Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

SIKAP IBU TENTANG PIJAT BAYI DI BRAJAN TAMANTIRTO BANTUL YOGYAKARTA Tyasning Yuni Astuti Anggraini; Ekawati .
Jurnal Kebidanan VOLUME 10. No. 01, JUNI 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v10i01.297

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Pijatan bayi merupakan salah satu cara yang menyenangkan untuk menghilangkan ketegangan dan kerewelannya (Roesli, 2008). Melalui sentuhan pemijatan kepada bayi, akan menyebabkan berbagai perubahan positif pada bayi. Sentuhan itu akan membuatnya nyaman dan tenang. Dengan melakukan pemijatan yang benar, bayi akan menunjukkan peningkatan nafsu makan dan efektivitas dalam tidur. Selain itu, pemijatan dapat juga memperbaiki kondisi mental, meningkatkan kecerdasan, dan mengasah kemampuan interaksi sosialnya (Subakti, 2009). Namun sayangnya masih banyak mitos-mitos di masyarakat khususnya pada perawatan bayi yang tetap dipercaya bahwa bayi tidak boleh sering dipijat, badannya masih lemah atau alasan lain yang tidak pernah dibuktikan kebenarannya. Padahal sentuhan pada bayi pada awal-awal kelahirannya bisa memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan bayi (Rahayu, 2005). Tujuan: Untuk mengetahui Sikap Ibu Tentang Pijat Bayi di Dusun Brajan Tamantirto Bantul yogyakarta. Metode: Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1-30 November 2018 Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif.  Insrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dan analisis data univariat.Teknik pengambilan sampel dengan total sampling yaitu semua ibu yang memiliki bayi usia 0-15 bulan sebanyak 30 orang. Hasil Penelitian:Semua ibu (30 orang) memiliki sikap positif tentang pijat bayi. Simpulan: Semua ibu memiliki sikap yang positif terhadap pijat bayi dan diharapakan kepada petugas kesehatan untuk membuka kelas pijat bayi sehingga ibu dapat melakukan pijat bayi secara mandiri dan sesuai teknik.Kunci : Sikap ibu, Pijat bayi MOTHER ATTITUDES ABOUT BABY MASSAGE IN BRAJAN TAMANTIRTO BANTUL YOGYAKARTAABSTRACTBackground: Baby massage is one fun way to remove tension and fussiness (Roesli, 2008). Through a touch of massage to the baby, will cause various positive changes in the baby. That touch will make it comfortable and calm. By doing the right massage, the baby will show increased appetite and effectiveness in sleep. In addition, massage can also improve mental conditions, improve intelligence, and hone the ability of social interaction (Subakti, 2009). But unfortunately there are still many myths in the community, especially in the care of infants who still believed that the baby should not be massaged, his body is still weak or other reasons that have never been verified. Though touching the baby at the beginning of his birth could have a positive effect on infant growth (Rahayu, 2005).Objective: To know Mother Attitude About Baby Massage at Brajan Tamantirto hamlet yogyakarta. Method: The study was conducted on 1-30 November 2018 The type of this research is descriptive quantitative. Insrumen in this study using questionnaires, and univariate data analysis.Tekote sampling technique with total sampling that is all mothers who have babies aged 0-15 months as many as 30 people.Results: All mothers (30 people) had a positive attitude about infant massage. Conclusion: All mothers have a positive attitude toward infant massage and are expected to health workers to open a baby massage class so that mothers can perform infant massage independently and in accordance with the technique.Keywords: Mother attitude, Baby massageABSTRAKLatar Belakang : Pijatan bayi merupakan salah satu cara yang menyenangkan untuk menghilangkan