Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

ANALISIS KEBUTUHAN MASYARAKAT BERKAITAN DELAPAN PILAR PENGABDIAN MASYARAKAT DI KAMPUNG SANGSANG KECAMATAN SILUQ NGURAI Situmorang, Roni Marudut; Santoso, Hendra
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 13, No 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v13i2.43719

Abstract

Abstract. This study aims to analyze the community needs in Sangsang Village based on the eight pillars of community service: education, health, income, economic independence, socio-culture, environmental participation, community institutions, and infrastructure. The research employs a descriptive quantitative and qualitative approach, with data collected through social mapping surveys, public consultations, questionnaires, and field observations. Respondents were selected using purposive sampling. Data analysis was conducted descriptively to provide a comprehensive overview of community needs, validated through data triangulation. The findings reveal that Sangsang Village, located in Siluq Ngurai Subdistrict, has a population of 395 people, predominantly of productive age (15–54 years). The education level is relatively low, with most residents not completing primary school or lacking formal education. Educational infrastructure is limited to early childhood education (PAUD) and elementary schools (SD). Furthermore, the poverty index reaches 34%, with 31 out of 120 households categorized as pre-prosperous. Community needs analysis was developed based on social mapping and public consultation, prioritizing programs to strengthen education and build tourism-supporting infrastructure. The results of this analysis are expected to serve as a strategic foundation for planning relevant, effective, and comprehensive development programs aligned with the eight pillars of community service. Keyword: Comumunity Development; Need Analysis; Social Mapping. Abstrak. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan masyarakat di Kampung Sangsang berdasarkan delapan pilar pengabdian masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, pendapatan, kemandirian ekonomi, sosial budaya, partisipasi lingkungan, kelembagaan komunitas, dan infrastruktur. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitaif dan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui survei pemetaan sosial, konsultasi public, pengisian kuesioner dan observasi lapangan. Responden dipilih menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk memberikan gambaran komprehensif kebutuhan masyarakat, yang divalidasi melalui triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampung Sangsang, yang terletak di Kecamatan Siluq Ngurai, memiliki jumlah penduduk 395 jiwa dengan dominasi usia produktif (15–54 tahun). Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, dengan sebagian besar belum tamat SD atau tidak bersekolah. Infrastruktur pendidikan di Kampung Sangsang terbatas pada PAUD dan SD. Selain itu, indeks kemiskinan mencapai 34%, dengan 31 dari 120 kepala keluarga tergolong pra-sejahtera. Analisis kebutuhan masyarakat disusun berdasarkan pemetaan sosial dan konsultasi publik, dengan prioritas program pada penguatan pendidikan dan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata. Hasil analisis ini diharapkan menjadi dasar strategis bagi perencanaan program pembangunan yang relevan, efektif, dan menyeluruh, sesuai delapan pilar pengabdian masyarakat. Kata Kunci: Pengembangan Masyarakat; Analisis Kebutuhan; Pemetaan Sosial.
INTERPRETASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK IDENTIFIKASI ANOMALI RONGGA DAN GUA DI KECAMATAN SEPAKU, KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Santoso, Hendra; Situmorang, Roni Marudut
Bulletin of Scientific Contribution Vol 21, No 2 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v21i2.47210

Abstract

Daerah Sepaku merupakan daerah potensi batu gunung, berupa batu gamping, batu pasir dan batu lempung, dengan morfologi bergelombang kuat dan sedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis batuan penyusun struktur bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitas batuan di sekitar. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik Bawono (Modified: Naniura NRD 300 HRF) konfigurasi Schlumberger dengan mengukur nilai tahanan jenis lapisan tanah di daerah Sepaku sebanyak 10 lintasan. Pemodelan dan inversi data lapangan dilakukan menggunakan software Res2DinV. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan batu gamping memiliki nilai tahanan jenis antara 300 – 1870 Ωm, batu pasir 30 – 300 Ωm, dan batu lempung 3 – 30 Ωm. Litologi batuan secara keseluruhan didominasi perselingan batu pasir dan lempung, sedangkan batu gamping hanya memiliki ketebalan 15 – 40 meter. Litologi batu gamping memiliki gua di Lintasan GL1, dan rongga atau rekahan di semua lintasan. 
Desain Lereng Tambang Optimal Menggunakan Metode Kesetimbangan Batas di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur Situmorang, Roni Marudut; Santoso, Hendra
OPHIOLITE: Jurnal Geologi Terapan Vol 5 No 2 (2023): OCTOBER 2023
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56099/ophi.v5i2.p62-69

