Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENGEMBANGAN KEBIJAKAN TERHADAP HASIL EVALUASI IMPLEMENTASI PROGRAM DAN POLA SEBARAN KASUS KUSTA DI KOTA AMBON Samsu, Semoel Leonard; Hafizurrachman, Muhammad
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i2.5749

Abstract

Leprosy remains a public health problem in Ambon City, with major challenges in early detection, chemoprophylaxis coverage, and uneven case distribution. This study aims to develop policy recommendations based on the evaluation of leprosy program implementation and spatial distribution patterns of leprosy cases in Ambon City in 2024. This research employed a qualitative method using the CIPP evaluation model (Context, Input, Process, Product), combined with spatial analysis using GeoDa software and the K-Means Clustering technique. Data were collected through document review, in-depth interviews, field observations, and geospatial mapping. This study uses a qualitative method, with the CIPP (Context, Input, Process, Product) evaluation model, and spatial analysis using GeoDa software with the K-Means Clustering technique. Data were collected through document review, in-depth interviews, data observation, and geospatial mapping. Results: Shows that the context and input variables are in the fairly good category, but in the process variables there is a mismatch between the implementation of the intervention and operational standards, such as less than optimal close contact tracing. In the product variable, the success of the program implementation has not been in line with a significant decrease in cases. The results of triangulation show that data from interviews and observations are mutually reinforcing, while findings from documents at several points are not fully synchronized. Spatial analysis using K-Means Clusters groups the regions into five clusters; areas with high cases tend to be in remote areas and difficult to reach. This pattern indicates an uneven distribution of cases and the need for area-based interventions. The evaluation results indicate the need for improvements in process and outcome variables, including spatial distribution. The policies developed are directed at improving the reporting recording system, strengthening the capacity of health workers, optimizing close contact tracing and chemoprophylaxis, using spatial analysis to accelerate early detection, and reducing active transmission, especially in remote areas with high cases. The implementation of the leprosy program in Ambon City still faces significant challenges and requires a more integrated and area-based approach, based on the results of the evaluation and spatial mapping. ABSTRAKKusta masih menjadi masalah kesehatan di Kota Ambon dengan tantangan utama pada deteksi dini, cakupan kemoprofilaksis, dan distribusi kasus yang tidak merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kebijakan terhadap hasil evaluasi implementasi program kusta dan pola sebaran kasus kusta di Kota Ambon tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product), serta analisis spasial menggunakan software GeoDa dengan teknik K-Means Clustering. Data dikumpulkan melalui telaah dokumen, wawancara mendalam, observasi data, dan pemetaan geospasial. Menunjukkan bahwa variabel konteks dan input berada dalam kategori cukup baik, namun pada variabel proses ditemukan ketidaksesuaian antara pelaksanaan intervensi dan standar operasional, seperti pelacakan kontak erat yang belum optimal. Pada variabel produk, keberhasilan pelaksanaan program belum sejalan dengan penurunan kasus secara signifikan. Hasil triangulasi menunjukkan bahwa data dari wawancara dan observasi saling menguatkan, sementara temuan dari dokumen pada beberapa poin tidak sepenuhnya sinkron. Analisis spasial menggunakan K-Means Clusters mengelompokkan wilayah menjadi lima klaster; daerah dengan kasus tinggi cenderung berada di wilayah pinggiran dan sulit dijangkau. Pola ini mengindikasikan distribusi kasus yang tidak merata dan perlunya intervensi berbasis wilayah. Hasil evaluasi menunjukkan perlunya perbaikan pada variabel proses dan hasil, termasuk distribusi spasial. Kebijakan yang dikembangkan diarahkan pada peningkatan sistem pencatatan pelaporan,  penguatan kapasitas tenaga kesehatan, optimalisasi pelacakan kontak erat dan kemoprofilaksis, penggunaan analisis spasial dalam mempercepat deteksi dini, serta mengurangi penularan aktif, khususnya pada wilayah pinggiran dengan kasus tinggi. implementasi program kusta di Kota Ambon masih menghadapi tantangan signifikan dan membutuhkan pendekatan yang lebih terintegrasi dan berbasis wilayah, berdasarkan hasil evaluasi dan pemetaan spasial.
Strategis dan Praktikal Atas Hasil Evaluasi Efektevitas Edukasi Audiovisual Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Sirait, Indriyani Syahputri; Hafizurrachman, Muhammad; Novinda, Dina
Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia Vol. 4 No. 04 (2025): Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia
Publisher : Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia (YMPAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70304/jmsi.v4i04.51

