Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

EVALUATING ASSESSMENT POLICIES AND PRACTICES OF INTERNATIONAL SCHOOL OF PARIS (ISP) Marina Marina; Kurniawati Kurniawati; Dini Rizki
Jurnal Dedikasi Pendidikan Vol 5, No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

International Baccalaureate (IB) is a foundation that is headquartered in Geneva whose focus is to foster critical thinking and building problem-solving skills. Its programmes encourages diversity, international mindedness, curiosity and a healthy appetite for learning and excellence. This foundation develops the assessment policies and practices in International School of Paris (ISP). This paper attempts to evaluate the assessment policies implemented in the school. There are four sections mentioned in the ISP assessment policy i.e. assessment principles, assessment purpose, assessment practices and grading practices. The primary focus of this paper is the practice of three ISP assessment sources: ongoing formative teacher assessments, summative assessment tasks and the student as learner. The evaluation of each sources is reviewed and discussed.
Persepsi Masyarakat terhadap Wisatawan di Objek Wisata Gunung Burni Telong Kaspiatul Hidayah; Dini Rizki
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.3556

Abstract

This study aims at examining  public response to tourists and the efforts made to reduce community unrest at Mount Burni Telong . The theory used to answer the problems is Max Weber's Theory of Social Action. The data collection techniques used were observation, interview and documentation methods. This type of research approach used is descriptive research with a qualitative approach. With the aim of obtaining a comprehensive and in-depth picture of how the public's perception of tourists and the efforts made to reduce community unrest. To obtain complete data and information in this study, data collection techniques were used in the form of observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that (1) people's perceptions of tourists are considered to have a negative influence on the culture and customs that prevail in society, because tourist behavior that is not in accordance with the norms and values contained in society, raises negative views of the outside community. Mount Burni Telong Tourism Object and has a bad influence on the younger generation of the village. (2) Efforts made to reduce community unrest are preventive efforts carried out by making a qanun for the village of Rembune and giving direction to all tourists who come to the Mount Burni Telong Tourism Object and efforts to overcome which are efforts after the deviation occurs in the form of conducting customary trials by customary leaders and imposing sanctions in the form of a predetermined amount of fine.Penelitian ini berjudul “Persepsi Masyarakat Terhadap Wisatawan di Objek Wisata Gunung Burni Telong” lokasi penelitian ini adalah Kampung Rembune, Kecamatan Timang Gajah, kabupaten Bener Meriah. Keditaknyamanan masyarakat terhadap pemyimpangan yang dilakukan oleh wisatawan menimbulkan persepsi yang berbeda-beda di kalangan masyarakat sekitar Objek Wisata Gunung Burni Telong. Fokus penelitian ini adalah budaya yang dibawa oleh wisatawan berbeda dan bertentangan dengan budaya masyarakat lokal sehingga akan menimbulkan respon negatif yang merupakan persepsi masyarakat terhadap wisatawan di objek wisata Gunung Burni Telong dan juga penulis memfokuskan pada upaya masyarakat untuk mengurangi keresahan karena adanya penyimpangan yang di lakukan wisatawan di objek wisata tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengtahui bagaimana tanggapan masyarakat terhadap wisatawan dan upaya yang dilakukan untuk mengurangi keresahan pada masyarakat. Adapun teori yang digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini menggunakan Teori Tindakan Sosial dari Max Weber. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Jenis pendekatan penelitian  yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dengan maksud memperoleh gambaran yang komprehensif yang mendalam tentang bagaimana persepsi masyarakat terhadap wisatawan dan upaya yang dilakukan untuk mengurangi keresahan pada masyarakat. Untuk memperoleh data dan informasi yang lengkap dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) persepsi masyarakat terhadap wisatawan dinilai telah membawa pengaruh negatif terhadap budaya dan adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakat, karena perilaku wisatawan yang tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat, memunculkan pandangan negatif masyarakat luar terhadap Objek Wisata Gunung Burni Telong serta membawa pengaruh buruk terhadap generai muda kampung. (2) Upaya yang dilakukan untuk mengurangi keresahan masyarakat yaitu upaya pencegahan yang dilakukan dengan cara membuat qanun kampung Rembune dan memberi pengarahan kepada seluruh wisatawan yang datang ke Objek Wisata Gunung Burni Telong dan upaya penanggulangan yang merupakan upaya setelah penyimpangan itu terjadi berupa melakukan persidangan adat oleh tokoh adat dan pemberian sanksi berupa denda dengan jumlah yang telah ditentukan.
Adaptasi Masyarakat Transmigrasi pada Masa Konflik Aceh di Desa Merah Mege, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah Nurlaeli Rohmah; Rakhmadsyah Putra Rangkuty; Dini Rizki
Jurnal Sosiologi Dialektika Sosial Vol 7, No 2 (2021): Modal Sosial dan Kesejateraan Sosial
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jsds.v1i2.5029

