Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Medical Scope Journal (MSJ)

Hubungan Lingkar Pinggang, Homeostasis Model Assessment of Insulin Resistance, dan Prostaglandin-I2 dengan Test Agregasi Trombosit pada Subyek Obesitas Sentral Renata, Lucrezia; Pandelaki, Karel; Rotty, Linda W. A.
Medical Scope Journal Vol 2, No 2 (2021): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.2.2.2021.32597

Abstract

Abstract: Overweight and obese are global health problems and tend to increase in Indonesia. Central obesity is associated with inflammation, insulin resistance, and increased reactive oxidative stress. Insulin resistance can cause a decrease in prostaglandin I2 (PGI2) and nitric oxide (NO) levels, and an increase in platelet aggregation. Its effect in platelet aggregation may increase thrombus formation in blood vessels. This study was aimed to determine the relationship between waist circumference (WC) with HOMA-IR, PGI2 and platelet aggregation test (PAT) in central obese subjects. This was an observational and analytical correlational study with a cross-sectional design conducted at Prof. dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. Samples were 33 central obese subjects, 19 were male and 14 were female. Insulin resistance was measured by using HOMA- IR, urine PGI2, and PAT. The Spearmann and Pearson correlation test showed a positive correlation between WC and HOMA-IR (r=0.366, p=0.036). There was a negative correlation but not significant between WC and PGI2 (r=-0.169, p=0.347); between WC and PAT (r=0.094, p=0.603); between HOMA-IR and PGI2 (r=-0.218, p=0.223); and between HOMA-IR and PAT (r=0.080, p=0.658). In conclusion, in central obese people, there  is a relationship between WC and HOMA-IR, but there is no relationship between WC, PGI2, and PAT.Keywords: central obesity, HOMA-IR, prostaglandin-I2, platelet aggregation test Abstrak: Berat badan berlebih atau obesitas merupakan masalah kesehatan global dan terus meningkat di Indonesia. Pada obesitas sentral terjadi inflamasi, resistensi insulin, dan mening-katnya reaktif oksidatif stress. Resistensi insulin mampu menyebabkan penurunan kadar prostaglandin I2 (PGI2) dan nitrik oksida (NO). Penurunan kadar PGI2 dapat menyebabkan peningkatan agregasi trombosit yang selanjutnya meningkatkan kemungkinan terjadinya trombus dalam pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkar pinggang dengan HOMA-IR, PGI2, dan test agregasi trombosit (TAT) pada subyek obes sentral. Jenis penelitian ialah observasional analitik bentuk korelasional dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Total sampel 33  subyek dengan obesitas sentral, 19 laki-laki dan 14 perempuan. Pengukuran resistensi insulin menggunakan HOMA-IR, PGI2 urin, dan TAT. Uji korelasi Spearmann dan Pearson. mendapatkan korelasi positif antara LP dengan HOMA-IR (r=0,366; p=0,036). Terdapat korelasi negatif tidak bermakna pada hubungan antara LP dengan PGI2 (r=-0,169; p=0,347); hubungan antara LP dengan TAT (r=0,094; p=0,603); hubungan antara HOMA-IR dengan PGI2 (r=-0,218;p=0,223); dan hubungan antara HOMA-IR dengan TAT (r=0,080; p=0,658). Simpulan penelitian ini ialah pada subyek obes sentral terdapat hubungan antara lingkar pinggang dengan HOMA-IR, tetapi tidak terdapat hubungan antara lingkar pinggang dengan PGI2 dan TAT.  Kata kunci: obesitas sentral, HOMA-IR, prostaglandin-I2, tes agregasi trombosit
Kanker Paru: Laporan Kasus Joseph, Junita; Rotty, Linda W. A.
Medical Scope Journal Vol 2, No 1 (2020): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.2.1.2020.31108