Abstract

Tingkat ketaatan penderita Tuberkulosis (TBC) dalam menjalani terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) masih menjadi hambatan utama di wilayah Kabupaten Batu Bara. Ketidakpatuhan ini berisiko mengurangi efektivitas pengobatan dan memicu timbulnya resistensi terhadap obat. Studi ini bertujuan untuk menilai sejauh mana penyuluhan melalui media audiovisual mampu meningkatkan kepatuhan minum OAT, sekaligus merancang pendekatan praktis yang dapat diimplementasikan di fasilitas layanan primer seperti Puskesmas. Penelitian memakai desain kuasi eksperimen dengan model one group pre-test and post-test. Populasi mencakup seluruh pasien TBC yang terdaftar sepanjang tahun 2024, dan dipilih 30 orang sebagai sampel yang hadir dalam sesi edukasi pada 4 Maret 2025. Penilaian kepatuhan dilakukan menggunakan instrumen MMAS-8, yang diberikan sebelum dan satu pekan setelah intervensi edukasi. Materi video dikembangkan secara kontekstual untuk menjelaskan penyakit TBC paru serta urgensi kepatuhan terhadap pengobatan. Pengolahan data mencakup analisis univariat, bivariat menggunakan uji t, dan analisis lanjutan melalui regresi logistik. Temuan menunjukkan peningkatan kepatuhan yang signifikan pasca intervensi audiovisual (p = 0,003). Dua aspek yang paling memengaruhi kepatuhan adalah jenis pekerjaan (p = 0,021) dan beban biaya pengobatan (p = 0,015), yang mengindikasikan adanya pengaruh yang bermakna dari kondisi sosial ekonomi terhadap perilaku kepatuhan pasien. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar media audiovisual dijadikan sarana edukasi rutin di Puskesmas, khususnya bagi pasien dengan keterbatasan finansial. Dibandingkan dengan metode ceramah konvensional, pendekatan ini terbukti lebih menarik, mudah dipahami, dan dapat meningkatkan keterlibatan pasien dalam pengobatan. Hasil ini dapat menjadi rujukan dalam merancang program edukatif berbasis media di lini pelayanan kesehatan dasar, terutama untuk pengendalian kasus TBC.
PENGARUH PENGETAHUAN PASIEN, DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN ANTIRETROVIRAL PADA PENDERITA HIV/AIDS DI RSUD PANIAI TAHUN 2025 Atik, Kartika; Hafizurrachman, Hafizurrachman
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55121

Abstract

Keberhasilan program pengendalian HIV/AIDS sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam mengonsumsi antiretroviral (ARV), yang dipengaruhi oleh pengetahuan pasien dan dukungan keluarga. Di Kabupaten Paniai, tingginya angka ketidakpatuhan pasien menjadi tantangan serius dalam mencapai target eliminasi HIV/AIDS. Interaksi sehari-hari dan kedekatan emosional antara pasien dan keluarga menciptakan lingkungan yang mendukung semangat dan kepatuhan terapi ARV. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pengetahuan pasien dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan pengobatan ARV pada pasien HIV/AIDS di RSUD Paniai tahun 2025. Penelitian menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan 40 responden dari populasi 640 pasien HIV, dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan SEM-PLS dengan SmartPLS 4 dan SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan dukungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan dan kepatuhan pasien, sedangkan pengetahuan pasien juga memengaruhi kepatuhan pengobatan. Ditemukan pula pengaruh tidak langsung (mediasi parsial) antara dukungan keluarga dan kepatuhan melalui pengetahuan pasien. Dukungan keluarga yang tinggi meningkatkan pengetahuan pasien, sejalan dengan temuan Tri Ramadani (2020) yang menunjukkan kontribusi dukungan keluarga terhadap harga diri pasien HIV/AIDS sebesar 89,3%. Temuan ini menegaskan bahwa semakin kuat dukungan keluarga—baik emosional, informasional, maupun praktis—semakin tinggi kemungkinan pasien patuh dalam mengonsumsi ARV sesuai jadwal dan anjuran medis. Dengan demikian, dukungan keluarga merupakan faktor penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien dan kepatuhan pengobatan, yang pada akhirnya mendukung keberhasilan program pengendalian HIV/AIDS di RSUD Paniai, Kabupaten Paniai tahun 2025.
The 7Ps Marketing Mix in Hospital Services: A Systematic Mapping of Applications Through a Scoping Review Rindu, Rindu; Hafizurrachman, Muhammad; Haryanto, Astrid Novita; Zakaria, Wan Nur Amalina
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia Vol 11, No 1 (2025): Volume 11, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v11i1.82221

