FIRMAN FIRMAN
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

AGUANG DALAM ACARA BATAGAK PANGULU DI NAGARI KOTO GADANG KEC. IV KOTO KAB. AGAM FARIDATUL INAYAH; FIRMAN FIRMAN; SRIYANTO SRIYANTO
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 6, No 1 (2020): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v6i1.1046

Abstract

Aguang merupakan salah satu alat musik tradisional di Minangkabau, yang terdapat pada acara batagak pangulu di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Aguang dalam acara batagak pangulu terdiri dari 2 buah aguang, yakni aguang besar dan aguang kecil, yang digantung menggunakan kayu, dan dimainkan oleh sepasang pemain menggunakan 1 stik pada aguang besar dan 2 buah stik pada aguang kecil, serta dimainkan pada saat penyembelihan kerbau hingga akhir acara. Tujuan penelitian terhadap objek yang dikemukakan di atas untuk mendeskripsikan unsur-unsur musikal aguang dalam batagak dan mendeskripsikan pandangan masyarakat terhadap aguang dalam acara batagak pangulu di Kanagarian Koto Gadang Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam. Hasil dari penelitian dari aguang yang dimainkan pada acara batagak pangulu ialah, memiliki 4 unsur-unsur musik yaitu memiliki 3 pola ritme, melodi yang dimainkan secara ostinato, keselarasan bunyi, dan warna bunyi idiophone. Pandangan masyarakat terhadap aguang terdapat 3 golongan yaitu pandangan masyarakat umum, pandangan generasi muda dan pandangan pelaku seni. Fungsi aguang terdiri dari 2 macam yakni fungsi primer dan fungsi sekunder yang terbagi tiga yaitu legitimasi batagak pangulu, fungsi komunikasi dan fungsi ekonomi.
Pengembangan Kesenian Dikia Rabano Dalam Komposisi Musik Baru Berjudul Baguguah Salman Alfarisi; Admiral Admiral; Firman Firman; I Dewa Nyoman Supenida
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 2, No 2 (2022): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v2i2.3199

Abstract

-Dikie rabano merupakan salah satu kesenian tradisional bernuansa Islam yang ada di Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam. Fungsi Dikie Rabano di Nagari Bawan adalah untuk baok anak kaaie (turun untuk mandi), Maulid Nabi, khitanan, dan malapeh niaiek (bentuk rasa syukur kepada Tuhan). Karya gubahan musik yang berjudul "baguguah" ini berasal dari kesenian tradisional Dikie Rabano pada repertoar baok anak ka aie (turun mandi) lagu-lagu Guguah Baarak di Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam. Dikie Rabano biasanya disajikan dalam acara adat dan acara syukuran. Repertoar lagu-lagu Guguah Baarak memiliki kasus musikal yang menarik untuk dikembangkan dimana lagu ini terkesan monoton dengan memainkan pola ritme yang sama dari awal pertunjukan hingga akhir. Komposisi musik "baguguah" dilakukan dengan metode pendekatan tradisional. Mewujudkan ide/gagasan yang bersumber dari seni khasanah lagu-lagu Guguah Baarak Dikie Rabano, dengan mengembangkan pola-pola permainan rabano. Melalui karya komposisi musik "baguguah" seniman mencoba menghadirkan beberapa bentuk kebaruan dalam berbagai aspek karya sesuai konsep yang ditawarkan, dengan menggunakan pendekatan Tradisi, seniman ingin berbagi pengalaman bermusik yang dapat berkontribusi pada perkembangan komposisi musik itu sendiri.
New Pado: Komposisi Musik Dari Kasus Musikal Melodi Pado-Pado Boby Anoza Ahda; Efrinon Efrinon; Firman Firman
Jurnal Musik Nusantara Vol 3, No 1 (2023): Vol 3, No 1 (2023): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v3i1.3803

