Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENGGUNAAN TEPUNG SILASE USUS AYAM DALAM PAKAN PEMBESARAN IKAN KERAPU MACAN, Epinephelus fuscoguttatus Rachmansyah Rachmansyah; Usman Usman; Naftali Kabangnga; Makmur Makmur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.243 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.87-96

Abstract

Substitusi tepung ikan dengan tepung silase usus ayam dalam pakan telah dilakukan untuk mengevaluasi respon pakan terhadap keragaan biologi ikan kerapu macan, Epinephelus fuscoguttatus. Ikan uji diberi pakan yang mengandung tepung silase usus ayam pada level 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% sebagai pengganti tepung ikan dan dibuat dalam bentuk pelet basah. Pakan diberikan secara at satiation dua kali sehari selama masa pemeliharaan 20 minggu di keramba jaring apung berukuran 1 x 1 x 2 m. Penggantian tepung ikan dengan tepung silase usus ayam sampai 20% atau setara dengan 39% protein tepung ikan tidak berpengaruh nyata bila dibandingkan dengan perlakuan kontrol terhadap keragaan biologi ikan kerapu. Diduga tepung silase usus ayam cukup memadai sebagai pengganti tepung ikan dengan kadar lebih dari 20% dalam pakan pembesaran ikan kerapu macan jika asam amino methionine dan lysine ditambahkan ke dalam pakan.Feeding experiment was conducted to evaluate the effects of replacing fishmeal with poultry offal silage meal (POSM) in diet on biological performance of tiger grouper. Dietary inclusion level of PSOM at 5%, 10%, 15%, and 20% substitution of fish meal were compared with the fish meal based control diet (0% PSOM). Fish were fed diets (moist pellet) at satiation two times daily for 20 weeks rearing at a floating net cage of 1 x 1 x 2 m. The result showed that replacement of fish meal with POSM up to 20% or equivalent to 39% fish meal protein were not significantly different (P>0.05) compared with control diet on all of the biological performance of tiger grouper. From the result, we expected that POSM is suitable as a partial replacement of fish meal more then 20% in tiger grouper diet if methionine and lysine are added.
PENAMBAHAN MIKROBA, Aspergillus niger DALAM BUNGKIL KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN UNTUK PEMBESARAN IKAN KERAPU MACAN Neltje Nobertine Palinggi; Kamaruddin Kamaruddin; Makmur Makmur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.837 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.385-394

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh dosis Aspergillus niger dalam bungkil kelapa sawit sebagai bahan pakan pada pembesaran ikan kerapu macan. Ikan uji yang digunakan berukuran bobot rata-rata 23,15±0,23 g; ditebar dalam keramba jaring apung ukuran 1 m x 1 m x 2 m, dengan kepadatan 16 ekor/keramba. Perlakuan yang diuji adalah penambahan Aspergillus niger sebanyak 2, 4, 8, 16 g/kg bungkil kelapa sawit dan kontrol. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali dan disain adalah rancangan acak lengkap. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan uji dua kali sehari (pagi dan sore) secara satiasi selama 20 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 8 g Aspergillus niger/kg bungkil kelapa sawit memberikan pertambahan bobot dan laju spesifik lebih tinggi daripada kontrol (P<0,05), tetapi tidak berbeda dengan penambahan 2,4 dan 16 g Aspergillus niger/kg bungkil kelapa sawit. Sedangkan nilai efisiensi pakan, rasio efisiensi protein, dan retensi protein pada perlakuan penambahan 8 g Aspergillus niger/kg bungkil kelapa sawit tidak berbeda nyata dengan perlakuan penambahan 2 dan 4 g Aspergillus niger/kg kelapa sawit dan kontrol (P>0,05), namun nilainya nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan perlakuan penambahan 16 g Aspergillus niger. Kisaran dosis Aspergillus niger/kg bungkil kelapa sawit adalah antara 7,2—8,2 g untuk memberikan respons tumbuh yang baik.The aim of this experiment was to determine the addition effect of microbe Aspergillus niger to palm oil cake as an ingredient of diet for the tiger grouper juveniles. Tiger grouper juveniles with average initial individual weight of 23.15±0.23 g were stocked into floating cages 1 m x1 m x2 m in size, each at stocking density of 16 individuals/cage. The tested treatments were four different dosages of A. niger, i.e.; 2, 4, 8, 16 g/kg palm oil cake and a control (without A. niger), each replicates three times. The juveniles were fed with the experimental diets twice daily (in the morning and afternoon) for a feeding periode of 20 weeks. The results of the experiment showed that the weight gain and specific growth rate of tiger grouper juveniles fed on the diet with 8 g A. niger/kg palm oil cake were significantly higher (P<0.05) than the control but, there were no significant different (P>0.05) among those of the juveniles fed on the diets with 2, 4, 16 g of A. niger/kg palm oil cake. Although the feed efficiency, protein efficiency ratio and protein retention of juveniles fed on the diet with 8 g A. niger/kg palm oil cake were not significantly different (P>0.05) from those of the juveniles fed on the diets with 2 and 4 g of A. niger/kg palm oil cake, those of juveniles the fed diet with 8 g of A. niger/kg palm oil cake were significantly higher (P<0.05) than those of the juveniles fed the diet with 16 g A. niger/kg palm oil cake. The best of growth rate of tiger grouper juveniles occurred at the dosage of 7.8—8.2 g A. niger/kg palm oil cake.
PERAN IKAN LIAR YANG BERASOSIASI DENGAN KERAMBA JARING APUNG DALAM MEREDUKSI BUANGAN NUTRIEN PAKAN Muhammad Chaidir Undu; Rachmansyah Rachmansyah; Makmur Makmur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.582 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.327-332