Abstract

Background: The marketing mix is a vital framework for optimizing hospital services, improving patient satisfaction, and maintaining competitiveness in the healthcare sector. Despite its growing adoption, implementation remains inconsistent, with limited comprehensive reviews evaluating its overall effectiveness.Objective: This scoping review explores the application of the marketing mix in hospital services, identifies key challenges and opportunities, and highlights research gaps to inform future healthcare marketing strategies.Methods: A scoping review was conducted following Arksey and O’Malley’s framework and PRISMA-ScR guidelines. A systematic search across PubMed, Scopus, and Web of Science identified peer-reviewed studies published between 2019 and 2023. Studies focusing on the marketing mix in hospital services were included, while non-peer-reviewed and irrelevant articles were excluded. Data extraction analyzed the implementation of the 7Ps framework and its outcomes.Results: Seven studies examined the marketing mix in hospitals, highlighting key findings. Hospitals differentiate through specialized services, pricing strategies influence affordability, and accessibility affects patient choices. Digital marketing enhances engagement, and expert professionals improve service quality, though workforce shortages pose challenges. Streamlined procedures and modern infrastructure enhance patient experience, but barriers like high service costs, geographic constraints, digital literacy gaps, and operational inefficiencies limit full implementation.Conclusion: The marketing mix is essential for hospital services and patient satisfaction but faces challenges in accessibility, workforce management, and digital transformation. Future research should assess its long-term impact and develop tailored frameworks to enhance hospital marketing effectiveness
PENGARUH MOTIVASI INTRINSIK, MOTIVASI EKSTRINSIK, SOCIAL SUPPORT, DAN SELF-EFFICACY TERHADAP KINERJA PETUGAS PENJARINGAN KASUS TUBERKULOSIS BERDASARKAN SELF-DETERMINATION THEORY Alam, Esti Frastika; Hafizurrachman, Hafizurrachman
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9817

Abstract

Tuberculosis (TB) remains a major public health concern, with Indonesia contributing substantially to the global burden. In Tanggamus Regency, the case detection rate (CDR) for the 2021–2024 period has not yet reached the national target of 65%. Suboptimal case-finding performance is presumed to be associated with psychological and social factors, including intrinsic motivation, extrinsic motivation, social support, and self-efficacy. This study aimed to examine the influence of these factors on TB case-finding performance using the Self-Determination Theory framework. A quantitative analytic study with a cross-sectional design was conducted among healthcare workers involved in TB programs. Data were collected using a structured questionnaire that met validity and reliability criteria. Data analysis employed Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to assess relationships among variables through path coefficients, R², and Q² values. The results indicated that most respondents demonstrated good levels of intrinsic motivation, extrinsic motivation, self-efficacy, social support, and performance. Structural analysis revealed that intrinsic motivation was the most dominant factor influencing performance. Social support and self-efficacy contributed indirectly by strengthening intrinsic motivation, while extrinsic motivation showed a relatively minor effect. The model demonstrated strong explanatory power. Overall, internal factors were more influential than external factors in improving TB case-finding performance. Strengthening intrinsic motivation and self-efficacy through empowering strategies, supported by appropriate social support and proportional incentives, is recommended to enhance case detection outcomes. ABSTRAKTuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, dengan Indonesia termasuk negara berkontribusi besar terhadap beban kasus global. Di Kabupaten Tanggamus, capaian case detection rate (CDR) periode 2021–2024 belum mencapai target nasional sebesar 65%. Rendahnya kinerja penjaringan kasus diduga berkaitan dengan faktor psikologis dan sosial, meliputi motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, dukungan sosial, dan self-efficacy. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kinerja penjaringan kasus TB dengan menggunakan kerangka Self-Determination Theory. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional pada petugas kesehatan yang terlibat dalam program TB. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan metode Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan antarvariabel melalui nilai path coefficient, R², dan Q². Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, self-efficacy, dukungan sosial, dan kinerja dalam kategori baik. Analisis struktural mengidentifikasi motivasi intrinsik sebagai faktor paling dominan dalam memengaruhi kinerja penjaringan kasus TB. Dukungan sosial dan self-efficacy berkontribusi secara tidak langsung melalui peningkatan motivasi intrinsik, sedangkan motivasi ekstrinsik memiliki pengaruh yang relatif kecil. Model yang dihasilkan memiliki daya jelaskan yang tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa faktor internal memiliki peran yang lebih kuat dibandingkan faktor eksternal dalam meningkatkan kinerja penjaringan kasus TB. Oleh karena itu, upaya peningkatan kinerja perlu diarahkan pada penguatan motivasi intrinsik dan self-efficacy melalui pendekatan yang bersifat memberdayakan, disertai dukungan sosial dan pemberian insentif yang proporsional.