Abstract

Abstract: In general, lung cancer is all kinds of malignancy of the lung. It consists of malignancy derived from the lung itself (primary) and from out of the lung (metastasis). Clinically, primary lung cancers are malignant tumors derived from bronchial epithelium (bronchial carcinoma). Lung cancer is the main cause of death due to malignancy worldwide. We reported a male of 55-year-old male diagnosed as lung cancer. Diagnosis was based on anamnesis, physical examination, and supporting investigations. Anamnesis included smoking for 10 years ±15 cigarettes/day and complaints of shortness of breath, coughing, chest pain radiating to the back, and significant weight loss. Physical examination revealed enlargement of the right supraclavicular gland and decreased breath sounds in the right lung at the fifth intercostal space. Thorax photo, thorax CT-scan, and histopathological examination confirmed the diagnosis of lung cancer (adeno-carcinoma). Chemotherapy was administered with a combination of gemcitabine-cisplatin regimens for 12 cycles. The prognosis of this patient was poor because the disease had reached stage 4. However, the patient felt some clinical improvement after one month of chemotherapy.Keywords: lung cancer Abstrak: Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) maupun keganasan dari luar paru (metastasis). Dalam pengertian klinis yang dimaksud dengan kanker paru primer adalah tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkus). Kanker paru merupakan penyebab utama kematian akibat keganasan di dunia Kami melaporkan sebuah kasus kanker paru pada seorang laki-laki berusia 55 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang meliputi adanya riwayat merokok (sigaret) selama 10 tahun sebanyak ±15 batang rokok/hari, dengan sesak nafas, batuk, nyeri dada menjalar sampai ke punggung, dan penurunan berat badan yang nyata. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pembesaran kelenjar supraklavikular kanan dan suara nafas menurun pada paru kanan setinggi sela iga V. Pada pemeriksaan penunjang foto toraks, thorax CT-scan, dan histopatologik didapatkan hasil yang menyokong diagnosis kanker paru (adenokarsinoma). Pada pasien ini, telah diberikan penata-laksanaan kemoterapi dengan kombinasi regimen gemcitabine-cisplatin selama 12 siklus. Progno-sis pasien ini buruk karena sudah sampai pada stadium 4, namun dengan kemoterapi yang dijalani sampai saat ini selama 1 bulan, pasien merasakan adanya perbaikan secara klinis.Kata kunci: kanker paru
Hubungan Kadar Alpha Fetoprotein dengan Derajat Keparahan Karsinoma Hepatoseluler Fadillah, Favian R.; Rotty, Linda W. A.; Sugeng, Cerelia E. C.
Medical Scope Journal Vol. 7 No. 1 (2025): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v7i1.54829

Abstract

Abstract: Hepatocellular carcinoma (HCC) is the most common primary liver tumor and ranks third as the highest cause of cancer-related mortality. Hepatitis B virus infection is a risk factor found in 50% of subjects, while the remaining 50% have non-hepatitis B and non-hepatitis C etiologies. Alpha-fetoprotein (AFP) and the Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC) are the most widely used biological marker and disease staging system. This study aimed to determine the relationship between AFP levels and BCLC stages in HCC patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. This was a retrospective and analytical study with a cross-sectional approach using patient medical records as samples. The results showed a total of 56 HCC patients, consisting of 43 males and 13 females, obtained using consecutive sampling techniques. Each variable was categorized into two groups: ≤200 ng/ml and >200 ng/ml for AFP; and operable (BCLC 0/A) and non-operable (BCLC B/C/D) for BCLC staging. There were two patients (3.6%) in the operable category and 54 patients (96.4%) in the non-operable category. Fisher's exact test results showed no significant relationship between AFP levels and disease severity in HCC patients (p=0.228). In conclusion, there is no significant relationship between alpha-fetoprotein levels and disease severity in hepatocellular carcinoma patients. Keywords: alpha-fetoprotein levels; hepatocellular carcinoma; BCLC staging    Abstrak: Karsinoma hepatoseluler (KHS) merupakan tumor primer pada hati yang paling umum terjadi dan menyandang peringkat ke-3 sebagai penyumbang angka kematian tertinggi yang disebabkan oleh kanker. Infeksi virus hepatitis B merupakan faktor risiko yang ditemukan pada 50% subjek dan sisanya (50%) memiliki etiologi non hepatitis B dan non hepatitis C. Alpha fetoprotein (AFP) dan Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC) merupakan penanda biologis dan sistem pemeringkatan derajat penyakit yang paling banyak digunakan saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar AFP dengan derajat BCLC pada subjek KHS di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini merupakan retrospektif analitik dengan pendekatan potong lintang yang menggunakan rekam medis pasien sebagai sampel penelitian. Hasil penelitian mendapatkan 56 pasien KHS terdiri dari 43 laki-laki dan 13 perempuan dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Masing-masing variabel dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu ≤200 ng/ml dan >200 ng/ml untuk AFP, serta operable (BCLC 0/A) dan non-operable (BCLC B/C/D) untuk staging BCLC. Terdapat dua subjek (3,6%) untuk kategori operable dan 54 subjek (96,4%) untuk kategori non-operable. Hasil uji Fisher’s exact menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar AFP dengan derajat keparahan penyakit pada pasien KHS (p=0,228). Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar alpha fetoprotein dengan derajat keparahan penyakit pada pasien karsinoma hepatoseluler. Kata kunci: kadar alpha-fetoprotein; karsinoma hepatoseluler; BCLC staging
Profil Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Disertai Anemia di Poli Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode September-November 2023 Rumengan, Gardenia G. E.; Sedli, Bisuk P.; Rotty, Linda W. A.
Medical Scope Journal Vol. 7 No. 1 (2025): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v7i1.58525

