Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Quo Vadis Implementasi Model Pengembangan Mutu Juran Di Lembaga Pendidikan Islam Zamroji, Muhammad
Ats-Tsaqofi: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol 2 No 1 (2020): Ats-Tsaqofi
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib Ngoro Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61181/ats-tsaqofi.v2i1.211

Abstract

Sistem pendidikan Islam merupakan wahanapembentuk manusia sempurna sebagai fondasi awal dalam pembangunan peradaban madani dan mewujudkan rahmat bagi seluruh umat manusia.Pendidikan Islam dianggap bermutu bila outputnyamampu mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup yang berperspektif Islam. Mutu dalam konsep Joseph M Juran adalah kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use) yang memuat lima dimensi yaitu: mutu desain, mutu kesesuaian, ketersediaan, keamanan, dan field use dimana kecocokan penggunaan tersebut didasarkan atas lima ciri utama, yaitu: teknologi (kekuatan atau daya tahan), psikologis (citra rasa atau status), waktu (kehandalan), kontraktual (adanya jaminan), dan etika (santun ramah dan jujur).Implementasi konsep mutu Juran dalam lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan dengan pemenuhan mutu desain pendidikan dengan merujuk pada berbagai kebijakan pemerintah tentang pendidikan, khususnya pendidikan Islam, yang tuangkan dalam visi, misi, dan tujuan pendidikan serta kurikulum yang ditawarkan. Tantangan pengembangan mutu lembaga pendidikan dalam hal ini sering kali dihadapkan pada kebijakan pemerintah khususnya berkaitan dengan sistem zonasi dan kurikulum sehingga lembaga pendidikan seringkali gagal mempertahankan ‘keistimewaannya’ masing-masing sebagaimana disyaratkan dalam konsepJuran. Tantangan berikutnya adalah tingkat kesadaran tentang mutu dan konsistensi dalam mempertahankan dan perbaikan terus menerus. Hal ini mengindikasikan bahwa permasalahan mutu pendidikan pada dasarnya merupakan permasalahan pendidikan yang bersifat dinamis yang tidak bisa diselesaikan dalamsatu waktu dan satu konsep pengembangan mutu. Sistem pendidikan Islam merupakan wahanapembentuk manusia sempurna sebagai fondasi awal dalam pembangunan peradaban madani dan mewujudkan rahmat bagi seluruh umat manusia.Pendidikan Islam dianggap bermutu bila outputnyamampu mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup yang berperspektif Islam. Mutu dalam konsep Joseph M Juran adalah kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use) yang memuat lima dimensi yaitu: mutu desain, mutu kesesuaian, ketersediaan, keamanan, dan field use dimana kecocokan penggunaan tersebut didasarkan atas lima ciri utama, yaitu: teknologi (kekuatan atau daya tahan), psikologis (citra rasa atau status), waktu (kehandalan), kontraktual (adanya jaminan), dan etika (santun ramah dan jujur).Implementasi konsep mutu Juran dalam lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan dengan pemenuhan mutu desain pendidikan dengan merujuk pada berbagai kebijakan pemerintah tentang pendidikan, khususnya pendidikan Islam, yang tuangkan dalam visi, misi, dan tujuan pendidikan serta kurikulum yang ditawarkan. Tantangan pengembangan mutu lembaga pendidikan dalam hal ini sering kali dihadapkan pada kebijakan pemerintah khususnya berkaitan dengan sistem zonasi dan kurikulum sehingga lembaga pendidikan seringkali gagal mempertahankan ‘keistimewaannya’ masing-masing sebagaimana disyaratkan dalam konsepJuran. Tantangan berikutnya adalah tingkat kesadaran tentang mutu dan konsistensi dalam mempertahankan dan perbaikan terus menerus. Hal ini mengindikasikan bahwa permasalahan mutu pendidikan pada dasarnya merupakan permasalahan pendidikan yang bersifat dinamis yang tidak bisa diselesaikan dalamsatu waktu dan satu konsep pengembangan mutu. Sistem pendidikan Islam merupakan wahanapembentuk manusia sempurna sebagai fondasi awal dalam pembangunan peradaban madani dan mewujudkan rahmat bagi seluruh umat manusia.Pendidikan Islam dianggap bermutu bila outputnyamampu mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup yang berperspektif Islam. Mutu dalam konsep Joseph M Juran adalah kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use) yang memuat lima dimensi yaitu: mutu desain, mutu kesesuaian, ketersediaan, keamanan, dan field use dimana kecocokan penggunaan tersebut didasarkan atas lima ciri utama, yaitu: teknologi (kekuatan atau daya tahan), psikologis (citra rasa atau status), waktu (kehandalan), kontraktual (adanya jaminan), dan etika (santun ramah dan jujur).Implementasi konsep mutu Juran dalam lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan dengan pemenuhan mutu desain pendidikan dengan merujuk pada berbagai kebijakan pemerintah tentang pendidikan, khususnya pendidikan Islam, yang tuangkan dalam visi, misi, dan tujuan pendidikan serta kurikulum yang ditawarkan. Tantangan pengembangan mutu lembaga pendidikan dalam hal ini sering kali dihadapkan pada kebijakan pemerintah khususnya berkaitan dengan sistem zonasi dan kurikulum sehingga lembaga pendidikan seringkali gagal mempertahankan ‘keistimewaannya’ masing-masing sebagaimana disyaratkan dalam konsepJuran. Tantangan berikutnya adalah tingkat kesadaran tentang mutu dan konsistensi dalam mempertahankan dan perbaikan terus menerus. Hal ini mengindikasikan bahwa permasalahan mutu pendidikan pada dasarnya merupakan permasalahan pendidikan yang bersifat dinamis yang tidak bisa diselesaikan dalamsatu waktu dan satu konsep pengembangan mutu.
Integrasi Kebijakan Kurikulum Berbasis Pesantren Dalam Mengembangkan Prestasi Akademik dan Non Akademik Zamroji, Muhammad; Robi’ul Afif Nurul ‘Aini
Ats-Tsaqofi: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol 5 No 2 (2023): Ats-Tsaqofi
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib Ngoro Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61181/ats-tsaqofi.v5i2.351