Abstract

Penciptaan ini bertujuan untuk memberikan apresiasi baru mengenai sebuah komposisi baru yang bersumber dari kesenian tradisi mansi solok yang berangkat dari pado-pado dalam bentuk musik populer. Fungsi dari penciptaan ini adalah sebagai perwujudan kreativitas pengkarya dalam membuat sebuah komposisi yang berangkat dari kesenian tradisi, sekaligus menjadi sebuah perbandingan bagi pengkarya dalam membuat komposisi karawitan. Berkaitan dengan karya ini Pengkarya menafsirkan kembali fenomena musikal yang terdapat pada kesenian Mansi Solok ke dalam bentuk komposisi musik karawitan dengan pendekatan populer. Permainan dari pado-pado bermain di wilayah yang mendekati nada f, gis, bes, c, cis, dis, f. Nada-nada tersebut merupakan nada asli dari mansi solok. Berdasarkan analisis tersebut pengkarya akan menggarap dan mengembangkan kesenian mansi solok tersebut ke dalam bentuk komposisi karawitan diberi judul “new pado” dalam bahasa indonesia “new” artinya adalah baru. “pado” dalam bahasa Minangkabau yaitu diraso-rasoan. Karyaini merupakan tafsiran kembali ke dalam bentuk garapan komposisi baru yang tetap mengacu pada nilai-nilai dan etika dari pertunjukan tradisi Mansi Solok. Maka pengkarya berharap komposisi karawitan yang berjudul “New Pado“dapat menjadi apresiasi bagi mahasiswa dan sivitas akademika ISI Padang panjang terutama untuk Program Studi Seni Karawitan.
Harmonizing Identities: Language's Role in Shaping 'The Sounds of Islamic Identity' - Salawat Dulang Alam and Qodratullah (Harmonisasi Identitas: Peran Bahasa dalam Membentuk 'Suara Identitas Islam' - Salawat Dulang Alam dan Qodratullah) Firdaus Firdaus; Riswani Riswani; Syafniati Syafniati; Firman Firman; Jufri Jufri
Jurnal Gramatika Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2023.v9i2.7365

Abstract

This article explores the transformation of the text Salawat Dulang Alam and Qodratullah music into a new artwork form that embodies the narrative form of Islamic identity in West Sumatra. The research involved a collaborative work of transformation by practitioners of Salawat Dulang. The Festival Musica Sacral committee commissioned the creation of this musical artwork, and the artists created new performances with new texts following the theme requested by the committee. The production was done by adopting contemporary songs and inserting theatrical elements that collaborated with traditional Salawat Dulang song texts, highlighting the role of language as identity. The research resulted in a new form of Salawat Dulang music that is more communicative and touches the heartstrings. Incorporating contemporary text songs and theatrical elements created a fresh perspective on Salawat Dulang music, embodying Islamic identity's narrative form in West Sumatra. The study suggests that transforming traditional art forms into contemporary ones can create a new way of looking at the art form, leading to increased communication and emotional connection with the audience. It is also suggested that further research should be carried out to explore the possibilities of transforming other traditional art forms similarly, recognizing the role of language as a vital component of identity.
Harmonizing Identities: Language's Role in Shaping 'The Sounds of Islamic Identity' - Salawat Dulang Alam and Qodratullah (Harmonisasi Identitas: Peran Bahasa dalam Membentuk 'Suara Identitas Islam' - Salawat Dulang Alam dan Qodratullah) Firdaus Firdaus; Riswani Riswani; Syafniati Syafniati; Firman Firman; Jufri Jufri
Jurnal Gramatika Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2023.v9i2.7365

Abstract

This article explores the transformation of the text Salawat Dulang Alam and Qodratullah music into a new artwork form that embodies the narrative form of Islamic identity in West Sumatra. The research involved a collaborative work of transformation by practitioners of Salawat Dulang. The Festival Musica Sacral committee commissioned the creation of this musical artwork, and the artists created new performances with new texts following the theme requested by the committee. The production was done by adopting contemporary songs and inserting theatrical elements that collaborated with traditional Salawat Dulang song texts, highlighting the role of language as identity. The research resulted in a new form of Salawat Dulang music that is more communicative and touches the heartstrings. Incorporating contemporary text songs and theatrical elements created a fresh perspective on Salawat Dulang music, embodying Islamic identity's narrative form in West Sumatra. The study suggests that transforming traditional art forms into contemporary ones can create a new way of looking at the art form, leading to increased communication and emotional connection with the audience. It is also suggested that further research should be carried out to explore the possibilities of transforming other traditional art forms similarly, recognizing the role of language as a vital component of identity.
New Pado: Komposisi Musik Dari Kasus Musikal Melodi Pado-Pado Boby Anoza Ahda; Jufri Jufri; Firman Firman
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 3, No 1 (2023): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v3i1.3823