Abstract

Penentuan faktor keamanan kelongsoran lereng pada wilayah pertambangan di Desa Mekar Jaya perlu dilakukan untuk menjamin kestabilan lereng yang tersusun atas batuan sangat lemah dan batuan lemah. Batuan penyusun lereng bervariasi dari batuserpih gelap, batupasir lanauan, batulempung gelap, dan batugamping kalkarenit. Faktor keamanan ditentukan pada lereng majemuk menggunakan analisis deterministik dan probabilistik. Pada desain lereng digunakan batas nilai faktor keamanan (FK) statis, dinamis, dan probabilitas kelongsoran (PK) yang mengacu pada Kepmen ESDM No.1827 tahun 2018. Perhitungan dilakukan pada dua lereng yang diperuntukkan sebagai lereng highwall dan lereng jalan tambang. Batuan di daerah penyelidikan berdasarkan pengujian kuat tekan batuan utuh (UCS) berada pada kisaran 0,53 -12,46 Mpa pada kategori R0 (extremely weak rock) hingga R2 (weak rock). Hasil rekomendasi penentuan geometri lereng keseluruhan dari desain rencana tambang yaitu: (1) GT01 dikategorikan stabil dengan litologi batupasir lanauan, batulempung, dan batuserpih dengan tinggi desain 50.94-53.18 meter memiliki nilai FK statis 2.23-1.65, FK dinamis 1.34 – 1.77, dan PK 0%, dan (2) Titik GT02 dikategorikan stabil dengan litologi batuserpih, kalkarenit, dan batulempung dengan tinggi desain 50.9 meter dimana nilai FK statis 1.46-1.49, FK dinamis 1.29-1.48, dan PK 0.8-3.7. Analisis deterministik dan analisis probabilistik pada perencanaan desain tambang dapat dilakukan bersamaan untuk menjadi komparasi dalam pemberian rekomendasi desain tambang batubara agar hasil pengukuran semakin akurat dan aman untuk keselamatan penambangan.
Analisis Stabilitas Lereng pada Penambangan Terbuka Batubara di Paleo-Delta Mahakam Santoso, Hendra; Situmorang, Roni Marudut
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.8.1.2025.1-15

Abstract

Kegiatan pertambangan di Kecamatan Anggana memiliki tingkat risiko yang tinggi karena wilayahnya berada di lingkungan pengendapan Delta Mahakam Purba. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kemiringan tambang terbuka batubara di permukaan tua Delta Mahakam menggunakan Metode Elemen Hingga. Metodologi penelitian melibatkan metode kesetimbangan batas dan probabilitas kelongsoran. Material geologi di daerah penelitian meliputi tanah pucuk, batupasir kerikilan, batulanau, batulempung, dan batubara. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Pengujian mekanika tanah di laboratorium menunjukkan nilai kohesi material berkisar antara 10 kPa (batupasirlempungan) hingga 314 kPa (batulanau), sedangkan sudut geser dalam (φ) berkisar antara 10,48° hingga 34,8°; (2) Hasil rekomendasi penentuan geometri lereng keseluruhan dari desain rencana tambang yaitu: rekomendasi Highwall dengan tinggi lereng  63 m dan sudut lereng maksimal 29 o, FK 1,13 dan PK 4,5%; Lowwall direkomendasikan kemiringan 20o dan tinggi 17 m, FK 1,3 dan PK 4,1%; Sidewall utara direkomendasikan sudut lereng tunggal 30o dan tinggi maksimum 25 m, FK 1,21 dan PK 3,9%; Sidewall selatan dengan maksimal tinggi 21,6 m, kemiringan lereng tunggal 35 o, memiliki rekomendasi Beban diatas lereng 100 kPa dengan FK 2,6 dan PK 1,2%, sedangkan pada kondisi non circular failure (tanpa pembebanan) hasil FK 2,06 dan PK 0%, dan pada kondisi circular failure (tanpa pembebanan) hasil FK 2,92 dan PK 0%. Hasil analisis stabilitas lereng pada tambang di Anggana ini sangat dipengaruhi kondisi geologi lingkungan pengendapan sistem delta di lower delta plain yang sangat terpengaruh air laut, sehingga kemiringan lereng dan tinggi lereng masuk kategori rendah untuk sebuah rencana pit tambang terbuka.
Anti-Diphtheric Toxin Antibodies in Healthy Children in Kindergartens Using the Immunoenzymatic Assay Method Santoso, Hendra; Suwendra, I Putu; Kari, I Komang
Paediatrica Indonesiana Vol. 30 No. 9-10 (1990): September-October 1990
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Although the immunization program for children in Indonesia follows the WHO recommendation, in some areas high diphtheric morbidity rates still occur for children under 5 years of age. This study deals with the ELISA for immunoglobulin G antibodies against diphtheric toxin in healthy children in kindergartens to determine the immunity status. One hundred and ninety eight samples of serum were collected from children of 18 kindergartens in West, East and South Denpasar districts and were investigated for Ig G diphtheria using the ELISA method. History of immunization was obtained from the patient's immunization cards and an interview by the doctors. It was assumed to be immune when the lg G level was above 0.01 IU/ml. Eighty one out of 95 (85%) children from the control group (who had never had basic immunization) had Ig G levels above 0.01 IU/ml and 81 out of 83 (97.6%) children from the group who had completed basic immunization (3 injections) had Ig G level above 0.01 IU/ml. It seemed that natural infection played still a major role to develop immunity in those children.
ANALISIS KEBUTUHAN MASYARAKAT BERKAITAN DELAPAN PILAR PENGABDIAN MASYARAKAT DI KAMPUNG SANGSANG KECAMATAN SILUQ NGURAI Situmorang, Roni Marudut; Santoso, Hendra
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 13 No. 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v13i2.43719