Abstract

Abstract: This research examines the implementation of the pesantren-based curriculum at MIN 4 Jombang. The purpose of this study was to describe the implementation, evaluation, supporting and inhibiting factors for the implementation of the pesantren-based curriculum at MIN 4 Jombang. The application of the pesantren curriculum at MIN 4 Jombang is carried out using the SMART curriculum which is applied with habits that are carried out every day. This study uses a qualitative approach, while the type of research is a case study, as well as data collection techniques using observation, interviews and documentation which the researchers will later describe in the data analysis including data reduction, data display and drawing conclusions. the research uses several validity checking techniques that researchers examine, including: transferability, confirmability, depandability and confirmability. Research results include: 1). Implementation of a well-structured and effective pesantren-based curriculum using the SMART curriculum which is applied with daily habits. 2). The evaluation is carried out at MIN 4 Jombang by conducting written or oral tests every semester. 3). Factors supporting the implementation of the pesantren-based curriculum include the environment, parental support, the attitude of the teacher who cares. Inhibiting factors include lack of facilities and infrastructure, students with different abilities, lack of support from parents.
Relevansi Pendidikan Kritis Paulo Freire Dengan Pendidikan Islam Muhammad Zamroji
At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah Vol 4 No 1 (2016): At-Tahdzib
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib, Ngoro, Jombang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Education represent process humanize human being which is plan and is continual. In Islam, education become system sub owning separate urgency in supporting intelectuality dimension and of spiritualitas Islam people. But reality that happened these days, frequently show education face which do not in line with principle of humanization. Education system which have there is and establish during the time can be pledged by as a "bank" (educational of concept banking) where student given by science to be thereof is later expected by an multiple result. Become protege is invesment obyek and source of deposit potential, teacher become active subyek, protege is malleable passive obyek. As strategic step, education world have to reconstruct idea of education. One of them is Paulo Freire which intensively keen criticism to education reality, Freire is famous figure with critical education concept of him, he tread on at principle of humanization the which critical approach represent step early in developing critical natural existence in education as reference think objective and offer one of the method alternative and strategy conception study. By tread on at critical education paradigm, education expected can awaken critical natural existence, creative ability, freedom in apresiation, and critical awareness of educative participant. For that, pattern of paedagogi becoming especial patron used in course of learning to teach at education system during the time have to change with pattern education of more opening andragogi of opportunity to educative participant to participate actively is, critical, and creative in course of learning to teach. Relate at concept education of Islam, basically education of Islam very is emphasizing of liberation and humanization as education orientation, and also place educative participant and educator both of the same as subjek in course of learning to teach. Because, Paradigm education of Islam base entire/all idea, target of, and education process at basis for sturdy belief in God and spiritualitas to Allah and of Rasul-Nya. Or equally education of Islam all vertical aspect (and spiritualitas) of horizontal (sosial) as education orientation. And one of the critical education idea that is creating situation learn democratic, and also create the condition of participant of education shall no longger embrace absolute understanding, normative, which is very kill to educative participant natural existence energy.
Implementation of Prediction Guide Method in Islamic Religious Education Learning Robi’ul Afif Nurul ‘Aini; Zamroji, Muhammad; Robi'ul Afif Nurul 'Aini
Ats-Tsaqofi: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol 6 No 2 (2024): Ats-Tsaqofi
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib Ngoro Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61181/ats-tsaqofi.v6i2.472

