial memberikan kontribusi sebesar 38.8% terhadap variasi impostor syndrome pada remaja akhir, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Simpulannya, semakin tinggi tingkat kecemasan sosial yang dialami, semakin rentan remaja akhir menunjukkan gejala impostor syndrome. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pentingnya pengembangan intervensi preventif yang menargetkan pengelolaan kecemasan sosial di lingkungan sekolah untuk mendukung kesehatan mental dan kepercayaan diri remaja.
JENIS KELAMIN SEBAGAI MODERASI DALAM HUBUNGAN KECEMASAN SOSIAL DAN INAUTHENTIC SELF PRESENTATION PADA REMAJA PENGGUNA INSTAGRAM Merryn Oktavia Sutarman; Agustina Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8520

Abstract

Instagram is frequently used by adolescents as a platform to present themselves and gain social recognition. Inauthentic self-presentation has become a common strategy to construct a positive self-image and avoid negative judgment. This study aims to examine the relationship between social anxiety and inauthentic self-presentation among adolescent Instagram users, as well as to investigate the moderating role of gender. A quantitative correlational method was employed with purposive sampling. The participants consisted of 200 adolescents (97 males and 103 females) who owned Instagram accounts and had uploaded personal content. The instruments used were the Social Anxiety Scale for Social Media Users (SAS-MU) and the Self-Presentation on Facebook Questionnaire (SPFBQ). The results of the correlation analysis indicated a significant positive relationship between social anxiety and inauthentic self-presentation (r = 0.353, p < 0.05). However, the moderation regression analysis revealed that gender did not moderate this relationship (B = 0.089, p = 0.199). In conclusion, higher levels of social anxiety are associated with greater tendencies toward inauthentic self-presentation among adolescents, regardless of gender. ABSTRAK Instagram kerap digunakan remaja sebagai sarana menampilkan diri untuk memperoleh pengakuan sosial. Strategi inauthentic self-presentation pun menjadi umum dalam membentuk citra diri positif dan menghindari penilaian negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan sosial dan inauthentic self-presentation pada remaja pengguna Instagram, serta menguji peran jenis kelamin sebagai variabel moderator. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling. Partisipan berjumlah 200 remaja (97 laki-laki dan 103 perempuan) yang memiliki akun Instagram dan pernah mengunggah konten tentang diri sendiri. Instrumen yang digunakan adalah Social Anxiety Scale for Social Media Users (SAS-MU) dan Self-Presentation on Facebook Questionnaire (SPFBQ). Hasil analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kecemasan sosial dan inauthentic self-presentation (r = 0.353, p < 0.05). Namun, hasil analisis regresi moderasi menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak memoderasi hubungan tersebut (B = 0.089, p = 0.199). Kesimpulannya, semakin tinggi kecemasan sosial, semakin tinggi kecenderungan remaja menampilkan diri secara tidak autentik, tanpa perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan.
Workshop Art Activity : Mengatasi Kejenuhan pada Anak Pejuang Kanker melalui Stimulus Ekspresif Kreatif Agustina Agustina; Gabrielle Debora Wibowo; Clarissa Emmanuela Siahainenia; Sendy Tangkemanda
Abdimas Mandalika Vol 5, No 4 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/am.v5i4.39535

Abstract

Abstract: Children with cancer living in a halfway house are prone to boredom due to limited activities, physical fatigue, and a monotonous routine during treatment. This community service program aims to reduce boredom levels, increase stimulation, and foster positive emotions among children battling cancer at the Lentera Pejuang Kanker halfway house. Participants included three children aged 6, 7, and 14 years. Methods employed included checklist notation observation, semi-structured interviews, and pre-test and post-test evaluations. Initial assessment results indicated that all subjects exhibited signs of boredom, such as loss of interest in activities, passive behavior, and reliance on gadgets. The intervention was conducted through a participatory, art-based approach over three days, featuring mask painting, making clay keychains, painting pots and planting flowers, canvas painting with the theme “Me in the Future,” and a presentation of all artwork. The program also included psychoeducation for parents regarding the importance of providing positive praise. Program results showed a decrease in boredom indicators, increased engagement in activities, reduced gadget use, and increased confidence in children’s ability to interact and speak in public.Abstrak: Anak pejuang kanker yang tinggal di rumah singgah rentan mengalami kejenuhan akibat keterbatasan aktivitas, kondisi fisik yang mudah lelah, dan rutinitas monoton selama proses pengobatan. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menurunkan tingkat kejenuhan, meningkatkan stimulus, serta meningkatkan emosi positif pada anak pejuang kanker di rumah singgah Lentera Pejuang Kanker. Partisipan terdiri dari tiga anak berusia 6, 7, dan 14 tahun. Metode yang digunakan meliputi observasi checklist notation, wawancara semi terstruktur, serta evaluasi pre-test dan post-test. Hasil asesmen awal menunjukkan bahwa seluruh subjek mengalami indikasi kejenuhan, seperti kehilangan minat terhadap aktivitas, perilaku pasif, dan ketergantungan pada gadget. Intervensi dilakukan melalui pendekatan partisipatif berbasis art activity selama tiga hari melalui kegiatan melukis topeng, membuat keychain dari clay, melukis pot dan menanam bunga, melukis di kanvas dengan tema “Aku di Masa Depan”, serta presentasi seluruh hasil karya. Program juga disertai psikoedukasi kepada orang tua mengenai pentingnya pemberian pujian positif. Hasil program menunjukkan penurunan indikator kejenuhan, meningkatnya keterlibatan dalam aktivitas, berkurangnya penggunaan gadget, serta meningkatnya keberanian anak dalam berinteraksi dan berbicara di depan umum.