Rima Rima
Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

BENTUK UNGKAPAN SEKSIS DALAM NOVEL AYAT-AYAT CINTA: ANALISIS WACANA KRITIS Rima Rima; Selfiani Selfiani; Canggi Aralia Aprianti Ode; Juminah Juminah
FRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 3 No. 2 (2022): FRASA: JURNAL KEILMUAN BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk ungkapan seksis dalam novel Ayat-ayat Cinta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data adalah novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburahman El Shirazi. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk ungkapan seksis yang terdapat dalam novel Ayat-ayat Cinta adalah bentuk diskriminasi, bentuk dominasi terhadap perempuan dan terakhir memberikan stereotyope yang negative pada perempuan.
Polite Imperative Structures in the Kaledupa Dialect: An Examination of Wakatobi Language Rima Rima; Susiati Susiati; La Ode Achmad Suherman
ELS Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities Vol. 7 No. 2 (2024): JUNE
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/elsjish.v7i2.35428

Abstract

This research delves into the intricacies of imperative politeness within the Kaledupa dialect of the Wakatobi language (KDWL), focusing on both its forms and influencing factors. By employing a descriptive qualitative approach from a pragmatic perspective, the study meticulously gathers data through observation, moderate participatory recording, and note-taking techniques. The findings indicate that politeness in KDWL imperatives is manifested through several linguistic features: the length of utterances, the structuring of speech where non-imperative information often precedes the imperative command, variations in intonation, and the use of kinesic signals such as gestures. These elements combine to create a nuanced system of politeness that is sensitive to the context in which the imperative is delivered. Moreover, the study identifies a range of social and cultural factors that influence how politeness is expressed in KDWL imperatives. These include power dynamics and social status, which dictate the level of formality and deference required; kinship and social relationships, which influence the degree of familiarity or respect in the language used; and group membership and gender, which further modulate the appropriateness of certain forms. Additionally, the nature of the speech situation, the role of customary institutions, and adherence to cultural norms play significant roles in shaping polite imperatives. Indecisiveness also emerges as a factor, suggesting that the speaker’s confidence can impact the politeness strategy employed. Together, these findings underscore the complex interplay between linguistic and social elements in the KDWL, providing a comprehensive understanding of how politeness is constructed and maintained in this linguistic community.
PENGARUH PENERAPAN PERMAINAN ICE BREAKING TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 5 KABUPATEN SORONG Yotlin Chrisye Ralahalu; Abdulrahman Hatsama; Rima
FRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 1 (2026): FRASA: JURNAL KEILMUAN BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/frasaunimuda.v7i1.4373

Abstract

Pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMA sering menghadapi kendala berupa rendahnya konsentrasi dan motivasi siswa selama proses belajar, sehingga berdampak pada pencapaian hasil belajar. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif adalah penggunaan permainan ice breaking. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan permainan ice breaking terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas XI SMAN 5 Kabupaten Sorong. Metode yang digunakan adalah kuasi-eksperimen dengan desain pretest–posttest control group. Sampel penelitian terdiri atas 30 siswa yang dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan teknik total sampling. Kelas eksperimen mendapatkan perlakuan pembelajaran menggunakan ice breaking, sedangkan kelas kontrol tidak diberikan perlakuan tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui tes hasil belajar, angket, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, homogenitas, dan uji t untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar yang signifikan pada kelas eksperimen dibandingkan kelas kontrol. Penerapan ice breaking terbukti mampu meningkatkan fokus, antusiasme, dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Dengan demikian, ice breaking dapat direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia di tingkat SMA.
BENTUK UNGKAPAN SEKSIS DALAM NOVEL “AKU LUPA BAHWA AKU PEREMPUAN” KARYA ISHAN ABDUL QUDDUS Marici; Rima; Abdul Hafid
FRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 1 (2026): FRASA: JURNAL KEILMUAN BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/frasaunimuda.v7i1.4984

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang direpresentasikan melalui bahasa seksis dalam novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan karya Ihsan Abdul Quddus. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa teks novel, khususnya kalimat dan dialog yang merepresentasikan relasi gender. Analisis data dilakukan menggunakan analisis wacana kritis perspektif Sara Mills yang menitikberatkan pada posisi subjek–objek serta relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan adanya praktik bahasa seksis yang memunculkan tiga bentuk utama ketidakadilan gender, yaitu diskriminasi terhadap perempuan, dominasi laki-laki atas perempuan, dan stereotipe negatif terhadap perempuan. Tokoh Suad digambarkan sebagai representasi perempuan yang berjuang melawan budaya patriarki melalui kemandirian, pendidikan, dan peran publik, meskipun tetap menghadapi tekanan sosial, stigma, serta konstruksi gender yang membatasi ruang geraknya. Novel ini merefleksikan realitas sosial masyarakat patriarkal Mesir yang relevan dengan konteks perempuan di masyarakat lain, termasuk Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran terhadap kajian sastra feminis serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan sosial dan keluarga.