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ikan liar yang hidup di sekitar keramba jaring apung dalam meminimalisir buangan nutrien yang berasal dari kegiatan budidaya melalui pendekatan kecernaan ikan. Ikan sersan mayor Abudefduf vaigiensis dan capungan Sphaeramia orbicular yang dominan di keramba jaring apung ditangkap dan dipelihara selama dua bulan dan diberi pakan ikan kerapu komersial. Apparent Digestibility Coefficient (ADC) kemudian dihitung menggunakan metode tidak langsung dengan cara mencampurkan indikator khromium oksida (Cr2O3) ke dalam pakan. ADC ikan sersan mayor untuk N, P dan bahan kering berturut-turut sebesar 12,88%; 15,47%; dan 66,67%. Selanjutnya jumlah N dan P yang tersimpan dalam karkas ikan sebesar 19,90% dan 12,76%. Ikan sersan mayor dengan FCR 3,0 melepaskan N dan P ke perairan sebanyak 104,78 dan 42,66 gram setiap penambahan 1 kg bobot badan. Ikan capungan, dengan ADC terhadap N, P dan bahan kering pakan sebesar 12,52%; 59,07%; dan 62,15% menahan 16,76% N dan 11,71% P dalam karkasnya. Dengan FCR 5,0, ikan capungan mengeksresikan N sebanyak 181,46 gram dan 71,96 gram P ke perairan ketika terjadi peningkatan biomassa 1 kg. Ikan liar yang hidup di sekitar keramba jaring apung di Teluk Awerange dapat meminimalisir buangan limbah dari keramba jaring apung sebesar 10% – 20%.   The study was aimed to point out the role of wild fishes associated with floating net cage in minimizing nutrient loading from fish farming through digestibility approach. Abudefduf vaigiensis and Sphaeramia orbicular as the dominant species around sea cage were caught and fed ad satiation with commercial grouper food for 2 months period. Apparent Digestibility Coefficient (ADC) was then calculated using indirect method by mixing indicator chromium oxide (Cr2O3) with fish food. ADC of A. vaigiensis for nitrogen (N), phosphate (P) and dry matter were 12.88%, 51.47%, and 66.67 % respectively. Moreover, N and P retained from fish carcass were 19.90% and 12.76%. Furthermore, these fishes with FCR of 3.0 release N and P to sea water as much as 104.78 gram and 42.66 g respectively when biomass increase to 1 kg. For Sphaeramia orbicularis, ADC for N, P and dry matter were 12.52%, 59.07%, and 62.15% respectively and retained 16.76% N and 11.71% P in their carcass. Moreover, with FCR of 5.0, these fishes excreted 181.46 gram of N and 71.96 gram of P into the environment when the biomass increases to 1 kg. Wild fishes associated with sea cage in Awarange bay have the potential of minimize released nutrient between 10%–20%.
PENDUGAAN NUTRIENT BUDGET TAMBAK INTENSIF UDANG, Litopenaeus vannamei Rachmansyah Rachmansyah; Hidayat Suryanto Suwoyo; Muh. Chaidir Undu; Makmur Makmur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2359.081 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.181-202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nutrient budget tambak intensif udang Litopenaeus vannamei sebagai acuan alokasi input produksi pada tingkat kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Pendugaan nutrient budget tambak udang intensif menggunakan pendekatan mass balance, dihitung berdasarkan input nutrien nitrogen - N dan fosfor – P yang berasal dari pakan, benih, pupuk, media probiotik, inflow, dan output nutrien yang ada pada produksi udang, outflow, dan endapan lumpur di dasar tambak. Sampel air, tanah, sedimen, plankton diambil sebelum penebaran dan setiap dua minggu selama pemeliharaan dari tiga petak tambak, masing-masing 