ketegangan dan kerewelannya (Roesli, 2008). Melalui sentuhan pemijatan kepada bayi, akan menyebabkan berbagai perubahan positif pada bayi. Sentuhan itu akan membuatnya nyaman dan tenang. Dengan melakukan pemijatan yang benar, bayi akan menunjukkan peningkatan nafsu makan dan efektivitas dalam tidur. Selain itu, pemijatan dapat juga memperbaiki kondisi mental, meningkatkan kecerdasan, dan mengasah kemampuan interaksi sosialnya (Subakti, 2009). Namun sayangnya masih banyak mitos-mitos di masyarakat khususnya pada perawatan bayi yang tetap dipercaya bahwa bayi tidak boleh sering dipijat, badannya masih lemah atau alasan lain yang tidak pernah dibuktikan kebenarannya. Padahal sentuhan pada bayi pada awal-awal kelahirannya bisa memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan bayi (Rahayu, 2005). Tujuan: Untuk mengetahui Sikap Ibu Tentang Pijat Bayi di Dusun Brajan Tamantirto Bantul yogyakarta. Metode: Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1-30 November 2018 Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif.  Insrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dan analisis data univariat.Teknik pengambilan sampel dengan total sampling yaitu semua ibu yang memiliki bayi usia 0-15 bulan sebanyak 30 orang. Hasil Penelitian:Semua ibu (30 orang) memiliki sikap positif tentang pijat bayi. Simpulan: Semua ibu memiliki sikap yang positif terhadap pijat bayi dan diharapakan kepada petugas kesehatan untuk membuka kelas pijat bayi sehingga ibu dapat melakukan pijat bayi secara mandiri dan sesuai teknik. Kunci : Sikap ibu, Pijat bayi MOTHER ATTITUDES ABOUT BABY MASSAGE IN BRAJAN TAMANTIRTO BANTUL YOGYAKARTAABSTRACTBackground: Baby massage is one fun way to remove tension and fussiness (Roesli, 2008). Through a touch of massage to the baby, will cause various positive changes in the baby. That touch will make it comfortable and calm. By doing the right massage, the baby will show increased appetite and effectiveness in sleep. In addition, massage can also improve mental conditions, improve intelligence, and hone the ability of social interaction (Subakti, 2009). But unfortunately there are still many myths in the community, especially in the care of infants who still believed that the baby should not be massaged, his body is still weak or other reasons that have never been verified. Though touching the baby at the beginning of his birth could have a positive effect on infant growth (Rahayu, 2005).Objective: To know Mother Attitude About Baby Massage at Brajan Tamantirto hamlet yogyakarta. Method: The study was conducted on 1-30 November 2018 The type of this research is descriptive quantitative. Insrumen in this study using questionnaires, and univariate data analysis.Tekote sampling technique with total sampling that is all mothers who have babies aged 0-15 months as many as 30 people.Results: All mothers (30 people) had a positive attitude about infant massage. Conclusion: All mothers have a positive attitude toward infant massage and are expected to health workers to open a baby massage class so that mothers can perform infant massage independently and in accordance with the technique.                                                                       38                                                     Jurnal Kebidanan, Vol. X, No. 01, Juni 2018                                                Keywords: Mother attitude, Baby massage
PERSEPSI KADER POSYANDU TENTANG POSYANDU DAN SISTEM INFORMASI POSYANDU DI DESA SUKOHARJO; STUDI KUALITATIF Tyas Ning Yuni Astuti Anggraini; Ekawati; Kharisma; Dian Puspitasari
MEDIA ILMU KESEHATAN Vol 11 No 1 (2022): Media Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/mik.v11i1.740

