Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Dinamika hasil tangkapan jenis-jenis ikan gabus (Genus Channa) di Kota Palangka Raya Reni Evrawaty; Sulmin Gumiri; Evi Veronica
Journal of Environment and Management Vol. 2 No. 1 (2021): Journal of Environment and Management
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Palangka Raya dan (and) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/jem.v2i1.2656

Abstract

Penelitian ini mempelajari bagaimana jumlah hasil tangkapan ikan (Genus Channa) yang dihubungkan dengan jumlah curah selama 1 tahun. Penelitian bertujuan mengetahui jumlah hasil dan komposisi tangkapan (ikan gabus, ikan tahoman, ikan kerandang, ikan peyang dan ikan kihung) dalam 1 tahun. Metode penelitian ini dilakukan dengan survey dan wawancara dengan satu keluarga nelayan di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Jekan Raya, Kecamatan Sabangau dan Kecamatan Bukit Batu. Cakupan data selama 1 tahun, sejak bulan April 2019 hingga Maret 2020. Variabel yang diamati meliputi (1) jumlah hasil tangkapan jenis-jenis ikan gabus yaitu ikan gabus, ikan tahoman, ikan kerandang, ikan peyang dan ikan kihung dalam 1 tahun; dan (2) jumlah hasil tangkapan ikan gabus (Channa striata) dalam 1 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah hasil tangkapan dipengaruhi oleh jumlah curah hujan. Semakin meningkat curah hujan maka semakin berkurang hasil tangkapan. Hasil tangkapan dalam 1 tahun untuk jenis-jenis ikan gabus (Genus channa) didominasi oleh ikan gabus (Channa striata) sebanyak 31%. Hasil tangkapan terbanyak terjadi pada bulan Mei-Juni. Hasil tangkapan di Kecamatan Jekan Raya dan Kecamatan Bukit Batu yang terbanyak dari jenis-jenis ikan Genus channa tersebut adalah ikan gabus (Channa striata) dan hasil tangkapan terbanyak di Kecamatan Sebangau berasal dari jenis ikan kerandang/serandang (Channa micropeltes).
Pemberdayaan Calon Pelopor Desa melalui Budidaya Ikan Gabus sebagai Pengetahuan Wirausaha Suriansyah Suriansyah; Muhammad Noor Yasin; Evi Veronica; Hermansyah Hermansyah
Jumat Pertanian: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023): April
Publisher : LPPM Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32764/abdimasper.v4i1.3379

Abstract

ABSTRAK Budidaya ikan gabus adalah suatu teknik memelihara ikan gabus hingga menjadi ikan peliharaan dengan pemberian pakan maggot kering. Calon pelopor desa merupakan kumpulan beberapa mahasiswa tingkat akhir dari berbagai Jurusan/Program Studi Perguruan Tinggi di Kota Palangka Raya binaan Yayasan Batang Kayu Garing (YBKG). Tujuan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan wirausaha calon pelopor desa melalui budidaya ikan gabus. Manfaatnya sebagai pengembangan teknologi tepat guna teknologi budidaya ikan gabus bagi calon pelopor desa untuk kegiatan wirausaha. Metode kegiatan yang digunakan adalah pelatihan peningkatan Iptek masyarakat melalui demplot dan pendampingan. Hasil kegiatan pelatihan dan pendampingan calon pelopor desa dari 30 peserta ternyata 80% sudah menguasai budidaya ikan gabus, hasil kegiatan demplot budidaya ikan gabus dengan pemberian pakan maggot kering sebanyak 3% per bobot tubuh dapat meningkatkan pertumbuhan panjang mutlak calon induk sebesar 4.1 cm dan benih ikan gabus sebesar 2.7 cm, pertumbuhan berat mutlak calon induk ikan gabus sebesar 61.3 gram dan benih ikan gabus sebesar 3.9 gram, tingkat koefisien pertumbuhan calon induk ikan gabus sebesar 0.33 dan benih ikan gabus sebesar 0.34 dan tingkat kelangsungan hidup calon induk ikan gabus sebesar 94.2% dan benih ikan gabus sebesar 92.5%. Hasil analisa financial demplot budidaya calon induk dan benih ikan gabus nilai R/C >1 layak dilanjutkan.
PENGARUH PEMBERIAN EFEKTIVITAS MIKROORGANISME (EM4) YANG BERBEDA TERHADAP KUALITAS AIR LIMBAH LAUNDRY Juni Katrina Purba; Edison Harteman; Evi Veronica
JOURNAL OF TROPICAL FISHERIES Vol. 17 No. 2 (2022): Journal Tropical Fisheries
Publisher : Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya (UPR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jtf.v17i2.8771

