Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

The Use of Phosphate Modified Sago Starch in the making of Fish Ball of the Swangi Fish (Priacanthus tayenus) Rohaya, Syarifah; harijono, Harijono; Yunianta, Yunianta
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 7, No 3 (2006)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1893.205 KB)

Abstract

The objectives of this study were to obtain the best of method phosphate modification on sago starch for the making of fish ball of the Swangi fish (Priacanthus tayenus). The research was conducted in two experiments. The first one was a factorial randomized block design experiment with two factors: the types of composite sago starch (CSS made by blending of the natural sago starch (NSS) to the phosphate one (PSS) at various levels (100:0, 75:25, 50:50 and 25:75) and the ratio of the CSS to fish meat apportion of 5%, 10% and 15% respectively. The results indicated that the use of 0.07% STPP produced the best characteristics of phosphate starch intended for the making of fish ball. The PSS, at a moisture content of 9.86%, contains 72.12% starch, 33.07% amylose, 0.38% ash, water absorption index of 525.85%, water solubility index of 0.41%, viscosity of 1020 cps, gel strength of 2.38, Newton the residual phosphor of 0.03%, and the degree of lightness (L value) of 63.23. The best fish ball was obtained by the use of CSS, blended of 25 parts of NSS and 75 parts of PSS, and the fish meat at the ratio of 10%. The fish ball had the following characteristics: 79.42% moisture, 13.59% protein, 0.54% ash, 0.08% fat the texture of 0.014 mm/g/sec, 59.43% of water holding capacity. However, the color of the fish ball made up of PSS-containing CSS was slightly dull. Keywords: Sago starch, phosphate modification, fish ball, Priacanthus tayenus
Efek Pemberian Ekstrak Kulit Jeruk Keprok (Citrus Reticulata) terhadap Cell-Cycle G1 Arrest dan Apoptosis pada Sel Kultur Retinoblastoma Rohaya, Syarifah; Hariwati, Hariwati; W, Lely Retno; Sujuti, Hidayat
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.198 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.2

Abstract

Retinoblastoma adalah kanker intraokular yang terjadi pada anak usia dini, disebabkan oleh terganggunya supresor tumor gen RB baik secara herediter maupun nonherediter. Tatalaksananya adalah enukleasi, eksentrasi, kemoterapi, laser fotokoagulasi, cryotherapi, dan radioterapi. Apabila tidak diobati hampir seluruh pasien mengalami proses desak ruang dan penyebaran tumor. Kemoterapi bukan merupakan pilihan terapi selektif karena hal ini semakin merusak sel normal pada jaringan yang normal. Sehingga peneliti mencari alternatif terapi seperti ekstrak kulit jeruk keprok yang memiliki fungsi sebagai anti karsinogenik, anti tumor, anti invasif dan anti metastasis. Penelitian ini merupakan analitik eksperimental pada sel kultur retinoblastoma yang dipapar dengan ekstrak kulit jeruk keprok. Sel kultur retinoblastoma dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol,  kultur+ekstrak kulit jeruk keprok dosis 10mg/mL, kultur+ekstrak kulit jeruk keprok dosis 20mg/mL dan kultur+ekstrak kulit jeruk keprok dosis 40mg/mL. Diinkubasi selama 72 jam lalu dilakukan pengecatan dengan propidium iodide untuk diperiksa menggunakan flowcitometry. Hasil pemeriksaan dengan flowcitometry berupa gambaran histogram dari siklus sel dan apoptosis. Sel kultur retinoblastoma pada fase G1/S, kelompok kontrol (15,03±3,03), kelompok ekstrak kulit jeruk keprok dosis 10mg/mL (12,47±2,51), 20mg/mL (12,30±1,33) dan 40mg/mL (10,80±1,52) (p=0,027) menunjukkan bahwa ekstrak kulit jeruk keprok tidak menginduksi G1 arrest. Pada data apoptosis, kelompok kontrol (35,0±3,96), kelompok ekstrak kulit jeruk keprok dosis 10mg/mL (33,63±0,88), 20mg/mL (38,48±8,96) dan 40mg/mL (64,42±2,09) (p=0,000) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kulit jeruk keprok menginduksi apoptosis pada sel kultur retinoblastoma. Kulit buah jeruk keprok (Citrus reticulata) mengandung berbagai macam senyawa flavonoid, yang bertindak sebagai anti-karsinogenik, anti-tumor, anti-invasif dan anti-metastasis. Pemberian ekstrak kulit jeruk keprok tidak menginduksi cell-cycle G1 arrest tetapi menginduksi proses apoptosis.Kata Kunci: Apoptosis, cell-cycle G1 arrest, ekstrak kulit jeruk keprok (Citrus reticulata), sel kultur retinoblastoma
Isolation and identification of microalgae as omega-3 sources from mangrove area in Aceh Province Sri Haryani Anwar; M. Ikhsan Sulaiman; Syarifah Rohaya; Novi Safriani
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 3, No 1 (2013): Life Sciences
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.368 KB)