Abstract

The Prediction Guide Method is a learning model designed to actively engage students from the beginning to the end of the learning process. By using this method, students are expected to be involved from the start of the session, maintain focus, and keep their attention while the teacher delivers the material. The steps in implementing this method begin with the formation of study groups by the teacher in the classroom. Through these groups, students can discuss and share their understanding of the material being taught. The key to the success of the Prediction Guide Method is creating an interactive and non-monotonous learning atmosphere. One common problem in traditional teaching methods is that they are often too rigid and static, which can cause students to quickly feel bored and lose motivation. However, by implementing the Prediction Guide Method, the teaching and learning process becomes more engaging and encourages active participation from all students. This method has a particularly significant impact on student engagement in Islamic Education. As a result, the implementation of this method not only makes students more active but also improves their comprehension and learning outcomes. Students can more easily remember and understand the material because they are directly involved in the learning process. Through this method, teachers can also better assess students’ engagement and understanding, thereby enhancing the overall quality of learning.
Konsistensi Ideologi Pendidikan Agama Islam Di Tengah Perubahan Kurikulum Pendidikan Di Indonesia Muhammad Zamroji
Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman Vol. 10 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) IAI Al Urwatul Wutsqo - Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54437/urwatulwutsqo.v10i1.1763

Abstract

Islamic education ideology is a systemic concept based on the Koran, al-Hadith, and ijtihad which aims for the happiness of human life in this world and the hereafter. The curriculum includes material from religious studies (aqidah, syari’ah, and morals) as well as general subjects such as mathematics. The methods used are classical and modern methods. Meanwhile, conservative educational ideology places more emphasis on conventional teachings which assume that everything humans do is God's will. The curriculum places more emphasis on moral aspects and the methods used also tend to be conventional, such as lectures. This is different from the ideology of liberal education which prioritizes individual freedom to develop educational concepts. The curriculum places more emphasis on practical matters and the teaching methods are free to suit individual wishes
Bimbingan Penerapan Ilmu Faraidh Untuk Mengatasi Kasus Warisan Di Masyarakat Desa Kesamben Kecamatan Ngoro Jombang Robi'ul Afif Nurul 'Aini; Zainal Fanani; Moch. Solich; Muhammad Zamroji
Jurnal Pelita Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Pelita Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pelita Negri Belantaraya, Kab. Indragiri Hilir, Prov. Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65226/jppm.v2i1.157

Abstract

Masalah warisan sering kali menimbulkan konflik di kalangan masyarakat akibat minimnya pemahaman tentang ilmu faraidh, yakni ilmu yang mengatur pembagian harta warisan menurut syariat Islam. Penelitian pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang dalam menerapkan ilmu faraidh sebagai solusi penyelesaian masalah warisan secara syar’i. Metode yang digunakan adalah pelatihan langsung yang meliputi pemberian materi tentang dasar-dasar ilmu faraidh, identifikasi ahli waris, dan tata cara pembagian warisan sesuai hukum Islam. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman dan kemampuan peserta dalam mengaplikasikan ilmu faraidh, yang berdampak positif dalam mengurangi potensi konflik waris di masyarakat. Selain itu, pelatihan juga membentuk kader lokal yang dapat berperan sebagai mediator dalam penyelesaian sengketa warisan secara adil dan efisien. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan pelatihan serupa dan pendampingan penggunaan teknologi digital untuk memperluas akses masyarakat terhadap ilmu faraidh demi mewujudkan keadilan sosial dan kerukunan keluarga.