Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengaruh Penambahan Tepung Daun Beluntas (Pluchea Indica Less) Dalam Pakan Terhadap Bobot Organ Dalam Ayam Broiler Putra, Trijaya Gane; Simanjuntak, Mery Christina; Dharsono , Wardhana Wahyu
Jurnal Sains Peternakan Vol 13 No 1 (2025): Jurnal Sains Peternakan Vol.13 No.1
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jsp.v13i1.11249

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung daun beluntas (Pluchea indica Less) dalam pakan terhadap bobot organ dalam ayam broiler. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari P0 (kontrol), P1 (penambahan tepung daun beluntas 1%), P2 (2%), dan P3 (3%). Parameter yang diamati meliputi bobot hati, usus, ampela, dan jantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun beluntas berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot usus, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot hati, ampela, dan jantung ayam broiler. Penambahan tepung daun beluntas sampai level 3% dapat digunakan dalam pakan tanpa mengganggu fungsi fisiologis organ dalam ayam broiler.
PERBEDAAN DIMENSI TUBUH SAPI BALI DENGAN SISTEM PEMELIHARAAN DIKANDANGKAN DAN DENGAN SISTEM PINDAH IKAT DI LAPANG Putra, Trijaya Gane; Simanjuntak , Mery Christina; Robinson, Paskalis
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol. 10 No. 1 (2025): Jurnal FAPERTANAK Jurnal Pertanian dan Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji perbedaan dimensi tubuh sapi Bali muda umur 1-2 tahun pada dua sistem pemeliharaan yang berbeda, yaitu dikandangkan dan pindah ikat di lapang (SPL). Metode penelitian menggunakan survei kuantitatif dengan purposive sampling pada 60 ekor sapi (30 ekor jantan, 30 ekor betina) di Kampung Wiraska, Distrik Yaro, Kabupaten Nabire. Parameter dimensi tubuh yang diukur meliputi tinggi pundak (TP), panjang badan (PB) dan lingkar dada (LD). Pengukuran parameter merujuk SNI 7651-4, 2023. Data hasil pengukuran dianalisis dengan uji-t menggunakan Excel. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang significan (P>0,05) pada seluruh parameter dimensi tuubuh, baik pada sapi jantan maupun sapi betina pada kedua sistem pemeliharaan tersebut. Rerata TP, PB dan LD sapi jantan sistem pemeliharaan dikandangkan vs. SPL masing-masing adalah 99,33±3,64 vs. 99,00 ±3,55 cm; 93,40±4,08 vs. 94,20±4,06 cm dan 119,00±4,00 vs.118,93±4,08 cm. Pada sapi betina 95,73± 4,10 vs. 96,33 ± 3,24 cm; 86,47±5,04 vs. 86,67±3,77 cm dan 118,53±4,05 vs. 116,00±3,15 cm. Hasil penelitian disimpulkan bahwa 1). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan ukuran parameter dimensi tubuh (TP, PB dan LD) pada sapi Bali Muda umur 1-2 tahun baik jantan maupun betina yang dipelihara dengan sistem dikandangkan dengan sistem pindah ikat di lapang. 2). Ukuran dimensi tubuh (TP, PB dan LD) seluruh sapi baik jantan maupun betina lebih besar dari sapi Bali umur 1-1,5 tahun dan lebih kecil dari sapi umur 1,5-2 tahun pada kategori kualitas bibit klas III menurut SNI 7651-4 tahun 2023
PROFIL USAHA PETERNAKAN AYAM PEDAGING DI KAMPUNG KALISEMEN DISRIK NABIRE BARAT Putra, Trijaya Gane; Dogomo, Emanuel
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol. 8 No. 2 (2023): Jurnal FAPERTANAK Jurnal Pertanian dan Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri unggas khususnya ayam pedaging (broiler) di Indonesia memiliki peranan penting dan strategis sebagai penyedia pangan hewani sekaligus sebagai sumber protein hewani bagi Masyarakat. Populasi ayam pedaging di Papua pada tahun 2021 tercatat 5.280.003 ekor. Populasi tersebut menyebar terutama pada daerah-daerah pesisir yang sudah terjangkau dan tersedia fasilitas listrik serta didukung oleh sarana transportasi yang lancar. Populasi ayam pedaging di Kabupaten Nabire pada tahun 2020 tercatat 630.763 ekor. Namun demikian data detail pengelolaan peternakan ayam pedaging tersebut belum tersedia. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mendeskripsikan karakteristik peternakan ayam pedaging sebagai pertimbangan pengembangan usaha. Penelitian ini dilakukan di Kalisemen, Distrik Nabire Barat. Penelitian dilakukan dengan metode sensus terhadap seluruh peternak di Kampung Kalisemen. Berdasarkan hasil penelitian diketahui pemeliharaan ayam dalam farm dilakukan dengan sistem all in all out, teknologi yang digunakan dalam pemeliharaan tergolong teknologi sederhana dengan skala usaha yang kecil dan tergolong peternakan rakyat. Jenis/ strain ayam yang dipelihara 80,00 % strain CP 707 produksi PT. Charoen Pokphand Indonesia dan 20,00 % strain Malindo produksi PT. Malindo Feedmill Tbk. Sistem ventilasi perkandangan 100% sistem terbuka. Diketahui 100 % peternak tidak melakukan recording. Penanganan kesehatan ayam, meliputi pencegahan penyakit seperti sanitasi, vaksinasi dan pemberian vitamin, pengobatan serta karantina. 100% peternak memanen ayam pada umur 30-35 hari, dan tingkat kematian ayam rata-rata tinggi yaitu 15,5 %.
MANAJEMEN REPRODUKSI INDUK SAPI BALI DI KAMPUNG BUMI MULIA DISTRIK WANGGAR KABUPATEN NABIRE Dumupa, Encela; Dogomo, Emanuel; Putra, Trijaya Gane
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol. 9 No. 1 (2024): Jurnal FAPERTANAK Jurnal Pertanian dan Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha peternakan yang banyak dilakukan oleh masyarakat pedesaan adalah beternak sapi potong, yang berbentuk usaha peternakan rakyat. Populasi sapi di Indonesia sebagian besar dikuasai oleh masyarakat/ petani dalam skala usaha peternakan rakyat. pada tahun 2013 sebanyak 12,3 juta ekor (97,8 %) ternak sapi berada di 5,1 juta petani dan sisanya 2,2 % berada di perusahaan berbadan hukum, pedagang dan kelompok lainnya (Ismono et al., 2015), sehingga kepemilikan sapi potong di tingkat petani rata - rata berkisar 2,412 ekor per petani. Sebagaimana halnya kondisi peternakan sapi nasional, kondisi peternakan sapi di Nabire juga merupakan usaha peternakan rakyat dengan skala kepemilikan antara 2-3 ekor, dan diusahakan secara sambilan. Kondisi peternakan demikian ditengerai sebagai penyebab lambatnya pertumbuhan populasi yang berimbas tidak tercapainya kebutuhan daging nasional. Terdapat tiga faktor utama yang harus diperhatikan untuk mendukung keberhasilan pengembangannya yaitu feeding (pakan), breeding (perkembang biakan) dan manajemen. Pada usaha peternakan rakyat, faktor perkembang-biakan (reproduksi) sering kali menjadi penghambat pengembangan budidaya ternak sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen reproduksi induk sapi Bali yang dilakukan petani-peternak di Kampung Bumi Mulia Distrik Wanggar Kabupaten Nabire. Metode penelitian dilakukan secara observasi dan wawancara langsung terhadap sampel terpilih yang ditetapkan secara simple random sampling. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 1). Penanganan perkawinan calon induk/ induk sudah baik mmendekati anjuran pedoman teknis dimana seluruh peternak (100%) memahami tanda-tanda birahi sapi, 78,18 % melakukan perkawinan pertama calon induk sapi umur 2-2,5 tahun (setelah dewasa tubuh) dan 76,36 % peternak mengawinkan sapi birahinya pada waktu akhir birahi, seluruh peternak juga memahami tanda-tanda/ diagnosa kebuntingan sapi. 2). Penanganan terhadap sapi bunting, hanya 20 % peternak memberikan pakan tambahan (pakan penguat), seluruh (100 %) peternak telah melakukan pengamanan/ pemisahan sapi bunting dari sapi lain. 3). Penanganan sapi beranak dan laktasi, seluruh (100 %) peternak memahami tanda-tanda sapi akan beranak dan membantu proses kelahiran, hanya 20 % peternak memberikan pakan tambahan (pakan penguat) pada sapi laktasi, dan seluruh (100 %) peternak melakukan pengamanan/ pemisahan induk laktasi dari sapi lain (selama 2 bulan sejak beranak). 4). Perkawinan setelah beranak, 72,72 % peternak mengawinkan pada birahi ketiga setelah beranak, 12,73 % peternak mengawinkan pada birahi kedua dan 14,54 peternak mengawinkan setelah birahi ketiga. 5). Umur pemeliharaan induk, 80 % peternak memelihara/ mempertahankan induk sapi sampai umur lebih dari 7 tahun dan 20 % mempertahankan induk sampai umur 7 tahun.
Pelatihan Pembuatan Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB) Di Kampung Kalisemen Distrik Nabire Barat Gane Putra, Trijaya; Tumbal, Estepanus L S
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v5i2.3316