Abstract

Omega-3 fatty acids such as eicosapentaenoic acid (EPA) and docosahexaenoic acid (DHA) are essential fatty acids with numerous health benefits. The main sources of these fatty acids are fish and fish oils. However, fish supply is limited and the availability is uncertain. There are two main problems with regard to fish supply: overfishing and mercury contamination. In addition, food enrichment with fish oil is apparently challenging due to sensitivity of fish oil to oxidation, and fishy smell which make them less attractive to consumers. Based on above problems, alternative sources of EPA and DHA must be found. Analternative for omega-3 fatty acids are microalgae. This research aims to isolate, identify, and find microalgae biodiversity that are able to produce omega-3 fatty acids in their cells. Microalgae were isolated from fallen, senescent leaves of mangrove tree (Kandelia candel) in two locations in Aceh. The colonies were identified morphologically using light and stereo microscopes with 1000x magnifications. The results were compared with those in literatures. This research has isolated and identified some genus of microalgae thatwere predicted belong to order Labyrinthulida and family Thraustochytriidae. Morphological observations have also confirm identification of one fungi, genus Mortierella. All identified microalgae and fungi are omega-3 fatty acids producers, mainly EPA and DHA
ANALISA KESADARAN KONSUMEN TERHADAP PENGGUNAAN STYROFOAM PADA ANAK SEKOLAH MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 1 BANDA ACEH Ismail Sulaiman; Syarifah Rohaya; Irfan Irfan; Muhammad Ikhsan Sulaiman; Novia Mehra Erfiza
LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : Department of Agricultural Product Technology, Faculty of Agricultural Technology, Universitas Andalas Kampus Limau Manis - Padang, Sumatera Barat Indonesia-25163

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/logista.5.2.69-74.2021

Abstract

Penggunaan kemasan plastik sebagai bahan kemasan pada makanan memerlukan perhatian khusus terhadap siswa di sekolah yang berada di Banda Aceh. Salah satu kemasan yang digunakan adalah styrofoam. Penggunaan kemasan styrofoam sangat banyak terutama pada pembungkus makanan, hal ini sangat dikhawatirkan apabila digunakan pada makanan yang kondisinya panas sehingga kemasan tersebut dapat bereaksi dan menghasilkan senyawa karsinogenik. Kemasan ini sangat sering digunakan oleh penjual dikarenakan mudah, ringan dan murah, namun dari sisi kesehatan menunjukkan bahwa kemasan ini kurang baik digunakan pada kemasan bahan pangan yang panas karena akan bereaksi dengan kandungan polimernya. Pengabdian ini dilakukan dengan cara sosialisasi bahaya penggunaan kemasan plastik terutama bahan dasar styrofoam pada siswa sekolah MTSN 1 Banda Aceh. Data yang dihasilkan sebelum dilakukan sosialisasi, hampir 79% siswa tersebut memahami terhadap penggunaan plastik terutama styrofoam, setelah sosialisasi dan hasil survey yang dilakukan menunjukkan bahwa 83% siswa menjadi paham terhadap bahaya penggunaan styrofoam, hal ini menunjukkan bahwa hasil ini menjadi dasar siswa dalam memahami terhadap penggunaan kemasan styrofoam. Kata kunci: styrofoam, plastik, kemasan, sosialisasi, sekolah, survey ABSTRACT The use of plastic packaging as packaging material for food requires special attention to students in schools in Banda Aceh. One of the packaging used is Styrofoam. The use of styrofoam packaging is very much, especially in food packaging. They used Styrofoam on hot food so that the packaging could react and produce carcinogenic compounds. Sellers often use this packaging because it is easy, light, and cheap, but from a health perspective, it shows that this packaging is not suitable for use in hot food packaging because it will react with the polymer content. This service is carried out by socializing the dangers of using plastic packaging, especially the primary material of Styrofoam, to students at MTSN 1 Banda Aceh. The data generated before the socialization was carried out, almost 79% of these students understood the use of plastic, especially Styrofoam, after socialization and the results of the survey conducted showed that 83% of students became aware of the dangers of using Styrofoam, this indicates that these results are the basis for students to understand the use of styrofoam packaging. Keywords: styrofoam, plastic, packaging, socialization, school, survey
Kualitas Tuna Kaleng dari Perairan Aceh yang Disterilisasi dengan Pressure Canner Sri Haryani Anwar; Rosa Wildatul Hifdha; Syarifah Rohaya; Hafidh Hasan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i1.705