5 titik sampel per petak tambak contoh. Analisis nitrogen dan fosfor dilakukan untuk sampel pakan, karkas udang awal dan akhir. Data managemen budi daya meliputi padat penebaran benur 50 ekor m-2, produksi 1.188—1.489 kg/0,25 ha, dan FCR 1,69—2,14; maka total input nutrien tambak udang Litopenaeus vannamei antara 171,9155—179,3778 (176 ± 3,9586) kgN dan 95,2533—99,4180(97,8340 ± 2,3348) kg P. Pakan mendominasi input N sebesar 61,96% ± 0,66%; disusul inflow 30,93% ± 0,70%; pupuk 6,52% ± 0,15%, serta media probiotik dan benur masing-masing <1%. Pola yang sama terjadi pada input phosphorous dengan komposisi 87,75% ± 0,24% dari pakan; 7,73% ± 0,19% pupuk; 4,05% ± 0,25% inflow dan media probiotik < 1%. Total output nitrogen tambak udang vannamei antara 107,1279-110,1438 (108,4957 ± 1,5274) kg N dan 51,6362—63,6576 (56,1292 ± 6,5604) kg P. Komposisi output nitrogen adalah outflow sebanyak 29,82% ± 3,20%; kemudian udang yang dipanen 21,32% ± 1,33%, lumpur atau sludge 10,40% ± 0,81%. Sedangkan komposisi output phosphorous didominasi oleh lumpur 39,03% ± 6,59%; kemudian udang yang dipanen 15,22% ± 0,85% dan outflow 3,09% ± 0,26%. Efisiensi pakan dan air melalui managemen budi daya yang benar menjadi peubah dominan penentu beban limbah tambak udang.This research was aimed to find out nutrient budget on L. vannamei intensive ponds as input allocation reference produce at environmental assimilation capacity level. Nutrient budget assessment was used mass balance approach, calculate based on nutrient input of nitrogen (N) and phosphor (P) from feed, seed, fertilizer, probiotic media, and inflow and nutrient output within pond yield, outflow, and sludge sedimentation at pond bottom. Sampling for water quality, sediment, and plankton was carried out at three ponds and five stations within each pond before stocking and continued fortnightly as long as culture periods. Nitrogen and phosphor analyzed for feed, and shrimp carcass of both of initial stocking and harvest. The data of culture management consist of shrimp yield reached 1,188—1,489 kg/0.25 ha with stocking density of 50 ind/m2 and FCR 1.69—2.14. Total input nutrients within L. vannamei ponds are 171.9155—179.3778 (176 ± 3.9586) kg N and 95.2533—99.4180 (97.8340 ± 2.3348) kg P. Food given domination on N input N with 61.96% ± 0.66% followed by inflow by 30.93% ± 0.70%, fertilizer 6.52% ± 0.15%, and both of probiotic media and seed supply less than1% respectively. There are the same pattern with phosphorous input with following composition 87.75% ± 0.24% from food, 7.73% ± 0.19% fertilizer, 4.05% ± 0.25% inflow and probiotic media less than 1%. Total output nitrogen from L vannamei ponds between 107.1279—110.1438 (108.4957 ± 1.5274) kg N and 51.6362—63.6576 (56.1292 ± 6.5604) kg P. Composition of nitrogen output is dominated by outflow 29.82% ± 3.20%, followed by shrimp harvest 21.32% ±1.33%, and sludge 10.40 ± 0.81%. Meanwhile, composition of phosphorous output dominated by sludge 39.03% ± 6.59%, shrimp harvest 15.22% ± 0.85% and outflow 3.09% ± 0.26%. Both food and water efficiency under good culture management are the mainfactors of waste load from shrimp culture ponds.
PENGARUH PEMBERIAN RONOZYME P DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN KERAPU BEBEK, Cromileptes altivelis Neltje Nobertine Palinggi; Usman Usman; Asda Laining; Kamaruddin Kamaruddin; Makmur Makmur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.87 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.29-34

