Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

DIFFERENCE OF MODERATE AND HARD-BRISTLED TOOTHBRUSH IN PREVENTING PLAQUE AMONG SCHOOL CHILDREN Udin, Karsum; Santoso, Bedjo; Rahmawati, Ida; Sari, Emilda; Dedy, Dedy
Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health No 2 (2017)
Publisher : Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.379 KB)

Abstract

Background: Oral health is very important, some oral and dental problems occur because we do not maintain oral hygiene and teeth. Plaque is a major etiologic factor of caries and periodontal disease. Efforts to prevent plaque buildup is called plaque control, by mechanical, chemical and natural, mechanical ventilation is a tooth brush. In general, the bristles are soft, moderate, and hard. Aims: This research aims to know the differences using a moderate and hard-bristled toothbrush against plaque. Methods: This is a quasi-experiment with pretest-post-test control group design between the bristles medium and hard bristles using independent test T-test. Conclusion: There is a difference of tooth brushing plaque by using the medium tough and hairbrush medium tough hairbrush and hairy on the students of class VII B and VII C in Public Junior High School 3 Banjarbaru. The use of hard bristled toothbrushes is better 72.22% than the use of medium toothbrushes is only 47.37%. But a hard hairy toothbrush can cause gums to drop (recession gingival) if done continuously. 
Analysis of Metabolite Levels, Secondary Minerals and Aloe Vera Formulation from Kalimantan Indonesia Fahmi Said; Ida Rahmawati; Neny Setiawaty Ningsih
Medical Laboratory Technology Journal Vol. 8 No. 1 (2022): June
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Analis Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.951 KB) | DOI: 10.31964/mltj.v0i0.417

Abstract

Products from natural ingredients such as aloe vera must be high quality and meet standardization aspects. Determination of secondary metabolites and mineral levels is part of the standardization of natural product products. The dosage formula needs to be optimized to get the best formula based on evaluating the physical properties of the gel preparation. This study aimed to analyze the highest mineral and metabolite content between aloe vera from South Kalimantan and West Kalimantan, as well as the optimum formula for aloe vera gel based on its physical properties. The research method used is to perform sample preparation, extraction, analysis of minerals and secondary metabolites by spectroscopy. The data were analyzed descriptively, and the results showed that the content of iron, calcium, and zinc originating from West Kalimantan was 0.314 mg/g; 93.42 mg/g; 0.059 mg/g, while South Kalimantan 0.064 mg/g, 53.24 mg/g, 0.032 mg/g. The total phenolic, flavonoid, and anthraquinone levels from West Kalimantan were 0.512%, 1.31%, respectively, 2.28%, while those from South Kalimantan were 0.321%, 1.12%, 1.14%. The best formula for aloe vera gel is formula three, which has a darker color and meets the requirements of the physical properties of the gel. This study concludes that the highest mineral content in aloe vera comes from West Kalimantan, the highest secondary metabolite content also comes from West Kalimantan. And the best formula is the third formula with 20% natural dyes. Suggestions for further research are to examine the mineral content and secondary metabolites of aloe vera in various places in Indonesia so that the best aloe vera can be known.
PERBEDAAN ANGKA RATA-RATA KARIES GIGI ANTARA MASYARAKAT BALI VEGETARIAN DAN NONVEGETARIAN DI DESA BASARANG JAYA KABUPATEN KAPUAS Fahmi Said; Ida Rahmawati
Jurnal Skala Kesehatan Vol 5 No 1 (2014): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.071 KB) | DOI: 10.31964/jsk.v5i1.8