Abstract

Background: In the 2020 RPJMN, main focus the government is promotive and preventive. Promotive and preventive efforts can be built from the Posyandu level. The Posyandu monitors the health conditions of mothers and children on a monthly basis. Monitoring is carried out by health cadres.Objective: To find out the perception of health cadres related to Posyandu and Posyandu information systems in Sukoharjo Village.Methods: The type of research that will be used in this research is qualitative research. The research subject is the selection of some of the Posyandu cadres in Sukoharjo Village as respondents to evaluate the quality of information between before and after system development. Sampling was done by purposive sampling. Content analysis is used to analyze qualitative data derived from the results of in-depth interviews and observations related to the development of information systems.Results: Shows that most of them are in the young category (31-47 years) by 8 people (62%), the majority of education is high school education/equivalent as many as 8 people (62%), and with work most of them are housewives as many as 9 people (69%) . Perception consists of 5 dimensions, 4 dimensions related to Posyandu as a whole, namely related to the duties of Health cadres, Posyandu implementation techniques, barriers to Posyandu implementation, and coordination of Health workers with cadres. Meanwhile, in another dimension related to the posyandu information system, the focus is on the views of cadres related to the expected posyandu information system.Conclusion: In the perception of cadres related to posyandu and posyandu information systems, there are 5 main dimensions.
Integrated nutritional garden innovation using vertiminaponic method and PROSA-HI as an effort to prevent stunting in Ngalang Village Tri Sunarsih; Endah Puji Astuti; Bambang Retnoaji; Elvika Fit Ari Shanti; Ekawati Ekawati
Community Empowerment Vol 8 No 5 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.7340

Abstract

Ngalang Village is one of the villages in Gedangsari District, Gunung Kidul Regency with a high stunting rate (short and very short) of 28.23%. Nutrition is one of the important factors that determine the level of health of physical and mental development. This is important because it concerns the quality of Indonesia's human resources in the future. The purpose of this program is to improve nutritional status as well as maternal and child health through innovative integrated nutrition gardens using the vertiminaponic method and technology-based PROSA-HI in Ngalang Village. The method that will be applied in this community service activity consists of implementing the PROS-HI innovation, integrated nutrition garden innovation with the vertiminaponic method and evaluating activities. The results of this activity showed an increase in the participants' understanding of the material presented (p value = 0.000). In general, vertiminaponics can solve the nutritional problem of stunting toddlers.
Pencegahan Stunting dengan Peningkatan Pengetahuan Ibu dengan Balita di TK Tunas Islam Yogyakarta Dwi Susanti Susanti; Afi Lutfiyati; Ekawati
The Journal of Innovation in Community Empowerment Vol 5 No 2 (2023): Journal of Innovation in Community Empowerment (JICE)
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jice.v5i2.988

Abstract

Stunting pada balita perlu menjadi perhatian khusus karena dapat menghambat perkembangan fisik dan mental anak. Stunting berkaitan dengan peningkatan risiko kesakitan dan kematian serta terhambatnya pertumbuhan kemampuan motorik dan mental. Balita yang mengalami stunting memiliki risiko terjadinya penurunan kemampuan intelektual, produktivitas, dan peningkatan risiko penyakit degeneratif di masa mendatang. Salah satu faktor yang berpengaruh secara langsung pada balita stunting adalah rendahnya asupan zat gizi terutama energi, protein, iron, zinc, dan kalsium. Asupan zat gizi tersebut diperoleh dari Air Susu Ibu (ASI) dan Makanan Pendamping-Air Susu Ibu (MP-ASI). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor kejadian stunting adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan dan gizi sehingga ibu tidak dapat mengambil sikap dalam upaya mencegah terjadinya stunting. Menurut hasil penelitian sebelumnya terdapat hubungan antara sikap dan pengetahuan ibu dengan kejadian stunting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan wali murid siswa TK Tunas Islam Yogyakarta tentang stunting dan pencegahannya. Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan di TK Tunas Islam dengan jumlah peserta sebanyak 33 orang. Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan terjadi peningkatan pengetahuan wali murid tentang stunting dan pencegahannya. Pengetahuan ibu sebelum diberikan penyuluhan kesehatan dalam kategori cukup (45,6%) dan setelah diberikan penyuluhan kesehatan mayoritas dalam kategori baik (63,64%).
Persepsi Kader Posyandu tentang Penggunaan Sistem Informasi Posyandu di Desa Sukoharjo Ngaglik Sleman Tyas Ning Yuni Astuti Anggraini; Ekawati Ekawati; Kharisma Kharisma
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/formil.v8i1.485