Abstract

Pelatihan UMMB diadakan untuk meningkatkan kualitas pakan ruminansia melalui metode yang efisien dan ekonomis. Tujuan utama adalah memberdayakan petani dengan teknik pembuatan UMMB untuk memperbaiki nutrisi hijauan berkualitas rendah, yang berdampak positif pada performa ternak. Kegiatan ini berlangsung di Kampung Kalisemen, Distrik Nabire Barat, dengan partisipasi 10 anggota kelompok tani 'Maju Bersama'. Metode pelatihan meliputi tahap observasi, tahap koordinasi dan tahap pelaksanaan kegiatan pelatihan. Hasil pelaksanaan pelatihan mendapatkan perhatian yang cukup antusias, karena bagi para peternak Urea Multinutrien Molases Block merupakan inovasi baru yang sangat bermanfaat bagi usaha peternakan ternak ruminansia termasuk sapi. Antusiasme peserta ditunjukkan dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan peserta yang disampaikan terutama terkait dengan bahan-bahan yang digunakan sebagai sumber gizi serta bahan lain yang perlu ditambahakan untuk meningkatkan kandungan gizi Urea Molases Multinutrien Block yang dihasilkan, manfaat serta cara memberikannya kepada ternak. Suplementasi gizi dengan Urea Multinutrien Molases Block bagi peternak merupakan inovasi baru yang memiliki manfaat yang sangat baik, yaitu untuk mengatasi kemungkinan defisiensi gizi akibat rendahnya kualitas hijauan pakan yang diberikan pada ternak sapinya, karena diperoleh secara cut and carry dari suatu lokasi yang berulang terus menerus. Dengan demikian semua peserta berhasil membuat UMMB dan menunjukkan peningkatan pengetahuan signifikan tentang nutrisi ternak serta aplikasi UMMB dalam peningkatan kesehatan dan produktivitas ternak.
Pelatihan Prosesing Karkas Ayam Broiler Berbasis Standar Nasional Indonesia (SNI) Untuk Peningkatan Nilai Tambah Peternak Lokal Di Distrik Nabire Putra, Trijaya Gane; Tumbal, Estepanus L.S; Dogomo, Emanuel; Dogomo, Ferdinan
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 4 (2025): Edisi Oktober - Desember
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i4.7778

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak lokal di Distrik Nabire dalam prosesing karkas ayam broiler berbasis Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga mampu menghasilkan produk yang lebih higienis, berkualitas, dan bernilai jual tinggi. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu persiapan dan sosialisasi, pelaksanaan berupa edukasi dan pelatihan teknis, serta pendampingan dan evaluasi. Pelatihan mencakup seluruh proses rantai produksi, mulai dari penanganan pra-penyembelihan, penyembelihan, pengeluaran darah, pencelupan air panas, pencabutan bulu, eviserasi, pencucian, pendinginan, hingga penirisan, grading, pengemasan, dan penyimpanan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta terkait prosedur prosesing sesuai standar, serta meningkatnya kemampuan mereka dalam menerapkan praktik produksi yang higienis dan konsisten. Peserta juga mampu menghasilkan karkas yang lebih baik secara fisik maupun mutu mikrobiologis sehingga berpotensi meningkatkan daya saing produk di pasar lokal. Kesimpulannya, pelatihan berbasis standar dan praktik langsung terbukti efektif meningkatkan kompetensi peternak lokal, dan diperlukan pendampingan lanjutan serta dukungan fasilitas untuk menjaga keberlanjutan penerapan SNI di tingkat produksi.
Population Structure and Production Performance of Native Chicken as a Source of Local Animal Protein Estepanus L. S. Tumbal; Tri Jaya Ganeputra; Mery C. Simanjuntak
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 7 (2025): July
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i7.11582

Abstract

Native chickens are an important local source of animal protein in Kalisemen Village, West Nabire District, Nabire Regency, Central Papua. Despite their significant contribution as a local source of animal protein, a thorough understanding of their population structure and production performance remains limited. This research aims to further examine these aspects to optimize the potential of local chickens as a sustainable source of animal protein. This study aims to examine the population structure and production performance of native chickens as a basis for developing sustainable local livestock. Population data were collected based on age and sex categories, while production performance included the number of eggs per parent, chick mortality rate, and number of chickens sold. The results showed a native chicken population of 2,902 with a dominance of adult females (23.36%). Average egg production was 11.02 eggs per parent with a chick mortality rate of 1.96 and an average chicken sale of 6.98 per farmer. This condition shows the potential of native chickens as a local protein source that needs to be supported by better population management and marketing. Recommendations include strengthening female parents, improving chick maintenance, and developing an integrated marketing system. These findings provide important contributions to food security and local livestock development in Central Papua.