Abstract

Abstract. This study aims to analyze the community needs in Sangsang Village based on the eight pillars of community service: education, health, income, economic independence, socio-culture, environmental participation, community institutions, and infrastructure. The research employs a descriptive quantitative and qualitative approach, with data collected through social mapping surveys, public consultations, questionnaires, and field observations. Respondents were selected using purposive sampling. Data analysis was conducted descriptively to provide a comprehensive overview of community needs, validated through data triangulation. The findings reveal that Sangsang Village, located in Siluq Ngurai Subdistrict, has a population of 395 people, predominantly of productive age (15–54 years). The education level is relatively low, with most residents not completing primary school or lacking formal education. Educational infrastructure is limited to early childhood education (PAUD) and elementary schools (SD). Furthermore, the poverty index reaches 34%, with 31 out of 120 households categorized as pre-prosperous. Community needs analysis was developed based on social mapping and public consultation, prioritizing programs to strengthen education and build tourism-supporting infrastructure. The results of this analysis are expected to serve as a strategic foundation for planning relevant, effective, and comprehensive development programs aligned with the eight pillars of community service. Keyword: Comumunity Development; Need Analysis; Social Mapping. Abstrak. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan masyarakat di Kampung Sangsang berdasarkan delapan pilar pengabdian masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, pendapatan, kemandirian ekonomi, sosial budaya, partisipasi lingkungan, kelembagaan komunitas, dan infrastruktur. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitaif dan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui survei pemetaan sosial, konsultasi public, pengisian kuesioner dan observasi lapangan. Responden dipilih menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk memberikan gambaran komprehensif kebutuhan masyarakat, yang divalidasi melalui triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampung Sangsang, yang terletak di Kecamatan Siluq Ngurai, memiliki jumlah penduduk 395 jiwa dengan dominasi usia produktif (15–54 tahun). Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, dengan sebagian besar belum tamat SD atau tidak bersekolah. Infrastruktur pendidikan di Kampung Sangsang terbatas pada PAUD dan SD. Selain itu, indeks kemiskinan mencapai 34%, dengan 31 dari 120 kepala keluarga tergolong pra-sejahtera. Analisis kebutuhan masyarakat disusun berdasarkan pemetaan sosial dan konsultasi publik, dengan prioritas program pada penguatan pendidikan dan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata. Hasil analisis ini diharapkan menjadi dasar strategis bagi perencanaan program pembangunan yang relevan, efektif, dan menyeluruh, sesuai delapan pilar pengabdian masyarakat. Kata Kunci: Pengembangan Masyarakat; Analisis Kebutuhan; Pemetaan Sosial.
Dinamika Tutupan Hutan pada Lanskap Penyangga Karst Sangkulirang 1990–2020 dan Implikasinya terhadap Pengelolaan Karst Situmorang, Roni Marudut; Santoso, Hendra
Bulletin of Scientific Contribution Vol 24, No 1 (2026): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v24i1.70114