Abstract

Abstract: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a metabolic disorder characterized by elevated blood sugar level. Anemia is a hematological disorder that often occurs in T2DM patients due to complication of secondary diseases, such as kidney dysfunction. The potential for anemia in T2DM patients can worsen the complications. This study aimed to determine the profile of T2DM patients with anemia at the endocrine polyclinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from September to November 2023. This was a prospective and descriptive study with a cross-sectional design, using medical records at the endocrine polyclinic. The results showed that T2DM patients with anemia in this study (n=40) were dominated by females (55%) and age group of 45-60 years (62.5%). The average levels in laboratory examination were, as follows: HbA1c was 8.683, hemoglobin was 9.583, creatinine was 3.080, and eLFG was 23.38. Classification of anemia types based on erythrocyte morphology was dominated by hypochromic microcytic anemia, experienced by females (47.5%) and in the age group of 45-60 years (55%). In conclusion, the majority of type 2 diabetes mellitus patients with anemia are females aged 45-60 years who experience hypochromic microcytic anemia. Keywords: type 2 diabetes mellitus; anemia; HbA1c glomerular filtration rate    Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) adalah gangguan metabolisme yang ditandai adanya peningkatan gula darah. Anemia merupakan gangguan hematologi yang sering terjadi pada penyandang DMT2 yang disebabkan oleh komplikasi penyakit sekunder, seperti gangguan fungsi ginjal. Potensi anemia pada pasien DMT2 dapat memperburuk komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penyandang DMT2 disertai anemia di Poli Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode September–November 2023. Jenis penelitian ialah deskriptif prospektif dengan desain potong lintang, menggunakan data rekam medis Poli Endokrin. Hasil penelitian mendapatkan bahwa pasien DMT2 disertai anemia di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou (n=40), didominasi oleh perempuan (55%) dan kelompok usia 45-60 tahun (62,5%). Rerata nilai HbA1c 8,683, Hb 9,583, kreatinin 3,080, dan eLFG 23,38. Klasifikasi jenis anemia berdasarkan morfologi eritrosit didominasi oleh jenis anemia hipokrom mikrositik yang dialami oleh perempuan (47,5%) dan pada kelompok usia 45-60 tahun (55%). Simpulan penelitian ini ialah mayoritas pasien diabetes melitus tipe 2  disertai anemia terjadi pada perempuan dan kelompok usia 45-60 tahun yang mengalami anemia hipokrom mikrositik. Kata kunci: diabetes melitus tipe 2; anemia; HbA1c; laju filtrasi glomerulus