Abstract

Perbedaan pola makan vegetarian dan nonvegetarian terletak pada ada tidaknya asupan makanan hewani dan proporsi asupan makanan nabati. Pola makan yang menyangkut jenis atau bahan makanan, selain dapat mempengaruhi kesehatan umum dapat pula mempengaruhi tingkat kebersihan gigi dan mulut, salah satunya adalah dapat mempercepat terjadinya proses gigi berlubang. Vegetarian adalah orang yang hanya mengkonsumsi produk nabati dan berpantang daging. Vegetarian yang berpantang daging harus mencukupi kebutuhan protein dari produk nabati seperti kacang-kacangan, buah, sayur kaya protein, kalsium, dan vitamin. Alasan agama atau spiritual mendorong berkembangnya pola makan vegetarian, salah satunya di kalangan umat beragama Buddha. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan rata-rata angka karies gigi  antara masyarakat Bali vegetarian dan nonvegetarian di Desa Basarang Jaya Kabupaten Kapuas. Manfaat Diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam hal perencanaan program kesehatan gigi, khususnya masalah  gigi berlubang.Penelitian ini dilakukan di Desa Basarang Jaya Kabupaten Kapuas, jenis  penelitian  deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, dimana variabel sebab akibat yang terjadi pada objek penelitian diukur untuk dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang bersamaan). Populasi penelitian berjumlah 1575 orang dengan sampel berjumlah 38 orang, 19 orang masyarakat Bali vegetarian dan 19 orang nonvegetarian.   Hasil penelitian menunjukkan angka rata-rata karies gigi mesyarakat Bali vegetarian sebesar 7,32, sedangkan angka rata-rata karies gigi masyarakat Bali nonvegetarian sebesar 5,47 pada equal variance assumed adalah 0,376 dengan probabilitas signifikansi  0,376˃0,05 sehingga tidak ada perbedaan angka rata-rata karies gigi masyarakat vegetarian dan nonvegetarian.   Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan angka rata-rata karies masyarakat Bali vegetarian dan nonvegetarian. Karies disebabkan oleh banyak faktor, seperti gigi, saliva, bakteri, substrat dan waktu, meskipun dengan pola makan vegetarian yang lebih banyak mengkonsumsi asupan makanan nabati dapat mengurangi kejadian karies namun bila mengabaikan faktor lain maka angka rata-rata kariespun tidak berbeda dengan yang pola makannya nonvegetarian. Kata Kunci : Karies, Vegetarian, Nonvegetarian
PERBEDAAN pH SALIVA ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH MENGKONSUMSI MINUMAN RINGAN (Studi pada Siswa Kelas II dan III Madrasah Ibtidaiyah Zam-Zam Zailani Banjarbaru Kalimantan Selatan Tahun 2014). Ida Rahmawati; Fahmi Said; Sri Hidayati
Jurnal Skala Kesehatan Vol 6 No 1 (2015): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.872 KB) | DOI: 10.31964/jsk.v6i1.31

Abstract

Seperti  diketahui bahwa makanan maupun minuman ringan menjadi kegemaran baik bagi orang tua terlebih lagi anak-anak mengandung sejumlah besar gula yang bila dikonsumsi terlalu sering akan menyebabkan karies. Hal ini sependapat dengan Wieke dan Susy (2008) yang menyatakan bahwa rasa manis merupakan rasa yang paling disukai kebanyakan orang terutama anak-anak. Sumber rasa manis ini dapat diperoleh dari sukrosa yang dikonsumsi dalam bentuk gula dan sering digunakan untuk makanan dan minuman terutama minuman ringan. Tingginya angka karies pada siswa kelas II dan III Madrasah Ibtidaiyah Zam_zam Zailani  Banjarbaru Kalimantan Selatan Tahun  2014  dengan rata-rata DMF-T  6.43.Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya perbedaan pH saliva antara sebelum dan sesudah mengkonsumsi minuman ringan antara lain mengukur pH saliva sebelum mengkonsumsi minuman ringan. serta menganalisis perbedaan pH saliva antara sebelum dan sesudah mengkonsumsi minuman ringan.Jenis penelitian ini eksperimen dengan menggunakan metode observasi. Jumlah responden  dalam penelitian ini 63 responden. Analisis data menggunakan program SPSS dengan uji Paired Samples T Test.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan nilai pH saliva sebelum mengkonsumsi minuman ringan dan sesudah mengkonsumsi minuman ringan mengalami penurunan nilai rata-rata pH saliva sebesar 1,20 dengan nilai Sig. = 0,000 atau p < 0,05. Oleh karena p < 0,05, maka dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima atau ada perbedaan pH saliva antara sebelum dan sesudah mengkonsumsi minuman ringan. Sehingga disarankan Perlu adanya penyuluhan dari petugas kesehatan gigi kepada siswa guna  memotivasi dan mengarahkan agar mengurangi konsumsi minuman ringan yang mengandung aspartam dan segera untuk berkumur-kumur. Kata Kunci : pH saliva, minuman ringan 
Intervensi Media Promosi Kesehatan Melalui Kesenian Banjar Untuk Meningkatkan Kesehatan Ibu Dan Anak Di Kalimantan Selatan Syaifullah kholik; Fathurrahman fathurrahman; Ida rahmawati
Jurnal Skala Kesehatan Vol 7 No 1 (2016): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.187 KB)