Abstract

Ikan tuna termasuk komoditi yang mudah rusak sehingga perlu diolah untuk memperpanjang umur simpan, salah satu caranya dengan pengalengan. Penelitian tentang pengalengan tuna dari perairan Aceh belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kualitas tuna kaleng yang disterilisasi menggunakan alat pressure canner berkapasitas 24L dengan memvariasikan suhu dan lama sterilisasi (suhu 121°C selama 20 menit dan suhu 115°C selama 50 menit) serta jenis medium (larutan garam dan minyak kelapa sawit). Ikan tuna yang dikalengkan diperoleh dari perairan Aceh. Parameter kualitas bahan baku yang diuji pada tuna segar adalah kadar histamin, angka lempeng total (ALT), dan pH. Sementara itu, parameter kualitas yang diuji pada tuna kaleng adalah ALT, pH, kandungan logam berat (timbal dan merkuri), serta tingkat penerimaan konsumen melalui uji organoleptik (hedonik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ALT tuna kaleng pada semua perlakuan <1x101 koloni/g, sedangkan kandungan timbal (Pb) <0,0001 mg/kg, dan merkuri (Hg) berkisar antara 0,29-0,58 mg/kg. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa panelis secara umum dapat menerima kedua jenis produk tuna kaleng, namun panelis lebih menyukai rasa tuna kaleng dalam larutan garam serta warna tuna kaleng dalam minyak kelapa sawit. Hasil penelitian ini menyarankan pengalengan tuna sebaiknya dilakukan pada suhu 121°C selama 20 menit.ABSTRACTTuna is a perishable commodity thus it needs to be preserved to prolong its shelf life. The Canning process is one of the solutions to increase tuna shelf life at room temperature. Research on the tuna canning processes from Aceh waters has never been reported. Therefore, this research aimed to investigate the quality of canned tuna which was sterilized using a 24L pressure canner with varying the temperature and duration of sterilization (121°C for 20 minutes and 115°C for 50 minutes) and the type of medium (brine and palm oil). The fresh tuna used for canning was caught from Aceh water. The quality parameters evaluated for fresh tuna were histamine levels, total plate count (TPC), and pH. Meanwhile, the parameters tested on the quality of the canned tuna were TPC, pH value, heavy metals lead (Pb) and mercury (Hg) contamination, and levels of consumer acceptance through organoleptic tests (hedonic). The results indicated that the TPC values for all canned tuna were <1x101 cfu/g, the metal contaminations were <0.0001 mg/kg for Pb, and in the range of 0.29-0.58 mg/kg for Hg. The hedonic tests proved that although all the panelists accepted these two types of canned tuna, they prefer the taste of canned tuna in a salt solution and the color of canned tuna in palm oil. This research suggests that the sterilization process for canned tuna using a 24L pressure canner should be carried out at 121°C for 20 min.
KAJIAN PENGOLAHAN SORBET CAMPURAN TERONG BELANDA DAN BUAH BIT SEBAGAI PRODUK PANGAN FUNGSIONAL DIAN HASNI; SYARIFAH ROHAYA; NANDA SUPRIANA
Jurnal Sagu Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.338 KB) | DOI: 10.31258/sagu.v16i1.5398