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efektivitas mikroorganisme (EM4) dalam menetralkan pH, penurunan kadar fosfat, amoniak, nitrit, nitrat pada air limbah laundry. Penelitian ini dilaksanakan selama 14 hari di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Jurusan Perikanan, Universitas Palangkaraya dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dengan perlakuan K (tanpa dosis), perlakuan A (20 ml), perlakuan B (40 ml), dan perlakuan C (60 ml) dengan tiga ulangan, dengan waktu pengamatan dan pengambilan sampel air pada hari ke 0, 1, 7, dan 14. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa efektivitas mikroorganisme (EM4) dapat menetralkan kadar pH, serta menurunkan kadar fosfat, amoniak, nitrit, nitrat, tetapi berpengaruh tidak nyata. Dosis perlakuan terbaik pada perlakuan C (60 ml). Nilai rata-rata fosfat, amoniak, nitrit dan nitrat mengalami penurunan lebih besar dibandingkan dengan perlakuan K, A,dan B.
ANALISIS KUALITAS AIR AKIBAT PENAMBANGAN EMAS DI SUNGAI MANUHING KABUPATEN GUNUNG MAS Aldiperdia; Tutwuri Handayani; Evi Veronica
JOURNAL OF TROPICAL FISHERIES Vol. 17 No. 2 (2022): Journal Tropical Fisheries
Publisher : Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya (UPR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jtf.v17i2.8772

Abstract

Penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kualitas fisika dan kimia air di Sungai Manuhing serta untuk mengetahui jumlah penambang emas disepanjang Sungai Manuhing. Metode penelitian ini dilakukan dengan observasi kelapangan serta pengukuranparameter fisika dan kimia dilakukan secara insitu dan eksitu. Lokasi stasiun penelitian berada di 3 desa yaitu, stasiun 1 berada diDesa Tehang Kecamatan Manuhing Raya, stasiun 2 berada di Desa Tumbang Talaken Kecamatan Manuhing dan stasiun 3 beradadi Desa Takaras Kecamatan Manuhing. Hasil penelitian parameter fisika Sungai Manuhing menunjukkan suhu air Sungai Manuhing berkisar antara 26-28 °C, kecerahan air Sungai Manuhing berkisar antara 9,5-78 cm, kedalaman sungai manuhing berkisar antara 1,6-2,8 m, kecepatan arus Sungai Manuhing berkisar antara 0,17-0,42 m/det, total suspended solids (TSS) air Sungai Manuhing berkisar antara 4-167 mg/L, total dissolved solids (TDS) air Sungai Manuhing berkisar antara 12-24 mg/L, nilai kekeruhan sungai manuhing berkisar antara 6,28-122 NTU. Sedangkan hasil penelitian parameter kimia sungai manuhing nilai derajat keasaman (pH) berkisar antara 5,2-6,1, nilai oksigen terlarut (DO) berkisar antara 3,7-6,6 mg/L dan hasil kandungan merkuri (Hg) di Sungai Manuhing <0,075 µg/L. Berdasarkan hasil penelitian beberapa parameter fisika dan kimia seperti Kecerahan, Total Suspended Solids (TSS), Kekeruhan, Derajat Keasaman (pH) tidak sesuai baku mutu air yang ditetapkan oleh PP No.22 Tahun 2021 kelas III tetapi hanya di beberapa stasiun yang tidak sesuai dengan baku mutu sedangkan beberapa parameter fisika dan kimia seperti Suhu, Kedalaman, Kecepatan Arus, Total Disolved Solids (TDS) dan Oksigen Terlarut (DO) telah memenuhi baku mutu air tersebut, termasuk Merkuri (Hg). Namun secara umum kualitas perairan Sungai Manuhing masih memungkinkan untuk mendukung kehidupan organisme perairan.
TINGKAT KESUBURAN DANAU LAIS BERDASARKAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON Rosana Elvince; Ummi Suraya; Evi Veronica; Martha Renata Limbong
JOURNAL OF TROPICAL FISHERIES Vol. 18 No. 2 (2023): Journal Tropical of Fisheries
Publisher : Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya (UPR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jtf.v18i2.11017