Abstract

RPJM bidang kesehatan 2015-2019 lebih mengutamakan pada upaya promotif dan preventif, dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Salah satu pendekatannya adalah dengan kegiatan promosi kesehatan. Dalam promosi kesehatan, seni tradisional dapat digunakan sebagai media untuk memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel melalui program promosi kesehatan 2015 telah melaksanakan kegiatan pengembangan model intervensi budaya berupa kesenian tradisional Banjar untuk peningkatan cakupan program kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini dilaksanakan di lima Kabupaten, yaitu Kabupaten Batola, Banjar, Tapin, Tanah Bumbu, dan HSU. Kegiatan intervensi kesenian daerah berupa Jepin Cerita, Damarwulan, Madihin, dan Mamanda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan melalui pentas kesenian daerah Banjar terhadap pengetahuan masyarakat tentang KIA. Desain penelitianini adalah One Shot Case Study, yaitu dengan cara memberikan intervensi kepada suatu kelompok masyarakat (audience) berupa pertunjukan kesenian daerah Banjar Madihin, Mamanda, Jepin Carita, Damarwulan, dan lain-lain. Setelah pertunjukan selesai, dilakukan penilaian (posttest) terhadap audience dengan cara wawancara dan angket (kuesioner). Intervensi dilakukan oleh Tim Promosi Kesehatan Kabupaten bekerja sama dengan Even Organizer (EO,)sedangkan evaluasi (posttest) dilakukan oleh Tim Dosen Poltekkes Banjarmasin. Data diolah dan dianalisis secara kualitatif dan deskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kesenian tradisional Banjar yang paling sering disaksikan responden adalah Madihin.Pertunjukan kesenian sebagai media intervensi promosi kesehatan cukup menarik bagi responden untuk disaksikan. Tingkat penerimaan pesan kesehatan oleh responden pada pertunjukan kesenian tradisional cukup baik. Hal ini didukung dengan data bahwa 90% responden dapat menyebutkan kembali pesan-pesan kesehatan yang disampaikan pada pertunjukan kesenian tersebut. Pada saat melakukan pertunjukan disarankan agar pesan kesehatan dikemas secara “utuh” agar audience lebih mudah memahami pesan tersebut.Pertunjukan kesenian tradisonal yang memuat pesan kesehatan sebaiknya didokumentasikan dalam bentuk rekaman/video agar bisa diputar ulang dan disaksikan oleh masyarakat di tempat-tempat fasilitas pelayanan kesehatan. Perlu penelitian lebih lanjut untuk dapat menentukan model intervensi kesenian tradisional Banjar yang sesuai untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Kata Kunci : Media Promkes ; Kesenian Banjar; KIA
Hubungan Perilaku Menyikat Gigi Dengan Indeks DMF-T Pada Murid Kelas III DAB IV Sekolah Dasar Negeri Gambut 5 Pematang Panjang Kabupaten Banjar Siti Salamah; ida rahmawati; danan danan
Jurnal Skala Kesehatan Vol 7 No 2 (2016): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.216 KB)