Abstract

Proses pemantauan kesehatan ibu dan anak di Indonesia secara rutin setiap bulan dilakukan di Posyandu. Berdasarkan studi pendahuluan melalui Bidan desa, terdapat permasalahan terkait pengumpulan data posyandu yaitu data yang diisi dalam bentuk format lalu dikirimkan ke Bidan Desa setiap 1 bulan sekali, namun kader tidak tepat waktu mengumpulkan. Jika data dalam bentuk manual ini terdapat kesalahan dan kekurangan, maka berakibat pada data Posyandu yang tidak tepat sehingga keputusan pengambilan di Desa bisa kurang tepat yang nantinya akan mempengaruhi kebijakan dalam menanggulangi kesehatan ibu dan anak. Di era yang modern seperti saat ini, dimungkinkan untuk menghemat waktu dan tenaga yaitu dengan sistem komputerisasi. Namun, sistem inipun diharapkan bisa memudahkan para kader, maka studi ini melihat bagaimana pandangan kader posyandu terkait penggunaan sistem informasi posyandu. Jenis penelitian ini bersifat kualitatif. Subyek penelitian menggunakan purposive sampel yakni di seleksi dari beberapa kader Posyandu di desa Sukoharjo. Pengambilan data menggunakan teknik fokus grup discussion dan observasi terkait dengan pengembangan sistem informasi. Kader berusia muda (31-47 tahun) sebanyak 8 orang (62%), mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 8 orang (62%) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 9 orang (69%). Pelaksanaan pelaporan menggunakan sistem informasi pada awalnya mengalami penolakan dikarenakan kebutuhan peralatan yang diharapkan terpenuhi seperti: handphone, akses internet dan pelatihan. Subyek penelitian menggunakan purposive sampel yakni di seleksi dari beberapa kader Posyandu di desa Sukoharjo. Pengambilan data menggunakan teknik fokus grup discussion dan observasi terkait dengan pengembangan sistem informasi. Kader berusia muda (31-47 tahun) sebanyak 8 orang (62%), mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 8 orang (62%) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 9 orang (69%). Pelaksanaan pelaporan menggunakan sistem informasi pada awalnya mengalami penolakan dikarenakan kebutuhan peralatan yang diharapkan terpenuhi seperti: handphone, akses internet dan pelatihan. Subyek penelitian menggunakan purposive sampel yakni di seleksi dari beberapa kader Posyandu di desa Sukoharjo. Pengambilan data menggunakan teknik fokus grup discussion dan observasi terkait dengan pengembangan sistem informasi. Kader berusia muda (31-47 tahun) sebanyak 8 orang (62%), mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 8 orang (62%) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 9 orang (69%). Pelaksanaan pelaporan menggunakan sistem informasi pada awalnya mengalami penolakan dikarenakan kebutuhan peralatan yang diharapkan terpenuhi seperti: handphone, akses internet dan pelatihan. mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 8 orang (62%) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 9 orang (69%). Pelaksanaan pelaporan menggunakan sistem informasi pada awalnya mengalami penolakan dikarenakan kebutuhan peralatan yang diharapkan terpenuhi seperti: handphone, akses internet dan pelatihan. mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 8 orang (62%) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 9 orang (69%). Pelaksanaan pelaporan menggunakan sistem informasi pada awalnya mengalami penolakan dikarenakan kebutuhan peralatan yang diharapkan terpenuhi seperti: handphone, akses internet dan pelatihan.Sesuai hasil diskusi dengan kader, sistem informasi di Posyandu harus dapat memfasilitasi tiga hal yaitu handphone, akses internet, dan pelatihan. Diharapkan pula memilih kader yang sesuai agar lebih mudah menggunakan sistem informasi Posyandu.
KIDS YOGA UNTUK MENINGKATKAN DAYA INGAT DAN KONSENTRASI PADA ANAK UMUR 5-7 TAHUN SECARA DARING (ONLINE) DI FAKULTAS KESEHATAN UNJANI YOGYAKARTA Liberty Barokah; Silvia Ari Agustina; Ika Fitria Ayuningtyas; Ekawati
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 3: Agustus 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v2i3.2950