Abstract

Terong belanda (Cyphomandra betacea S.) is fruit with tremendous health benefits, has aromatic flavor butless-interesting colors. On the other hand, beet root (Beta vulgaris L.) reported to have betalain pigment,which produced red-purple natural colors which potentially used as natural food coloring. Based on that,these fruits above potentially consider as raw material for frozen dessert like sorbet or ice cream in order tomaintain its nutritional values. Aims of this research are to determine and investigate the effects of proportionalratio of mixed fruits and CMC concentrations towards total acid, vitamin C and total solid as well asantioxidant activities of sorbet. Results showed that larger portion of terong belanda significantly increasedtotal acid and vitamin C, whereas CMC concentrations tend to increase total solid of produced sorbet.Sorbet from this research has vitamin C±3.14 mg/100g product, total acid ± 0.25% and total solid 18.35oBrix.
Sindrom Mata Kering jauza raudhatul jannah; Syarifah Rohaya
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol. 8 No.2 November 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v8i2.8915

Abstract

Mata kering merupakan suatu kondisi ketidaknyamanan dalam pengelihatan penderita yang disebabkan karena kekurangan kelembaban, lubrikasi dalam mata. Sindrom mata kering adalah penyakit multifaktorial dari air mata dan permukaan mata yang menghasilkan gejala tidak nyaman pada mata, gangguan visual, dan ketidakstabilan selaput air mata yang berpotensi merusak permukaan mata secara perlahan. Gejala awal pasien akan mengeluh mata gatal, mata seperti berpasir, silau, dan penglihatan kabur, gejala sekresi mucus berlebih, sukar menggerakkan kelopak mata, mata kering, dan terdapat erosi kornea yang merupakan komplikasi lanjut. Pada stadium awal sindrom mata kering mungkin tidak berbahaya, namun pada fase lanjut dapat menimbulkan kerusakan bola mata. Penalaksanaan sindrom mata kering dapat berupa Self-Care at home seperti humidifier, Hot Compres, eye exercise, dan dapat berupa medical treatment seperti obat pelumas mata (lubrikan). Pada awal perjalanan sindrom mata kering, penglihatan sedikit terganggu. Pada kasus lanjut dapat timbul ulkus pada kornea, penipisan kornea, dan perforasi. Kadang-kadang terjadi infeksi bakteri sekunder, dan berakibat parut dan vaskularisasi pada kornea, yang sangat menurunkan penglihatan dan bahkan sampai menimbulkan kebutaan.
Analysis of The Physicochemical and Sensory Quality of Adee Cake During Storage Ismail Sulaiman; Syarifah Rohaya; Muhammad Ichsan
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v8i1.10239

Abstract

Abstract: Cake is a wet food product made by baking dough from flour, sugar, eggs, milk, fat, and other additives. Adee cake is one of the typical foods marketed in the Pidie area, which is very famous and becomes one of the foods as souvenirs. The problem faced with this cake is the shelf life and quality of the cake. Therefore, this research was carried out about the physicochemical properties of Adee cake during the storage process and to observe the sensory properties. This study used a completely randomized design (CRD) with a non-factorial pattern, namely storage time consisting of (0, 1, 2, 3, and 4 days) with three repetitions. Further tests of DMRT will follow the analysis of variance ANOVA in this study. The results of the hardness analysis obtained an average of 51.43 gf. The color analysis showed that the average coefficient value was 111 on the top and 252 on the inside showing a very significant difference. Chemical analysis obtained the average, namely, water content 39.30%, ash content 0.79%, fat content 7.94%, protein content 1.82%, crude fiber content 0.70%, and carbohydrates 49.76%, showed a very significant difference (P≤0.01). The organoleptic test analysis (hedonic) obtained the average, namely, color 3.63, texture 3.29, flavor 3.64, taste 3.30, and overall 3.46 showed a very significant difference (P≤0.01).Abstrak: Cake merupakan salah satu produk makanan semi-basah yang dibuat dengan pemanggangan adonan dari tepung, gula, telur, susu, lemak dan bahan tambahan lainnya. Cake adee ini merupakan salah satu makanan khas yang dipasarkan di daearah Pidie, yang sangat terkenal dan menjadi salah satu makanan sebagai oleh-oleh, problem yang dihadapi pada cake ini adalah masa simpan dan kualitas dari kue tersebut, oleh karena itu dilakukan penelitian tentang  sifat fisikokimia kue Adee selama proses penyimpanan dan mengamati sifat sensorisnya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola non faktorial yaitu lama penyimpanan yang terdiri dari (0, 1, 2, 3, dan 4 hari) dengan tiga kali pengulangan. Selanjutnya uji DMRT akan mengikuti analisis varians ANOVA pada penelitian ini. Hasil analisis kekerasan diperoleh rata-rata 51,43 gf, hasil analisis warna menunjukkan nilai koefisien rata-rata 111 pada bagian atas dan 252 pada bagian dalam menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Analisis kimia diperoleh rata-rata kadar air 39,30%, kadar abu 0,79%, kadar lemak 7,94%, kadar protein 1,82%, kadar serat kasar 0,70%, dan karbohidrat 49,76%, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P≤0,01). Uji organoleptik (hedonik) diperoleh rata-rata yaitu warna 3,63, tekstur 3,29, rasa 3,64, rasa 3,30, dan keseluruhan 3,46 menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P≤0,01).
Pterigium Okuli Dextra et Sinistra Syarifah Rohaya; Wina Yunida M Siregar
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol 2, No 1 (2023): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Februari 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jkkmm.v2i1.9830