Abstract

Beberapa faktor yang dianggap sebagai faktor risiko adalah pengalaman karies, penggunaan fluor, oral higiene, jumlah bakteri, saliva dan pola makan. Keberhasilan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dipengaruhi oleh faktor penggunaan alat, metode menyikat gigi, serta frekuensi dan waktu menyikat gigi yang tepat.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan perilaku menyikat gigi dengan Indeks DMF-T pada murid kelas III dan IV SDN Gambut 5. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan secara cross sectional Pengambilan data dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah sampel sebesar 62 orang. Data diambil dengan observasi langsung dan menggunakan instrument penelitian berupa kuesioner yang telah di uji validitas dan reabilitasnya. Data dianalisa menggunakan uji chie square.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56 (90,3%) memiliki perilaku menyikat gigi kategori baik dengan indeks DMF-T yang rendah (62.9%). Hasil uji chie square nilai p- value < dari 0.005 yaitu 0.002 hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan antara perilaku menyikat gigi dengan indeks DMF-T pada murid kelas III dan IV SDN Gambut 5.Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan agar murid lebih meningkatkan perilaku menyikat giginya terutama waktu dan cara menyikat gigi, dan petugas kesehatan gigi dapat melakukan penambalan sehingga dapat mengurangi angka kejadian karies (DMF-T) menjadi lebih rendah.Kata Kunci : Perilaku menyikatgigi , indeks DMF-T
Pengaruh Kumur-Kumur Larutan Daun Binahong ( Adredera Cordofolia Ten Stennis ) Terhadap Penyembuhan Gingivitis Pada Siswa SMP 13 Cempaka Banjarbaru Danan Danan; Siti sabatul Habibah; ida rahmawati
Jurnal Skala Kesehatan Vol 10 No 2 (2019): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.379 KB) | DOI: 10.31964/jsk.v10i2.221

Abstract

Gel Ekstrak Buah Naga Super Merah (Hylocereus Costaricensis) dan Ubi Jalar Ungu Sebagai Alternatif Pewarna (Discloting Solution) Alami Plak Gigi Fahmi Said; Ida Rahmawati; Triwiyatini Triwiyatini
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 8, No 2 (2021): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (DESEMBER)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v8i2.5754

Abstract

Plak gigi merupakan lapisan tipis yang tidak berwarna, tidak mudah dilihat dan merupakan penyebab karies gigi. Untuk melihat plak gigi diperlukan Disclosing solution. Salah satu kandungan bahan alami yang telah diteliti efeknya dalam mewarnai plak adalah betasianin, yang terkandung dalam buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) dan Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas var Ayamurasaki). Tujuan penelitian ini untuk memformulasi ekstrak gel buah naga. Penelitian dilakukan dengan melakukan ekstraksi buah naga, memformulasi dalam bentuk gel, mengujian sifat fisik gel, uji toksisitas dengan larva udang, dan mengukur indeks plak pada 40 responden, 20 orang responden di Jurusan Teknik Laboratorium Medik Poltekkes Banjarmasin dan 20 orang responden di Jurusan Teknik Laboratorium Medik Poltekkes Semarang. Hasil Penelitian terlihat bahwa plak skor rata rata pada perlakuan buah naga sebesar 2,6470 sedikit lebih besar dibandingkan plak skor pada perlakuan dengan ubi ungu yaitu sebesar 2,5165. Kesimpulan analisis Independent t test, ditemukan mean different (selisih rata-rata) sebesar 0,13050, dengan diketahui nilai t hitung sebesar 0,517,  p value (nilai probabilitas) dari uji tersebut menunjukkan  p = 0,608, sehingga lebih besar dari α 0,05 atau   (p = 0,608> α 0,05) artinya tidak ada perbedaan efektivitas antara ekstrak gel buah naga dan ekstrak gel ubi jalar ungu. Saran untuk identifikasi plak skor menggunakan kedua ekstrak gel tersebut karena sama-sama dapat mendeteksi plak skor dan berbahan dasar alami tidak menggunakan bahan-bahan kimia
Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak Sekolah Dasar Ida Rahmawati Julita Hendrartini Agus Priyanto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 27, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.582 KB) | DOI: 10.22146/bkm.3392