Abstract

Transmigrasi merupakan program dari pemerintah yang memindahkan penduduk dari daerah yang padat penduduknya ke daerah yang masih sedikit atau belum ada penduduknya. Pada saat masyarakat transmigrasi baru beberapa tahun tinggal di desa tersebut, muncullah gejolak konflik antara kelompok GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia, yang kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat transmigrasi dalam beradaptasi di wilayah transmigrasi, Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teori Adaptasi dari Usman Pelly dan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat transmigrasi di Desa Merah Mege memiliki apa yang disebut dengan misi budaya yang membuat mereka tetap bertahan di daerah yang sedang mengalami konflik, dan dalam beradaptasi pada masa konflik Aceh, masyarakat melakukan strategi adaptasi sebagai berikut: melakukan penjagaan bersama pada malam hari, kepemilikan senjata tajam dan rakitan, merubah aktivitas harian masyarakat transmigrasi, serta berkumpul dalam satu rumah yang sama untuk setiap lima keluarga. Kendala yang dihadapi oleh masyarakat transmigrasi adalah perasaan takut dan khawatir saat berkerja karena takut bertemu dengan GAM, ketakutan akan hukuman dari TNI, ketakutan saat mendengar suara tembakan dan melihat mayat yang dibunuh oleh TNI dan GAM serta terkendalanya masyarakat transmigrasi dalam melakukan pekerjaan berkebun dan kegiatan sehari-hari
Native vs. non-native EFL teachers: Who are better? Kurniawati Kurniawati; Dini Rizki
Studies in English Language and Education Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.484 KB) | DOI: 10.24815/siele.v5i1.9432

Abstract

This paper discusses possible advantages of having Non-Native English-Speaking Teachers (NNESTs) to teach English as a Foreign-Language (EFL) especially in Asian countries when they are often regarded as inferior to their Native English-Speaking Teachers (NESTs) counterparts. A native speaker fallacy has emphasized that NESTs are better teachers of EFL and have put NNESTs at a disadvantage. Actually, NNESTs possess advantages that can make them better teachers for teaching English in an EFL/ESL setting connected with their own EFL learning experiences and with sharing the same first language and cultural background with their students. While considered to have lower English language proficiency and lower self-confidence compared to NESTs, NNESTs who have made the effort to become quality teachers can position themselves as ideal English teachers in their own environment.
GENDER AND THE USE OF LOCAL LANGUAGE IN URBAN COMMUNITY Dini Rizki; Kurniawati Kurniawati; Hanif Hanif; M. Zawil Kiram
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 4, No 1 (2023): Dinamika Sosial Pada Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v4i1.10130