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesuburan danau lais berdasarkan kelimpahan fitoplankton. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali dengan jarak interval waktu selama 1 minggu. Penelitian dilakukan di Danau Lais Kecamatan Kahayan Tengah Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah dimulai pada bulan Juli 2022. Analisis data disajikan dalam bentuk tabulasi dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan fitoplankton berkisar antara 101-143 ind/l, dengan nilai indeks keanekaragaman (H’) dalam kategori sedang berkisar antara 1.309 – 1.892, nilai indeks keseragaman (E) dalam kategori tinggi berkisar antara 0,833 – 1,271 dan nilai indeks dominansi (D) berkisar antara 0,167 – 0,324 menandakan tidak adanya spesies fitoplankton yang mendominasi selama penelitian serta parameter kualitas air mempengaruhi kelimpahan fitoplankton dimana oksigen terlarut (DO) berkisar antara 3,15 mg/l – 3,78 mg/l dan kecerahan berkisar antara 15,25-20,75 cm lebih dominan mempengaruhi kelimpahan fitoplankton.
Gerakan “Genting” Sebagai Model Pemberdayaan Orang Tua Asuh Dan Pemanfaatan Ikan Gabus Di Kabupaten Kapuas Pahoe, Evi Veronica; Maryani, Maryani; Elvince, Rosana; Norhayani, Norhayani; Wulandari, Linda
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sy0kzw69

Abstract

Kabupaten Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah masih menghadapi tantangan serius dalam menurunkan angka stunting pada balita, dengan prevalensi di beberapa wilayah yang melebihi ambang batas 20% menurut standar WHO. Masalah ini tidak hanya disebabkan oleh rendahnya asupan gizi, tetapi juga oleh faktor pola asuh, pengetahuan orang tua, dan keterbatasan akses pangan bergizi. Di sisi lain, potensi lokal berupa ikan gabus (Channa striata), yang kaya albumin dan nutrien penting, belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan fungsional. Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan program Gerakan GENTING (Gerakan Pemberdayaan Orang Tua Asuh dalam Produksi Olahan Ikan Gabus) yang bertujuan meningkatkan status gizi anak berisiko stunting sekaligus memberdayakan masyarakat. Berbeda dari pendekatan stunting konvensional, kegiatan ini mengintegrasikan edukasi gizi, pelatihan usaha, dan pemanfaatan pangan lokal secara simultan, yang belum banyak diterapkan di Kalimantan Tengah. Program ini melibatkan ibu PKK dan tokoh masyarakat melalui pelatihan pengolahan ikan gabus dan pendampingan konsumsi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi sebesar 40% dan perubahan perilaku konsumsi, di mana 70% keluarga sasaran mengonsumsi olahan ikan gabus minimal tiga kali per minggu. Kegiatan ini tidak hanya memperbaiki status gizi anak, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan produk olahan ikan lokal. “GENTING” Movement as a Model of Foster Parent Empowerment and Utilization of Snakehead Fish in Kapuas Regency Abstract Kapuas Regency in Central Kalimantan still faces serious challenges in reducing stunting among children under five, with prevalence in several areas exceeding the 20% threshold set by WHO. This problem is not only caused by low nutritional intake but also by parenting patterns, limited nutritional knowledge, and restricted access to nutritious food. On the other hand, the local potential of snakehead fish (Channa striata), which is rich in albumin and essential nutrients, has not been optimally utilized as a functional food source. To address this challenge, the GENTING Movement (Empowerment of Foster Parents in Snakehead Fish Processing) was developed to improve the nutritional status of children at risk of stunting while empowering the community. Unlike conventional stunting interventions, this program integrates nutrition education, entrepreneurship training, and the utilization of local food simultaneously an approach rarely applied in Central Kalimantan. The program involved women’s groups (PKK) and community leaders through training in snakehead fish processing and consumption assistance. The results showed a 40% increase in nutritional knowledge and improved dietary behavior, with 70% of target families consuming snakehead-based products at least three times per week. This activity not only improved children’s nutritional status but also created new economic opportunities through local fish product development.