Abstract

Background: The issue of dental and oral health is a vulnerable issue faced by groups of elementary school age children. Dental Health National Data (2006) showed that the prevalence of dental caries in Indonesia was about 90% of the 238 million of Indonesian population and the number of children aged 15 years and under who sufferred from dental caries reached 76.5%. The data in 2008 from Banjar Municipal Health Office showed that the number of elementary students in Banjar District who suffered dental caries was by 65% which caused students often not to attend school.Objective: To know the factors that influence dental and oral health behaviors in elementary school children in BanjarDistrictMethods: This was an observational quantitative research using a cross sectional design. The study was conducted in Banjar District, South Kalimantan Province in two subdistricts ie Astambul and Martapura subdis-tricts. The population of this study was the mothers and elementary school age children in Banjar District. Study sample was the mothers and elementary school children in grade III aged 6-12 years old. The total sample was 126 people. The bivariate data analysis used chi-square test and logistic regression for multivariable analysis.Results: Distribution of knowledge level about dental health of elementary school children was good (54.8%); attitude of the mothers was in moderate category (45.2%); behavior of the mothers was also in moderate category (42.9%); neighborhood of elementary school children in the District Banjar was in good category (56.3%), and most of elementary school children in Banjar District had the correct behavior towards dental and oral health, with a frequency of 61.1%. The bivariate analysis showed that the variables of knowledge, attitudes, environment and behavior were significant to the children’s behavior with p-value of 0.0001, and the children’s behavior was significant with dental and oral health status with p-value of 0.0001. These results were followed with the multivariable analysis showing significance to dental health status (knowledge OR = 2.5 and p = 0.025; attitudes OR = 2.7 and p = 0.032; mother’s behavior OR = 2.9 and p = 0.027; environment OR = 3.2 and p = 0.007; children’s behavior OR = 4.6 and p = 0.018).Conclusion: The majority of mothers in Banjar District had good knowledge, attitudes, and behavior on children’s dental and oral health status. The environment of elementary school children in Banjar District was also quite positive in supporting the children’s behavior to maintain the dental and oral health status.Keywords: dental and oral health, knowledge, attitudes, behavior and environment
PENGARUH PENYULUHAN MENGGUNAKAN MEDIA RODA PUTAR TERHADAP PENGETAHUAN KARIES GIGI PADA MURID KELAS III DAN IV SDN GAMBUT II Nur’aien Istiqayani Salsabila; Ida Rahmawati; Isnawati Isnawati
JURNAL TERAPIS GIGI DAN MULUT Vol. 1 No. 1 (2020): JURNAL TERAPIS GIGI DAN MULUT
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A children group with 8 to 10 years of aged (3 to 4 elementary school grades) is a naive and a real thinking period of time, it’s also a periode of time to gather knowledge, and a games is chosen as a tool that is in accordance with the target, so that dental and oral health education can produce behavioral changes for them as a target. The results from an observation of a preliminary study that had been done on 10 students in SDN Gambut 11, consist of 6 students from the third grade and the rest 4 students from the fourth, resulted an average def-t was 3.8 and 6.2 an average DMF-T rate. This study aims to determine whether there is an influence of counseling using a rotary wheel media on dental caries knowledge for the third and fourth grade students of SDN Gambut 11. The research design using "One Group Pretest-Posttest", Involving 56 people as a sample, with total sampling techniques followed by Paired Sample T-test used as a statistical tests. The results showed that there was an influence on counseling before and after using the rotary wheel media on dental caries knowledge. Based on the Paired Sample T-test, it was found that the value of ρ = 0.000 with α = 0.05 so ρ < α, so then Ho was rejected and Ha being accepted. Research concluded there has an influence of counseling using rotary media on dental caries knowledge in third and fourth grade of SDN Gambut 11 studens. It is recommended to estblished a promotion activities like dental caries counseling by local health center officers or teachers by using games or the other types of media in order to help elementary school children to increase the dental caries knowledgement.