Abstract

 ABSTRACTThe Sangkulirang–Mangkalihat Karst in East Kalimantan represents one of the largest karst landscapes in Southeast Asia, characterized by complex carbonate formations, extensive cave systems, and significant ecological and archaeological values. The sustainability of this karst system is not only controlled by its carbonate lithology but also strongly influenced by the surrounding buffer landscape, which functions as a recharge area regulating hydrological processes. This study aims to analyze the spatiotemporal dynamics of forest cover within the karst buffer landscape during the period 1990–2020 and to evaluate its implications for karst management. The analysis was conducted using multitemporal Landsat imagery processed through the Google Earth Engine (GEE) platform, including cloud masking, median composite generation, and Normalized Difference Moisture Index (NDMI)–based classification. Forest cover was identified using a NDMI derived from near-infrared (NIR) and shortwave infrared (SWIR) bands, and spatial extent was calculated for each observation year. The results indicate that forest cover experienced significant fluctuations over the study period. Forest area decreased from 438,259 ha in 1990 to 419,807 ha in 1995 and reached its lowest extent of 181,608 ha in 2000, indicating a period of intensive deforestation. Subsequently, forest cover gradually recovered to 330,405 ha in 2005, remained relatively stable at 313,495 ha in 2010, and increased to 354,042 ha in 2015 and 445,208 ha in 2020, surpassing its initial condition. Spatial analysis reveals that forest loss was predominantly concentrated in non-karst areas located in the southern and southeastern parts of the study area, which are characterized by sedimentary lithology, gentler morphology, and higher accessibility. In contrast, forest cover within carbonate karst areas remained relatively stable due to steep topography, high permeability, and limited land-use suitability. These findings highlight the critical role of buffer landscapes in maintaining karst system stability, particularly in regulating infiltration processes and protecting hydrological balance. The study emphasizes that effective karst management should adopt an integrated landscape approach that includes both core karst zones and surrounding buffer areas. This is consistent with the designation of the Sangkulirang–Mangkalihat region as geological heritage under Ministerial Decree No. 187.K/GL.01/MEM.G/2024, which provides a regulatory framework for sustainable karst conservation and geopark development.Keywords: Sangkulirang Karst, forest cover change, buffer landscape, Google Earth Engine, karst management ABSTRAKKawasan Karst Sangkulirang–Mangkalihat di Kalimantan Timur merupakan salah satu bentang alam karst terbesar di Asia Tenggara yang memiliki kompleksitas geologi tinggi, sistem gua yang luas, serta nilai ekologis dan arkeologis yang penting. Keberlanjutan sistem karst tidak hanya ditentukan oleh litologi karbonat, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lanskap penyangga yang berfungsi sebagai daerah imbuhan air dan pengontrol proses hidrologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika spasial dan temporal tutupan hutan pada lanskap penyangga karst selama periode 1990–2020 serta implikasinya terhadap pengelolaan kawasan karst. Analisis dilakukan menggunakan citra Landsat multitemporal berbasis Google Earth Engine (GEE) melalui tahapan masking awan, komposit median, dan klasifikasi berbasis Normalized Difference Moisture Index (NDMI). Identifikasi tutupan hutan dilakukan menggunakan NDMI yang sensitif terhadap kandungan air berbasis kanal near-infrared (NIR) dan shortwave infrared (SWIR), kemudian luas tutupan hutan dihitung untuk setiap periode pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutupan hutan mengalami dinamika fluktuatif selama periode pengamatan. Luas hutan menurun dari 438.259 ha pada tahun 1990 menjadi 419.807 ha pada tahun 1995, dan mencapai titik terendah sebesar 181.608 ha pada tahun 2000 yang mencerminkan fase deforestasi intensif. Setelah periode tersebut, tutupan hutan mengalami pemulihan bertahap hingga mencapai 330.405 ha pada tahun 2005, relatif stabil pada 313.495 ha pada tahun 2010, dan meningkat menjadi 354.042 ha pada tahun 2015 serta 445.208 ha pada tahun 2020 melampaui kondisi awal. Analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan tutupan hutan lebih dominan terjadi pada wilayah non-karbonat di bagian selatan dan tenggara yang memiliki morfologi lebih landai dan aksesibilitas tinggi. Sebaliknya, kawasan karst berbatuan karbonat menunjukkan tutupan hutan yang relatif stabil akibat topografi terjal dan keterbatasan pemanfaatan lahan. Temuan ini menegaskan bahwa lanskap penyangga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sistem karst, terutama dalam mengontrol proses infiltrasi dan keseimbangan hidrologi. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan karst perlu dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan keterkaitan antara zona inti karst dan lanskap penyangganya. Hal ini sejalan dengan penetapan kawasan sebagai warisan geologi melalui Kepmen ESDM No. 187.K/GL.01/MEM.G/2024 yang menjadi dasar dalam pengelolaan karst secara berkelanjutan.Kata Kunci : Karst Sangkulirang, tutupan hutan, lanskap penyangga, Google Earth Engine, pengelolaan karst