Abstract

Penciptaan ini bertujuan untuk memberikan apresiasi baru mengenai sebuah komposisi baru yang bersumber dari kesenian tradisi mansi solok yang berangkat dari pado-pado dalam bentuk musik populer. Fungsi dari penciptaan ini adalah sebagai perwujudan kreativitas pengkarya dalam membuat sebuah komposisi yang berangkat dari kesenian tradisi, sekaligus menjadi sebuah perbandingan bagi pengkarya dalam membuat komposisi karawitan. Berkaitan dengan karya ini Pengkarya menafsirkan kembali fenomena musikal yang terdapat pada kesenian Mansi Solok ke dalam bentuk komposisi musik karawitan dengan pendekatan populer. Permainan dari pado-pado bermain di wilayah yang mendekati nada f, gis, bes, c, cis, dis, f. Nada-nada tersebut merupakan nada asli dari mansi solok. Berdasarkan analisis tersebut pengkarya akan menggarap dan mengembangkan kesenian mansi solok tersebut ke dalam bentuk komposisi karawitan diberi judul “new pado” dalam bahasa indonesia “new” artinya adalah baru. “pado” dalam bahasa Minangkabau yaitu diraso-rasoan. Karyaini merupakan tafsiran kembali ke dalam bentuk garapan komposisi baru yang tetap mengacu pada nilai-nilai dan etika dari pertunjukan tradisi Mansi Solok. Maka pengkarya berharap komposisi karawitan yang berjudul “New Pado“dapat menjadi apresiasi bagi mahasiswa dan sivitas akademika ISI Padang panjang terutama untuk Program Studi Seni Karawitan. Kata Kunci: New Pado; Mansi Solok; Pado Pado
Struktur Musik Buka Lanse Dalam Adat Perkawinan Masyarakat Melayu Di Kabupaten Batanghari Propinsi Jambi Sherli Junikasari; Muhammad Zulfahmi; Firman Firman
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 1 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i1.4224

Abstract

This research discusses the structure of traditional open-lance music which is classified as unique and rare, but is threatened with extinction if it is not preserved. This study aims to examine the structure of open lanse music and its inheritance system in Batanghari Regency. This study uses qualitative research methods with data collection techniques of observation, interviews, documentation, and field studies. Discussion and analysis of data using structural theory. Buka lanse is a poem sung by traditional leaders or both the bride and groom. Poetry opens lance philosophically means the bride and groom are officially husband and wife, and the groom has legally entered the bride's room. The musical structure begins with the playing of the Malay drum instrument, piul (violin) accordion, keyboard, and vocals in the form of free meters, repeatedly (repetition style) and logogenic. Contour melodies are a mixture of ascending and descending. Open lanse music is still maintained as the identity of the Jambi Malay community in general and in particular the Malay community in the Rengas Condong Village, Muara Bulian District, Batanghari Regency
BEGENDANG BESERUNAI: INTEGRATION OF TRADITIONAL VALUES IN THE CREATION OF BENGKULU KARAWITAN MUSIC COMPOSITION Arnailis Arnailis; Yunaidi Yunaidi; Firman Firman; Muhammad Zulfahmi
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 2 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i2.6020

Abstract

The work “Begendang Beserunai” is a contemporary karawitan music composition inspired by the musical phenomenon of the gendang serunai, one of Bengkulu’s traditional arts that plays an important role in ceremonial processions and community entertainment. The gendang serunai, consisting of two long drums (melalu and ningkah) and a serunai as the melody carrier, is distinctive for its interlocking rhythmic patterns and melodic motifs in a scale close to a-b-c-d-e-f#-g-a’. This creation aims to preserve the essence of tradition while introducing innovation through techniques such as unison, canon, polyrhythmic, responsorial, polymetric, and accentuation, supported by additional instruments such as dol, kompang, kolintang, accordion, bass guitar, and cymbals. The method used is a mixed methods approach combining qualitative methods—through participatory observation, in-depth interviews, and recording analysis—and quantitative methods—through measuring tempo, dynamics, rhythmic pattern duration, and audience questionnaires. The results show that this work successfully integrates traditional musical idioms into a modern composition format while maintaining its identity. Questionnaire analysis (n = 50) shows that 84% of respondents perceived the traditional nuance as strong, while 78% rated the aesthetic appeal as high. This work contributes to cultural preservation through documentation, education, and artistic innovation relevant to the contemporary context. “Begendang Beserunai” serves as a model for developing tradition-based works applicable to other regional music forms, as well as an academic and artistic reference for artists, researchers, and art education institutions.