Abstract

In communicating, the use of local languages tends to be influenced by the gender of the speakers. This includes politeness, vocabulary selection, grammar, and context. The urban community is most potentially affected by modernization which also influences the use of local languages. This study looks at the differences in the use of local languages and the causes of these differences based on the gender of the speakers. This study used a qualitative descriptive method using data collection techniques consisting of observation, in-depth interviews, and Focus Group Discussion (FGD). This research was conducted with the subject of urban communities living in the city of Takengon. The results of this study show that urban women and men use local language differently, especially in terms of their preference in using local language. Urban women tend to be affected by the feeling of wanting to be associated with being modern, while urban men are more affected by the context in which they interact. These results are hoped to add to the literature on the use of local languages that can contribute to language maintenance efforts.Dalam berkomunikasi, penggunaan bahasa daerah cenderung dipengaruhi oleh gender dari penuturnya. Perbedaan penggunaan bahasa pada gender yang berbeda ini  termasuk perbedaan dalam aspek kesopanan, pemilihan kosa kata, tata bahasa, dan konteks. Masyarakat perkotaan paling berpotensi terkena dampak modernisasi yang juga mempengaruhi penggunaan bahasa daerah. Kajian ini melihat perbedaan penggunaan bahasa daerah dan penyebab perbedaan tersebut berdasarkan jenis kelamin penuturnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang terdiri dari observasi, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD). Penelitian ini dilakukan dengan subjek masyarakat perkotaan yang tinggal di kota Takengon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki perkotaan menggunakan bahasa daerah secara berbeda, terutama dalam hal preferensi mereka dalam menggunakan bahasa daerah. Perempuan urban cenderung dipengaruhi oleh perasaan ingin diasosiasikan dengan modern, sedangkan laki-laki urban lebih dipengaruhi oleh konteks di mana mereka berinteraksi. Hasil ini diharapkan dapat menambah literatur penggunaan bahasa daerah yang dapat berkontribusi dalam upaya pemertahanan bahasa.
Cross Sectional Analysis on The Effect of Task-Based Language Teaching Implementation on Non-English Major Students: A Lecturer’s Perspective Teuku Azhari; Kurniawati Kurniawati; Dini Rizki
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 1 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i1.3981

Abstract

Pengajaran Bahasa Berbasis Tugas (TBLT) adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada penggunaan tugas-tugas dunia nyata sebagai dasar pembelajaran bahasa dan mengalihkan fokus dari pengajaran bahasa berbasis tata bahasa tradisional ke kompetensi komunikatif. Penelitian ini dirumuskan dalam bentuk studi cross-sectional dan menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mengetahui pengaruh Pengajaran Bahasa Berbasis Tugas (TBLT) terhadap keterampilan berbahasa Inggris siswa jurusan non-Bahasa Inggris. 4 dosen bahasa Inggris dilibatkan dalam wawancara semi terstruktur. Mereka diminta untuk mengungkap 2 pertanyaan penelitian: a) bagaimana TBLT dibandingkan dengan metode pengajaran lain dalam hal efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan berbicara di kalangan mahasiswa jurusan non-Inggris di sebuah universitas di Indonesia? dan b) fitur spesifik apa dari TBLT yang berkontribusi terhadap efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan berbicara di kalangan mahasiswa jurusan non-Inggris di sebuah universitas di Indonesia? Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengajaran Bahasa Berbasis Tugas (TBLT) efektif untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris di universitas-universitas besar non-Inggris, dan membawa efek positif pada motivasi pelajar, serta menyediakan ruang untuk strategi pembelajaran bahasa yang dipersonalisasi, dan memungkinkan integrasi media seperti seperti British Council BBC Belajar Bahasa Inggris baik di dalam maupun di luar kelas.
Native vs. non-native EFL teachers: Who are better? Kurniawati Kurniawati; Dini Rizki
Studies in English Language and Education Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v5i1.9432

Abstract

This paper discusses possible advantages of having Non-Native English-Speaking Teachers (NNESTs) to teach English as a Foreign-Language (EFL) especially in Asian countries when they are often regarded as inferior to their Native English-Speaking Teachers (NESTs) counterparts. A native speaker fallacy has emphasized that NESTs are better teachers of EFL and have put NNESTs at a disadvantage. Actually, NNESTs possess advantages that can make them better teachers for teaching English in an EFL/ESL setting connected with their own EFL learning experiences and with sharing the same first language and cultural background with their students. While considered to have lower English language proficiency and lower self-confidence compared to NESTs, NNESTs who have made the effort to become quality teachers can position themselves as ideal English teachers in their own environment.