Abstract

Yoga anak adalah teknik yang membuat anak bisa konsentrasi dalam belajar yang secara khusus diterapkan oleh orang tua dalam mengasuh anak. teknik ini bermanfaat meningkatkan kualitas belajar anak dan kecerdasan anak, membuat orang tua dapat menerapkan pola asuh tanpa paksaaan. Latihan yoga tidak hanya berdampak positif bagi fisik, tetapi juga bermanfaat bagi pikiran dan jiwa, termasuk dalam penunjang konsentrasi belajar siswa. Kegiatan ini bertujuan agar ibu yang mempunyai anak umur 5-7 tahun mendapatkan pengetahuan tentang yoga anak manfaat serta cara melakukan yoga di rumah untuk membantu konsentrasi anak.. Pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari tiga tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tahap akhir. Tahapan persiapan meliputi pengkajian masalah dan penyusunan proposal. Tahapan pelaksanaan memberikan pendidikan kesehatan tentang yoga anak dan melakukan yoga Bersama anak-anak. Tahap yang terakhir adalah melakukan evaluasi terhadap pengetahuan ibu tentang yoga anak dan melihat apakah anak bisa mengulangi Gerakan yoga yang sudah diajarkan. Kegiatan ini dinilai berhasil karena mayoritas ibu mengalami peningkatan pengetahuan setelah penyuluhan yaitu prestest pengetahuan baik 15,67% dan posttest menjadi 34,39%. Kesimpulan terjadi peningkatan pengetahuan dan anak bisa mngulang gerakan yoga untuk meningkatkan konsentrasi
The Effect of Murrotal Therapy With St Belt on Maternal and Fetal Wellbeing Tri Sunarsih; Ekawati Ekawati; Endah Puji Astuti; Elvika Fit Ari Shanti
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 7, No S1 (2022): Suplement 1
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.152 KB) | DOI: 10.30604/jika.v7iS1.1336

Abstract

Background. Improving fetal intelligence starts with stimulation made by his mother; maternal soul tranquility highly affects the stimulation a mother will make to her fetus. Maternal soul tranquility will make the mother stimulate her baby happily, thereby improving fetal intelligence. For pregnant women to be able to stimulate the fetus well, they should be healthy physically, mentally, spiritually, and socially. Objective. This research aims to find out the effect of St Belt on maternal and fetal spiritual well-being. Method. This research used a quasi-experimental method. The design used was a non-equivalent pre-test and post-test control-group design. The population of the research was all pregnant women with 24-38 week gestation having their pregnancy examined routinely in PMB Kuswatiningsih. The sampling technique used in this research was nonprobability sampling with purposive sampling. The main instruments used were Spiritual Well-Being and CTG. Data analysis was conducted using paired and independent t-tests. Result. There is no difference in breath movement, DJJ, and amniotic fluid volume between before and after intervention in the experimental group. There are 8 (eight) pregnant women with a score of 10, 1 (one) with a score of 8, and 1 (one) with a score of 6. In the control group, there is a difference in scores; in the prior examinations, 6 (six) pregnant women scored 10, but in the last examination, 7 pregnant women scored 10. There is a significant difference of anxiety levels after intervention in the respondents in the experimental group with a p-value = 0.002 (p less than 0.50). There is a significant difference in the spiritual level before intervention in the respondents of the experimental group with a p-value = 0.002 (p less than 0.50).