Abstract

Ikan kerapu bebek dengan bobot awal sekitar 60 gr/ekor dipelihara dalam keramba jaring apung ukuran 1x1x2 meter kubik dengan kepadatan awal 16 ekor/keramba
PENGARUH KADAR PROTEIN DAN LEMAK PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KOMPOSISI BADAN IKAN KERAPU MACAN, Epinephelus fuscoguttatus Usman Usman; Neltje Nobertine Palinggi; Kamaruddin Kamaruddin; Makmur Makmur; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.845 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.277-286

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan optimum kadar protein dan lemak pakan terhadap pertumbuhan dan komposisi badan ikan kerapu macan ukuran konsumsi. Sembilan pakan uji dibuat dalam bentuk moist pelet dengan tiga dosis protein (46%, 49%, dan 52%) dan tiga dosis lemak (9%, 11%, dan 13%). Ikan uji dipelihara dalam 27 keramba jaring apung ukuran 1 m x 1 m x 2 m selama 140 hari, diberi pakan uji secara satiasi dua kali sehari dan diset dalam rancangan acak kelompok pola faktorial berdasarkan kelompok ukuran bobot awal ikan yaitu (i) 122,0±4,2 g; (ii) 144,0±7,1 g; dan (iii) 172,9±10,5 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik dan sintasan ikan relatif sama (>0,05) di antara perlakuan. Efisiensi pakan cenderung meningkat dengan meningkatnya kadar protein dan lemak pakan. Tingkat efisiensi pemanfaatan protein cenderung menurun dengan meningkatnya kadar protein pakan, tetapi meningkat dengan meningkatnya kadar lemak pakan. Hasil analisis proksimat badan ikan menunjukkan bahwa kadar bahan kering dan lemak ikan relatif tidak dipengaruhi (P>0,05) oleh peningkatan kadar protein pakan, namun kadar bahan kering dan lemak ikan tersebut sedikit naik dengan meningkatnya kadar lemak pakan. Kadar protein dan abu ikan relatif tidak dipengaruhi oleh perubahan kadar protein dan lemak pakan. Berdasarkan hasil penelitian ini tampak bahwa pakan dengan kadar protein 49% dan lemak sekitar 11% mampu memberikan pertumbuhan dan komposisi badan ikan kerapu macan yang baik.This experiment was conducted to investigate the optimum dietary protein and lipid level for growth and body composition of tiger grouper. Nine dietary experiments were formulated to moist pellet contain three levels of protein (46%, 49%, and 52%) and three levels of lipid (9%, 11%, and 13%). The fish were fed twice daily to satiation for 140 days in twenty seven net cages of 1 m x 1 m x 2 m, were set up factorial randomized block design based on fish size group i.e. (i) 122.0±4.2 g, (ii) 144.0±7.1 g, and (iii) 172.9±10.5 g. The results shown that specific growth rate and survival rate were not significant different (P>0.05) for all treatments. Feed efficiency increased when protein and lipid content increased. Protein efficiency decreased when protein diets increased and increased when lipid diets increased. No interaction occurred between protein and lipid content to all observable biological variables. Dry matter and lipid content of test fish were not affected by protein diets increase but by lipid diet content. Protein and ash of test fish were not affected by either protein or lipid contained in diet. To assure high growth rates and high quality of fish product, it is suggested to feed tiger grouper with diet containing 49% protein and 11% lipid. 
PENDUGAAN DAYA DUKUNG PERAIRAN TELUK AWARANGE BAGI PENGEMBANGAN BUDI DAYA BANDENG DALAM KERAMBA JARING APUNG Rachmansyah Rachmansyah; Makmur Makmur; Tarunamulia Tarunamulia
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7061.508 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.1.2005.81-93

Abstract

Daya dukung memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan pengelolaan sumber daya perikanan budi daya Metode survai dilakukan dalam studi ini untuk mengevaluasi kualitas biofisik Teluk Awarange (Sulawesi Selatan) dan untuk menentukan kelayakan lahan bagi pengembangan budi daya bandeng dalam keramba jaring apung (KJA).
DISTRIBUSI LOGAM BERAT MERKURI(Hg) Dl KAWASAN PESISIR TELUK RATATOTOK, KABUPATEN MINAHASA, SULAWESI UTARA Rachmansyah Rachmansyah; Syarifuddin Tonnek; Makmur Makmur; Kamaruddin Kamaruddin; Muharijadi Atmomarsono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5280.827 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.5.2005.95-107

Abstract

Studi ini telah dilakukan di kawasan pesisir Teluk Ratatotok, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara dari tanggal 26 Juli - 1 Agustus 2004, bertujuan untuk mengetahui distribusi kandungan merkuri (Hg) dalam komponen ekosistem di kawasan pesisir T. Ratatotok. Metode survai dipadukan dengan Sistem Informasi Geografi digunakan dalam studi ini.