Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Berangbang, Kabupaten Jembrana, dalam mengelola potensi pariwisata secara mandiri dan berkelanjutan. Masalah utama yang dihadapi mitra meliputi belum adanya pemetaan potensi desa yang komprehensif, fungsi kelembagaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang belum optimal, serta keterbatasan keterampilan masyarakat dalam memberikan pelayanan prima. Metode yang diterapkan dalam program ini mengintegrasikan pemetaan partisipatif berbasis komponen pariwisata 4A (Attraction, Accessibility, Amenity, Ancillary) dengan pelatihan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) kelembagaan. Hasil identifikasi melalui pemetaan partisipatif berhasil mengelompokkan sebaran potensi alam (Munduk Nangka), potensi budaya-sejarah (Situs Sarkofagus), serta potensi spiritual-wellness (Pura Kahyangan Jagat Pucak Luhur Berangbang Agung dan Pura Ulun Danu Beji Taman Sari Yeh Panes). Pelaksanaan program pelatihan diikuti oleh 15 pengurus Pokdarwis dan pelaku wisata dengan fokus materi pada tata kelola kelembagaan serta keterampilan praktis pelayanan prima (excellent service). Hasil observasi selama kegiatan menunjukkan respons yang sangat positif dari para peserta, disertai peningkatan pemahaman mengenai tata kelola destinasi wisata berbasis kearifan lokal. Tindak lanjut yang mendesak untuk dilakukan pascakegiatan ini adalah penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) pelayanan yang baku serta pengemasan paket wisata terpadu. Integrasi antara pemetaan komponen pariwisata dan penguatan kapasitas kelembagaan terbukti menjadi model pemberdayaan yang efektif dalam mendorong rintisan tata kelola pariwisata pedesaan yang berbasis komunitas. Participatory Mapping of Local Wisdom-Based Tourism Potential as a Foundation for Tourism Village Development in Berangbang Village, Jembrana Abstract This community service activity aims to enhance the capacity of the community in Berangbang Village, Jembrana Regency, to manage its tourism potential independently and sustainably. The primary challenges faced by the partner include the absence of a comprehensive village tourism potential mapping, sub-optimal institutional functioning of the Tourism Awareness Group (Pokdarwis), and limited community skills in delivering excellent service. The method applied in this program integrates participatory mapping based on the 4A tourism components (Attraction, Accessibility, Amenity, Ancillary) with human resource capacity-building training. Participatory mapping successfully identified and categorized various local potentials, including natural attractions (Munduk Nangka), cultural-historical assets (Sarcophagus Site), and spiritual-wellness sites (Pura Kahyangan Jagat Pucak Luhur Berangbang Agung and Pura Ulun Danu Beji Taman Sari Yeh Panes). The training program was attended by 15 Pokdarwis administrators and local tourism actors, focusing on institutional governance and practical skills in excellent service. Observation results during the activity indicated highly positive responses from the participants, alongside improved understanding of local wisdom-based destination management. Urgent follow-up actions required post-program include the formulation of standardized operating procedures (SOPs) for services and the development of integrated tour packages. The integration of tourism component mapping and institutional capacity building proves to be an effective empowerment model to foster community-based rural tourism governance