Abstract

Pterigium adalah salah satu gangguan permukaan mata yang umum terjadi. Pterigium selain menyebabkan gangguan kosmetik juga dapat menyebabkan hilangnya penglihatan apabila mencapai aksis penglihatan. Risiko timbulnya pterigium 44 kali lebih tinggi di daerah tropis seperti Indonesia jika dibandingkan dengan daerah non-tropis. Pasien wanita usia 63 tahun datang ke Poliklinik Mata RSUD Cut Meutia dengan keluhan mata kanan terasa berasap sejak 6 bulan ini. Pasien mengeluhkan penglihatannya kabur, adanya rasa mengganjal terutama pada mata kanan, dan mata berair. Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan visus OD 3/60 dan OS 6/45, pinhole visus tidak maju, serta ditemukan adanya selaput pada konjungtiva bulbi OD yang memanjang hingga kornea dan OS hingga limbus. Pasien didiagnosis dengan Pterigium OD grade IV dan Pterigium OS temporal grade II serta OS nasal grade I dengan Katarak Senilis. Pasien diberi artificial tears dan direncanakan untuk eksisi pterigium. Kacamata dan topi pelindung juga digunakan. Prognosis pasien secara umum adalah dubia ad bonam.
Penambahan Tepung Tulang Ikan Bandeng (Chanos chanos) Sebagai Sumber Kalsium dan Fosfor Pembuatan Donat Panggang Bakhtiar Bakhtiar; Syarifah Rohaya; Hanif Muchdatul Ayunda Ayunda
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 11, No 1 (2019): Vol. (11) No. 1, April 2019
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1045.044 KB) | DOI: 10.17969/jtipi.v11i1.13439

Abstract

Tepung tulang ikan bandeng memiliki kandungan kalsium dan fosfor yang tinggi dan dapat menjadi sumber alternatif untuk pemenuhan kalsium dan fosfor dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap donat dengan penambahan tepung tulang ikan bandeng dan pengaruh suhu pemanggangan donat, serta menjadi sumber alternatif pemenuhan kalsium dan fosfor dalam tubuh. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri atas 2 (dua) faktor. Faktor pertama adalah penambahan tepung tulang ikan bandeng dalam adonan kue donat (T) dengan 3 taraf yaitu T1 = 5%, T2 = 7,5%, dan T3 = 10% dari berat tepung terigu. Faktor kedua adalah suhu pemanggangan (S) yang terdiri dari 2 taraf yaitu S1 = 170oC, dan S2 = 180oC. Setiap perlakuan diulang 3 (tiga) kali sehingga diperoleh 18 satuan percobaan. Rendemen tepung tulang ikan bandeng yang diperoleh dari proses penepungan yaitu 57,1% dengan nilai kadar kalsium sebesar 5,24% dan fosfor 2,36%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa donat panggang dengan penambahan tepung tulang ikan bandeng sebanyak 5% dan suhu pemanggangan 170oC lebih disukai dari semua perlakuan. Nilai terhadap kadar air yaitu  sebesar 17,37%, kadar protein 40,43%, kadar abu 8,39%, kadar lemak 0,03%, kadar kalsium 0,31%, dan kadar fosfor 0,22%. Nilai rata-rata organoleptik terhadap warna yaitu 3,80 (suka), rasa 3,11 (netral), aroma 2,63 (netral), dan tekstur 3,29 (netral).